THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 51-RENCANA VIVI DI MULAI



Hari ini pesanan pakaianku dari Marchioness Aria sudah datang dan sekarang tinggal tiga hari lagi Pesta Ulang Tahun Putra Mahkota Castor.


Hari ini aku sudah di izinkan untuk menjenguk Pangeran Helios. Aku masih tidak bisa mempercayai kenyataan dimana Bella ternyata sudah memanipulasi Pangeran Helios dengan sihir kegelapan.


Sementara kemarin, Duke Curt dan Duchess Curt telah di hukum mati dengan cara di penggal kepalanya oleh Kaisar sendiri. Mendadak aku merasa merinding ketika mendengar apa yang di katakan oleh para pelayan ketika aku diam-diam mendengarkan mereka.


Mereka bilang kalau hukuman mati itu di hadiri oleh para bangsawan dan juga para rakyat yang berkumpul di balai istana. Aku sendiri memang di larang kesana karena aku di anggap masih terlalu muda untuk menyaksikan hukuman ekskusi mati itu. Padahal.... Di kehidupan sebelumnya aku juga pernah mengalaminya meski memang yang aku rasakan adalah di bakar hidup-hidup.


Kaisar sendiri lah yang memenggal kepala mantan ajudannya itu. Yang mengerikan dari cerita para pelayan yang ku dengarkan adalah saat Duchess Curt yang memohon-mohon belas kasih Kaisar, Duke Curt tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya diam dengan wajah yang sangat pucat dan bagaikan mayat hidup.


Awalnya memang mereka berdua akan di eksekusi oleh para algojo namun Kaisar memutuskan ia akan memenggal kepala pasangan Curt itu dengan tangannya sendiri karena bagi Kaisar, Duke Curt dan juga Duchess Curt sudah mengkhianati kepercayaan yang ia berikan kepada pasangan itu.


Untuk sementara, wilayah Utara sendiri di kelola oleh Putra Mahkota Castor sampai Kaisar memutuskan siapa yang orang yang pantas mengelola wilayah itu sementara Kaisar sendiri memang belum memiliki ajudan baru.


Aku berhenti berjalan dan menatap pintu besar yang ada di depanku, para pelayan yang ada di sana langsung membukakan pintu itu dan dalam satu, aku bisa melihat Pangeran Helios yang terduduk di atas ranjangnya sambil menatap serius ke arah buku yang ada di tangannya.


Merasa ada yang datang, Pangeran Helios pun melirik ke arah pintu dimana aku masih di ambang pintu kamarnya itu. Ia pun menutup bukunya dengan tenang lalu menatapku dengan tatapan yang sangat lembut.


"Kenapa Vivi belum masuk? Masuklah, Vivi" Kata Pangeran Helios dengan senyuman lembut miliknya itu.


DEG!


Hatiku mencelos ketika melihat senyuman dan nada lembut miliknya itu. Sudah berapa lama ya... Aku tidak mendengar dan melihat sisi lembut dan kasih sayang dari Pangeran Helios ini...?


Tidak Vivi! Jangan mendadak lemah seperti ini! Ingat tujuanmu setelah kembali ke masa lalu ini!


Dengan langkah pelan aku pun mulai melangkah masuk dan duduk di kursi yang berada di depannya.


"Bagaimana keadaan Kakak?" Tanyaku dengan suara yang pelan.


Pangeran Helios masih tersenyum padaku, "Sudah sangat membaik. Aku pasti bisa menghadiri Pesta Ulang Tahun Kak Castor nanti. Jadi Vivi jangan khawatir ya"


Hening pun terjadi. Entah kenapa suasana sekarang menjadi canggung. Seketika terbit rasa penasaran yang melandaku. Awalnya aku merasa ragu untuk menayangkan hal ini, namun rasa penasaranku jauh lebih besar dari rasa ragu milikku ini.


"Umm.... Apa Kak Helios benar-benar terkena sihir kegelapan?" tanyaku.


Pangeran Helios terlihat sedikit tersentak, namun ia pun menghela nafas lelah.


"Benar Vivi. Aku juga tidak menyangka kalau aku sudah di manipulasi oleh kekuatan sihir kegelapan dari Bella dan Duke Curt. Entah kenapa aku merasa hanya nama Bella lah yang ada di pikiranku. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Duke Curt bahkan mengancam kalau aku tidak mengikuti rencananya, pertunanganku dengan Bella akan di batalkan dan membuatku entah kenapa menuruti setiap ucapannya" Jelas Pangeran Helios.


Aku terdiam mendengarnya. Jadi ketika berada dalam pengaruh sihir kegelapan, Pangeran Helios masih bisa mengingat dengan apa yang terjadi. Namun ia tidak bisa berpikir dengan jernih dan menuruti semua perkataan dari Duke Curt karena bagi Pangeran Helios, hanya nama Bella yang ada di pikiran dan di hatinya.


Sungguh sihir kegelapan memang sangat mengerikan, sihir itu bahkan bisa merubah seseorang dengan begitu mudah---


Tunggu.... Merubah seseorang dengan begitu mudah?


