
...--AUTHOR POV--...
Luna begitu merasa terpesona dengan orang-orang yang ada di depannya. Mereka begitu terlihat mengeluarkan cahaya yang begitu terang bagaikan matahari. Mungkin karena mereka berasal dari keluarga Kekaisaran yang memang di berkati oleh sang Dewa Matahari.
Namun Luna bisa melihat cahaya yang di pancarkan oleh Blaze jauh lebih terang di bandingkan Castor dan Vivi. Membuatnya entah kenapa merasa nyaman.
Blaze yang sepertinya menyadari sesuatu langsung menoleh ke arah Luna berada. Mata kuning keemasan miliknya bertemu dengan mata biru bak laut milik Luna. Blaze melihat ada cahaya yang menenangkan yang terpancar dari anak perempuan itu. Waktu terasa berhenti di sekitar mereka, seakan ada kekuatan besar yang membuat waktu itu berhenti.
Selama beberapa lama mereka saling bertatapan, sampai akhirnya keduanya tersadar. Terlihat wajah Luna yang sangat memerah dan anak perempuan itu langsung mundur dengan cepat dan menghilang di antara kerumunan anak-anak bangsawan yang mengelilingi Blaze bersama Castor dan Vivi.
"Tungg--"
Blaze ingin menghentikan anak perempuan itu namun anak perempuan itu sudah tidak terlihat lagi.
"Ada apa, Blaze?" Tanya Castor pada Blaze.
Blaze tersentak dan dengan cepat ia.engeleng-gelengkan kepalanya, "Ti-- tidak kok Kak! Tidak ada apa-apa!"
Vivi yang melihatnya tampak memiringkan kepalanya dengan bingung, "Lalu kenapa wajah Kakak memerah seperti itu"
Blaze pun yang mendengarnya merasa wajahnya memanas, "I-- ini karena di sini gerah. Ya, gerah! Uh... Anak-anak bangsawan itu benar-benar mengerumuni kita seperti semut yang mengerumuni gula ya! Uuh... Kan jadi gerah!"
Castor menyipitkan matanya dan menatap Blaze dengan curiga, ia tahu Blaze sedang menyembunyikan sesuatu karena Blaze sendiri tidak terlalu pandai untuk berbohong. Tapi ia menghilangkan perasaan itu lalu mengambil nafas, ''Kalau di sini gerah, ayo kita pindah ke tempat lain"
"Ayo!!" Seru Blaze meski di dalam hatinya ia masih penasaran dengan sosok anak perempuan berambut putih keperakan dan bermata biru laut itu.
***
Luna sendiri setelah keluar dari kerumunan itu pun menghela nafas lega lalu menyentuh dada kirinya dengan tangan kanannya.
Jantungnya berdegup dengan kencang, wajahnya pun terasa memanas. Dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan kembali untuk mencari orang tuanya.
"Ahh... Bukakan itu Nona Luna"
Sebuah suara yang dikenalnya pun terdengar dan seketika mood nya pun anjlok dan memburuk. Luna lalu menoleh ke asal suara dan melihat Bella yang bersama dengan Helios.
Luna memang sangat tidak menyukai Bella, sejak bertemu Bella saat ia berulang tahun ketujuh tahun dan pesta perkenalan dirinya, ia sudah tidak menyukai Bella. Luna bisa merasakan ada hal yang aneh di dalam diri Bella karena aura yang di pancarkannya membuat Luna merasa tidak nyaman, begitu juga dengan aura yang di pancarkan oleh Duke Curt dan juga istrinya.
"Oh, perkenalkan beliau ini adalah Tunanganku, Pangeran Kedua Helios Maxleon Eilidh. Kata Bella, Luna pun bisa mendengar nada penuh kebanggaan dari Bella saat ia mengucapkan hal itu.
