
Pada akhirnya pertandingan berburu pun di lanjutkan kembali keesokan harinya, namun kali ini pihak Kekaisaran mulai melakukan penjagaan yang lebih ekstra lagi. Aku sendiri sekarang berada di tenda khusus keluarga Kekaisaran. Baru saja satu jam semenjak Pertandingan Berburu untuk hari kedua ini di mulai.
Karena insiden itu, aku di larang keluar dari tenda oleh Kaisar dengan alasan sebagai hukuman karena aku yang melanggar aturan yang tidak memperbolehkan untuk keluar dari pembatas sihir penghalang dan juga dia yang sangat mengkhawatirkanku. Oleh karena itu, aku sekarang berada di dalam tenda ini dan di jaga ketat oleh para prajurit istana atas perintah Kaisar.
Aku sendiri baru di perbolehkan keluar saat nanti Pertandingan Berburu ini selesai dan Kaisar sudah kembali dari Pertandingan Berburu ini.
Untuk mengisi waktu dan mencegah diriku merasa kebosanan, aku mulai membaca mengenai buku sejarah sihir.
Sejak perbincangan kemarin, kata sihir kegelapan terus terngiang dari kepalaku. Sihir kegelapan... Apa benar-benar ada saat ini? Sihir itu sudah lama menghilang sejak ribuan tahun yang lalu dan juga semua buku-buku sihir untuk mempelajari sihir terlarang ini sudah di hancurkan. Namun mengingat sosok serigala hitam pekat raksasa itu membuatku tidak bisa mengabaikan kejanggalan ini begitu saja.
Sihir Kegelapan bukanlah sihir murni dan hanya bisa di pelajari dan seperti namanya, sihir ini adalah sihir yang begitu gelap dan sangat di larang karena membutuhkan banyak hal yang tidak masuk akal untuk menguasai sihir ini. Si pengguna sendiri harus mengikat kontrak pekerjaan 'sesuatu yang jahat', baik itu Dewa Kehancuran, Iblis, monster dan yang lainnya.
Selain itu, ritual yang di lakukan oleh pengguna sihir ini juga benar-benar gila, salah satunya adalah dengan menumbalkan manusia untuk mendapatkan kekuatan sihir kegelapan ini. Belum lagi, masih banyak hal mengenai sihir kegelapan ini yang tidak di jelaskan di buku ini mengenai sihir kegelapan ini karena buktinya asap dari sihir kegelapan mampu menembus pertahanan dari sihir penghalang yang berarti membuatnya sangat berbahaya.
Selain itu, jika memang diam-diam ada seseorang yang menggunakan praktek sihir kegelapan ini, akan sangat berbahaya. Karena memang hanya sihir cahaya yang merupakan lawan dari sihir kegelapan ini. Itu pun harus kekuatan cahaya yang sangat kuat.
Oleh karena itu, mungkin aku harus memperkuat sihir cahayaku juga. Untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Permisi Yang Mulia Tuan Putri, ada yang ingin bertemu dengan anda" Kata seorang prajurit yang menjaga tendaku ini dari luar.
"Siapa itu?" Tanyaku.
"Nona Erickson, Yang Mulia"
Jawaban itu pun membuatku kaget dan langsung menutup buku yang ku baca ini, "Beritahukan kalau dia di perbolehkan masuk"
Tidak lama kemudian sosok anak perempuan yang berambut putih keperakan masuk ke tenda ini, aku pun tersenyum padanya.
"Silahkan duduk, Nona Luna. Tolong maafkan saya karena saya belum sempat membuat perjamuan untuk anda" kataku padanya.
Nona Luna tampak gelagapan, "Tidak apa-apa Yang Mulia Tuan Putri, itu karena salah saya yang datang secara mendadak seperti ini"
Nona Luna pun duduk di sofa yang ada di depanku. Aku pun meraih bel dan langsung membunyikannya dengan nyaring. Tidak lama kemudian, para pelayan yang di tugaskan untuk melayaniku selama aku berada di tenda ini.
"Tolong siapkan teh dan jamuan manis dan juga untuk Nona Luna" Perintahku kepada para pelayan itu.
