THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 53-KEPUTUSAN PERMAISURI



...--AUTHOR POV--...


Emira menatap ke arah Kaisar yang tenggelam dalam pikirannya sendiri dengan tatapan yang merasa bingung. Sebelumnya, tidak pernah sekalipun Kaisar bersikap mendiaminya seperti ini ketika ia berada di dekat Kaisar sama seperti sekarang.


"Sudah Emira, sebaiknya kamu kembali ke kamar dan tidurlah. Ini sudah malam" Kata Kayla.


Sebelum pergi, Kayla membungkukkan tubuhnya dengan hormat lalu pergi dari ruang kerja Kaisar menuju ke ruangan milik mereka.


Di tengah perjalanannya ke ruangan mereka, Emira membuka suaranya.


"Apa yang Papa pikirkan, Ibu?" Tanya Emira pada Ibunya.


Kayla hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Putrinya. Namun genggaman tangannya pada Putrinya itu semakin erat.


Kayla sungguh tahu apa yang ada di pikiran Kaisar Horus saat ini.


Viviane Camellia Eilidh.


Seiring berjalannya waktu, Vivi tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan kecantikannya sama persis dengan wanita yang Kayla Sang benci itu, Permaisuri Ivona Lareina Eilidh.


Dengan penuh amarah, Kayla menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, 'Padahal masih dua belas tahun... Tapi kenapa anak sialan itu sudah menarik perhatian Yang Mulia?! Kenapa anak sialan itu memiliki wajah yang sama dengan persis dengan wanita sialan itu?!'


Emira menatap sang Ibu dengan tatapan datar. Tangannya masih terasa sangat sakit sekarang karena Ibunya tanpa sadar telah menggenggam tangannya dengan terlalu kuat.


'Ibu.... Sedang marah... Pasti ada kaitannya ! wanita bernama Ivona dan Viviane brengsek itu' pikir Emira.


Sementara itu, di istana Permaisuri, Ivona tidak bisa tidur. Perasaan khawatir dan ketakutan menguasainya sekarang. sejak lima hari yang lalu, ia sudah tidak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya tertuju pada Putri bungsunya, Vivi.


Vivi masih sangatlah muda.Ia di besarkan olehnya dengan penuh kasih, 8a tidak ingin Putrinya itu mengetahui betapa kejamnya dunia ini sampai-sampai ia melindungi Vivi dari semua kenyataan kejam yang terjadi di istana tempat Vivi tumbuh.


Namun kini Vivi sudah mulai beranjak dewasa. Ia akan menginjak usia remaja dan memiliki paras yang sangat cantik. Meski masih dua belas tahun. Vivi sudah bisa membuat para kaum adam terpesona dengan kecantikan yang ia miliki, termasuk


Ya, Ivona menyadarinya saja ia terakhir kali melakukan 'hubungan suami' dengan Kaisar. Saat itu Kaisar tidak mendesahkan Ivona, ia malah menyebutkan nama Vivi. AYAHNYA SENDIRI.


Seketika Ivona bangkit dari posisi tidurnya dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Rasanya mual dan jijik melanda dirinya


Ivona jelas tahu dengan sifat bejat milik Kaisar itu, namun ia tidak menyangka jika Kaisar bahkan sampai tertarik pada darah dagingnya sendiri!.


Dan kejadian tadi sore membuat Ivona semakin yakin, tatapan yang di tujukan Kaisar pada Vivi sekarang sama dengan tatapan Kaisar yang di arahkan kepadanya. Oleh karena ia segera menginterupsi mereka dan meminta Vivi untuk jangan dekat dengan Kaisar.


Ibu bisa melihat tatapan bingung dan juga khawatir dari Vivi ketika ia melihatnya. Vivi tidak bersalah.... Dia tumbuh menjadi seseorang seperti sekarang karena Ivona yang sudah melindunginya dari semua hal kejam yang terjadi dalam Istana ini dengan memerintahkan para pelayan Istana pribadi Vivi untuk mengawasi Viviane dengan sangat ketat karena ia tidak bisa mengawasi Vivi selama dua puluh empat jam penuh.