Dengan sopan dan etika yang sempurna untuk anak seusianya, Luna pun memperkenalkan dirinya pada Helios, "Salam saya kepada Matahari kecil Kekaisaran. Saya Luna Arcadia Erickson"
Helios menatap Luna dengan sedikit terkejut, "Anda Putrinya Duke Erickson?"
"Benar, Yang Mulia" Balas Luna yang menjawab pertanyaan dari Helios.
Helios cukup terkejut dengan kehadiran Luna, pasalnya Putri dari Duke Erickson memang terkenal jarang mengikuti pesta seperti ini. Beredar gosip yang mengatakan Putri satu-satunya Duke Erickson ini sakit-sakitan, oleh karena itu dia jarang mengikuti pesta seperti ini dan kebetulan juga saat pesta perkenalan Luna, dirinya dan juga Blaze tidak datang ke pesta itu karena mereka sedang sibuk untuk persiapan pesta ulang tahun Blaze yang berbeda seminggu dengan pesta ulang tahun dan perkenalan Luna itu. Hanya Castor dan juga Kaisar yang pergi ke sana.
Helios juga mendengar dari Bella kalau Luna adalah anak yang sangat tertutup dan tidak mau bergaul juga karena sakit-sakitan. Helios pun menyadari wajah Luna yang tampak memerah yang membuat Helios berpikir kalau yang di katakan Bella adalah benar juga Luna adalah seorang anak yang sakit-sakitan.
"Umm... Maaf Nona Erickson, apa anda sedang demam? Wajah anda tampak memerah" Kata Helios dengan nada khawatir.
'Hah, sakit?' pikir Luna heran.
Luna pun menggelengkan kepalanya, "Saya tidak apa-apa Yang Mulia. Umm.... Tadi saya berada di kerumunan anak-anak bangsawan itu jadi saya hanya merasa kepanasan berada di tengah-tengah mereka. Dan terimakasih atas perhatian anda, saya mohon undur diri"
Helios mengangguk dan Luna pun melangkah dan menjauh dari Helios dan Bella. Jujur, Luna merasa bingung sekarang. Kenapa cahaya milik Helios tampak lebih redup di bandingkan dengan milik Castor, Blaze dan Vivi?
'Apa mungkin karena terus berdekatan dengan Bella ya... Entah kenapa aku merasakan hal yang buruk mengenai Pangeran Kedua....' pikirnya.
Selama berpikir seperti itu ia pun tersadar ketika melihat Ayahnya yaitu Duke Erickson dan juga Ibunya Duchess Erickson tengah berbincang-bincang dengan Kaisar dan Permaisuri Ivona.
Mata Luna memicing ketika melihat ke arah Kaisar. Selain Bella bersama Duke Curt dan istrinya, Kaisar adalah orang yang sangat tidak ia sukai. Pasalnya aura yang di pancarkan oleh Kaisar begitu tidak mengenakkan, bahkan Luna bisa melihat asap tipis berwarna hitam yang mengelilingi Kaisar. Meski Luna juga bisa melihat cahaya di sekitar Kaisar, namun bukan rasa nyaman yang ia dapatkan dari Castor, Blaze dan Vivi melainkan rasa panas yang menyiksa.
Sementara Permaisuri sendiri terlihat aura-aura kesedihan yang memancar darinya meski hal itu tertutupi oleh senyuman yang di tampilkan oleh Permaisuri itu.
"Hah.... Sudah kuduga... Lebih baik aku berdiam diri saja di rumah daripada melihat-lihat orang-orang di sini yang kebanyakan berlumuran lumpur... Tapi... Ada baiknya jika aku melihat orang-orang yang memiliki cahaya yang menyenangkan...." Gumam Luna, ia pun menghampiri meja hidangan dan meraih cake strawberry dan memakannya.
Yah... Dia pun memutuskan untuk menikmati makanan di sini sambil menunggu sang Ayah dan Ibunya yang selesai dengan urusan mereka yang membicarakan sesuatu dengan Kaisar dan juga Permaisuri.
