
Pagi harinya aku terbangun dengan kondisi tubuhku yang jauh lebih fresh. Apa ini? Rasanya begitu menyenangkan. Mood ku pun terasa sangat bagus hari ini.
Saat aku hendak turun dari ranjang besarku ini, mataku menemukan buku sihir super tebal pemberian Guru David sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh ini berada di sudut ujung ranjang ku ini.
Hmm? Aneh.... Perasaan kemarin aku menyimpannya di atas nakas yang berada di samping ranjangku. Kenapa malah ada di sini?
Aku segera menggelengkan kepalaku, mencoba menghilang prasangka- prasangka aneh di kepalaku ini. Mungkin saja aku memang menaruhnya di sana dan lupa menyimpannya di nakas di sebelah ranjangku ini seperti biasa.
Aku pun meraih buku itu lalu membawanya sambil turun dari ranjangku dan menaruh buku itu di atas nakas sebelah ranjangku.
Cklekk!
Aku menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka, aku langsung tersenyum lebar ketika melihat Diana yang tengah tersenyum lembut padaku dan juga para pelayan lain yang berada di belakangnya.
"Selamat pagi Tuan Putri'' Sapa Diana dan juga para pelayan lain sambil memberi hormat padaku.
''Selamat pagi juga pada kalian semua'' Balasku dengan senyuman lebar.
Diana lalu melangkah mendekatiku, "Sepertinya suasana hati anda sangat bagus hari ini ya, Tuan Putri''
Aku mengangguk, ''Iya! Entah kenapa saat bangun tidur aku merasa begitu bersemangat! Padahalkan harusnya aku merasa kelelahan karena pesta kemarin''
''Ohh! Mungkin karena Tuan Putri begitu menikmati pesta kemarin, jadinya tubuh Tuan Putri pun menyesuaikan diri dengan kondisi hati Tuan Putri yang merasa sangat senang dengan Pesta Ulang Tahun dan Perkenalan Tuan Putri kemarin!'' Celetuk salah satu dengan penuh semangat dan di ikuti oleh anggukkan dari para pelayan lainnya.
Aku pun tertawa canggung. Apa iya ya? Aku merasa tidak terlalu menikmati pesta itu karena kebanyakan aku melihat orang-orang yang mengkhianatiku di kehidupan sebelumnya jadi aku merasa tidak terlalu menikmati pesta itu.
Akan tetapi, mungkin aku juga merasa sedikit senang sekaligus merasa sedih ketika melihat perhatian lembut dan penuh kasih sayang dari Putra Mahkota Castor dan Pangeran Blaze....
Aku pun langsung menampar sebelah pipiku untuk menyingkirkan semua pikiran absurd itu. Dan karena itu, Diana dan para pelayan pun memekik kaget dan mulai menyerbuku dengan berbagai pertanyaan namun aku pun menjawabnya dengan bohong kalau aku merasa mengantuk dan menampar pipiku sendiri supaya mengusir rasa kantuk itu.
Untungnya mereka semua percaya dan mereka pun mulai menjalankan tugas mereka untuk membantuku bersiap-siap. Saat itu aku kembali berpikir sesuatu, hampir saja aku terlena dengan perlakuan penuh kasih sayang dari Putra Mahkota Castor dan Pangeran Blaze. Tidak... Tujuanku tetap sama, yaitu menjadi perempuan kuat untuk bisa melindungi Ibu dan juga Diana.
Lagipula aku sudah bersumpah tidak akan menyayangi mereka seperti dulu lagi. Dan sekarang umurku sudah tujuh tahun di kehidupan sekarang, aku bisa lebih menyibukkan diriku untuk fokus dengan kegiatan belajarku ini. Yah.... Walaupun aku tidak bisa menjauhi Pangeran Blaze karena kami berlatih pedang dengan guru yang sama yaitu Duke Allison. Tapi itu tidak masalah, yang terpenting aku tidak boleh terjatuh ke dalam lubang yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.
Tinggal lima tahun lagi sebelum Kayla mengumumkan kehadiran Emira yang juga seorang Tuan Putri di Kekaisaran Eilidh ini dan tinggal delapan tahun lagi dari sekarang Diana yang di temukan tewas, di susul dengan Ibu yang meninggal secara misterius setahun kemudian.
