
Castor menatap tumpukan kertas di mejanya itu dengan wajah yang terlihat begitu lelah. Terlihat wajahnya yang pucat dan kantung mata hitam di kedua matanya yang menjadi bukti bahwa ia tidak beristirahat dengan baik akhir-akhir ini.
Persiapan Pesta Ulang Tahunnya yang ke sembilan belas tahun ini memang di tangani sepenuhnya oleh sang Ibu, Permaisuri Ivona karena tahu Putra sulungnya ini sibuk dengan urusan pekerjaannya sebagai Putra Mahkota. Ivona takut kalau Putranya itu lama-lama akan jatuh sakit karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan-pekerjaannya jadi ia mengambil alih pekerjaan tentang persiapan Pesta Ulang Tahun Castor yang ke sembilan belas tahun.
Belum lagi, sekarang ia harus menangani para bangsawan yang terus menerus menekannya untuk segera memiliki tunangan untuk mengisi posisi Putri Mahkota, tahun lalu saat ia debutante para bangsawan itu semakin gencar i memperkenalkan Castor pada putri-putri mereka atau kerabat perempuan mereka yang seumuran dengan Castor dan jelas tujuan mereka hanya satu, yaitu mengincar posisi Putri Mahkota.
Ratusan surat dari para bangsawan tentang pengajuan lamaran pun sudah bertumpuk di kotak besar di sudut ruang kerjanya. Castor sendiri tidak pernah membaca surat itu karena selain malas ia juga sangat sibuk untuk membacanya.
"Sial... Sebenarnya apa sih yang di kerjakan oleh Pak Tua itu" Geram Castor.
Benar, ia benar-benar sangat marah pada Kaisar alias Ayahnya karena tentang pekerjaan-pekerjaan yang harusnya banyak ini adalah pekerjaan Kaisar. Namun Duke Curt yang merupakan ajudan dari Kaisar mengatakan hal ini juga merupakan latihan bagi Castor yang merupakan calon Kaisar masa depan.
'Bilang saja kalau dia ingin bersama wanita simpanannya, sialan!!!!!!!' Lanjut Castor dalam hati. Tangannya sendiri sudah merasa gatal ingin membakar semua tumpukan kertas ini
"Hayooo... Yang mikir membakar kertas-kertas ini" Ucap seorang pria di depannya ini.
Castor melirik sebal ke arah pria yang terlihat seumuran dengannya itu, "Kau itu berniat membantu atau malah mengolokku"
Pria itu tertawa kecil, "Wajahmu itu mengatakan kalau kau ingin membakar semua tumpukan kertas ini, Yang Mulia"
Castor menghela nafas lelah, "Kau sama sekali tidak membantu, Dereck"
Pria itu adalah Dereck Gavino Sirius, Putra dari Marquess Sirius di tunjuk sebagai ajudan dari Putra Mahkota Castor. Seumuran dengan Castor, hanya lebih tua dari beberapa bulan dari sang Putra Mahkota. Dia adalah pria yang tampan dengan rambut pirang dan bermata hijau emerald, tumbuh tinggi dan tegap. Ia sendiri terkenal akan keramahannya di kalangan dunia sosial para bangsawan dan merupakan pria yang paling di incar oleh para wanita bangsawan nomor dua (karena nomor satunya adalah Castor). Kalau sudah akrab dengannya, ia adalah seseorang yang easy going dan juga sedikit jahil.
Tentu saja, Castor adalah orang yang paling sering menjadi korban kejahilan yang di miliki oleh Marquess Sirius di masa depan ini.
Jika Blaze memiliki Arthur sebagai sahabat dekatnya, maka Castor memiliki Dereck yang juga merupakan sahabatnya sedari kecil yang kini merangkap sebagai ajudannya.
"Dan Yang Mulia, kenapa kau tidak pernah meluangkan waktumu untuk membaca surat-surat yang sudah bertumpuk di sudut ruangan itu?" Tanya Dereck.
"Malas" Jawab Castor singkat yang masih fokus dengan dokumen yang berada di genggaman tangannya itu.
Dereck menghela nafas, "Kalau sifatmu seperti ini terus, kau tidak akan pernah menikah kau tahu?"
Dereck nyengir, "Belum hehe. Belum ada gadis yang menarik perhatianku sih"
"Begitu pun denganku" Sahut Castor.
"Yahh.... Kau tahu, susah mencari gadis yang benar-benar tulus pada kita, bukan hanya dari tampang maupun harta. Aku mencari gadis yang bisa menerimaku apa adanya"Kata Dereck yang mulai mengambil beberapa dokumen untuk mengerjakan tugasnya dan muka membantu Castor.