"""Baik Yang Mulia Tuan Putri"""
Dan setelah itu, mereka pun pergi dan menjalankan perintahku ini.
Aku lalu beralih ke arah Nona Luna, "Jadi kenapa Nona Luna kemari? Bukankah anda harusnya di rawat di tenda keluarga Duke Erickson?"
Aku pun tersenyum, "Tidak apa-apa kok Nona Luna. Saya senang membantu, dan juga yang mengalahkan serigala raksasa itu adalah Kakak saya Pangeran Blaze dan juga Tuan Duke kecil Arthur"
Tidak lama kemudian setelah aku mengucapkan hal itu, para pelayan mulai masuk dan mulai menghidangkan apa yang ku perintahkan pada mereka dan setelah itu mereka pun kembali undur diri.
Aku meraih cangkir teh yang telah di sajikan dan meminumnya dengan tenang, hah... Rasanya begitu nyaman.
Aku lalu melihat ke arah Nona Luna yang tampak kikuk. Hmm... Aku memang sudah mendengar rumor tentangnya yang jarang melakukan kegiatan sosial, jadi mungkin ia merasa gugup.
"Jangan gugup seperti itu Nona Luna, silahkan nikmati jamuan dari saya ini" Kataku sambil tersenyum padanya.
Nona Luna tampak tersentak lalu dengan gugup ia pun meraih cangkir miliknya, "I--iya Yang Mulia, terimakasih banyak"
Aku melihat Nona Luna mulai meminum teh miliknya. Ku lihat bahunya yang sedari tadi tegang pun perlahan menjadi rileks.
Kami pun saling berbincang-bincang bersama. Awalnya Nona Luna tampak canggung padaku namun setelah beberapa lama, ia tampak sedikit lebih tenang dan mulai terbuka.
Dan menurutku sendiri Nona Luna ini merupakan anak perempuan yang enak di ajak ngobrol kok. Dia adalah pendengar yang baik dan aku menjadi nyaman saat mengobrol bersama dengannya.
Tanpa terasa berjam-jam lamanya mengobrol pun waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore yang artinya sebentar lagi para pria bangsawan yang merupakan peserta Pertandingan Berburu ini pun kembali.
Aku mengajak Nona Luna untuk menyambut mereka dan Nona Luna mengangguk setuju. Kami berdua lalu keluar dari tenda dan langsung berjalan ke arah tempat yang juga di ikuti oleh para prajurit yang memang di tugaskan untuk menjagaku.
Kami berjalan tidak lama dan melihat sudah banyak orang yang ada di titik kumpul. Aku pun melihat Ibu yang sedang berbincang bersama Duchess Erickson dan langsung menghampiri mereka.
"Ibu!!!" Seruku.
Ibu pun langsung menatap ke arahku sambil tersenyum lebar, "Vivi, kemarilah nak!"
Aku pun memeluk kaki Ibu dan Ibu lalu mengangkat tubuhku dan menggendongku. Astaga... Entah kenapa aku merasa malu saat Ibu dan yang lainnya (Kaisar dan Putra yang suka menggendongku juga) menggendongku ya?
Mungkin nanti aku harus meminta Ibu dan yang lainnya berhenti untuk menggendongku.
Duchess Erickson pun menggenggam tangan Nona Luna lalu tersenyum ke arahku lalu membungkukkan tubuhnya dengan sopan, "Sekali lagi saya ingin berterimakasih sekali kepada Tuan Putri Viviane yang sudah menyelamatkan Putri saya satu-satunya"
"Tidak apa-apa Duchess. Saya juga merasa senang sekarang karena bisa menyelamatkan Nona Luna. Dan juga yang mengalahkan serigala raksasa itu adalah Kakak saya Pangeran Blaze dan juga Tuan Duke kecil Arthur" Balasku.
Duchess pun tersenyum dengan begitu lembut ke arahku, "Tapi and, juga sudah berusaha untuk menyelamatkan Putri saya. Jadi anda juga sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Putri saya"
Wajahku sedikit memerah ketika mendengar pujian itu dan tidak lama kemudian dari jauh terlihat segerombol pasukan berkuda sudah datang. Itu adalah para peserta Pertandingan Berburu ini.