
...--AUTHOR POV--...
Pesta ulang tahun Vivi masih berlangsung dengan meriah, namun karena sekarang sudah terlalu malam, Vivi pun di antar ke kamarnya.
Kini Vivi sudah terbaring di ranjangnya, namun kali ini ia tidak bisa tertidur. Ia lalu bangkit dan meraih sebuah buku yang berada di nakas sebelah ranjangnya. Itu adalah sebuah buku yang begitu tebal dan Vivi tersenyum sembari membuka buku itu.
Buku itu adalah buku sihir terapan yang menjadi hadiah Guru sihir Vivi yaitu David. Dengan telaten Vivi mulai membacanya dan menghafalnya.
Tangannya sendiri bergerak-gerak di udara dan mencoba menggambar lingkaran sihir terapan yang ada di buku itu.
"Sihir Teleportasi....'' Gumam Vivi setelah ia berhasil menggambar lingkaran sihirnya.
Tiba-tiba saja lingkaran sihir itu mengeluarkan sinar yang begitu terang muncul dan terangnya pun membuat Vivi sampai menutup matanya.
Beberapa detik pun Vivi membuka matanya dan saat itu pun matanya terbelalak lebar. Hal yang membuat ia merasa begitu terkejut adalah sekarang ia tidak berada di dalam kamarnya lagi melainkan di sebuah padang rumput yang sangat luas.
Bulan purnama bersinar begitu terang, di temani dengan hamparan lautan bintang yang begitu indah di atas sana. Namun keindahan itu jelas tidak membuat Vivi merasa tenang begitu saja karena tiba-tiba saja ia sampai di tempat yang antah berantah seperti ini.
Kepalanya mulai celingukan, apa ia benar ketempat ini sebelumnya? Karena yang ia tahu Sihir Teleportasi hanya bisa di lakukan ketika si pengguna sihir itu pernah ke tempat yang ia tuju. Apa pernah ia kemari?
"Kenapa ada manusia yang bisa masuk kemari?"
Sebuah suara itu terdengar dari belakang Vivi, membuat Vivi tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah belakang. Ia melihat seorang sosok berjubah putih yang berhiasan emas juga dengan aksen aneh dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Angin berhembus lembut menerpa mereka berdua. Vivi bersikap waspada pada orang berjubah itu.
"Aku tanya sekali lagi... Kenapa kau bisa ke tempat ini, wahai manusia" Kata sosok berjubah itu lagi.
"Siapa anda?!" Seru Vivi yang malah berbalik bertanya.
Vivi sungguh masih merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Apa sihirnya gagal? Dan siapa sosok berjubah ini? Ia sama sekali tidak bisa melihat wajah Dar sosok berjubah itu karena tertutupi oleh jubah itu. Namun entah kenapa Vivi merasa yakin kalau sosok berjubah di depannya ini adalah seorang pria. Dari suaranya terdengar berat khas laki-laki begitu pula dengan perawakan tinggi sosok itu.
Belum lagi.... Vivi merasa begitu familiar dengan suara dari sosok berjubah itu.
Sosok berjubah itu hanya diam namun ia mengadahkan kepalanya dan menatap bulan purnama. Vivi masih bersikap waspada namun seketika ia langsung tersentak ketika melihat sosok berjubah itu tiba-tiba saja sudah berada tepat di depannya.
Tubuh Vivi membeku, ia merasa tubuhnya tidak bisa di gerakkan, dengan mata yang masih terbelalak kaget, ia melihat sosok itu mengangkat tangannya yang tertutupi oleh kain jubah dan mengelus pipinya dengan lembut.
Mata biru bak lautan yang indah itu terus menatap ke arah sosok misterius berjubah ini. Vivi mulai merasakan kalau pinggang ramping miliknya mulai di rangkul oleh sosok berjubah itu.
"Ahh... Aku ingat wajah ini... Tapi.... Ini bukan saatnya untukku mengambilmu..." Ucap sosok berjubah itu dengan suara berat yang membuat jantung Vivi berdegup tak karuan.
