THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 26-BERLATIH LEBIH KERAS LAGI



Hari-hari selanjutnya pun berjalan seperti biasa. Aku sudah memulai kembali semua pelajaranku yang tertunda akibat liburan yang di berikan oleh Kaisar selama dua minggu itu. berbulan-bulan aku menyibukkan diri dengan berbagai pelajaran, meski sesekali aku mengunjungi istana Ibu juga untuk mengetahui bagaimana kondisi Ibu.


Namun rencanaku untuk membatasi pertemuanku dengan orang-orang yang mengkhianatiku di kehidupan sebelumnya cukup berjalan lancar terutama untuk menghindari pertemuanku dengan Kaisar dan juga Pangeran Helios. Kami sekarang sangat jarang bersama dan hanya bertemu saat makan malam bersama di akhir pekan.


Namun sepertinya untuk menghindari Putra Mahkota Castor dan juga Pangeran Blaze akan sedikit sulit. Sesuai dengan perkiraanku, aku memang sulit menghindari Pangeran Blaze karena kami belajar berpedang dengan guru yang sama yaitu Duke Allison, lalu terkadang juga aku bertemu dengan Putra Mahkota Castor dan juga Pangeran Helios saat berkunjung ke Istana Permaisuri untuk mengunjungi Ibu juga. Dan karena pertemuan secara tidak sengaja itulah yang membuatku terpaksa menghabiskan waktu bersama mereka juga.


Untuk masalah belajarku sendiri sangat lancar. Aku sudah mengetahui tentang pelajaran ilmu pengetahuan dan juga etika, sementara untuk sihir pun aku sudah berkembang dengan sangat pesat. Sekarang aku bisa mengendalikan sihir air, angin, cahaya, sihir fusi es dan juga beberapa Sihir terapan.


Sihir terapan yang sudah bisa ku kuasai adalah sihir penyembuhan (yang ini tidak terlalu sulit karena aku pernah menguasainya di kehidupan sebelumnya), sihir terbang, sihir penciptaan (yang ini masih tahap perkembangan juga karena aku masuk berada di level menciptakan barang-barang remeh seperti gelas, sendok dan piring, tapi aku bertekad suatu saat aku bisa membuat pedang dan juga senjata-senjata lainnya!) Dan juga sihir penyimpanan.


Aku juga sudah mulai belajar tentang sihir tingkat tinggi seperti sihir teleportasi dan juga sihir gudang penyimpanan, meski memang sangat sulit.... Tapi aku tidak akan menyerah!


Guru David pun tampak sangat puas dengan perkembanganku yang sangat pesat ini dan menyebutku sebagai 'Prodigy' selain Pangeran Blaze. Namun tentunya aku tidak merasa tidak puas begitu saja karena menurutku aku masih terlalu lemah, oleh karena itu, aku pun meminta Guru David untuk mengajariku secara lebih intensif lagi.


Guru David yang sepertinya ragu dengan permintaanku ini akhirnya luluh juga dan mulai mengajariku dengan lebih intens lagi terutama dalam sihir terapan karena untuk belajar mengembangkan sihir sihir elemen murni memang harus oleh diri sendiri, berbeda dari sihir terapan yang bisa diajarkan dengan teori, sihir elemen murni itu seperti 'insting' alami. Yang perlu di asah tentunya adalah mempertajam insting itu.


Sementara untuk berpedang, kelemahan utamaku memang dari fisik. Karena aku seorang perempuan yang tidak memiliki kekuatan fisik tahan banting seorang laki-laki (contohkan adalah Pangeran Blaze dan juga Arthur, setiap mereka berlatih, aku selalu merasa kagum dengan kemampuan mereka berdua), aku menjadi lebih tertinggal dari Pangeran Blaze dan juga Arthur. tapi untung saja Duke Allison tetap mengajariku dengan tekun. Dia bahkan sampai membuat list makanan dan ia berikan kepada Diana untuk membuat kekuatan fisikku menjadi lebih meningkat lagi.


meski memang dingin, akan tetapi dia adalah pria yang baik... Tapi aku sendiri merasa kagum juga padanya karena kesetiannya pada mendiang istrinya alias Ibu dari Arthur yang sudah meninggal dunia.


Sejak meninggalnya Duchess, Duke Allison tidak pernah menikah lagi, bahkan skandal dengan wanita pun tidak pernah. Di kehidupan sebelumnya, sampai aku mati di bakar hidup-hidup juga Duke Allison tidak menikah lagi. Di balik wajah dingin nan datar, tersimpan hati yang begitu setia pada cintanya kepada istrinya. Hal itu (selain dengan kemampuannya dalam bertarung dan juga reputasi sebagai keluarga Duke paling kuat di Kekaisaran ini tentunya) membuatku merasa begitu kagum kepadanya.


