THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 28-SAPU TANGAN UNTUKNYA....



...--AUTHOR POV--...


Luna menatap sebuah benda di meja yang ada di kamarnya dengan tatapan tajam. Wajahnya tampak berpikir dengan begitu keras lalu tidak lama kemudian ia mulai berteriak.


"Aaaaaa!!! Apa yang harus ku lakukan??!!!" Teriak Luna dengan penuh rasa frustasi sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Mendengar teriakan Luna itu jelas membuat beberapa orang yang ada di mansion Duke Erickson langsung terlonjak kaget karena mendengar teriakan Nona Muda Erickson di hari yang sudah malam ini.


Luna pun mengambil benda itu lalu menatapnya dalam-dalam, wajahnya tampak memerah dan matanya tampak fokus.


"Ughh... Kenapa aku membuat ini..." Gumamnya sambil melihat benda itu dalam-dalam.


Jantungnya serasa berdegup dengan kencang dan wajahnya pun tampak semakin memerah. Benda yang sedang ia pegang ini adalah sebuah sapu tangan yang sudah ia sulam dengan tangannya sendiri.


Entah apa yang ada di pikiran Luna saat pertama kali ia mendengar kalau Pangeran Blaze akan mengikuti pertandingan berburu ini dari Ayahnya kemarin, dengan cepat ia langsung pergi ke balai kota (tentunya di temani oleh pelayan pribadi dan juga para prajurit yang sebenarnya membuat Luna merasa risih juga) dan membeli barang-barang yang ia perlukan untuk membuat sapu tangan bersulam itu.


Setelah membeli itu, ia langsung membuat sulaman dengan begitu tekun karena ia berniat membuat dua, untuk Ayahnya dan untuk...


BLUSH!


Seketika saja wajahnya tampak lebih memerah dari sebelumnya. Kemarin ia sudah menyelesaikan sapu tangan untuk Ayahnya yang juga akan mengikuti pertandingan berburu ini, sementara yang kedua ini baru saja ia selesaikan. Awalnya Luna tidak berniat untuk membuat sapu tangan untuk Ayahnya karena ia berpikir sudah ada Ibunya yang akan memberikan sapu tangan pada Ayahnya. Akan tetapi begitu mendengar Pangeran Blaze akan mengikuti pertandingan berburu kali ini dan juga merupakan pertandingan berburu pertamanya, Luna memutuskan untuk membuatnya....


Drap! Drap! Drap!


Tiba-tiba saja Luna mendengar suara langkah kaki yang terdengar terburu-buru di luar kamarnya dan tidak lama setelah itu pintu kamarnya pun di buka dengan keras oleh Ayahnya dan terlihat Ibunya yang berada di belakang Ayahnya.


"LUNA!! KAMU TIDAK APA-APA SAYANG?!" Teriak keduanya dengan wajah yang tampak begitu panik.


Belum sempat Luna menjawab, Ayah dan Ibunya langsung saja menghampiri Luna dan memeluknya yang masih terlihat duduk di sofa yang ada di kamarnya itu.


"Ada apa kamu teriak malam-malam sayang? Apa ada penyusup?!" Tanya Ayah Luna alias Duke Erickson dengan nada yang terdengar begitu panik.


"Kamu tidak apa-apa kan, Luna Putriku?! Ada yang sakit?! Ada yang terluka?!" Tanya Ibunya alias Duchess Erickson dengan nada yang sama paniknya.


Ahh... Luna jadi ingat betapa overprotective nya kedua orangtuanya ini. Sebagai Putri satu-satunya fan mengingat petapa sulitnya saat Duchess Erickson ketika ia mengandung Luna yang mengakibatkan Duke Erickson menjadi trauma dan tidak ingin lagi istrinya hamil lagi. Duchess Erickson sendiri memang memiliki fisik yang lemah jadi saat ia mengandung akan lebih membebani fisik lemah miliknya itu. Dan saat kelahiran Luna itulah merupakan berkah bagi keluarga Duke Erickson dan juga keluarga istrinya itu sekaligus juga hal yang hampir membuat mereka serangan jantung karena melihat kondisi sang Duchess.


Oleh karena itu, bagi Duke Erickson, Luna Putrinya sudah cukup. Ia tidak ingin melihat sang istri berada di dalam kondisi hampir tidak terselamatkan saat kelahiran Luna sembilan tahun yang lalu. Belum lagi Luna yang memang lahir secara prematur yang membuat Duke dan Duchess selalu mengkhawatirkan kondisi Putri mereka itu.


"Umm! Aku baik-baik saja kok, Ayah, Ibu! Jangan khawatir!! Pekik Luna yang merasa sedikit sesak karena Ayah dan Ibunya itu memeluknya bersamaan dengan begitu erat.