Wajahnya mulai memerah dan hatinya begitu gelisah. Apa ini? Kenapa mendadak ia merasakan hal yang seperti ini.
"Kembalilah tidur...Dan lupakan pertemuan kita malam ini.... Kau telah mengalami hal yang sangat sulit bukan? Beristirahatlah...." Kata sosok berjubah itu lagi yang kali ini dengan nada bicara yang begitu lembut dan perhatian.
Tiba-tiba saja mata Vivi merasa berat dan perlahan pandangannya menjadi kabur. Pada akhirnya ia pun jatuh tertidur di pelukan sosok berjubah itu.
Sosok berjubah itu menggendong Vivi ala pengantin dan muncullah sebuah lingkaran sihir emas di bawah permukaan padang rumput yang ia pijaki. Dengan sinar putih keemasan, ia pun menghilang dari padang rumput itu dan tiba di kamar milik Vivi.
Dengan pelan dan hati-hati ia membaringkan tubuh Vivi yang tengah tertidur sangat pulas di atas ranjang besar milik gadis itu.
Cahaya pun menyelimuti tubuh sosok itu dan jubah putih sosok itu pun perlahan menghilang menjadi butiran-butiran cahaya yang indah dan memperlihatkan sosok yang berada di balik jubah itu.
Dia adalah seorang pria yang begitu tampan yang memakai pakaian serba putih dengan aksen emas yang begitu indah yang terbuka. Pria itu memiliki rambut putih keperakan dengan mata kuning keemasan yang begitu indah. Rahang tegas, tubuh tegap dan otot-otot perut yang terekspos karena ia memakai pakaian yang terbuka dan juga sebuah benda yang bercahaya kuning keemasan berada di atas kepalanya menyerupai mahkota.
Dengan senyuman lembut nan rupawan miliknya ia pun mengelus pipi Vivi dengan sangat lembut, "Kau tidak akan pernah tahu betapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu.... Kembali.... Maafkan aku karena sempat tidak mengenalimu... Kau yang berada di wujud anak-anak seperti ini membuatku bingung kenapa bisa ada manusia yang pergi ke 'tempat itu'. Karena mustahil bagi manusia bisa berada di tempat itu, tapi ternyata manusia itu adalah kamu...."
Pria itu pun meraih tangan mungil Vivi lalu menciumnya dengan lembut, "Kau sudah mengalami begitu banyak hal... Maafkan aku karena 'diriku yang lain' itu belum mengingatmu.... Tapi tidak apa... Kali ini aku akan pastikan kamu akan bahagia.... Bersamaku..."
Perlahan pria itu pun mencium bibir Vivi dengan lembut. Sebuah ciuman yang penuh dengan cinta, tanpa nafsu sama sekali di dalam ciuman itu.
Cukup lama pria itu mencium bibir Vivi lalu ia pun mengakhiri ciuman itu.
"Aku sangat mencintaimu, sayang.... Tapi ini belum waktunya... Waktu yang di janjikan akan tiba sebentar lagi, segel ingatan dari 'diriku yang lain' juga sudah mulai terbuka dengan perlahan-lahan. Kali ini aku berjanji tidak akan ada yang akan membuatmu menderita seperti di waktu sebelumnya...." Kata pria itu lalu ia pun berjalan mundur menjauhi ranjang Vivi, perlahan cahaya muncul di tubuh Vivi dan tubuh Vivi yang berumur delapan belas tahun itu pun mulai menyusut kembali ke sosok dirinya yang berumur tujuh tahun.
Pria itu pun menampilkan senyuman lebar di wajahnya yang tampan itu, "Sampai jumpa lagi, sayangku! Aku mencintaimu!"
Muncullah sebuah lingkaran sihir berwarna emas di bawah kaki pria itu dan perlahan sosok pria itu pun menghilang.
Meninggalkan Vivi yang tengah tertidur pulas dengan senyuman manis yang ada di wajahnya.