THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 34-PERTANDINGAN BERBURU PART VI



...--AUTHOR POV--...


DEG!!


Blaze yang awalnya sedang berburu pun tiba-tiba merasakan hawa keberadaan sihir gelap di sekitar Hutan Nature ini.


Ia pun memberhentikan kuda miliknya, wajahnya terlihat begitu serius dan matanya memicing tajam, 'Tidak salah lagi. Ini sihir gelap!'


Arthur yang berada tidak jauh darinya pun ikut memberhentikan kudanya dan menempatkan kudanya di dekat kuda Blaze.


"Ada apa?" Tanya Arthur heran. Tentu ia merasa begitu bingung karena sedari tadi Blaze begitu bersemangat dalam berburu ini tapi sekarang dia malah berhenti mendadak dan terlihat begitu serius.


Blaze tidak menjawab pertanyaan dari Arthur namun dengan cepat dia turun dari kuda miliknya lalu mengikatkan tali kudanya ke pohon terdekat dengan cepat.


"Aku pergi sebentar, kau lanjutkan saja berburu!" Kata Blaze dengan nada yang terdengar begitu terburu-buru.


Belum sempat Arthur bertanya kembali, Blaze tiba-tiba saja melesat pergi menggunakan sihir terbang miliknya lalu menghilang dari jangkauan pandangan Arthur.


"Ada apa dengannya...?" Gumam Artis namun matanya pun ikut memicing tajam dan melihat ke arah langit yang terlihat terang namun ada 'sesuatu' yang bisa ia rasakan.


"Apa-apaan dengan kegelapan Ini..." Lirih Arthur.


Tidak lama kemudian ia pun memutuskan untuk pergi menyusul Blaze menggunakan sihir miliknya dan melesat dengan begitu cepat. Ia bisa merasakan kalau Blaze sedang menuju ke arah dimana tempat 'sesuatu' itu berada.


Arthur langsung merasa begitu terkejut saat melihat sebuah serigala hitam pekat, bermata merah darah dan bertubuh sangat besar sedang melompat begitu tinggi dengan lompatan yang tidak masuk akal Itu dan hendak menerkam Tuan Putri Viviane yang sedang terbang sambil merangkul seorang Nona bangsawan yang berlumuran darah.


Namun saat ia hendak menolong mereka, tiba-tiba saja ia melihat Blaze yang sangat begitu cepat menebas serigala raksasa itu menggunakan pedang yang sudah di lapisi dengan sihir api milik Blaze yang memang terkenal sangat kuat.


Serigala itu akhirnya terlihat menguap menjadi asap hitam pekat dan mulai lenyap di udara, namun dengan cepat Arthur melesat ke arah asap itu lalu menggenggamnya dengan tangannya yang sudah di lapisi dengan sihir api miliknya.


Sebuah gambaran tentang seseorang yang bertubuh kecil tengah berada di sebuah ruangan luas yang begitu gelap terlintas di kepalanya, ia bisa merasakan kalau orang kecil itu sedang menyeringai dengan begitu kejam.


Arthur pun menggunakan sihir cahaya miliknya bersamaan dengan sihir apinya yang sebelumnya. Elemen sihir alami milik Arthur itu menyatu, ini bukan sihir fusi namun dengan perhitungan perbandingan yang tepat, Arthur bisa mengeluarkan secara bersamaan si genggaman itu. Pancaran cahaya yang begitu terang pun muncul lalu asap hitam itu pun hancur seketika di genggaman Arthur


--Di Tempat Lain--


BHAAKKK!!!


Emira lalu muntah darah dengan begitu banyak bertepatan dengan Arthur yang menghancurkan asap hitam yang ia kendalikan menggunakan kombinasi miliknya yaitu Api dan Cahaya. Boneka beruang coklat miliknya pun terbelah dua lalu terbakar oleh api.


Emira pun merasa begitu kesakitan dan ia tidak bisa berhenti memuntahkan darah. Ia pun mulai memang, namun bukan air mata yang keluar, melainkan darah yang begitu pekat.


"SIAL!!! PADAHAL SEDIKIT LAGI.... PADAHAL SEDIKIT LAGI AKU BERHASIL MENDAPATKAN FRAGMENT-NYA!!!" Teriak Emira yang bak kesetanan.


Tornado dengan asap hitam pun langsung mengelilinginya. Amarah Emira begitu memuncak sekarang, namun tiba-tiba dari ia merasakan tubuhnya di peluk oleh dari belakang oleh sesuatu yang lebih besar darinya.


"Tenangkan dirimu, Emira" Ucap sosok itu.


Tornado hitam itu pun seketika menghilang dan Emira menundukkan kepalanya.


Sosok yang di panggil Mr Det itu pun memeluk Emira dengan lebih erat, "Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan hal yang bagus, dengan ini kita tahu siapa Fragment lain dari Dewa sialan itu. Namun rasanya aneh karena Dewa sialan itu memiliki Fragment lain... Tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jika mereka berdua adalah Fragment dari Dewa sialan itu, maka kita harus lebih berhati-hati lagi"


Emira pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan lalu ia pun membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan dari sosok Mr. Det itu.


