THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON

THE DESTINY OF THE SUN AND THE MOON
BAB 54-BISAKAH AKU BERHARAP?



Pagi harinya, aku berlatih berpedang Pangeran Blaze dan Arthur. Seperti biasa, aku sendiri melakukan pemanasan dan berlari sebanyak tiga puluh putaran sementara Pangeran Blaze dan Arthur sudah berlatih tanding satu sama lain.


Selesai berlari, aku memperhatikan mereka berdua dengan cermat. Ini juga merupakan latihan untuk mengingat setiap gerakan yang di lakukan oleh mereka berdua.


"Jadi, bagaimana menurut anda latih tanding di antara mereka berdua?" Tanya Duke Allison tiba-tiba.


"Mereka berdua sama hebatnya" Jawabku lalu mulai menerangkan analisisku, "Namun kali ini Arthur yang lebih unggul di bandingkan dengan Kak Blaze. Gerakannya lebih lincah dan juga ia terlihat lebih fokus jika di bandingkan dengan Kak Blaze"


Duke Allison mengangguk, "Benda. Kali ini sepertinya ada yang menggangu di dalam pikiran Pangeran Blaze sehingga ia tidak fokus seperti biasanya"


Duke Allison lalu menghampiri Pangeran Blaze dan juga Arthur lalu menyuruh mereka berdua berhenti latihan.


"Pangeran Blaze, sekarang anda akan melawan saya" Kata Duke Allison yang sangat tiba-tiba itu sampai-sampai membuat Pangeran Blaze terkejut begitu terkejut.


"Hah?! Tapi--"


"Tidak ada tapi-tapian! Anda berapa kali kehilangan konsentrasi sejak tadi padahal ada beberapa kesempatan bagus untuk lebih unggul dari Arthur, namun anda menyia-nyiakan semua itu" Ucap Duke Allison yang langsung memotong ucapan Pangeran Blaze.


Sebelum Pangeran Blaze protes, dengan cepat Duke Allison memegang kerah kemeja yang di kenakan oleh Pangeran Blaze dan langsung menyeretnya pergi ke sudut seberang tempat latihan berpedang ini.


"Tu--- Duke!!! VIVI!!!! KAKAKMU DI CULIK!!!!" Teriak Pangeran Blaze yang langsung merengek-rengek karena tidak mau berlatih tanding langsung dengan Duke Allison.


Yah.... Aku mengerti betapa kejamnya Duke Allison ketika berlatih bertanding dengannya. Waktu itu saja aku hampir pingsan saking lelahnya.


Aku pun tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Pangeran Blaze. Maaf, aku tidak bisa membantumu jika berkaitan dengan Duke Allison.


Arthur lalu berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.


Hening....


Ugh.... Ini terasa sangat canggung.... Baik aku maupun Arthur sama-sama diam saja meski kami duduk bersebelahan, terdapat jarak sekitar tiga puluh cm di antara kami.


"Umm... Anda hebat sekali hari ini, Arthur...." Ucapku untuk menghilangkan rasa canggung di antara kami ini.


"Ah, iya.... Terimakasih" Balas Arthur.


Hening lag....


Ugh.... Ini sungguh terasa sangat canggung ya....


"Maaf jika saya lancang, tapi apakah anda jelaskan memang sedang banget pikiran seperti yang di alami oleh Blaze?" Tanya Arthur tiba-tiba dan membuatku sedikit terperanjat kaget.


Aku... Banyak pikiran ya.... Mungkin iya, aku masih kepikiran tentang Ibu dan juga 'rencanaku' itu.


"Umm... Sedikit mungkin..." Jawabku dengan nada yang ragu.


Arthur lalu menatap ke arahku dengan lurus dan membuatku terkesiap kaget. Mata hitam legam miliknya menatapku dengan lurus namun pada akhirnya ia tersenyum tipis.


DEG!


Jantungku mulai berdegup kencang, apa ini? Kenapa ketika melihat senyuman Arthur itu langsung membuat jantungku berdegup dengan kencang ya....


Tunggu--- tenanglah Vivi! Jangan pikirkan hal yang lain yang tidak terlalu penting tentang perasaanmu sendiri karena.... Aku memiliki orang yang harus ku lindungi sampai akhir yaitu Ibu dan juga Diana.


"Tidak apa-apa kok, Arthur... Bukan hal yang tidak penting kok" Elakku.


Arthur lalu menghela nafas, "Kalau boleh jujur.... Anda terlalu banyak menyimpan sesuatu di hati anda dan tidak bisa menyampaikannya dengan baik ya...."


