THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 38-LIMA TAHUN KEMUDIAN....



...--Time Skip--...


Begitu banyak hal yang terjadi setelah Pertandingan Berburu lima tahun yang lalu. Hubunganku dengan Luna menjadi semakin dekat berkat keputusan dari Ibu dan Kaisar yang membuat Luna sebagai teman bermainku. Bahkan kini kami sudah memanggil nama masing-masing tanpa embel-embel kesopanan yang kaku seperti seperti dulu. Memang Luna yang lebih tua dua tahun dariku, tetapi kami sepakat memutuskan untuk tidak memanggil dengan kata 'Kakak' karena kami sama-sama ingin menjadi sahabat dekat.


Selain itu, aku juga menyadari tentang perasaan Luna pada Kakak Ketigaku yaitu Pangeran Blaze. Awalnya Luna memang tidak mau menceritakan hal ini, tapi saat aku memaksanya akhirnya ia mengaku padaku kalau ia sudah menyukai Pangeran Blaze sejak pertama kali melihatnya saat Pesta Ulang Tahunku yang Ketujuh sekaligus Pesta Perkenalanku.


Yah... Aku juga tidak menyangka kalau Luna sudah menyukai Pangeran Blaze sejak hari itu namun ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Pangeran Blaze. Aku sudah memberinya semangat berkali-kali, namun setiap saat Luna ingin mengungkapkan perasaannya pada Pangeran Blaze ia selalu mundur kembali karena merasa kurang percaya diri yang kadang membuatku gemas sendiri. Bahkan di setiap Pertandingan Berburu dia selalu membuat sapu tangan bersulam untuk Pangeran Blaze namun tidak pernah ia berikan karena tidak merasa percaya diri akan kemampuannya dalam menyulam.


Luna itu cantik, sangat cantik malahan. Tapi ia memiliki rasa percaya diri yang rendah dan memiliki kepribadian yang tertutup, oleh karena itu aku pun men-support dirinya untuk berani mengungkap perasaannya pada Pangeran Blaze, meski jujur sampai saat ini aku belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian sebelum aku mati di bakar hidup-hidup oleh Pangeran Blaze di kehidupan yang lalu, aku memutuskan untuk mendukung perasaan Luna itu dan jika ia di sakiti oleh Pangeran Blaze, aku akan berada di sisinya sebagai seorang sahabatnya.


Sejak insiden Lima tahun yang lalu, Duke Erickson pun memutuskan untuk memberikan Luna pelajaran sihir untuk membela dirinya. Seluruh orang di Kekaisaran Eilidh pun tercengang ketika mengetahui bahwa Luna juga memiliki tiga elemen murni yang sama sepertiku, yaitu Air, Petir dan juga Cahaya. Meski tidak memiliki Sihir Fusi, tapi tetap saja hal itu sangat mencengangkan karena sangat jarang ada orang yang terlahir dengan tiga elemen murni sekaligus.


Oleh karena itu, Luna pun di anggap sebagai prodigy baru dan pihak Penyihir Kekaisaran merasa begitu bahagia karena di era ini Kekaisaran sudah mendapatkan beberapa Prodigy yang membuat Kekaisaran menjadi penuh berkat dari Dewa Matahari dan Dewi Bulan.


Beralih dari Luna, aku sendiri sudah menguasai semua sihir elemen murni milikku termasuk Sihir Fusi Es ku. Selain itu, aku juga sudah menguasai sihir terapan tingkat menengah dan bahkan beberapa sihir terapan tingkat tinggi yang membuat Guru David begitu memujiku karena aku menguasai sihir-sihir sulit ini dalam waktu yang biasanya menurut para penyihir singkat yaitu hanya lima tahun.