***
Arthur menatap datar yang terus mengoceh tentang Kakaknya yang merebut Adik kesayangannya. Pasalnya ketika mereka bertiga pergi meninggalkan kerumunan anak-anak bangsawan yang mengerubungi mereka, tiba-tiba saja Castor menyuruh Blaze untuk pergi mengambil cake coklat kesukaan Vivi dan saat Blaze kembali dari mengambil cake coklat dari meja hidangan, Sang Putra Mahkota dan juga adik kesayangannya sudah tidak ada.
Blaze yang mencari-cari keberadaan mereka pun segera menangkap keberadaan sahabatnya yang tengah bersantai sambil melahap cake coklat di tangannya pun langsung menghampiri Arthur dan mengadukan kejadian itu pada Arthur sambil merengek-rengek.
"Cari saja mereka" Kata Arthur dengan wajah datarnya.
"Masalahnya di sini ramai orang! Jadi susah untuk mencari mereka!!!" Rengek Blaze.
'Dasar bocah....' pikir Arthur ketika melihat Blaze yang terus merengek padanya.
Mereka berdua bertemu sejak pesta ulang tahun ketujuh dan perkenalan Blaze lalu di lanjutkan mereka yang bertemu kembali saat di pesta ulang tahun ketujuh dan perkenalan Arthur.
Sejak kecil, Arthur di kenal sebagai pekerja keras karena ia memiliki impian untuk menjadi Duke yang hebat seperti Ayahnya. Sebagai Putra satu-satunya, dia pun menjadi pewaris dari posisi Duke Allison.
Ayahnya yang memang dingin namun diam-diam selalu peduli padanya dan juga ibunya yang begitu baik dan lemah lembut. Membuat Arthur merasa tidak memiliki kekurangan apapun sampai akhirnya kecelakaan itu merenggut kehidupan bahagia Arthur.
Duchess Allison di temukan dalam kondisi tidak bernyawa saat beliau sedang pergi keluar untuk mengunjungi panti asuhan yang di kelola oleh Duke Allison.
Kereta kuda mereka di serang oleh pembunuh bayaran yang memang mengincar nyawa Duchess dan mereka berhasil membunuh Duchess bersama para pengawalnya.
Duke Allison yang saat itu sedang berperang pun merasa begitu terpuruk dan mengirim ajudannya untuk menyelidiki kasus itu dan berkat jaringan informasi yang memang yang di miliki keluarga Duke Allison yang memang sangat luas pun para pembunuh bayaran itu akhirnya berhasil di tangkap.
Namun sayangnya, para pembunuh bayaran itu tidak bisa memberitahu siapa yang dalang dari pembunuhan Duchess Allison ini karena para pembunuh itu di pasangi oleh sebuah sihir yang membuat mereka tidak bisa mengatakan siapa yang telah memerintahkan mereka.
Saat itu, Arthur pun begitu merasa sangat terpukul. Bahkan sejak hari di mana ia mendengarkan kematian tragis sang Ibu, Arthur yang semula adalah seorang anak yang ceria, suka tersenyum lebar dan penuh semangat pun tidak pernah tersenyum lagi.
Hatinya terasa mati dan saat Ayahnya kembali dari medan perang pun ia hanya menampilkan wajah yang datar, membuatnya terlihat begitu mirip dengan Duke Allison yang memang bersifat dingin.
Pesta ulang tahun dan juga perkenalan yang awalnya sudah di persiapkan oleh Ibunya sejak lama pun menjadi hampa baginya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Blaze.
Menurut Arthur, Blaze begitu mirip dengannya yang dulu. Yang selalu tersenyum lebar dan penuh kebahagiaan. Yang awalnya membuat Arthur merasa tidak nyaman dengan Blaze. Namun ketika mengetahui potensi Blaze yang begitu besar, rasa hormat pun muncul di hati kecilnya. Dan hubungan mereka berdua pun semakin erat saat Blaze menjadi murid dari Ayahnya, Duke Allison dalam pelajaran berpedang. Mereka yang awalnya hanya saling mengenal seulas pun menjadi sahabat. Itu pun berkat usaha Blaze yang ingin menjadi Arthur sebagai temannya, hampir selama empat bulan Blaze berusaha untuk dekat dengan Arthur dan akhirnya usahanya membuahkan hasil. mereka berdua berteman, lalu menjadi sahabat yang dekat.
