
Keesokan harinya, aku bersama Luna pergi untuk membeli set gaun untuk pesta Ulang Tahun Putra Mahkota sebulan lagi. Sebelumnya, kemarin sore aku sempat menemui Kaisar dan mengajaknya untuk pesta teh. Kaisar awalnya tampak menolak namun dengan menggunakan kartu as ku yaitu memohon padanya dengan gaya imut, akhirnya ia pun menyetujuinya.
Aku meminta Kaisar untuk berbicara empat mata saja dengan sengaja menyindir Kayla alias wanita simpanan Kaisar itu yang masih saja tidak mau berjauhan dengan Kaisar padahal aku bilang sebelumnya Kalau aku hanya ingin berbicara berdua dengan Kaisar dan akhirnya Kaisar pun setuju dan menyuruh Kayla dan juga beberapa pelayan yang lain untuk pergi dari taman kaca yang berada di di Istana Sonne ini. Alasan kenapa aku memilih tempat ini karena jika aku mengatakan ini di ruang kerja Kaisar, bisa saja Emira menguping pembicaraan kami ini.
Ya, sekarang aku tahu dimana Emira dan juga Kayla bersembunyi. Itu adalah ruang rahasia yang seperti labirin panjang yang berada di istana dan satu-satunya jalan masuk ke sana ada di ruang kerja Kaisar ini.
Aku sendiri mengetahui hal ini saat aku berumur sepuluh tahun atau lebih tepatnya saat aku berhasil menguasai sihir teleportasi. Saat itu aku mencoba untuk melakukan sihir teleportasi saat tengah malam (karena tidak bisa tidur aku pun memutuskan untuk belajar mengendalikan kemampuan sihirku), aku tidak sengaja men-teleportasi diriku ke ruang kerja Kaisar yang tampak kosong dan melihat pintu itu terbuka. Karena penasaran, aku masuk ke sana lalu menemukan sebuah pintu ruangan yang besar yang sedikit terbuka dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Kaisar, Kayla dan juga Emira sedang bercengkrama layaknya keluarga keluarga bahagia di sana dan juga membicarakan hal yang membuatku semakin tidak ingin mempercayai sosok Ayahku itu. Dengan buru-buru aku pun mundur dan menggunakan sihir teleportasi untuk kembali ke kamarku.
Oleh karena itu aku harus selalu hati-hati lagi karena berada di ruang kerja Kaisar. Saat kami berada di taman kaca, aku pun mengatakan rencanaku kepada Kaisar mengenai 'hadiah' ku untuk Putra Mahkota Castor. Kaisar pun dengan mudahnya menyetujuinya rencanaku bahkan ia memberikanku uang yang sangat banyak (yang jelas membuatku terkejut setengah mati). Awalnya aku menolak cek itu, akan tetapi Kaisar bersikukuh untuk memberikan cek itu dan bahkan mengancamku dengan membatalkan perjanjian ini. Dengan berat hati aku pun menerimanya, yah... Ada bagusnya juga sebenarnya.... Karena setidaknya uang yang ku tabung selama ini tidak jadi ku pakai dan bisa ku tabung kembali lagi.
Aku juga meminta Kaisar untuk tidak menceritakan rencana ini pada siapa pun. Bahkan aku juga sampai menggunakan sihir perjanjian supaya Kaisar tidak mengatakan hal ini khususnya pada Kayla dan Emira karena... Kenyataan pahit yang jelas membuatku semakin membenci Kaisar.... Dan karena itu, aku merencanakan hal ini. Rencana yang akan membuat keadaan tidak seperti dulu lagi meski mereka berdua tampil di depan publik.
Aku mendengus pelan, lalu menatap kearah luar jendela kereta kuda yang sedang kutumpangi ini. Pemandangan Khas balai kota pun membuat perasaanku sedikit membaik. Dan tidak lama setelah itu, aku sampai di depan batik milik Marchioness Aria, sang desainer terbaik di Kekaisaran Eilidh ini.
Saat aku turun dari kereta kuda dengan bantuan Diana dan juga beberapa pelayan yang di tugaskan untuk menjagaku. Saat aku masuk ke dalam, aku langsung di sambut oleh Marchioness Aria dan beberapa pelayan yang bekerja di sini.
"Salam kami kepada Yang Mulia Tuan Putri Viviane, sang bintang kecil Kekaisaran Eilidh ini. Semoga anda menerima berkah dari Dewa Matahari dan Dewi Bulan: Sapa Marchioness Aria dengan etika yang sangat sempurna.
Aku mengangguk kecil, "Terimakasih Marchioness"
"Saya dengar anda sudah ada janji dengan Nona Erickson, beliau ada di ruangan sana. Silahkan ikuti saya, akan tunjukkan jalannya" Kata Marchioness Aria.
Aku pun berjalan mengikuti Marchioness Aria, di belakangku ada juga Diana yang mengikuti kami. Saat kami sampai di ruangan yang di tunjukkan oleh Marchioness Aria, aku pun melihat Luna yang sedang duduk di sofa ruangan itu bersama pelayan pribadinya, Sophie.
