THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 42-INGATAN YANG KEMBALI



...--Dua minggu sebelum Pesta Ulang Tahun Castor--...


Blaze berjalan menuju ruang kerja Kaisar sambil membawa beberapa dokumen. Hari sudah malam dan suasana istana utama sangatlah sepi namun hal ini justru bagus karena Blaze memang hanya ingin berbicara empat mata dengan Ayahnya.


Hal yang akan di bicarakan olehnya adalah soal rencana Duke Curt dan juga Pangeran Helios. Selama kurang dari dua minggu ini, Blaze bersama Arthur berhasil mengumpulkan banyak barang bukti mengenai kebusukan Duke Curt dan keluarganya itu. Ia bahkan sudah memiliki saksi yang akan bersaksi tentang kejahatan-kejahatan Duke Curt dan keluarganya itu.


Sesampainya ia di depan ruang kerja Ayahnya, ia langsung membuka pintu besar yang tidak dijaga oleh para prajurit seperti biasanya. Namun, Blaze sendiri merasa tidak aneh dengan hal itu karena ia tahu hanya dari jam delapan pagi sampai jam empat sore ruangan ini di jaga oleh para prajurit. Lebih dari jam itu memang tidak ada yang menjaga sama sekali, namun hal itu juga tidak di permasalahkan karena tidak akan ada yang berani menyakiti Kaisar.


Kaisar Horus di kenal sebagai pemilik kekuatan sihir yang sangat besar khususnya di sihir penyegelan. Belum lagi, dia juga merupakan ahli pedang yang hampir setara dengan Duke Allison yang merupakan ahli pedang terkuat di Kekaisaran bahkan tercatat sebagai yang terkuat di dalam sejarah Kekaisaran Eilidh ini. Jadi hanya orang bodoh atau paling tidak sangat nekat untuk menyerang Kaisar karena hal itu sama saja dengan mencari mati.


Saat ia membukanya, ruangan itu kosong dan membuat Blaze seketika menjadi bingung.


'Apa Ayah sudah ke kamarnya ya' pikir Blaze.


Namun samar-samar Blaze dapat mendengar suara Ayahnya dan dengan beberapa orang, Blaze memang memiliki pendengaran yang sangat tajam, jadi Blaze bisa mendengarnya meski memang terdengar samar.


Blaze mulai mencari asal suara itu dan menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka.


'Ini aneh, kenapa ada pintu di sini sih? Perasaan ini kan hanya tembok biasa?' pikir Blaze.


Karena terdorong akan rasa penasaran dan jiwa petualang yang ada di dalam dirinya, Blaze pun membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Setelah masuk, ia pun kembali menutup pintu itu dengan posisinya yang semula yaitu dengan posisi yang sedikit terbuka.


Blaze pun menemukan ia berada di sebuah lorong yang sangat panjang dengan pencahayaan yang remang-remang karena hanya di terangi oleh obor di beberapa tempat di lorong itu.


Blaze berjalan menyusuri lorong itu dengan perasaan yang begitu penasaran, ia bahkan merasa tidak ketakutan sama sekali karena memang ia adalah seorang pemuda yang amat sangat pemberani. Bahkan saat ia di lempar ke dalam hutan Nature sendirian saat malam hari oleh Duke Allison sebagai pelatihannya pun ia sama sekali tidak merasa ketakutan, apalagi hanya lorong yang gelap seperti ini.


Ia juga mendengar suara Ayahnya itu terdengar semakin jelas. Kali ini ia menyadari suara-suara lain yang ada di sana. Ada suara Duke Curt, lalu ada suara pelayan pribadi Ayahnya dan suara seseorang anak perempuan.


Jantung Blaze berdetak semakin kencang. Kali ini ia merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Ia semakin mempercepat langkahnya dan melihat pintu besar yang sedikit terbuka di ujung lorong itu.


"Papa, kata Papa aku dan Ibu akan di perkenalkan nanti di pesta ulang tahun Kak Castor, apa itu benar?"


DEG


Suara anak perempuan itu terdengar dan membuat jantung Blaze berdetak dengan begitu kencang. Matanya terbelalak lebar. Ia... Sepertinya mengenali suara itu... Tapi... Siapa....?


: Itu benar Putri Papa, Papa akan kepada saudara-saudaramu yang lain" Kali ini suara Ayahnya yang terdengar.


"Tapi, Yang Mulia.... Apa tidak apa-apa jika memperkenalkan kami di pesta Ulang Tahun Putra Mahkota Castor?" Kali ini suara pelayan pribadi Ayahnya yang terdengar.


"Tentu saja Yang Mulia Selir, pesta ulang tahun Putra Mahkota Castor adalah waktu yang sangat tepat untuk memperkenalkan anda dan juga Yang Mulia Tuan Putri Emira" Kali ini suara Duke Curt yang terdengar.


Emira.... Emira.... Emira....


Seketika bayangan-bayangan tentang gadis berambut merah dan bermata kuning keemasan terbayang di benak Blaze. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Ini adalah ingatan.... Emira.... Emira.... Gadis yang sudah menghancurkan kehidupan keluarganya bersama dengan Ibunya, Kayla yang merupakan pelayan pribadi Kaisar.