Diam-diam dia berdoa agar Blaze tidak akan berubah menjadi seperti dirinya dan selalu bahagia sampai kapan pun.
"Hei! Kau mendengarku tidak, Arthur?!" Seru Blaze yang membuat Arthur tersadar dari lamunannya.
Arthur pun menoleh ke arahnya, masih dengan tatapan datarnya, "Dengar kok"
Blaze pun kembali mengoceh dan kini Arthur pun mendengarnya dengan baik.
Blaze selalu menceritakan tentang saudara-saudaranya kepada Arthur selama berkali-kali sampai rasanya Arthur khatam dengan cerita Blaze itu, khususnya tentang adik bungsu sekaligus Putri satu-satunya di Kekaisaran Eilidh ini, Putri Viviane Camellia Eilidh.
Arthur adalah anak satu-satunya, jadi ia tidak tahu bagaimana rasanya jika memiliki seorang saudara. Banyak tetua dan pendukung keluarga Duke Allison untuk menikah kembali supaya ada seseorang yang mengisi posisi sebagai Duchess yang kosong. Namun semua itu di tolak mentah-mentah oleh Duke Allison yang mengatakan jika ia tidak akan pernah menikah lagi karena satu-satunya wanita yang ada di hatinya hanyalah mendiang Duchess Allison.
Duke Allison memang sangat mencintai istrinya, bahkan setelah begitu banyak wanita yang menggodanya dan para orang tua bangsawan yang menyodorkan Putri mereka kepadanya pun Duke Allison menolak mereka semua. Oleh karena itu, mereka alias para bangsawan meminta bantuan Kaisar untuk memerintahkan Duke Allison untuk menikah lagi supaya posisi Duchess Allison yang kosong bisa terisi demi keseimbangan Kekaisaran.
Kaisar meng-iyakan permintaan para bangsawan itu dan memerintahkan Duke Allison untuk menikah lagi, Duke Allison pun menolaknya namun Kaisar mengancam akan menggunakan 'Teritori Perintah Mutlaknya' jika Duke Allison tetap bersikukuh tidak ingin menikah lagi.
Saat para bangsawan berada di atas awan karena bisa membuat Putri mereka berkesempatan untuk meraih posisi Duchess, tiba-tiba saja Permaisuri Ivona menggunakan 'Teritori Perintah Mutlaknya' pada Kaisar yang meminta agar Kaisar dan semua para bangsawan tidak memaksa untuk Duke Allison menikah lagi.
Permaisuri dan mendiang Duchess Allison memang adalah berteman dengan baik, oleh karena itu beliau membantu Duke Allison saat itu dan karena Permaisuri yang mengeluarkan 'Permintaannya' yang sebelumnya tidak pernah ia gunakan pun akhirnya membuat Kaisar mengabulkan permintaan dari Permaisuri.
Meski memang tidak di paksa lagi, masih banyak wanita-wanita kalangan bangsawan yang terus menggoda Duke Allison demi meraih posisi Duchess Allison namun tentunya Duke Allison tidak pernah menganggap mereka semua. Oleh karena itu, Arthur lah satu-satunya pewaris dari posisi Duke Allison.
Dan saat pertama kali bertegur sapa dengan adik bungsu Blaze, Tuan Putri Viviane mendadak hatinya berdesir aneh. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan namun ia merasakan rasa rindu yang bisa begitu dalam setiap melihat Vivi.
Arthur juga diam-diam merasa begitu senang ketika mendengarkan kabar kalau Vivi akan belajar bersama dengannya dan juga Blaze di bawah bimbingan Ayahnya.
