THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 58-PESTA ULANG TAHUN PUTRA MAHKOTA PART I



Hari Pesta Ulang Tahun Putra Mahkota Castor pun tiba. Meski acara pestanya akan di adakan nanti jam tujuh malam, namun semua pelayan tampak begitu sibuk sedari pagi buta. Aku sendiri memilih untuk berdiri diri di perpustakaan yang ada di istana Putri sambil menghafal beberapa formula sihir cahaya yang di ajarkan oleh Arthur kemarin.


Ya, setelah kemarin aku meminta Arthur untuk mengajariku sihir cahaya tingkat tinggi. Mendengar persetujuan dari Arthur itu tentu saja membuatku merasa sangat senang dan memintanya langsung mengajariku setelah pelajaran berpedang dengan Duke Allison.


Aku pun menitipkan sebuah kotak besar kepada Pangeran Blaze dan memintanya untuk memberikannya kepada Putra Mahkota. Sebenarnya aku merasa cukup tidak enak karena sudah menyuruhnya namun melihat Pangeran Blaze yang langsung tampak bersemangat untuk memberikannya pada Putra Mahkota Castor membuatku merasa cukup tenang. Pangeran Blaze bahkan mengatakan tidak keberatan karena aku yang memintanya.


Sisa hari itu pun aku belajar bersama dengan Arthur di istana Putri. Awalnya memang cukup canggung karena ini memang pertama kalinya bahkan di kehidupan sebelumnya aku dekat dengan seorang laki-laki selain ketiga Kakakku. Namun setelah beberapa lama, aku merasa terbiasa dengan sikap Arthur itu.


Arthur memang orang yang dingin, kalem dan jarang bicara, namun dia ada pengajar yang sangat baik. Ia juga yang begitu sabar yang membuatku menyadari kalau Arthur memang seorang penyabar yg bahkan bisa menangani Pangeran Blaze yang sangat aktif itu.


Beberapa kali saat mengajariku itu, aku beberapa kali pula aku melihatnya tersenyum dan senyumnya itu....


BLUSH!!!


Tiba-tiba saja aku merasakan wajahku yang begitu panas dan detak jantungku juga berdegup dengan sangat kencang Ket mengingat senyuman dari Arthur.


Astaga... Apa ini...?


Aku tahu dia itu.... Tampan.... Dia juga sangat populer di kalangan para gadis bangsawan di kehidupanku sebelumnya, tapi... Ini memang kedua kalinya aku berinteraksi dekat dengan Arthur...


Pertama kali saat kami berbicara dengan cukup akrab adalah di pesta Pertandingan Perburuan, dan saat itu aku juga merasakan hal yang sama seperti ini.


Perasaan yang membuatku gelisah, bingung namun juga terasa sangat menyenangkan. Perasaan yang sebenarnya tidak ku benci.


"Yang Mulai Tuan Putri?!"


Aku langsung terperanjat kaget sampai-sampai lingkaran sihir yang kubuat itu seketika meledak dengan kekuatan skala kecil.


Astaga, aku melamun!


Hyuuhhh.... Dengan perasaan lega aku menghela nafas, untung saja lingkaran sihirnya masih versi kecilnya, kalau tidak ledakan sihir itu pasti membuatku jatuh terpental dan bahkan bisa membuatku terluka.


Aku pun menatap ke arah Diana yang baru saja memanggilku seperti itu tadi.


"Astaga Diana... Kau membuatku kaget!" Kataku sambil mengelus dadaku.


"Maafkan saya, namun tadi saya sudah memanggil anda berkali-kali namun anda tetap tidak mendengarkannya" Ujar Diana.


Aku tersenyum tipis, "Tidak apa-apa kok Diana. Ini salahku juga karena melamun saat belajar sihir seperti ini. Jadi apa sudah waktunya?"


Diana menganggukkan kepalanya, "Benar Yang Mulia Tuan Putri"


"Kalau begitu mari kita segera bersiap"


Aku pun melangkah kakiku keluar dari perpustakaan dan segera bersiap untuk pergi ke Pesta Ulang Tahun Putra Mahkota.


Seperti biasa, para pelayan membantuku bersiap-siap. Dari mandi sampai mendandaniku dengan begitu begitu hati-hati. Dan juga seperti biasa, proses ini sangatlah lama!


Dalam tiga jam mereka baru saja selesai mendandaniku.


Aku melihat bayanganku di cermin dan terpesona dengan hasil pekerjaan mereka. Aku yang memakai set gaun yang ku desain sendiri dan dengan tangan ajaib dari Marchioness Aria dan para pelayan itu membuat gaun ini tampak sempurna!


Rambutku di biarkan terurai lurus dan di beri pernak pernik mutiara putih yang begitu indah.


Astaga.... Marchioness Aria benar-benar jenius. Ia benar-benar membuat gaun yang sangat sesuai dengan keinginanku!