Namun diam-diam Luna sendiri merasa sangat senang karena ia terlahir di keluarga yang baik dan juga begitu menyayanginya. Ia selalu bersyukur akan hal itu. Ia adalah perempuan yang sangat beruntung.


Luna pun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Tidak ada apa-apa kok, Ayah, Ibu. Aku baik-baik saja"


Mata Duke menagkap sapu tangan yang sedang berada di genggaman Luna, Matanya pun langsung berbinar-binar, "Jadi Luna membuatkan Ayah sapu tangan juga?!"


Luna langsung tersadar dan memekik pelan, ia pun menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya sembari memalingkan wajahnya, "B-- Begitulah..."


Duke pun tampak begitu merasa senang sementara Duchess yang melihat sapu tangan yang berada di tangan Luna itu dengan kebingungan.


'Umm? Bukankah Luna sudah selesai membuat sapu tangan untuk Ayahnya itu kemarin....?' pikir Duchess, matanya pun menemukan sebuah sapu tangan di ranjang Putrinya itu dengan sulaman bergambar keluarga mereka yaitu Singa Putih keperakan yang Luna tunjukkan kemarin kepada Duchess untuk di berikan kepada Duke saat pertandingan berburu. Kalau itu sapu tangan yang akan di berikan untuk Duke, lalu yang berada di tangan Luna itu...


Duchess kembali menatap Putrinya yang masih berada di posisi yang sama seperti sebelumnya, namun jika lebih di teliti lagi, terlihat rona merah yang terlihat cukup jelas di wajah cantik nan imut Putrinya itu.


'Tu--tunggu! Mungkinkah ini?!!' Pekik Duchess dalam hati dengan wajah yang ikut memerah dan kedua tangannya menutupi mulutnya.


'Astaga!!! PUTRI KECILKU SUDAH MENYUKAI SESEORANG???!!!' Teriak Duchess di dalam hatinya kembali.


Astaga, Putrinya yang masih berumur sembilan tahun sudah mulai tumbuh besar dan menyukai seseorang! Tunggu! Tapi siapa laki-laki itu?! Kapan mereka bertemu?! Luna kan jarang keluar ruma---


Seketika ingatannya pun kembali mengingat sesuatu, terakhir kali Luna keluar adalah Pesta Ulang Tahun dan juga Perkenalan Tuan Putri Viviane, itu artinya..... Luna juga bertemu dengan orang yang disukainya di pesta itu?!


Kalau di ingat-ingat lagi, semenjak pesta itu Luna tampak lebih sering melamun atau bahkan menatap langit dengan ekspresi wajah yang menerawang khususnya saat siang hari. Apa itu karena Luna mengingat tentang laki-laki yang disukainya?!


Duchess pun merasa begitu bersemangat, namun ia langsung teringat sesuatu dan langsung melihat suaminya yang masih kesenangan karena akan mendapat sapu tangan pertamanya dari Luna.


'A... Aku tidak boleh menceritakan ini pada Suamiku.... Kalau saja ia tahu, pasti ia akan mencari laki-laki itu dan memburunya....' pikir Duchess yang memang sudah tahu betul sifat overprotective Suaminya itu pada Putri mereka satu-satunya yang membuat Duchess diam-diam merasa khawatir kepada masa depan Putrinya Luna karena memiliki Ayah yang super overprotective itu.


Setelah itu Duchess pun menarik Duke keluar dari kamar Putri mereka. Setelah mengucapkan 'Selamat Malam', mereka berdua keluar dari kamar Luna.


Luna yang terus melambaikan tangannya sampai Ayah dan Ibunya benar-benar pergi pun menghela nafas.


Luna lalu berjalan ke ranjangnya lalu mengambil sapu tangan yang ada di ranjangnya dan menaruhnya di nakas di sebelah ranjangnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang besar itu seraya menarik selimut hingga sebatas dadanya.


Luna lalu menyimpan sapu tangan bersulam yang baru ia selesaikan itu di sebelah bantalnya lalu ia pun berpindah ke posisi miring sembari menatap ke arah sapu tangan itu.


'Apa aku harus memberikannya besok ya....?' pikir Luna dengan wajah yang sedikit memerah.


Besok adalah pertandingan berburu, jadi kalau ia akan memberikannya pada Pangeran Blaze memang harus besok.


'Apa.... Aku akan memberikannya....? Tapi bagaimana kalau ia menolaknya...?' pikir Luna lagi.


Mata birunya lalu menutup, dan perlahan ia pun tertidur dengan perasaan yang bimbang itu.