Waktuku masih cukup lama, tapi bukan berarti aku bisa bersantai-santai saja. Dulu aku adalah seorang Putri yang lemah dan terus mengemis kasih sayang pada Ayah dan ketiga Kakakku. Tapi kali ini aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan menjadi seorang perempuan yang kuat dan tidak lagi mengharapkan kasih sayang mereka lagi lalu menyelamatkan Ibu dan juga Diana yang sangat berharga bagiku.
Dan mungkin.... Membocorkan kalau Bella adalah gadis suci yang menjadi persembahan Dewa Matahari yang sesungguhnya dengan cara 'itu'. Cara ia baru ketahui karena Guru David memberitahunya, yaitu dengan menggunakan timbangan suci.
Timbangan suci sendiri adalah alat sihir yang tercipta untuk mengetahui siapa yang lebih pantas untuk menjadi gadis suci yang akan menjadi pengantin Sang Dewa Matahari. Karena ternyata ada beberapa kasus mengenai orang yang mengaku sebagai pengganti Sang Dewa Matahari (Sama yang seperti yang ia lakukan). Caranya dengan menyuruh kedua wanita itu berdiri di atas timbangan itu, saat timbangan itu mengeluarkan api yang mengelilingi salah satu wanita (yang anehnya tidak membakar wanita itu bahkan tidak membuat wanita itu merasa kepanasan), itu berarti wanita itulah gadis suci yang asli.
Cara Ini juga akan sangat ampuh untukku menjebak Bella karena cara ini hanya di ketahui oleh segelintir orang saja (termasuk diriku), karena keberadaan timbangan suci itu memang sangat di rahasiakan.
Yah... Mungkin pada akhirnya aku akan di cap membuat malu bagi keluarga Kekaisaran dan akan di usir dari istana. Tapi justru itulah yang memang ku incar. Di usir dari istana dan hidup nyaman menjadi rakyat biasa atau mungkin menjadi salah satu anggota dari penyihir Kekaisaran karena bakatku ini pasti tidak akan di sia-siakan oleh mereka.
Membujuk Ibu dan juga Diana untuk ikut keluar bersamaku dan kami bertiga hidup tentram tanpa mengkhawatirkan apapun lagi. Terserah jika wanita simpanan Kaisar itu menjadi Permaisuri berikutnya, terserah jika Emira menjadi satu-satunya Tuan Putri Kekaisaran Eilidh ini, terserah jika Kaisar, Putra Mahkota Castor, Pangeran Helios dan juga Pangeran Blaze berubah, AKU TIDAK PEDULI!
YANG PENTING MENJADI KUAT UNTUK MENJADI PENYIHIR KEKAISARAN DAN HIDUP NYAMAN BERSAMA IBU DAN JUGA DIANA! ITULAH TUJUAN HIDUPKU SEKARANG!
Tanpa terasa Diana dan para pelayan sudah selesai untuk mendandaniku. Kali ini aku memakai set gaun pink dengan renda-renda putih yang membuat Diana dan para pelayan berseru heboh karena penampilanku yang kata mereka sangat super imut ini.
"Oh ya Yang Mulia Tuan Putri, Yang Mulia Kaisar menyuruh kami semua segera mengantarkan anda ke ruang makan Istana Utama'' Kata Diana.
Aku pun mengangguk dan mereka pun menuntunku untuk pergi ke Istana Utama. Si sepanjang perjalanan seperti biasa para pelayan dan juga para prajurit menyapaku dengan hormat. Namun hal itu tidak membuatku merasa senang begitu saja karena sikap mereka semua berubah dengan mengacuhkanku seolah aku benar-benar tidak ada setelah beberapa tahun kedatangan Tuan Putri favorite mereka, Emira.
Dan saat sampai di ruang makan, aku pun melihat Ibu, Kaisar, Putra Mahkota Castor, Pangeran Helios dan Pangeran Blaze yang sudah duduk dan berkumpul di meja makan yang sangat panjang dan besar itu.
Aku pun tersenyum palsu lalu berseru dengan nada ceria yang memang kubuat-buat pada mereka semua, ''Selamat pagi Ibu, Ayah, Kak Castor, Kak Helios dan Kak Blaze!''