Tidak seperti Kaisar yang bahkan selingkuh dari Ibu bahkan ketika Ibu masih hidup. Andai saja dialah Ayahku....


''Tuan Putri, kenapa anda melamun? Segeralah melakukan pemanasan! Hari ini kita akan berfokus melatih kembali kekuatan fisik anda! Sementara untuk Pangeran Blaze dan juga Arthur, kalian akan mempelajari teknik yang baru, jadi lakukan dengan cepat dan juga benar!"


Suara yang begitu tegas itu menyentakku dan menyadarkanku dari lamunanku. Ah.... Iya, saat ini aku memang akan berlatih berpedang bersama Pangeran Blaze dan juga Arthur. Aku pun segera melakukan pemanasan bersama dengan Pangeran Blaze dan juga Arthur.


"Vivi baik-baik saja? Tadi Kakak khawatir loh karena Vivi melamun terus" Tanya Pangeran Blaze ketika kami masih pemanasan.


"Tidak apa-apa kok Kak Blaze, hanya sedikit kepikiran sama sihir tapu benar-benar tidak apa-apa kok" Jawabku sambil memaksakan tersenyum padanya.


"Kenapa anda berhenti, Pangeran Blaze?!" Seru Duke Allison yang tengah berdiri di sudut area pelatihan berpedang ini dengan melipatkan kedua tangannya di dada dan menatap tajam ke arah Pangeran Blaze.


Pangeran Blaze pun terlihat langsung ketakutan dan kembali melakukan pemanasan.


Kami bertiga pun sampai ke tahap terakhir yaitu berkeliling area pelatihan berpedang yang sangat luas ini. Untukku aku si suruh berlari selama tiga puluh putaran sementara untuk Pangeran Blaze dan juga Arthur sebanyak delapan puluh putaran.


Baru saja sepuluh putaran sudah membuatku merasa sangat kelelahan sementara Pangeran Blaze dan juga Arthur masih terlihat baik-baik saja padahal saat ini mereka sudah berada di putaran ke tiga puluh lima mereka. Bahkan mereka berdua masih tampak segar bugar dengan peluh keringat yang mulai membanjiri tubuh mereka.


Aku berhenti sebentar sampai mengatur nafasku, astaga.... Ini sangat berat..... Tiba-tiba terbesit kembali bayangan Ibu dan Diana yang tewas tergeletak bersimbah darah di benakku. Aku pun mengigit bibirku dengan kuat-kuat lalu kembali berlari. tidak.... Aku tidak boleh lemah! Aku harus menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi mereka berdua! Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan kedua ini!


Mengabaikan peluh keringat yang membanjiri tubuhku, nafas yang tidak beraturan dan juga rasa lelah yang begitu sangat, aku tetap berlari dan terus berlari. Apa pun yang terjadi aku harus lebih kuat lagi... Untuk melatih tubuh mungilku ini supaya di masa depan aku bisa menjaga Ibu dan juga Diana!


Dan setelah beberapa lama akhirnya aku menyelesaikan lari tiga puluh keliling area pelatihan yang sangat luan ini. Aku pun segera mengatur nafasku.


"Vivi... Bukankah Vivi begitu memaksakan diri?" Tanya Pangeran Blaze yang langsung menghampiriku dengan raut wajah yang tampak begitu khawatir.


"Tenang...hah.... Hah... Saja... Kakak! Aku... Hah... Baik-baik saja!" Jawabku yang masih mengatur nafasku ini.


Pangeran Blaze tampak masih khawatir padaku, "Vivi jangan memaksakan diri ya, kalau sudah capek minta izin saja beristirahat pada Duke sebentar lalu Vivi lanjutkan kembali. Pokoknya jangan memaksakan diri! Kakak takut Vivi nanti malah sakit!"


Aku pun mengangguk sambil Yee tipis padanya, "Aku benar-benar baik saja Kak, jangan khawatir. Lagipula... Hah.... Aku kan ingin menjadi kuat.... Seperti Kakak...."


Kata-kata itu.... Entah kenapa terucap dari bibirku. Namun di sudut hatiku mungkin aku memang masih kagum pada kemampuan Pangeran Blaze yang memang seorang 'Prodigy' itu.


Lagi-lagi Pangeran Blaze menatapku dalam, namun ia pun mulai berlatih kembali bersama Arthur sementara aku sendiri saat ini di latih oleh Duke Allison.


Dan... Latihan untukku menguatkan fisikku secara lebih ketat lagi pun di mulai...