Kemampuan berpedangku pun mengalami tingkat kemajuan yang cukup pesat mengingat kini fisikku yang sangat jauh lebih bagus dan bahkan kini aku sudah bisa berlatih pedang melawan Pangeran Blaze dan juga Arthur (meski aku selalu kalah karena kemampuan mereka juga meningkat dengan sangat cepat). Tapi tentu aku belum merasa puas dengan kemampuanku saat ini, aku harus menjadi kuat lagi untuk rencanaku ke depannya jadi kini aku hanya fokus untuk lebih mengembang semua kemampuanku yang sudah cukup mumpuni ini untuk lebih kuat lagi karena....


.... Tinggal sebulan lagi sebelum Kayla dan Emira masuk kehidupan keluarga Kekaisaran ini.


Ya, kini aku sudah berumur dua belas tahun, umur yang sama dengan aku yang mengetahui bahwa Kaisar yang selama ini kuanggap sebagai Ayah yang sempurna itu sudah mengkhianati ibu dengan wanita yang merupakan pelayan pribadi dan juga sahabat semasa kecilnya.


Awal ketika hubungan keluarga ini hancur dan di iringi dengan kematian pelayan pribadi sekaligus pengasuhku Diana dan di susul dengan Ibu dengan cara yang hampir sama, lalu perubahan dari Ayah dan semua Kakakku hingga mereka yang dengan tega membakarku hidup-hidup sebagai persembahan untuk Dewa Matahari.


Sebulan lagi.... Saat Pesta Ulang Tahun Putra Mahkota...


"Vivi, kenapa kamu diam saja?"


Aku tersentak saat mendengar suara lembut itu, saat aku menoleh ke arah asal suara itu, aku melihat Luna yang menatapku dengan rasa khawatir.


Ah iya... Saat ini aku sedang mengadakan pesta teh bersama dengan Luna di taman istana Blue Diamond ini.


"Ahh... Tidak apa-apa Luna, aku baik-baik saja. Hanya sedang memikirkan hadiah yang tepat untuk Kak Castor saja" Kataku sambil tersenyum sedikit kaku padanya.


Luna hanya diam, lalu ia pun kembali berkata, "Jika kamu perlu sesuatu saran dariku, jangan sungkan memintanya dariku ya"


Aku pun mengangguk pelan sambil meminum teh ku. Maaf Luna, tapi aku tidak bisa menceritakan ini padamu. Karena masalah ini hanya aku yang mengetahuinya.


"Vivi, Luna, bolehkah kami bergabung?"


Suara itu mengalun dengan lembut, aku pun melihat Ibu bersama dengan Duchess Erickson yang tengah berjalan menuju ke arah Gazebo yang aku dan Luna tempati untuk pesta teh ini. Meski sudah memiliki anak, mereka berdua tampak begitu sangat cantik dan juga anggun... astaga... Melihat mereka, aku benar-benar ingin tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun seperti mereka berdua.


"Tentu saja Ibu, Duchess, kalian boleh bergabung dengan kami!" Seruku sambil tersenyum lebar kepada Ibu dan Duchess


Luna juga tampak senang dengan kedatangan mereka.


Ibu dan Duchess pun akhirnya bergabung dengan kami, para pelayan pun mulai menuangkan teh untuk mereka berdua.


"Oh ya, Vivi. Apa kamu sudah memutuskan untuk memakai set gaun apa yang akan kamu kenakan di pesta Ulang Tahun Kakakmu nanti?" Tanya Ibu tiba-tiba.


"Hmm? Aku sudah memutuskannya kok Ibu, besok aku akan pergi ke toko Desainer Marchioness Aria bersama dengan Luna" Jawabku.


"Baguslah kalau begitu... Ah, dan juga kamu sudah menyiapkan hadiah untuk Kakakmu?" Tanya Ibu lagi.


Aku tersenyum misterius, "Sudah kok Ibu. Tenang saja, tapi tentang hadiahku itu rahasia ya"


Ibu pun terkekeh kecil, "Astaga... Putri kecilku sudah main rahasia-rahasiaan padaku.."