"ASTAGA YANG MULIA TUAN PUTRI SANGAT CANTIK!!!" Teriak Rima dengan wajah yang terlihat memerah dan mata tertutup berbinar-binar ketika melihatku ini.


"IYA!! ANDA SANGAT CANTIK SEPERTI PERI!!" Pekik Ella yang menunjukkan raut wajah yang sama dengan Rima.


"Tidak! YANG BENAR KECANTIKAN MILIK TUAN PUTRI VIVIANE SETARA DENGAN DEWI!!" Teriak Claudia dengan berapi-api.


Aku hanya tertawa canggung dengan reaksi yang begitu berlebihan dari mereka, "Astaga... Kalian sangat melebih-lebihkannya..."


"Tidak Yang Mulia, anda memanglah sangat cantik. Bukan hanya malam ini saja, namun anda memanglah selalu cantik di setiap saat" Kata Diana dengan senyuman tulusnya.


Hatiku tersentuh mendengar perkataan dari Diana itu. Lalu setelah itu aku yang juga di dampingi oleh Diana dan juga beberapa prajurit pergi ke Istana Utama, yaitu Istana Sonne.


Bukan aula pesta yang menjadi tujuanku, melainkan mengunjungi Kaisar terlebih dahulu. Setiap saat aku melihat orang-orang yang berlalu-lalang, aku melihat mereka menatapku dengan tatapan yang terpesona. Uhhh... Apa dandanan ini sangat berlebihan ya?


Sesampainya di depan ruangan pribadi Kaisar, aku pun meminta penjaga untuk membiarkanku bertemu dengan Kaisar. Mereka pun akhirnya menyetujuinya dan membukakan ruangan itu.


Di dalam, aku melihat Kaisar yang tampak sudah siap dengan balutan setelan formal bernuansa emas, putih dan juga merah. Diam-diam aku mendengus pelan, ia juga memakai setelan yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.


Setelan yang sama dengan gaun milik Emira dan juga Kayla di saat mereka berdua memperkenalkan diri di depan semua kaum bangsawan dan tentu saja itu adalah hasil dari pemikiran Kaisar yang membuat mereka bertiga memakai balutan dengan busana yang berbeda dengan aku, Ibu, Putra Mahkota Castor, Pangeran Helios dan Pangeran Blaze yang memakai balutan busana yang berbeda-beda.


Hal ini di tunjukkan bahwa Kaisar menegaskan menerima mereka sebagai keluarga Kekaisaran yang layak di hormati, meski memang Kayla adalah selingkuhannya dan juga Emira adalah hasil dari hubungan gelap mereka.


Kaisar tampak membeku saat melihatku, tatapannya tampak lurus dan bahkan sampai tidak berkedip ke arahku yang membuat diriku mendadak merasa tidak nyaman. Namun aku segera menyingkirkan perasaan itu dan langsung melangkah mendekat ke arahnya.


"Halo Ayah!" Sapaku dengan senyuman lebar. Ya.. meski ini memang hanya akting.


Kaisar pun tampak tersadar dan berjalan mendekatiku, "Astaga Vivi! Kamu tampak sangat cantik!!"


"Ayah bisa saja, hehe! Oh! Aku lupa, aku ingin memberikan sesuatu untuk Ayah!" Seruku masih dengan senyuman lebarku sambil menyerahkan sebuah kotak besar yang sedari tadi Diana pegang kepala Kaisar.


Kaisar tampak bingung ketika menerima kotak itu dan saat ia membukanya ia terlihat begitu sangat terkejut.


"Vivi, ini...."


"Iya Ayah! Maaf karena aku mendadak memberikan setelan baju ini pada Ayah karena aku lupa. Tapi aku juga memberikan gaun dan setelan yang sama dengan milikku ini kepada Ibu, Kak Castor, Kak Helios dan Kak Blaze, jadi di pesta ini aku ingin kalau kita semua memakai gaun dan setelan yang sama!" Terangku pada Kaisar.


Aku melihat Kaisar yang tampak masih terkejut. Diam-diam aku menyeringai tipis di dalam hatiku. Maaf Kaisar... Tapi idemu itu sudah aku curi!


Aku pun menatap Kaisar dengan tatapan memohon, "Ayah juga sekarang ganti baju dan pakai yang ini ya, kan masih ada satu jam lagi sebelum pestanya dimulai... Vivi mohon.... Jadi kita berenam memakai setelan yang bernuansa yang sama. Karena kita berenam ini adalah keluarga Kekaisaran Eilidh dan tidak ada yang lain!"


Aku tahu ini cara yang sangat kekanakan dan naif, tapi cara ini juga telah Kaisar lakukan di kehidupan sebelumnya saat memperkenalkan Emira dan juga Ibunya.


Tidak akan ku biarkan semuanya sama dengan kehidupan sebelumnya.