"Aku masih belum memikirkan hal semacam itu. Selain pekerjaanku, aku juga ingin mencari cara agar Vivi selamat dari ritual tumbal itu, waktu yang kupunya hanya enam tahun lagi. Aku tidak mau adikku Itu menjadi tumbal dari ritual yang tidak jelas itu" Kata Castor.
"Ritual yang tidak jelas yang sudah di lakukan oleh Kekaisaran ini sejak kekaisaran ini berdiri" Timpal Dereck.
Dereck sendiri menatap ke arah Castor dengan prihatin. Ia memang tahu tentang usaha Castor yang selama ini mencari cara untuk membebaskan adiknya dari ritual persembahan kepada Dewa Matahari itu (yang menurut Dereck juga sangat konyol karena ia jelas tidak percaya pada ritual itu karena menurutnya mana mungkin Dewa Matahari menginginkan tumbal semacam itu?). Ia tahu jelas perasaan Castor karena ia sendiri memiliki seorang adik perempuan yang hanya berbeda umur dua tahun darinya itu. Adik perempuan yang sangat ia sayangi yang kini sedang sibuk belajar di Akademi Kekaisaran sampai-sampai gadis itu jarang terlihat di kehidupan sosial. Bahkan Castor yang merupakan sahabatnya sendiri belum pernah bertemu dengan adik perempuan Dereck itu.
Namun beberapa hari yang lalu, ia di beritahu oleh keluarganya kalau adiknya itu akan segera lulus tiga minggu lagi karena adiknya itu sudah memenuhi syarat untuk lulus dari Akademi Kekaisaran. Yah... Dereck memang sudah merencanakan untuk menyambut adik perempuan satu-satunya itu.
"Lalu bagaimana dengan rencanamu yang meminta cuti tiga minggu lagi?" Tanya Castor tiba-tiba.
"Ohhh! Iya. Adik perempuanku yang sangat manis itu tiga minggu lagi akan lulus. Aku memang ingin mengambil cuti untuk menyambutnya kembali ke mansion" Jawab Dereck dengan antuasias.
"Kudengar dia loncat kelas ya, seperti dirimu dulu?" Tanya Castor lagi.
"Benar! Aku yang dulu lulus saat berumur enam belas dan kini adik perempuanku lulus saat berumur tujuh belas tahun. Adikku sendiri berniat untuk bergabung ke dalam Penyihir Kekaisaran mengingat bakat sihirnya yang kuat itu" Jawab Dereck dengan nada yang begitu bangga.
Ya, Dereck memang baru lulus sekitar tiga tahun yang lalu atau lebih tepatnya saat ia berumur enam belas tahun dan ia langsung di tunjuk oleh Kaisar langsung sebagai Ajudan untuk Putra Mahkota karena selain Dereck yang merupakan sahabat Castor sejak kecil, Dereck juga merupakan lulusan terbaik dalam pelajaran hukum politik yang jelas sangat membantu Castor ke depannya.
Sementara Castor sendiri jadi mengingat soal Vivi. Adiknya itu juga sangat berbakat dalam sihir seperti adiknya yang lain yaitu Blaze. Meski memang sangat jarang bertemu dengan mereka karena pekerjaannya yang begitu menumpuk seperti ini, Castor jelas ikut mengamati perkembangan kedua adiknya ini yang meningkat secara drastis.
Castor sendiri juga mengawasi diam-diam adiknya yang lain yaitu Helios yang sudah mulai bergerak secara mencurigakan. Seperti yang sudah Castor duga, Helios sudah berhasil di bujuk oleh Duke Curt yang menggunakan Putrinya untuk ikut bersaing dalam perebutan tahta. Jelas hal itu membuat Castor murka pada Duke Curt yang sudah meracuni pikiran adiknya itu namun untuk saat ini ia harus mengumpulkan barang bukti untuk menjatuhkan ajudan Ayahnya itu dan juga menyadarkan Helios yang sudah dibutakan oleh cintanya kepada Putri dari Duke Curt, Bella Aelesha Curt.
Belum lagi masalah tentang Ayah dan juga wanita simpanannya yang terlihat mulai terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka, hal ini benar-benar membuat Castor merasakan firasat yang sangat buruk dalam waktu yang dekat ini.
Castor menghela nafas, ia sekarang sedang berusaha untuk menghadang badai-badai yang akan datang kepada keluarganya ini. Demi Ibu dan ketiga adiknya itu, ia rela akan melakukan hal apapun untuk menjaga mereka semua dari badai yang akan segera datang ke dalam kehidupan mereka ini.