THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 33-PERTANDINGAN BERBURU PART V



Luna tidak menyukai tempat yang ramai. Ia adalah seorang anak yang lebih memilih berada di rumah sambil membaca buku-buku yang menarik.


Jadi, ketika hatinya sedang merasakan perasaan yang tidak menentu ini, ia pun memutuskan untuk keluar dari acara minum teh yang di lakukan para anak-anak bangsawan untuk mencari suasana yang lebih tenang.


Tadinya ia sempat berpikir untuk menghampiri Ibunya, tapi ia pun membatalkan niatan itu karena mengingat Ibunya juga sedang mengadakan pesta teh dengan Yang Mulia Permaisuri dan juga para wanita bangsawan lainnya. Jika ia menghampiri Ibunya seperti ini, pasti akan banyak yang membicarakan Ibunya juga dirinya dan menjadi topik pembicaraan yang berubah menjadi gosip-gosip yang lama-lama makin melantur.


Ia pun memutuskan untuk kembali ke tenda milik keluarga Duke Erickson dan membaca salah satu buku yang ia bawa dari mansion kediaman Erickson sambil duduk-duduk santai.


Namun entah kenapa kali ini ia merasa tidak betah membaca buku seperti ini padahal biasanya kegiatan sehari-hari dirinya yaitu memang seperti ini, yaitu bersantai sambil membaca buku. Tapi kali ini entah kenapa perasaannya yang tidak menentu, ia tidak begitu menikmati membaca buku-buku seperti biasanya.


Luna menghela nafas lalu menutup buku yang ia baca dan menaruhnya di meja yang berada di depannya. Dengan sedikit murung, ia menyentuh saku blazer yang ia pakai, 2 sapu w bersulam buatannya di simpan.


Ini pertama kalinya Luna merasa tidak begitu percaya diri seperti ini. Harusnya ia lebih serius dalam pelajaran etikanya, mungkin hasilnya akan lebih bagus dari sulaman yang tidak rapi ini.


Ayahnya menerima sapu tangan itu memang menerimanya dengan penuh suka cita dan merasa begitu senang. Bahkan Ayahnya juga sudah menjanjikannya akan memberikan Luna sebuah hadiah saat mereka kembali ke mansion kediaman mereka. Tapi Pangeran Blaze bukanlah Ayahnya, mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka baru bertemu dua kali yaitu saat Pesta Ulang Tahun Ketujuh dan Perkenalan Tuan Putri Viviane dan juga saat ini di pertandingan berburu. Bahkan mungkin Pangeran Blaze sama sekali tidak mengenal Luna.


Luna pun memutuskan untuk menghirup udara segar untuk menenangkan perasannya lalu berjalan keluar dari tenda dan berjalan terus hingga akhirnya ia berada di perbatasan sihir penghalang.


"Ah... Tidak harusnya aku berada di sini, akan berbahaya kalau ada prajurit yang memergokiku" Gumam Luna lalu membalikkan badannya dan berjalan menjauhi perbatasan sihir penghalang.


Namun matanya langsung terbelalak ketika kakinya tidak bisa bergerak, lalu ia pun menyadari kalau kakinya seperti di cengkeram oleh sesuatu yang sangat kuat. Saat ia menoleh ke bawah, ia tersentak kaget ketika melihat asap hitam yang menyelimuti kakinya.


"--Apa ini?!"


Belum selesai keterkejutan Luna itu, tiba-tiba saja asap itu bergerak menarik Luna dengan paksa hingga membuat Luna jatuh terjerembab.


"Ahkk!!! Tolong!!!!!!" Teriak Luna yang berharap ada prajurit yang berada di dekatnya lalu menyelamatkannya.


Asap itu dengan cepat menyeret kaki Luna menuju perbatasan sihir penghalang dan keluar dari zona aman itu dan terus di tarik semakin dalam ke hutan Nature.


"TOLONG!!!" Teriak Luna. Ia merasa kakinya mulai terasa begitu perih dan mulai terlihat cairan merah yang keluar dari kakinya yang sedang di tarik itu.


Ia lalu mengarahkan tangannya ke asap itu lalu mulai mengingat pola sihir yang pernah ia baca di buku sihir.


"Sihir Cahaya!!!" Seru Luna dan seketika saja cahaya yang begitu terang muncul di telapak tangannya dan langsung mengarah pada ke arah asap hitam itu.


"ARRHGGHHH!!!!"


Sebuah teriakan menggema di hutan lalu perlahan asap hitam itu melepaskan kaki Luna dan menjaga jarak darinya.


Luna mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu menatap kakinya yang mulai mengeluarkan darah yang begitu banyak. Ternyata kakinya telah terobek oleh 'sesuatu' yang begitu tajam.


