
Semua orang di dalam ruang Rapat Kekaisaran terlihat begitu shock saat melihat Blaze yang memukul Helios dengan keras sampai-sampai membuat Helios terpental.
Permaisuri Ivona merasa sangat shock melihat Putra Ketiganya itu yang telah memukul Kakaknya sendiri.
"APA YANG BARUSAN KAU LAKUKAN, PANGERAN BLAZE?!" Seru Kaisar dengan suara yang menggelegar saking kerasnya.
Para bangsawan langsung menundukkan kepalanya dengan rasa takut yang menyelimuti mereka karena Kaisar Horus sudah benar-benar marah sekarang. Belum lagi, aura kekuatan sihir miliknya yang semakin kuat terasa di ruangan itu pun serasa ingin mencekik mereka.
Namun Blaze hanya menatap Kaisar tanpa rasa takut, "Maaf saja Yang Mulia. Saya memukul kepala Kak Helios agar kepalanya yang sedikit macet itu kembali bergerak dan berpikir kembali dengan baik. Karena saat, dia benar-benar di butakan cinta dan juga dia sendiri termakan dalam bujukan Duke Curt untuk terlihat dalam pengkhianatan ini"
"Apa maksudmu Pangeran Blaze? Pangeran Helios tidak mungkin merencanakan hal itu pada Kakaknya sendiri!" Seru Permaisuri Ivona yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Blaze katakan.
Blaze tersenyum pahit ke arah Ibunya, "Saya juga menginginkan semua ini bohong Ibu... Tapi.... Ini adalah kenyataan bagi keluarga kita ini....."
Castor dengan berat hati memberikan kode pada Dereck untuk membagikan kertas yang terakhir kepada para bangsawan dan Dereck pun membagikan kertas-kertas itu kepada pelayan yang langsung sigap membagikan kertas-kertas itu kepada semua orang yang ada di ruang Rapat itu.
Permaisuri Ivona langsung membaca kertas itu dengan seksama. Tidak lama, kakinya terasa begitu lemas dan sampai ia terjatuh karena kakinya itu seakan-akan tidak bisa menopang berat tubuhnya.
Air mata mulai keluar dari mata biru bak lautan yang luas itu dan mengalir ke pipi putih milik Ivona.
"Kenapa.... Kenapa kamu tega.... Helios...." Lirih Permaisuri Ivona yang menatap Pangeran Helios yang masih terduduk di lantai itu. Rasa tidak percaya, kesedihan yang begitu mendalami, terluka, rasa kecewa.... Semua itu tercampur aduk di benak Permaisuri Ivona saat ini.
Pangeran Helios menundukkan kepalanya, entah kenapa melihat Ibunya yang menangis seperti itu membuat hati kecilku itu menjerit namun.... Hal itu tertutupi oleh nama Bella yang selalu ada pikirannya saat ini.
Ya.... Hanya ada Bella... Semua yang ia lakukan hanya untuk Bella.... Agar Bella bahagia.... Bella... Bella.... Bella.... BElla.... BeLla.... BELLA! BELLA! BELLA! BELLA!!! BELLA!!! BELLA!!!!!!
"Saya tidak melakukan kesalahan, Yang Mulia Permaisuri, begitu pula dengan Duke Curt dan keluarganya... Semua tuduhan Putra Mahkota dan Blaze hanyalah fitnah belaka yang ingin menghancurkanku dan Duke Curt. Semua ini tipu daya mereka, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri" Kata Helios dengan nada yang dingin nan menusuk dengan kepala yang masih menunduk.
Saat ia mengangkat kepalanya, terlihat mata kuning keemasan miliknya yang tampak begitu kosong dan hampa. Wajahnya pun tidak menampakkan emosi sama sekali.
Blaze melihatnya sekarang, asap hitam pekat yang mengelilingi Helios kini bertambah pekat dan banyak bahkan hampir menutupi seluruh tubuh Helios. Perlahan asap itu membentuk sebuah wujud, wujud monster yang begitu besar dan sangat mengerikan. Namun di sana, hanya Blaze yang bisa melihatnya.
Blaze sedikit melirik ke arah Duke Curt yang menyeringai diam-diam dan membuat Blaze mendecih pelan.
'Jadi.... Ini saatnya aku untuk membongkar rahasiaku ya.... Rahasia yang tidak ingin ku buka saat di kehidupan sebelumnya. Tapi, ini mungkin memang terbaik. Dulu aku gagal menyelamatkan Kak Castor dan Kak Helios dalam pengaruh sihir kegelapan mereka karena karena jiwa mereka sudah berhasil di kuasai oleh Dewa Kehancuran. Tapi kini... Masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Kak Helios, karena Kak Helios saat ini hanya terpengaruh dalam sihir kegelapan iblis yang di miliki oleh Duke Curt dan keluarganya, bukan sihir kegelapan yang di miliki dari dua wanita sialan itu yang menggunakan sihir kegelapannya dari Dewa Kehancuran. Dan.... Ini juga untuk adikku satu-satunya, Vivi... Mungkin dengan ini aku bisa lebih menjagamu lagi...' pikir Blaze.