Aku menoleh dengan kaget kepada Arthur. Tunggu-- sejak kapan ia memperhatikanku? Selama ini yang ku tahu ia selalu bersama dengan Pangeran Blaze saja dan cenderung terlihat begitu cuek dengan keadaan sekitar. Aku tahu dia adalah orang yang baik, namun aku tidak menyangka jika ia juga memperhatikanku seperti ini.


"Aku..."


"Anda mirip dengan Blaze, namun juga sangat berbeda. Blaze yang sangat ceplas-ceplos mengungkapkan isi hatinya namun jika memang itu adalah hal yang menyangkut tentang keluarganya, ia selalu menyembunyikannya dengan rapat. Sementara anda, terlalu banyak menyimpan semua yang anda rasakan di dalam hati anda namun tidak melakukan apa-apa untuk menghilangkan semua itu dan terus menyimpangnya di dalam hati" Lanjut Arthur lagi dan membuatku terdiam.


Harusnya aku merasa tersinggung dengan ucapan Arthur yang jelas melanggar privasiku, namun aku juga tidak bisa menyangkal semua ucapannya karena itu memang benar. Itu karena aku memang tidak memiliki seseorang untuk menceritakan kelu kesahku ini pada siapapun tentang kenyataan dimana aku yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan nantinya.


"Semua orang memiliki rahasia bukan?" Tanyaku dengan tatapan serius menuju ke arahnya.


Arthur mengangguk, "Benar. Namun untuk kasus anda sepertinya anda malah terbebani dengan rahasia anda ini"


Aku terdiam selama beberapa lama.


"Apa.... Menurutmu apa akan bagus membalas seseorang yang pernah menyakiti kita?" Tanyaku dengan pelan pada akhirnya.


Percuma saja menutupi sesuatu dari Arthur. Dia sepertinya seseorang yang memiliki kemampuan Observasi yang sangat hebat. Pantas saja di masa depan dia juga akan menjadi salah satu ksatria terbaik yang pernah di miliki oleh Kekaisaran.


"Ya... Menurutku kau harus membalas mereka. Namun jangan melakukan hal yang sama dengan cara mereka menyakiti kita" Jawab Arthur.


Aku terdiam. Aku memang tidak berniat membalas dendam pada Emira seperti apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Aku hanya ingin hidup bebas dari istana ini dan juga bisa menyelamatkan Ibu dan juga Diana dari kejadian tragis yang akan menimpa mereka di masa depan. Aku tidak peduli dengan Kaisar maupun ketiga Kakakku yang.... Nanti....


Seketika kenangan-kenangan penuh manis dari ketiga Kakakku itu muncul di benakku. Mereka... Apa aku benar-benar tidak memperdulikan mereka?


Tunggu-- Bella menggunakan sihir kegelapan pada Pangeran Helios dan membuat Pangeran Helios yang terpengaruh oleh sihir kegelapan itu seakan-akan menuruti perintah Bella dan Duke Cut. Bahkan Pangeran Helios sampai berniat untuk melakukan pengkhianatan dan juga akan membunuh Putra Mahkota Castor yang merupakan Kakaknya?


Apa Emira benar-benar menggunakan sihir hitam pada Kaisar dan ketiga Kakakku itu? Kalau di pikir-pikir memang cukup aneh karena perubahan mereka sangatlah mendadak dan juga tidak wajar.


Astaga.... Kenapa aku tidak memikirkan hal semacam itu sedari awal. Bisa jadi mereka memang harus kulindungi juga pada sihir-sihir kegelapan juga kan? Meski memang Pangeran Blaze adalah orang yang di berkahi oleh Dewa Matahari, tetap saja masih ada kemungkinan bisa terpengaruh sihir gelap juga apalagi di kehidupan sebelumnya Pangeran Blaze bukanlah orang yang di berkahi oleh Dewa Matahari seperti sekarang....


Dan si sini ada Arthur, dia juga pernah menetralkan sihir kegelapan. Mungkin aku bisa meminta bantuannya.


"Arthur... Apa kamu bilang mengajariku sihir cahaya yang lebih kuat lagi supaya bisa menetralkan sihir kegelapan. Dan juga, kamu bisa jelaskan padaku dengan detail tentang sihir kegelapan? Pintaku pada Arthur pada akhirnya sambil menatapnya dengan tatapan yang serius.


Bisakah aku berharap Kaisar dan ketiga Kakakku itu memang terpengaruh sihir kegelapan saat itu dan mereka yang sebenarnya menyayangiku dari lubuk hati mereka yang terdalam padaku?