
Para pria bangsawan kembali dengan hasil buruan mereka. Setelah menghitung hasil buruan berdasarkan berat dari keseluruhan hasil buruan itu, sama seperti di masa lalu, Kaisar lah pemenangnya.
Yah... Tidak heran juga karena Kaisar juga merupakan juara bertahan selama bertahun-tahun, dulu orang yang menjadi juara bertahan sekaligus rivalnya Kaisar adalah Duke Allison. Namun setelah kematian sang istri, Duke tidak lagi terlalu ambisius dan yang jelas membuat Kaisar lah yang selalu berada di puncak sekarang di da, pertandingan berburu ini.
Dan seperti biasa, Kaisar mempersilahkan hasil buruannya kepada Ibu dan Ibu menerimanya dengan senyuman yang.... Kosong....? Ada apa ini....? Kenapa Ibu bersikap seperti itu?
Apa jangan-jangan Ibu sudah tahu kelakuan bejat Kaisar yang sudah mengkhianatinya selama bertahun-tahun lamanya?
Tidak.... Di kehidupan yang sebelumnya, Ibu memang tahu tentang hubungan gelap Kaisar dengan Kayla dan juga keberadaan Emira akan terjadi di perkenalkan ke khalayak umum oleh Kayla.
Kalau begitu.... Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu?
Selain itu, Kaisar juga memberikanku sedikit buruannya, begitu pula dengan yang di lakukan oleh Pangeran Helios. Sementara itu Putra Mahkota Castor dan Pangeran Blaze dengan bangganya mereka memberikan seluruh hasil buruan mereka kepadaku.
Alhasil dan meski Ibu yang menjadi pemenang dari hasil buruan Kaisar akan tetapi gadis yang berhasil yang mendapatkan buruan yang menerima banyak hadiah untuk di usianya yang sekarang, itu adalah aku....
Astaga... Meski aku memang sudah tahu hasil Pertandingan Berburu ini, tetapi tetap saja aku merasa sedikit malu karena seluruh perhatian para bangsawan mengarah padaku.
"Vivi senang mendapat banyak hasil buruan?" Tanya Putra Mahkota Castor.
Aku pun mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan-pertanyaan itu, "Un! Iya Kak Castor! Aku suka dengan hasil buruannya yang banyak! Terima kasih banyak atas, Kak Castor juga Kak Blaze! Oh! Juga terimakasih kepada Ayah dan Kak Helios ya... Hehe!"
Putra Mahkota pun terlihat gemes padaku lalu dengan cepat ia mencium pipiku dengan gemesnya.
BLUSH!
Apa?!
Ukh... Aku sedikit lengah... Padahal saat ini aku memang senang di gendong oleh Putra Mahkota Castor tapi Kewaspadaanku berkurang. Meski memang tubuhku yang sekarang berumur tujuh tahun, jiwaku sendiri sudah berumur dua puluh tahunan. Jadi ini memalukan.....
Aku pun menundukkan kepalaku dengan wajah yang sedikit memanas. apa aku pergi berhenti bersikap sok imut ya?
Benar! Mulai sekarang aku akan bersikap dewasa supaya mereka tidak menganggapku sebagai anak kecil lagi!
"Ada apa? Vivi tampak serius sekali?" Tanya Pangeran Blaze dengan nada yang bingung.
"Mungkin dia sedang berpikir tentang sesuatu yang cukup sering. Melihat dia yang terlarut dalam pikirannya seperti ini" Komentar Arthur yang berada di sebelah Blaze.
Dan setelah itu pesta pun di mulai. Seperti biasa, aku kali ini memakai set gaun dengan warna serba berwarna biru keunguan dengan glitter yang bertebaran. Gaun ini bagaikan langit malam yang di hiasi oleh bintang-bintang bertebaran yang sangat indah sementara Kaisar, Putra Mahkota, Pangeran Helios dan Pangeran Blaze mengenakan setelan serba hitam dengan aksen putih dan juga emas di dalam setelan formal mereka.
Aku bisa merasakan banyak tatapan para bangsawan yang terpesona dengan kami sekarang dan seperti biasa, pesta kalangan bangsawan pun di mulai.
Aku sendiri bersama dengan Pangeran Blaze yang tengah di kerubungi oleh para anak-anak bangsawan. Ukh... Ini benar-benar tidak nyaman....