Dan sekarang Ivona merasa menyesalinya. Harusnya ia mendidik Vivi menjadi gadis yang lebih kuat lagi.... Namun nasi sudah menjadi bubur, Vivi sudah tumbuh menjadi gadis yang naif seperti ini karena dirinya. Dirinya yang meminta seluruh guru milik Vivi untuk mengajarkan Vivi seperlunya saja dan tidak memperbolehkan mereka mengatakan semua informasi yang terjadi di Kekaisaran.


Ini bukan salah Vivi.... INI SEMUA SALAHNYA....


Di liriknya kotak besar pemberian Vivi kepadanya itu, ide Vivi itu sangatlah bagus.... Dengan rencana yang Vivi ini, para bangsawan yang menghadiri Pesta Ulang Tahun Castor akan merasakan keharmonisan keluarga Kekaisaran setelah insiden dimana Pangeran Helios yang hendak membunuh Kakak Pertamanya sendiri yaitu Putra Mahkota Castor karena dalam pengaruh sihir kegelapan.


Ivona tersenyum lembut. Ini langkah yang bagus dari Putrinya itu m Mungkin masih ada kesempatan untuk membentuk karakter Vivi supaya ia menjadi gadis yang lebih kuat lagi. Sama seperti yang ia lakukan pada Castor, Helios dan juga Blaze.


Ia pun bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju ke arah balkon kamarnya dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih.


Vivi sudah ingin menyembuhkannya, namun Ivona tolak agar Vivi tidak mengetahui luka-luka yang ada di tubuhnya ini yang di sebabkan oleh Kaisar.


Di bukanya jendela kaca yang besar itu dan ia pun melangkah maju dan berdiri di balkon itu. Udara malam yang dingin menghampiri tubuhnyanya, namun entah kenapa ia merasa beban yang ada di pikirannya seakan terangkat oleh ketenangan Ini.


Istana adalah tempat yang sangat indah namun juga sangatlah kejam. Ivona juga tidak memiliki kekuasaan yang besar karena ia berasal dari kalangan rakyat biasa. Tidak ada yang membantunya dari belakang, ia hanya bisa berjuang sendiri. ia tidak memiliki kekuasaan untuk melawan Kaisar. Jadi ia hanya bisa pasrah saja. Namun kini Putrinya berada dalam bahaya dan orang yang ia lawan untuk melindungi Vivi adalah Kaisar sendiri.


"Mungkin.... Aku harus memberitahu soal ini kepada Castor..... Karena ini adalah masalah yang sangatlah serius" Gumam Ivona.


Ivona menatap bulan depan tatapan yang memohon.


"Dewi Bulan... Tolonglah senantiasa melindungi Putri saya, Vivi...." Pinta Ivona dengan setulus hati.


***


Di pagi harinya, Castor sedang sibuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk seperti biasannya. Besok ia bisa beristirahat karena besok adalah hari Ulang Tahunnya, jadi besok ia bisa di berikan libur oleh Kaisar.


"Hmm, sibuk seperti biasa ya...." Keluh Dereck yang juga tengah sibuk dengan kerjaan miliknya.


"Jangan mengeluh. Besok kau juga libur kan?" Kata Castor.


Dereck mengerucutkan bibirnya, "Cihh... Dasar tidak manusiawi..."


Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar dan setelah itu seorang prajurit masuk ke dalam ruangan kerja Castor.


"Maaf Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Permaisuri telah kemari untuk menemui anda" Lapor si prajurit.


"Ibu?" Tanya Castor dengan heran.


"Benar Yang Mulia" Angguk si prajurit.


Castor merasa heran kalau jarang sekali Ibunya menemuinya secara mendadak seperti ini, "Baiklah, biarkan beliau masuk"


"Baik Yang Mulia"


Setelah Prajurit itu undur diri, tidak lama kemudian pintu ruang kerja miliknya terbuka kembali dan menampilkan sosok wanita yang sangat cantik. Dia adalah Ibu Castor, Permaisuri Ivona Lareina Eilidh.


"Selamat pagi Putra Mahkota, maaf atas kunjungan mendadak ini namun... Ada hal yang sangat penting untuk Ibu sampaikan...." Kata Ivona dengan nada yang sangat serius.