"Itulah anak perempuan Yang Mulia, mereka tumbuh dengan cepat hingga mulai menyembunyikan sesuatu yang dari kita" Kata Duchess sambil tersenyum.


Kami pun mulai berbincang-bincang ria, namun tidak lama kemudian....


"VIVI!!!!! KAK BLAZEMU TERCINTA SUDAH DATANGGGGG!!!!"


Teriakan itu melengking di udara dan saat kami menoleh bersamaan ke asal suara kami melihat Pangeran Blaze tengah berlari ke kami.


"Astaga anak itu...." Gumam Ibu sambil menghela nafas.


Ya... Sudah lima tahun berlalu dan kini ia sudah berumur empat belas tahun namun sikap kekanakan Pangeran Blaze tidak juga hilang. Malah seingatku yang sekarang jauh lebih parah di banding yang dulu.


"Vivi! Kakak datang berkunjung!! Ah, ada Ibu, Duchess Erickson dan Nona Erickson juga" Kata Pangeran Blaze ketika sudah berada Gazebo ini.


"Astaga Blaze... Bersikap sopanlah pada Duchess dan Nona Erickson" Tegur Ibu pada Pangeran Blaze.


Pangeran Blaze hanya tertawa dan memasang wajah yang tidak berdosa sementara Duchess pun tampak tersenyum maklum dengan tingkah Pangeran Blaze yang kekanakan itu.


Kulirik Luna yang tampak menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang tampak memerah. Hmm... Melihat sikap Pangeran Blaze ini membuatku heran pada Luna, apa yang membuat Luna menyukai Pangeran Blaze yang sikapnya seperti anak-anak ini? Kupikir sikap dewasa Putra Mahkota Castor akan jauh lebih di sukai daripada sikap kekanakan Pangeran Blaze.


Tidak lama kemudian Arthur pun datang dan entah kenapa setiap melihatnya kini membuat jantungku berdegup dengan kencang, padahal saat di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal ini...


Arthur sendiri tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan rambut hitam dan mata senada dengan warna rambutnya itu. Dia juga memiliki tubuh yang tinggi dan tegap. Ugh... Dia benar-benar akan populer di kalangan para gadis-gadis bangsawan seperti di kehidupan sebelumnya!


"Salam saya pada Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Tuan Putri, Duchess Erickson dan Nona Erickson, semoga berkah Dewa Matahari dan Dewi Bulan menyertai anda semua" Sapa Arthur dengan sikap dan etika yang begitu sopan.


"Semoga kamu juga di berkahi oleh Dewa Matahari dan Dewi Bulan, Arthur. Ada apa kamu kesini?" Tanya Ibu padanya.


Dengan cekatan Arthur pun mengcekram keras leher pakaian Pangeran Blaze yang membuat si empu pemiliknya mulai memberontak.


"Saya meminta izin untuk membawa orang ini pergi karena orang ini kabur dari pelajaran yang penting" Kata Arthur dengan tenang.


"Oh.... Astaga, Blaze mau kabur lagi ya?" Tanya Ibu pada Pangeran Blaze sambil memicingkan matanya ke arah Pangeran Blaze.


"O--oh itu... hehe, aku hanya ingin bertemu dengan Vivi, Ibu.... Maaf..." Jawab Pangeran Blaze dengan nada yang gugup.


Ibu pun menghela nafas, "Kamu boleh membawanya Arthur, maaf membuatmu kerepotan"


Arthur mengangguk, "Sama sekali tidak Yang Mulia. Saya sudah terbiasa dengan sikapnya ini. Kalau begitu saya mohon undur diri"


Setelah itu, Arthur pun menarik kerah pakaian Pangeran Blaze dan menyeretnya pergi. Ibu dan Duchess pun tertawa kecil melihat tingkah laku mereka sedangkan aku dan Luna menatap kepergian Arthur dan Pangeran Blaze itu.