Sosok Mr. Det sendiri tidak begitu terlihat dengan jelas karena ruangan itu sekarang tampak begitu gelap. Namun terlihat jelas mata dari sosok Mr. Det yang berwarna merah darah dengan pola aneh di tengahnya.


'Rencana untuk memperdaya orang-orang yang memiliki kekuasaan di Kekaisaran ini gagal total karena kita gagal untuk mendapatkan Fragment dari Dewi tercintaku itu karena kita hanya satu kesempatan saja sebelum kekuatannya meningkat untuk melindungi Fragment miliknya. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan rencana yang lebih bagus lagi untuk menggapai tujuan kita semua, Emira kau yang menginginkan kekuatan dan kekuasaan, sedangkan aku mendapatkan kebebasan dan juga Dewiku yang begitu ku cintai...." Ujar sosok itu. Seringai lebar nan mengerikan itu tercipta dari wajahnya yang masih tertutupi oleh kegelapan.


***


Sedangkan itu kembali ke tempat Vivi, Vivi pun merasa begitu lega karena Blaze telah menolongnya dan juga Luna. Ia pun kembali mendaratkan tubuhnya dan juga Luan ke tanah, begitu juga dengan Blaze.


"Vivi! Kalian baik-baik saja kan?!" Tanya Blaze yang langsung menghampirinya dengan raut wajah yang terlihat begitu panik.


Vivi menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu tersenyum tipis ke arah Blaze, "Aku dan juga Nona Luna baik-baik saja Kakak, semua ini berkat Kakak*


Blaze pun menghela nafas dengan lega karena kedua perempuan ini baik-baik saja. Namun perhatian mereka bertiga pun beralih ke atas saat cahaya yang begitu terang terpancar di langit tidak jauh dari tempat serigala raksasa hitam itu menghilang.


Saat cahaya terang nan panas itu memudar, perlahan terlihat sosok Arthur yang tengah berada di sana.


"Jadi dia menyusulku ya?" Gumam Blaze, karena begitu mengkhawatirkan Vivi, ia jadi tidak begitu memperhatikan tentang apa yang ada di sekitarnya. Ia jadi tidak menyadari kalau Arthur juga mengikutinya kemari.


Blaze pun mengalihkan pandangannya dan menatap kaki Luna yang sudah berlumuran darah.


"Astaga! Kau harus segera di obati!" Seru Blaze yang langsung menghampiri Luna.


Luna yang merasakan pandangannya mulai memburam dan tidak fokus itu pun hanya menatap sosok Blaze yang berada di depannya.


"Vivi diam saja, biar Kakak yang menggunakan sihir penyembuh untuk mengobatinya!" Kata Blaze.


Vivi pun menganggukkan kepalanya, Blaze lalu menarik paksa jubah lebar yang ia pakai dan meletakkannya ke tanah lalu Vivi pun membaringkan tubuh Luna ke tanah yang sudah di lapisi oleh kain jubah lebar milik Blaze agar luka Luna tidak terinfeksi oleh kotoran di tanah.


Lingkaran sihir penyembuh pun muncul dari tangan Blaze dan Blaze mulai menyembuhkan luka lebar nan dalam di kaki Luna.


Kesadaran Luna pun menghilang, hal yang terakhir yang ia lihat adalah wajah Blaze yang tampak begitu panik. Melihat Luna yang sudah tidak sadarkan diri pun membuat Blaze semakin panik.


"Lukanya begitu dalam, walau aku bisa menyembuhkan luka miliknya ini tapi dia sudah kehilangan begitu banyak darah!" Desis Blaze yang tengah menyembuhkan Luna.


"Kalau begitu, kita harus cepat kembali ke tenda! Di sana banyak dokter dan mungkin membawa persediaan darah juga!" Seru Vivi yang begitu panik setelah mendengar perkataan itu dari Blaze.


"Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu lagi, kita akan menggunakan sihir teleportasi sekarang juga" Kata Arthur yang sudah mendarat dan berdiri di dekat mereka.


Arthur pun langsung mengeluarkan lingkaran sihir yang begitu besar untuk men-teleportasi mereka semua. Cahaya putih pun mengelilingi mereka dan saat cahaya itu menghilang, mereka sudah sampai di tenda para dokter yang langsung begitu merasa terkejut dengan kedatangan dari empat anak yang memiliki orang tua yang paling berpengaruh di seluruh Kekaisaran Eilidh ini.


"Kalian ada persediaan darah?! Nona Erickson telah di serang hewan buas di dalam hutan yang menyebabkan ia terluka dan kehilangan banyak darah!" Seru Blaze dan kemudian para dokter pun mulai bergerak dan mencari darah yang sama dengan milik Luna dan mereka pun saling membantu untuk menolong nyawa Luna.