
Setelah menemui Pangeran Blaze, aku pergi menuju Istana Permaisuri untuk mengunjungi Ibuku. Saat aku tengah santai berjalan menuju Istana Permaisuri, aku melihat Kaisar yang sedang berjalan dan di sampingnya ada Kayla yang menemani Kaisar. Huh... Apa yang mereka lakukan di sini, ini kan istana Permaisuri, dan lagi berani sekali mereka berjalan hanya berdurasi seperti ini untuk menuju Istana Permaisuri. Dan lagi, mereka sekarang benar-benar tidak malu-malu lagi untuk memperlihatkan kedekatan mereka. Lihatlah, mereka tampak saling berbincang dengan sangat akrab.
Kaisar yang sepertinya menyadari keberadaanku pun menatap ke arahku, namun seketika matanya terlihat terbelalak Ketiga melihatku, begitu juga dengan Kayla. Umm? Apa-apaan reaksi itu? Apa mereka takut aku curiga pada hubungan mereka. Yah... Kalau itu aku sudah tahu dengan hubungan gelap mereka sedari awal. Bahkan karena aku sudah kembali ke masa lalu seperti apa, aku tahu perbuatan mereka.
Sesampainya aku di depan mereka, aku pun mengangkat ujung rok kiriku dengan sedikit membungkukkan badanku dan juga tangan kananku ke sebelah dada kiriku.
"Salam saya kepada Matahari Kekaisaran, Yang Mulia Kaisar" Sapaku dengan etika yang sempurna.
Kaisar terlihat menatapku dengan tatapan dalam dan entah kenapa aku merasa merinding. Ugh.... Kenapa di sekitarku ini terasa sangat berat ya...?
"Vivi ya.... Kukira Ivon. Semakin hari, kamu semakin mirip saja dengan Ibumu" Kata Kaisar pada akhirnya dengan senyuman di wajahnya.
Aku menatapnya dengan tatapan aneh. Apa maksudnya? Aku tahu aku memang mirip dengan Ibu dan kalau di pikir-pikir lagi, aku memang tidak ada mirip-miripnya dengan Kaisar. Entah kenapa aku merasa sangat bersyukur karena aku tidak mirip sama sekali dengan pria jahat yang berani mengkhianati Ibuku ini.
Aku akhirnya hanya tertawa canggung, "Ayah bisa saja hehe. Aku memang mirip dengan Ibu kan?"
Kaisar melangkah mendekatiku lalu ia pun sedikit membungkukkan lututnya lalu menyentuh pipiku dengan lembut.
"Ya... Kamu sangat mirip dengan Ibumu. Saat kamu besar nanti, kamu pasti akan secantik Ibumu ini" Ucap Kaisar dengan mata yang masih menatap dalam padaku.
Aku terdiam ketika merasakan tangan dingin dan panas yang sedang menyentuh pipiku ini. Apa ini, tangan Kaisar terasa begitu dingin dan panas di saat yang bersamaan. Ini sungguh membuatku sangat tidak nyaman. Padahal dulu aku masih sering di gendong olehnya, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Entah kenapa sekarang aku merasakan firasat yang tidak enak ketika berhadapan dengan Kaisar seperti ini.
Dengan cepat aku mundur satu langkah ke belakang untuk menjauhi Kaisar agar pipiku tidak lagi di sentuh olehnya.
"Ahaha... Ayah bisa saja...." Kataku sambil tertawa dengan canggung. Sungguh aku merasa sangat begitu tidak nyaman berada dekat dengan Kaisar....
Kaisar terdiam dan terus menatapku, aku sendiri menundukkan kepalaku dengan dalam-dalam. Ada apa ini? Kenapa aku merasa aura Kaisar semakin memberat dan membuatku merasa tidak nyaman seperti ini.....?
"VIVI!!!"
Aku langsung menoleh ke asal suara dan melihat Ibu yang sedang berlari pelan ke arahku. Aku tersentak ketika melihat cara berjalan Ibu yang terlihat sedikit begitu aneh, ia terlihat sedikit terpincang-pincang saat berlari seperti ini.
Tunggu... Apa Ibu sedang terluka?
Tiba-tiba saja Ibu memelukku dengan erat. Eh? Ada apa ini, kenapa Ibu mendadak bersikap seperti ini?!
