THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 47-RAPAT KEKAISARAN FINAL PART



Blaze masih memasang senyum lebar di wajahnya ketika semua orang menatapnya dengan tatapan yang shock yang bercampur dengan rasa tidak percaya.


"I---- INI TIDAK MUNGKIN! Bagaimana bisa---" Teriak Duke Curt yang jelas merasa tidak percaya.


Blaze membaringkan Helios dengan pelan lalu kembali bangkit dan berdiri sambil menatap ke arah Duke Curt dengan senyuman lebar yang masih terpampang di wajahnya itu.


"Kenapa? Harusnya kau bahagia kalau di era ini masih ada orang yang di berkati oleh Dewa Matahari kan, atau malah...."


Tiba-tiba saja Blaze menghilang dari tempat ia berdiri dengan kilatan cahaya yang putih keemasan yang tertinggal selama sedetik di sana.


"Kau tidak senang karena aku merupakan musuh alamimu?" Bisik Blaze yang sudah berdiri tepat di depan Duke Curt.


Belum sempat Duke Curt bereaksi, Blaze langsung membuat lingkaran sihir putih keemasan dengan corak matahari di tengah lingkaran sihir itu di tangan kanannya dan langsung ia arahkan ke dada Duke Curt.


SRIIIINNNGGGG!!!!


"AAARRRRRRGGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!!!"


Duke Curt berteriak dengan begitu kencang sampai memekakkan telinga semua orang di dalam ruangan itu. Tubuhnya pun langsung di selimuti oleh asap hitam tebal yang memberontak keluar dan seperti ingin menyerang Blaze. Namun Blaze sendiri terlihat begitu tenang dengan kekuatan cahaya yang begitu panas itu, ia menyerang Duke Curt yang sudah terselimuti oleh sihir kegelapan.


"RAHHGGGGGHHHH!!!!! AARRRRHHHHHHH!!!!!!ARRRGGGGHHHH!!!!!!!!!!


Waktu berjalan cukup lama dan Blaze masih mengeluarkan kekuatannya untuk mengalahkan sihir kegelapan milik Duke Curt dan setelah beberapa lama akhirnya asap hitam yang berada di tubuh Duke Curt lenyap dan ia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Semua orang yang melihat itu sungguh merasa tidak percaya. Apa yang mereka lihat adalah pertarungan antara sihir cahaya yang di berkati oleh Sang Dewa Matahari melawan sihir kegelapan yang sudah merasuk ke dalam jiwa seseorang.


"Fyuhhh.... Akhirnya selesai juga..." Ucap Blaze dengan tenang.


"...... Pangeran Blaze, bisa anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Kata Duke Allison. Meski memang ia tahu dengan semua rencana yang di buat oleh Putranya, Arthur dan sahabatnya, Blaze, ia tidak tahu dengan rencana yang satu ini.


"Ohhh... Baiklah, akan aku jelaskan. Duke Curt ini adalah orang yang mempelajari sihir kegelapan tipe Iblis. Ia menggunakannya untuk mencuci otak Kak Helios, supaya Kak Helios jatuh cinta pada Putri Duke Curt yang tidak lain adalah Nona Curt dan saking cintanya itu, Kak Helios rela melakukan apapun demi Nona Curt dan juga keluarga Curt. Dan benar saja, Kak Helios sudah berada di bawah kendalinya selama beberapa tahun yang lalu dan Duke Curt berencana untuk membunuh Kak Castor supaya Kak Helios yang akan menjadi Putra Mahkota dan menjadi Kaisar yang berada di bawah kendalinya" Jelas Blaze.


Semua orang di sana tampak begitu shock ketika mendengar penjelasan Blaze itu. Pasalnya, mereka benar-benar tidak percaya kalau Duke Curt akan berbuat sekeji ini dengan memanfaatkan Pangeran Helios dan mengendalikannya dengan sihir kegelapan.


"Tidak di sangka... Duke Curt sejahat itu ...."


"Ia benar-benar berniat untuk menghancurkan keluarga Kekaisaran demi ambisinya"


"Benar-benar biadab..."


"Kita benar-benar tertipu dengan penampilannya selama ini..."


Permaisuri Ivona pun merasa sangat terkejut seperti orang-orang lain yang berada di dalam ruangan Rapat Kekaisaran yang kini sudah tampak begitu berantakan dan banyak benda hancur di mana-mana.


Permaisuri memang tahu kalau Duke Curt adalah seorang pria yang sangat licik dan manipulatif, ia menggunakan segala cara untuk mencapai ambisi nya yang begitu gila itu. Namun Permaisuri merasa tidak percaya kalau Duke Curt sampai menggunakan sihir kegelapan untuk mengontrol Putra Keduanya yaitu Pangeran Helios untuk merencanakan pembunuhan kepada Kakaknya sendiri.


Permaisuri mengepalkan kedua tangannya erat-erat sambil menatap Duke Curt yang kini terbaring di lantai dan tidak sadarkan diri itu. Ia merasa begitu marah kepada Duke Curt sekarang.


"Penjelasan mengenaiku yang merupakan orang yang telah di berkahi oleh Dewa Matahari bisa kita tunda dulu karena kita memang membutuhkan para pendeta kuil istana dan juga para penyihir istana untuk itu. Dan saat ini, kita harus menghukum Duke Curt kejahatan yang berlapis, bukankah begitu, Ayah?" Ucap Blaze sambil tersenyum lebar ke arah Kaisar.