Luna pun menatap ke arah kepulan asap hitam yang berada di depannya itu. Suara geraman hewan buas terdengar dari sana, perlahan asap hitam itu membentuk dan berubah menjadi sesuatu yang begitu besar. Dan kepulan asap itu mulai menghilang dan memperlihatkan seekor serigala yang begitu besar berwarna hitam pekat, bermata merah darah yang menatap Luna bagaikan predator yang haus akan mangsa, gigi-gigi besar yang runcing dan begitu tajam dan begitu juga kuku-kuku besar nan tajam. Di salah satu kali bagian depannya terlihat berlumuran darah yang sepertinya milik Luna.


Luna membeku melihat serigala raksasa itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mematung namun ia pun segera tersadar dan mulai berteriak kembali.


"TOLONG!!!!" Teriak Luna, berharap bisa seorang peserta pertandingan berburu yang mendengar suaranya. Namun hasilnya tetap nihil, tidak ada seorang pun di sana yang akan menyelamatkan Luna.


Ia melihat serigala raksasa itu bergerak dan langsung menerkamnya. Seketika sosok Ayah dan Ibunya terlintas di benaknya.


'Maaf... Ayah... Ibu... Selamat tinggal...' pikir Luna yang sudah pasrah terhadap apa yang terjadi padanya.


"DINDING ES!!!"


Seketika saja muncul sebuah dinding es yang menjulang dan sangat lebar di depannya dan membuat serigala raksasa itu tidak bisa menyerangnya. Belum selesai dengan rasa terkejutnya itu, terlihat seseorang yang melesat ke arahnya dan berdiri di depannya.


Orang itu adalah anak perempuan yang lebih muda darinya. Memiliki rambut hitam panjang lurus dan mata biru laut yang sekilas mirip dengannya. Dia adalah anak Kaisar yang paling bungsu dan merupakan satu-satunya Tuan Putri di Kekaisaran Eilidh ini, Tuan Putri Viviane Camellia Eilidh.


--Tu--Tuan Putri...." Lirih Luna.


Vivi lalu menoleh ke arah Luna dan menarik tangan Luna, "Mari kita kabur dari sini, Nona Luna!"


Dinding es itu terus bergetar karena di pukul-pukul oleh serigala raksasa itu, dengan cepat Vivi pun meletakkan tangan Luna ke lehernya dan merangkulnya lalu ia pun menggunakan sihir terbang dan menjauh dari serigala itu.


BRAAAKKKK!!!!!


Dinding es yang di buat oleh Vivi itu pun hancur berkeping-keping lalu serigala itu dengan sangat cepat berlari untuk mengejar mereka. Serigala raksasa itu tampak begitu gesit dan sangat cepat melebihi kecepatan serigala-serigala pada umumnya karena serigala raksasa itu bahkan hampir mendekati mereka padahal Vivi dengan kecepatan maksimal yang sangat cepat itu dan membuat Vivi begitu merasa terkejut.


Serigala itu lalu melompat dengan lompatan yang sangat tidak masuk akal karena mencapai dengan ketinggian yang sama dengan Vivi yang menggunakan sihir terbang.


Mulut serigala raksasa itu terbuka dengan lebar dan siap untuk memakan Vivi dan Luna sekaligus namun dengan cepat Vivi menghindar dari terkaman sosok serigala raksasa itu.


Jantung Vivi berdegup dengan kencang karena nyaris saja dirinya akan mati bersama Luna namun dengan cepat ia menenangkan dirinya lalu kembali fokus dan menambah kecepatan terbangnya.


Namun tidak di sangka serigala raksasa itu bergerak dengan begitu sangat cepat hingga melewati Vivi dan Luna lalu kembali melompat dengan lompatan yang sama seperti tadi sambil membuka mulutnya dengan sangat lebar dan akan menerkam Vivi dan Luna dari depan.


Vivi merasa sangat terkejut dan akan menghindar namun tidak akan sempat. Akan tetapi, tiba-tiba saja seseorang muncul di depannya dan langsung menebas serigala raksasa itu dengan pedang yang di selimuti dengan sihir api yang terlihat begitu membara.


"RASAKAN INI!!!!!!!"


Dan serigala itu pun langsung terbelah menjadi dua.


"RRRRAAAHHHHHHH!!!!"


Teriakan mengerikan itu terdengar dari arah serigala itu lalu sosok serigala raksasa itu kembali ke wujud asap hitam pekat seperti sebelumnya dan menghilang tanpa jejak.


Vivi dan Luna menatap tidak percaya pada seseorang yang baru saja menyelamatkan mereka itu. Orang itu lalu membalikkan badannya dan dengan raut wajah khawatir, ia pun mendekati kedua anak perempuan itu.


"Kalian tidak apa-apa kan?! Vivi?! Dan juga Nona Luna Erickson?!" Tanya Blaze dengan penuh nada kekhawatiran.


Ya, orang yang menyelamatkan mereka adalah Blaze. Hal itu membuat hati Vivi merasa begitu lega, karena Blaze telah menyelamatkannya dan juga Luna.