Aku kembali mengingat ketika Putra Mahkota Castor, Pangeran Helios dan Pangeran Blaze yang mendadak berubah sikap padaku dengan begitu singkat di kehidupan sebelumnya. Mereka yang awalnya sangat menyayangiku malah berubah seratus delapan puluh derajat kepadaku dan malah berbalik menyayangi Emira, padahal sebenarnya mereka sendiri tidak menerima keberadaan Emira dan Kayla.


Bukan hanya mereka bertiga, para bangsawan lain pun mendadak bersikap memuja Emira padahal sebelumnya mereka begitu tidak menyukai keberadaan Emira dan Kayla bahkan sampai menghina keduanya. Tetapi dengan beberapa waktu saja sikap mereka itu berubah dengan seratus delapan puluh derajat....?


Apa.... Emira dan Ibunya Kayla itu menggunakan sihir kegelapan untuk memikat seseorang seperti apa yang Bella dan Duke Curt lakukan pada Pangeran Helios? Jika benar.... Apa saat aku di bakar hidup-hidup itu para Kakakku sedang terpengaruh oleh sihir kegelapan? Apa.... Aku sebenarnya tidak di benci oleh mereka....?


"Vivi... Vi, Vivi!"


Aku tersentak dan langsung melihat ke arah Pangeran Helios yang sedang menatapku dengan tatapan khawatir.


"Ada apa? Kenapa mendadak kamu terlihat pucat? Apa Vivi sedang sakit?" Tanya Pangeran Helios dengan nada yang khawatir.


Pangeran Helios tampak masih menatapku namun ia pun menghela nafas.


"Baiklah, tiga hari lagi adalah Ulang Tahun Kak Castor. Apa Vivi sudah menyiapkan hadiah untuk Kak Castor"


Ah, iya. Aku hampir lupa! Aku pun membalikkan badanku dan melihat ke arah Diana. Diana pun maju sambil menyerahkan sebuah kotak besar kepada Pangeran Helios.


Pangeran Helios sendiri terlihat bingung, "Ini apa, Vivi?"


Aku tersenyum tipis, "Coba Kakak buka"


Pangeran Helios pun membuka kotak itu, terlihat wajah terkejut yang ada di wajahnya sekarang.


"Vivi.... Ini..."


Aku menyeringai tipis, "Mari jelaskan sekarang"


***


Setelah mengunjungi Pangeran Helios, sekarang giliran Pangeran Blaze. Kebetulan istana Pangeran Helios dan Pangeran Blaze itu sangat berdekatan jadi aku pun langsung kesana dan tidak merasa begitu kelelahan karena memang jaraknya sangat dekat.


Sesampainya di sana, aku langsung di sambut oleh para pelayan yang langsung mengatakan kalau Pangeran Blaze sedang berada di Perpustakaan yang ada di istana pribadinya ini.


Para pelayan itu pun menuntunku ke arah Perpustakaan pribadi milik Pangeran Blaze. Sesampainya di sana, aku melihat Pangeran Blaze sedang fokus dengan buku yang sedang ia baca.


Hmm... Kalau di pikir-pikir, aku dan ketiga Kakakku ini memang memiliki kemiripan satu sama lain. Kami sama-sama menikmati waktu belajar kami dan tidak merasa segan untuk menunjukkannya secara terang-terangan. Kami semua sama-sama menikmati waktu kami ketika membaca buku.


Pangeran Blaze pun menatap ke arahku, matanya terlihat melebar dan terlihat jelas ia terkejut melihat kedatanganku kemari.


"Vivi...." Lirihnya.


Hm? Kenapa ia tidak terlihat ceria ketika melihatku seperti biasanya ya?


"Aku datang berkunjung Kak Blaze!"


Pangeran Blaze terlihat menundukkan kepalanya seolah-olah tidak ingin melihatku namun tidak lama kemudian, ia pun tersenyum lebar ke arahku.


"Ada apa, Vivi? Apa Vivi merindukan Kakakmu Blaze Ini?" Tanya Pangeran Blaze dengan senyuman lebar miliknya yang seperti biasa.


Rasa syukur pun menyelimutiku ketika melihat senyuman lebar milik Pangeran Blaze itu. Entah kenapa rasanya memang sangat aneh melihat Pangeran Blaze tanpa senyuman cerianya itu dan juga hal itu mengingatkanku kembali kepada sikap Pangeran Blaze yang menyiksaku di penjara bawah tanah di kehidupan sebelumnya.


Aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkan kenangan yang begitu mengerikan itu lalu tersenyum tipis kepadanya.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan pada Kakak" Kataku.


Diana pun maju sambil menyerahkan kotak besar yang sama dengan yang ku berikan pada Pangeran Helios tadi kepada Pangeran Helios.


Pangeran Blaze juga terlihat kebingungan dan saat ia membuka kotak itu, ia tampak sangat terkejut.


"Vivi... Ini..."


Aku tersenyum tipis, "Benar. Aku am menjelaskannya kepada Kakak sekarang, jadi tolong dengarkan baik-baik ya"


Pangeran Blaze pun menatapku dengan dalam dan membuatku mendadak merasa canggung. Namun ia pun kembali tersenyum lebar nan cerah bagaikan matahari.


"Baiklah, aku akan menuruti perkataan Vivi!" Kata Pangeran Blaze.