Emira dan Ibunya sudah menggunakan sihir kegelapan yang mengubah kedua Kakaknya untuk membenci adik kesayangan mereka, Vivi! Dua orang yang sudah membuat Vivi menderita dan dua orang yang membuat Blaze untuk merencanakan dengan mengirimkan Vivi kembali ke masa lalu dengan cara yang sangat menyakitkan....


Hal yang paling menyakitkan bagi Blaze adalah saat ia terpaksa menyiksa adik kesayangannya sendiri di penjara bawah tanah agar Castor dan Helios tidak menyiksa Vivi dengan lebih kejam lagi karena mereka sudah terpengaruh oleh sihir kegelapan dari kedua wanita itu.


Air mata deras mulai keluar dari mata Blaze, ia menutup kedua telinganya kuat-kuat dengan kedua tangannya. Suara teriakan Vivi saat itu terdengar di telinganya. Sumpah yang di ucapkan oleh Vivi terasa mencabik-cabik hatinya.


Blaze terpaksa melakukan hal itu, karena tidak ada cara lain untuk mengirim seseorang ke masa lalu selain 'membunuh' orang itu. Begitu pun dengan Blaze yang langsung 'membunuh' dirinya sendiri dengan menusuk jantungnya sendiri menggunakan pedangnya yang sudah di lingkari sihir tingkat khusus yaitu sihir waktu untuk membuat dirinya kembali ke masa lalu setelah tubuh Vivi berubah menjadi abu. Hanya saja tanpa ingatan dan ketika mendengar nama Emira, ingatan menyakitkan tentang kehidupan sebelumnya pun kembali.


Ia sekarang tahu alasan kenapa Vivi berubah... Vivi mengingat semuanya dan Blaze merasa yakin Vivi sudah sangat membencinya.


Sambil meremas kertas-kertas yang ia pegang ia berjalan dengan cepat ke arah pintu itu dan berniat untuk langsung menemui orang-orang sialan yang sudah menghancurkan kehidupan adik kesayangannya. Ia berniat untuk menghajar Ayahnya sekarang juga karena sudah berani mengkhianati Ibu mereka, Permaisuri Ivona.


Namun belum sempat ia kesana, tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekapnya dari arah belakang dan lingkaran sihir teleportasi pun tercipta di bawah kaki mereka.


Seluruh dunia menjadi putih dan tidak lama kemudian terlihat suasana ruangan yang ia sudah tahu dengan sangat jelas.


Ini kamar Kakak Pertamanya, Castor.


Orang yang mendekapnya lalu membebaskan Blaze dan saat Blaze berbalik, ternyata orang yang mendekapnya tadi adalah Castor.


"Kakak..." Lirih Blaze.


Castor tersenyum pedih, "Kau sudah tahu kenyataan gila itu, Blaze... Ayah kita... Dia adalah pria yang menjijikkan!"


Ahh... Blaze mengerti... Castor mengira dia bersikap seperti ini karena berpikir ia sudah tahu kenyataan menyakitkan tentang Ayah mereka. Namun pada kenyataannya lebih dari itu.


Blaze lalu dengan cepat mengusap air matanya itu dengan kasar mengunakan kain baju lengannya. Ia lalu menatap Castor dengan serius.


"Kakak, ada yang ingin aku berikan padamu" Kata Blaze sambil menyerahkan kertas-kertas yang sudah sedikit rusak ia meremasnya.


Castor merasa bingung, namun ia pun menerima kertas-kertas itu lalu membacanya. Matanya seketika melebar ketika melihat isi dari kertas-kertas itu.


Blaze juga mengetahui hal ini.... Tentang pengkhianatan yang akan di lakukan oleh Kakak Keduanya itu. Astaga... Adiknya ini sudah begitu banyak mengetahui kenyataan pahit yang selama ini ia ingin sembunyikan untuk melindungi perasaan kedua adiknya yang paling muda, Blaze dan Vivi.


Castor lalu menatap ke arah Blaze sementara Blaze sendiri membalas tatapan dari Kakaknya itu dengan tatapan serius.


"Jadi... Blaze kau jelaskan darimana kau bisa mendapatkan ini, Blaze?" Tanya Castor dengan nada yang mencoba tenang.


"Aku menemukannya dan cara aku menemukannya tidak akan kuberitahu pada Kakak" Jawab Blaze dengan tenang.


Castor mengangkat sebelah alisnya, merasa heran dengan sikap Blaze yang notabennya tidak bisa diam kini bersikap tenang.


"Ini informasi yang sangat penting yang bisa merubah Kekaisaran ini kau tahu?" Kata Castor.


"Aku tahu itu. Oleh karena itu, aku memberikannya pada Kakak. Dan... Ayo kita jatuhkan Duke Curt dan juga menghajar Kak Helios supaya otaknya kembali berjalan" Kata Blaze dengan begitu serius.


Ya... aia Benar-benar akan menghajar Helios untuk menyadarkannya tentang kebodohan apa yang sedang Helios lakukan saat ini.