Kaisar sedikit mengeram, Blaze dan juga Castor benar-benar sudah menghancurkan reputasi Duke Curt yang merupakan orang yang banyak mengetahui tentang rahasia-rahasia gelap miliknya, namun di sisi lain dia juga mengutuk Duke Curt dan tidak mempercayai kalau dia berniat ingin membunuh Castor dengan cara menggunakan Helios dan mengendalikan sihir kegelapan. Kaisar pun menghela nafasnya.


"Baiklah, aku perintahkan kepadamu Duke Allison dan pasukan elit Kekaisaran, segera tangkap semua anggota keluarga Duke Curt dan jebloskan mereka semua ke dalam penjara bawah tanah!" Perintah Kaisar.


Duke Allison pun langsung mengangguk dan memberi hormat ksatria, "Baik, Yang--"


Sebelum Duke Allison menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Blaze kembali menyela.


"Ada apa lagi, Blaze?" Tanya Kaisar sambil memicingkan matanya ke arah Blaze.


"Tolong urusan Nona Bella Aelesha Curt serahkan kepada saya, ada yang harus saya pastikan terlebih dahulu tentangnya. Yah... Anggap saja sebagai hadiah saya yang sudah membantu mengungkapkan kebenaran ini pada kalian semua" Kata Blaze.


Duke Erickson menatapnya dengan bingung, "Apa yang anda inginkan dari Nona Curt, Pangeran Blaze?"


Blaze menyeringai tipis, "Aku harus memastikan sesuatu yang selama ini kurasakan pada Nona Curt, aku selalu melihat asap hitam pekat yang mengelilingi hampir di seluruh tubuhnya, bahkan lebih pekat di bandingkan dengan milik Duke Curt. Jadi aku harus memastikan semuanya sendiri, karena aku memang merupakan musuh alami kekuatan sihir kegelapan mereka"


Hening sesaat hingga Kaisar pun akhirnya menyetujui permintaan Blaze itu.


"Baiklah, untuk urusan Nona Bella Aelesha Curt akan ku serahkan padamu, Blaze. Sekarang Duke Allison dan pasukannya segera tangkap semua anggota keluarga Duke Curt lalu serahkan kepada Bella Aelesha Curt pada Blaze, sementara yang lain bisa bubar dan kembali lagi saat kalian menerima perintah untuk ke istana di persidangan Duke Curt nanti!" Perintah Kaisar pada akhirnya.


"""BAIK YANG MULIA KAISAR!!!"""


Semua orang pun bubar, beberapa pelayan pun segera membantu untuk membawa Helios ke kamar di istananya dan mendapatkan perawatan lebih lanjut lagi di ikuti oleh Permaisuri Ivona yang merasa khawatir pada Helios, sedangkan para prajurit pun membawa Duke Curt yang tidak sadarkan diri itu ke penjara bawah tanah.


Sekarang tinggal Blaze, Arthur, Castor dan juga Dereck yang tersisa di dalam ruangan itu.


"Sejak kapan kau menyadarinya, Blaze?" Tanya Castor tiba-tiba.


Blaze hanya diam, mata putih keemasan dengan lambang matahari di tengahnya itu hanya menatap ke bawah.


"Entahlah... Tapi yang pasti cukup lama, Kak" Jawab Blaze dengan senyuman lemah.


Castor sungguh merasa tidak menyangka kalau adiknya ini adalah orang yang di berkahi oleh Sang Dewa Matahari. Pertama Vivi yang harus menjadi tumbal untuk Dewa Matahari, dan kini Blaze yang merupakan orang yang di berkahi oleh Dewa Matahari.


Seakan kutukan dan juga berkah yang di berikan oleh Dewa Matahari ke dalam kehidupan Castor ini.


"Kak.... Ini semua aku lakukan juga demi Vivi, Ibu... Kakak dan juga Kak Helios. Untuk Ayah, aku sudah tidak memperdulikannya lagi karena dia sudah mengkhianati Ibu... Mengkhianati kita semua.... Aku akan melakukan hal yang terbaik mulai sekarang untuk kalian. Jadi.... Tenang saja ya Kak! Karena aku yakin, semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang!" Ucap Blaze dengan senyuman lebar di wajahnya.


Castor tertegun melihatnya sementara Arthur hanya tersenyum tipis.


'Yah.... Itu benar, semuanya akan baik-baik saja sekarang....' pikir Arthur dengan senyuman tipis di wajahnya itu.


"Ah! Aku lupa! Hari ini kan Vivi ada pesta teh bersama Nona Erikson bukan?! Ayo Arthur! Kita menemui Vivi dan ikut pesta teh mereka!!" Seru Blaze dengan penuh semangat.


"Mau ikut pesta teh? Kayak perempuan dong?" Kata Arthur dengan tatapan datarnya.


"Ahh!! Pesta teh itu bukan untuk perempuan saja! Hayo ngaku! Kau juga suka makan manis bukan?!" Seru Blaze sambil menuding ke arah Arthur.


Arthur masih menatapnya dengan datar, "Karena makanan manis itu enak"


"Ya itu kau tahu, ayo kita segera pergi!!!"


Setelah itu, Blaze pun meraih tangan Arthur dan menyeretnya lalu berlari dengan kencang meninggalkan Castor dan Dereck yang masih di ruangan itu.


"Ahh... Syukurlah Pangeran Blaze kembali ke dirinya yang bisanya...." Kata Dereck.


Castor mengangguk pelan lalu tersenyum lemah.


'Blaze... Sebenarnya apa yang kau maksud dengan kata-katamu tadi? Dan... Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik senyumanmu itu?' pikir Castor dengan tatapan menerawang ke arah pintu di mana Blaze dan Arthur pergi tadi.