Blaze pun tersenyum tipis, ia lalu menggambar sebuah lingkaran sihir di tangannya dan muncullah lingkaran sihir berwarna putih dengan corak emas yang sangat terang.
Semua orang bahkan termasuk Castor dan Dereck pun merasa terkejut dengan Blaze yang tiba-tiba mengeluarkan lingkaran sihir sementara itu Arthur diam-diam tersenyum tipis melihat yang akan di lakukan oleh Blaze.
Perlahan lingkaran sihir itu berubah dan membentuk gambar matahari yang berada di tengah lingkaran sihir berwarna putih dan corak emas itu. Tidak lama kemudian, sebuah pedang cahaya muncul dari sana dan langsung di pegang oleh Blaze.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Blaze bergerak ke arah Helios, namun seketika asap hitam pekat itu menyerangnya dengan brutal.
Semua orang kini bisa melihat asap hitam pekat itu berkat cahaya dari lingkaran sihir milik Blaze yang tadi membuka mata mereka untuk melihat asap hitam yang mengelilingi tubuh Helios yang membentuk sebuah sosok makhluk yang begitu mengerti.
Semua orang tampak begitu shock namun dengan sigap Castor langsung membuat sihir penghalang untuk melindungi semua orang yang ada di ruang Rapat Kekaisaran ini.
Kaisar sendiri terlihat sangat terkejut dengan pedang yang di bawa oleh Blaze itu. Namun ia pun mendecakkan lidahnya lalu membuat sihir penghalang yang sangat kuat untuk melapisi penghalang yang di buat oleh Castor.
Sementara itu Blaze tampak masih bertarung dengan asap hitam yang kini mulai merusak apapun yang ada di ruang Rapat Kekaisaran seperti kursi, meja dan benda-benda lain yang kini telah hancur akibat serangan yang sangat cepat asap hitam itu.
Melihatnya kekacauan itu, Duke Curt yang berniat mengambil kesempatan untuk kabur dari sana, namun saat ia baru saja hendak pergi, tiba-tiba saja sebuah rantai berwarna putih dengan corak emas muncul dan melilit tubuh Duke Curt dengan kencang.
"Mau kemana kau?" Tanya Arthur dengan nada yang begitu dingin dan menusuk.
Entah kenapa Duke Curt kini mereka begitu terintimidasi oleh Arthur sekarang. Bahkan saking terintimidasinya, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, tubuhnya seakan membeku dan hanya bisa bergemetar saja.
Kembali ke Blaze yang kini semakin dekat dengan Helios, Dengan cepat Blaze Lang melompat dan langsung menebas sosok asap hitam yang membentuk sosok makhluk yang mengerikan itu.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA----------!!!!!!!!!!"
Sebuah teriakan yang menggema di seluruh ruangan itu terdengar dari sosok yang berhasil di tebas oleh Blaze, dan sosok itu pun menghilang di telan cahaya terang dari pedang cahaya milik Blaze.
Tubuh Pangeran Helios kini sudah bersih dari asap hitam pekat itu lalu ia pun langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"KAKAK!!!" Teriak Blaze yang langsung menghampiri Helios.
Blaze pun membuat lingkaran sihir putih keemasan dengan corak matahari di tengahnya lalu di arahkannya ke dada Helios, di periksanya tubuh Helios dengan seksama dan ia pun langsung tersenyum dengan sangat lega karena sekarang tubuh Helios sudah benar-benar bersih.
"Apa.... Maksudnya ini.... Pangeran Blaze ...?" Tanya Duke Erickson yang langsung menghampiri Blaze dengan pelan.
Blaze hanya tersenyum lalu menatap ke arah semua orang.
Semua orang yang ada di ruangan itu tampak begitu tertegun 🗝️ melihat mata Pangeran Blaze dan kini memiliki corak lingkaran sihir putih keemasan dengan matahari yang berada di tengah lingkaran sihir itu.
"Aku hanya melakukan apa yang harusnya ku lakukan sedari dulu.... Aku Blaze Salvino Eilidh, Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Eilidh ini dan.... Orang yang menerima berkah dari Dewa Matahari, Dewa Sonne. Hehe, maaf sudah merahasiakannya selama ini" Kata Blaze dengan senyuman lebar khas nya itu.