Sementara Ibu dan Kaisar sedang bertegur sapa dengan para Duke dan Duchess inti Kekaisaran Eilidh, Putra Mahkota yang juga di kerubungi oleh para bangsawan yang terus membicarakan soal politik (ada juga yang mengenalkan Putri mereka, yah... Sudah bisa di tebak niat mereka yang sebenarnya. Mereka ingin Putri mereka mendapatkan kesempatan emas untuk dekat dengan Putra Mahkota Castor dan menempati posisi sebagai Putri Mahkota) dan juga Pangeran Helios yang bersama dengan Bella sedang mengobrol dengan beberapa anak-anak bangsawan yang sebaya dengan mereka.
Dengan susah payah, aku pun berhasil menyelinap keluar dari kerumunan anak-anak bangsawan itu dan meninggalkan Pangeran Blaze di tengah-tengah mereka. Maaf Pangeran Blaze, tapi aku sekarang perlu ketenangan....
"Tuan Putri Viviane, kenapa anda keluar dari pesta?" Tanya salah satu prajurit.
"Aku merasa sesak di sana, Tuan Prajurit. Jadi aku ingin menghirup udara segar sebentar ya" Kataku dengan tatapan yang penuh harap padanya.
Prajurit itu sedikit lama terdiam, "Baiklah Tuan Putri. Tapi saya mohon jangan jauh-jauh"
Aku pun mengangguk dengan semangat, "Iya! Vivi janji kok!"
Aku pun mulai berjalan keluar menjauh dari tenda pesta sambil memandangi langit malam yang bertaburan bintang ini~ rasanya sangat nyaman...
"Kenapa anda ada di sini, Tuan Putri?" Tanya seseorang dari belakangku dan membuatku terperanjat kaget.
Aku pun membalikkan badanku dan melihat Arthur yang sedang menatapku dengan tatapan datarnya.
"Eh... Arthur... Aku hanya sedang menghirup udara segar saja. Di dalam tenda pesta sangar sesak dan sedikit gerah, jadi aku ingin menghirup udara segar di luar: Jawabku.
Arthur pun berjalan dan berhenti ketika dia sudah berdiri di sampingku, "Anda benar. Di sana sangat sesak"
Keheningan menyelimuti kami berdua. Ugh... Ini sungguh canggung....
Aku pun melirik diam-diam ke arahnya. Namun alangkah terkejutnya aku ketika ia juga melihat ke arahku dengan tatapan yang begitu dalam. Astaga... Kau mengejutkanku!
Dengan cepat-cepat aku mengalir tatapan ke arah lain.
"Menurut Tuan Putri apa artinya malam tanpa bulan purnama seperti ini?" Tanya Arthur dengan tiba-tiba dan membuatku melihat ke arahnya.
Hmm? Malam tanpa bulan purnama. Memang kali ini bulan tampak membentuk bulan sabit, bukan bulan purnama. Namun menurutku itu tetap indah.
"Hmm? Menurutku sama-sama indah. Meski memang kalau Bulan Purnama itu lebih indah dan terasa lebih istimewa dari pada bentuk bulan yang lainnya. Tapi tetap saja yang lain pun sama-sama tidak kalah indahnya" Jawabku.
Arthur terdiam cukup lama lalu ia pun tersenyum tipis sambil melihatku, "Anda benar... Apa pun bentuk bulan, semuanya individu ketika ia menemani langit malam kita"
DEG!
Entah kenapa aku merasakan hatiku berdesir lembut ketika melihat senyuman Arthur itu. Aku pun menundukkan wajahku ketika aku merasakan wajahku ini terasa memanas, begitu juga dengan detak jantungku yang mulai berdegup kencang tidak karuan. Ugh... Apa ini....
"HEI!!! NGAPAIN KALIAN DI SANA!!! KOK TIDAK MENGAJAKKU SIHHHH!!!!"
Teriakan itu membuahkan terperanjat dan saat aku membalikkan badanku aku melihat Pangeran Blaze tengah berjalan kemari sambil menampilkan wajah datar cemberut.
"Oh... Kau kesini juga?" Tanya Arthur dengan wajah datarnya kembali kepada Pangeran Blaze.
Pangeran Blaze pun terlihat kesal dan mulai berceloteh ria padanya dan juga padaku. Yah... Malam ini kami bertiga berada di luar sambil mendengarkan celotehan dari Pangeran Blaze.