Meski selalu berwajah datar dan juga bersikap dingin di depan Vivi, Arthur sebenarnya sangat peduli pada Vivi. Ia merasa sedih saat tahu Vivi adalah gadis yang akan menjadi tumbal persembahan untuk Dewa Matahari.
Menurut Arthur, ritual persembahan konyol karena Arthur percaya kalau Sang Dewa Matahari tidak akan pernah meminta hal konyol dan kejam seperti itu. Ada sesuatu yang lain di balik ritual itu yang membuat Arthur merasa terganggu meski ia sendiri tidak tahu apa itu.
Yang pasti, Arthur tahu jika ritual itu adalah ritual yang di buat untuk kepentingan-kepentingan beberapa pihak tertentu.
***
Emira menatap datar sang Ibu yang tengah mengamuk dengan menghancurkan- hancur barang yang ada di sekitarnya.
''SIALAN! IVONA ****** SIALAN!! DIA SUDAH MEMBUAT PESTA SEMEGAH ITU DEMI PUTRINYA SEMENTARA PUTRIKU DAN JUGA AKU YANG BERADA DI RUANGAN INI?! DASAR SIALANNNNN!!!!!" Teriak Kayla yang menggila.
Emira lalu masuk ke kamarnya dan menguncinya. Sama seperti Ibunya, ia juga merasa begitu marah pada pesta yang berlangsung begitu megah saat ini. Padahal dia juga adalah Putri Kaisar Horus, ia juga adalah seorang Putri Kekaisaran Eilidh, sama Vivi. Tapi kenapa dia malah terkurung di sini dan tidak boleh pergi keluar sama sekali.
Ketika Vivi mendapatkan Istana Blue Diamond yang begitu indah, ia hanya mendapatkan kamar ini. Ketika Vivi berjalan-jalan di taman bunga miliknya, ia hanya bisa bermain di kamarnya ini. Ketika Vivi mendapat begitu banyak hadiah dari orang-orang ketika ulama tahunnya, ia hanya mendapat hadiah dari Kaisar saja. Ketika Vivi di buatkan pesta ulang tahun dan perkenalan yang begitu megah, ia hanya bisa merayakan ulang tahunnya bersama Ibunya dan keberadaannya pun di rahasiakan kepada semua orang.
Dengan mata yang penuh dengan kebencian, Emira membuka sebuah buku tebal yang terlihat sudah usang, dengan sihir ini ia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan yaitu.... Semua yang di miliki oleh Vivi....
'Lihat saja Viviane... Tidak peduli umurmu yang hanya sampai berusia delapan belas tahun aku akan merebut semua milikmu, harta, Ayah, Kakak dan juga semuanya! Aku akan merebut semuanya darimu! Akan kubuat hidupmu jauh lebih menderita di bandingkan diriku yang ku alami saat ini' pikir Emira sambil menyeringai mengerikan.
Seluruh isi kamarnya pun mulai tertutupi asap hitam yang tebal dan perlahan.... Mata kuning keemasan milik Emira pun berubah.... menjadi mata yang merah darah dengan pupil runcing bak mata ular...
DEG!!
Tiba-tiba saja Blaze dan juga Luna yang berada di Pesta Aula Istana merasakan hawa yang begitu mengerikan menguar. Mereka berdua yang berada di tempat yang berbeda pun mulai celingukan i mencari arah asalnya. Namun sayang mereka berdua tidak menemukannya.
""Entah kenapa aku merasakan hal yang sangat buruk akan terjadi...."" Gumam keduanya di waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
Ya... Mereka berdua sama-sama merasakannya. Ada sebuah kekuatan jahat yang sedang mengintai mereka. Meski mereka juga merasakan bukan mereka yang akan menjadi target kekuatan jahat itu, namun tetap saja, mereka tahu jika hal buruk ini akan berpengaruh pada mereka dan juga...
Orang-orang yang mereka berdua sayangi....