Ibu pun menatap ke arah Kaisar dengan tatapan yang aku sama sekali tidak mengerti. Terlihat seperti marah, jijik dan.... Takut?
Aku melirik Kayla yang dengan tenang melangkah mundur satu langkah ke belakang dan memposisikan dirinya sekarang yang berada di belakang Kaisar. Tunggu, apa Ibu sudah tahu dengan perselingkuhan Kaisar dengan Kayla makanya ia menatap Kaisar seperti itu?
"Ivona, bukankah kamu harusnya berada di dalam kamar, kamu masih sakit" Ucap Kaisar dengan nada yang lembut.
Ibu menggigit bibir bawahnya lalu bangkit dan menatap ke arah Kaisar, "Saya sudah baik-baik saja Yang Mulia. Saya mendengar dari pelayan saya kalau Putri saya datang untuk berkunjung, jadi saya pun langsung pergi menemui Vivi"
Ibu menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Ibu sudah membaik kok, Vivi jangan khawatir ya"
Tapi tetap saja aku mengkhawatirkan Ibu meski Ibu mengatakan hal itu.
"Kalau begini Ayah pergi dul!, masih ada pekerjaan yang harus Ayah lakukan" Kata Kaisar pada akhirnya.
Ibu menganggukkan kepalanya, "Baiklah. harap Yang Mulia berhati-hati di jalan"
Kaisar dan Kayla pun akhirnya berjalan pergi. Sementara Ibu menatap kepergian mereka sambil menggandeng tangan kananku. Aku bisa merasakan tanganku sedikit di remas oleh tangan Ibu. Ibu masih menatap kepergian Kaisar dan Kayla yang sudah menjauh.
Apa.... Ibu benar-benar sudah tahu tentang perselingkuhan yang di lakukan oleh Kaisar dan Kayla? Apa Ibu sudah tahu dengan pengkhianatan yang sudah di lakukan oleh Kaisar padanya?
"Vivi.... Ibu memiliki sebuah permintaan padamu" Kata Ibu dengan suara yang lirih. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan genggaman tangannya padaku kini semakin menguat.
"Permintaan apa.... Ibu?" Tanyaku dengan suara yang pelan.
"Tolong.... Mulai sekarang.... Kau jangan terlalu dekat dengan Ayahmu ya...." Ucap Ibu dengan nada yang gemetar.
Jadi.... Ibu benar-benar sudah mengetahui perselingkuhan itu ya....
"Ini demi kebaikanmu... Mulai sekarang... Jangan terlalu dekat dengan Ayahmu... Karena.... Jika a
seperti ini terus.... Kau akan dalamnya bahaya..." Lanjut Ibu.
Eh? Aku berada dalam bahaya? Apa maksudnya?
--Malam Harinya--
Kini aku sudah berada di dalam kamarku, aku juga sudah mengenakan gaun tidurku dan berwarna putih polos selutut dan berlengan panjang lalu di hiasi dengan renda-renda indah nan lembut dan juga ada pita yang berada di tengah dadaku ini.
Aku kembali mengingat kejadian tadi sore, ia tidak jadi untuk mengobrol lebih lama lagi dengan Ibu seperti yang ku rencanakan sebelumnya. Karena aku bisa merasakan kalau Ibu sedang berada dalam kondisi yang baik.
Setelah memberi sebuah kotak besar yang sama dengan yang ku berikan pada Pangeran Helios dan Pangeran Blaze lalu menjelaskannya pada Ibu seperti yang aku jelaskan kepada Pangeran Helios dan Pangeran Blaze.
Aku menghela nafas pelan lalu membaringkan tubuhku ke arah ranjangku yang sangat empuk ini.
Pikiranku kembali melayang, semoga saja rencana ini berhasil. Mungkin memang rencana ini sangatlah kekanakan namun rencana yang ku buat ini juga merupakan bentuk protes pada Kaisar bahwa aku tidak menerima keberadaan Emira maupun Kayla di tengah-tengah Kekaisaran ini.
Ku tarik selimutku hingga sebatas dada lalu aku pun memejamkan mataku dan perlahan, aku pun mulai memasuki dunia mimpi....