Awalnya ia tampak sibuk melihat buku sketsa gaun yang di pegangnya, namun setelah menyadari kedatanganku, ia pun menutup buku itu dan tersenyum lebar ke arahku.
"Vivi! Kamu sudah datang?!" Seru Luna.
Aku pun mengangguk dan berjalan mendekatinya, "Iya. Umm... Apa kamu menunggu lama? Maaf aku datang terlambat..."Luna menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kamu tidak terlambat sama sekali. Sa-- aku juga baru sampai kok"
"Kalau begitu silahkan anda duduk di sini, Yang Mulia Tuan Putri" Kata Marchioness dengan sopan.
Aku pun duduk di sofa atau lebih tepatnya di sebelah Luna.
Marchioness Aria pun memberikan sebuah buku sketsa padaku namun aku menolaknya.
Diana lalu memberikan sebuah buku tipis kepada Marchioness Aria yang tampak kebingungan. Saya membuka buku itu mata Marchioness pun tampak terbelalak lebar.
"Yang Mulia Tuan Putri... Ini...." Katanya dengan tidak percaya.
Aku tersenyum tipis, "Iya, saya ingin anda membuatkan beberapa pakaian yang sesuai dengan yang ada di buku itu. Tentang ukuran, ada tertulis di sketsanya masing-masing. Dan saya juga ingin anda menjalin kontrak sihir perjanjian dengan supaya tidak ada yang mengetahuinya"
Marchioness Aria lalu menatapku, "Apa anda ingin merahasiakannya?"
Aku mengangguk, "Iya. Aku ingin kau sendirilah yang membuatnya supaya desain ini tidak di ketahui orang luar"
Marchioness Aria tampak berpikir sejenak, lalu ia pun tersenyum, "Baiklah Yang Mulia Tuan Putri, saya menerimanya. Lagipula ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Namun, saya juga menginginkan dua orang kepercayaan saya untuk ikut membantu saya dalam mengerjakannya"
Aku mengangguk dan Marchioness Aria menyuruh dua pelayan kepercayaannya maju untuk berdiri di sejajar dengannya.
Aku langsung mengeluarkan lingkaran sihir perjanjian kontrak dan sihir itu meluas hingga menyelimuti lantai yang Marchioness dan kedua pelayannya itu. Dan tidak lama, lingkaran sihir itu pun menghilang.
Sihir pernjanjian kontrak ini adalah sihir perjanjian antara kedua belah pihak yang sudah saling menyetujui akan suatu hal. Bagi yang melanggar perjanjian ini, orang itu akan merasakan rasa sakit yang amat sangat bahkan saking sakitnya bisa membuat seseorang menjadi gila.
Aku tahu ingin kejam, tapi aku sudah membulatkan tekadku sejak mengetahui tentang kebenaran dari perkenalan Kayla dan juga Emira. Kali ini aku benar-benar tidak akan membuat mereka berbuat seenaknya!
"Dan satu hal lagi Yang Mulia" Kata Marchioness Aria tiba-tiba dan membuatku kembali menatap ke arahnya.
Skill anda mendesain pakaian sangatlah briliant! Sepertinya dari seni dari Yang Mulia Permaisuri benar-benar mengalir pada anda!" Lanjut Marchioness Aria dengan mata yang berbinar-binar sembari menatapku, ia lalu kembali menatap buku sketsaku, dua pelayan Marchioness yang juga melihat desain buatanku juga terlihat menatapku dengan tatapan memuji.
Mendengar pujian it?pun membuatku sedikit merasa malu. Yah... Setidaknya aku membuat desain yang kubuat sudah cukup membuat Desainer sekelas Marchioness Aria yang merupakan Desainer terbaik di seluruh Kekaisaran Eilidh saat ini.
Tidak lama kemudian Marchioness menyuruh dua pelayan kepercayaannya itu untuk segera menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat untuk membuat pakaian pesananku sementara aku pun meminum teh yang di suguhkan di depanku dengan tenang.
"Apa Vivi membuat desain set gaun sendiri?" Tanya Luna dengan tampang yang terlihat sangat penasaran.
"Iya, sebenarnya ini juga merupakan kejutan untuk Kak Castor jadi aku tidak ingin rencana ini bisa bocor. Makanya aku sampai membuat sihir kontrak dengan Marchioness Aria dan dua pelayannya" Jawabku pada Luna (meski jawaban itu sedikit bohong karena rencana ini sesungguhnya bukan rencana untuk mengejutkan Putra Mahkota Castor).
Mataku menatap bayangan wajahku yang terpantul di teh yang berada di genggamanku ini. Aku memang merasa diriku ini begitu jahat karena sampai melibatkan orang lain dalam rencanaku ini bahkan mengikat mereka dengan sihir perjanjian kontrak seperti ini. Tapi sejak mengetahui 'kebenaran' itu, aku menjadi sangat marah pada sosok Ayahku itu. Kebenaran yang sempat membuatku KEMBANG terpuruk untuk beberapa lama. Dan membuatku kini akan membalas mereka bertiga dengan caraku sendiri.