The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Kekhawatiran Keluarga



“Terlalu banyak dari kita yang tidak mewujudkan impian kita karena kita menjalani ketakutan kita.” – Les Brown


"TIDAK"


Evelin bangkit di ikuti teriakan keras, dia terengah-engah, tubuhnya di penuhi keringat dingin, tangannya mengepal dengan erat.


Dia menyalak lampu di atas nakas dan melihat sekeliling ruangan dengan mata gelisah. Setelah mengetahui di mana dia berada, tubuhnya perlahan rileks.


Setelah beberapa menit, pikirannya kembali jernih dan dia bernafas dengan normal. Dia melihat ke arah nakas yang memperlihatkan jam 04.52.


Evelin menyingkap selimut dan turun dari kasur. Melangkah ke pintu, membuka pintu dan berjalan perlahan menuruni tangga untuk ke bawah.


Dia berjalan ke arah dapur, menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.


'Ah.. ini sangat menjengkelkan.'


Tangan kanannya meremas gelas dengan kuat, sebuah retakan muncul di gelas tersebut dan saat berikutnya gelas itu pecah dengan bunyi 'craang'.


Ada pecahan yang jatuh dan yang lain tertinggal di tangan Evelin. Darah perlahan mengalir dari tangannya.


Namun, Evelin hanya melihat lalu mengabaikannya. Tidak ada suara ringisan atau ekspresi kesakitan.


"Astaga.. Evelin! tangan kamu kenapa berdarah gitu?" Suara kaget Selia seketika membuat Evelin menoleh.


Selia memang biasa bangun pagi sekali.


"Ini tadi gelasnya jatuh terus pecah, pas Evelin mau ngambil nggak sengaja ke tusuk deh. Hehe.." Bagi Evelin membuat alasan adalah hal yang mudah.


"Ini darahnya banyak banget, harus cepat di obatin sebelum infeksi." Selia bergerak dengan gelisah, matanya terlihat sangat khawatir.


"Aku nggak papa kok Mom." Evelin berusaha bicara selembut mungkin untuk menenangkan Selia.


"Gimana bisa nggak papa. Darahnya aja udah banyak gitu."


"Pelayan! pelayan..!" Selia berteriak dengan keras hingga bisa terdengar ke seluruh rumah.


"Iya.. nyonya." Selang beberapa menit Seorang wanita paruh baya datang. Dia adalah kepala pelayan di rumah Nelson.


"Cepat panggilkan dokter!"


"Baik nyonya." Kepala pelayan tidak bertanya kenapa, dia melihat pecahan kaca di lantai dan tangan Evelin yang berdarah.


Jadi, dia sudah bisa menebak secara kasar tentang apa yang terjadi.


Kepala pelayan segera memanggil dokter.


Setelah beberapa menit dokter datang dengan peralatannya. Dia bahkan masih mengenakan baju tidur.


Karena rumah dokter tidak jauh dari mansion. Dia bisa sampai dengan cepat.


"Saya sudah mengobatinya.. Beberapa hari lagi pasti akan sembuh dan coba hindari untuk menggunakan tangan yang terluka." Dokter paruh baya tersebut menjelaskan dengan senyum ramah.


"Itu beneran nggak papa kan dok?"


"Tidak apa-apa, nyonya."


Selia bernafas lega begitu pun dengan James dan Reyhan.


Mereka terbangun tadi karena mendengar suara keributan dari bawah, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat darah di tanah Evelin.


"Terima kasih banyak dok."


"Iya.. Kalau begitu saya permisi." Merasa kalau tugasnya sudah selesai, dia menunduk dengan sopan sebelum melangkah pergi.


"Kamu nggak papa dek? sakit nggak?" Reyhan menghampiri adiknya dengan khawatir.


"Nggak papa.. kan dokter tadi juga udah bilang." Nadanya lembut dan tenang, tak ada jejak kesakitan sama sekali di wajahnya.


"Tangan kamu kenapa bisa luka gitu sih?" James bertanya kepada anaknya dengan nada khawatir.


"Evelin haus pas bangun tadi, tapi air di kamar Evelin udah habis pas Evelin mau minum." Dia menunjuk ke gelas yang kosong di atas nakas.


"Jadi, Evelin turun buat ngambil air, terus gelasnya pecah habis itu tangan Evelin kayak gini deh." Evelin memperlihatkan tangannya yang di perban.


"Lain kali kamu hati-hati yah!?" Nadanya lembut dan hangat saat dia berbicara. Reyhan juga mengelus kepala adiknya.


"Okay Mom." Evelin tersenyum cerah saat dia berbicara.


Hari ini, dia harus pergi ke suatu tempat. Jadi, sepertinya dia bisa pergi lebih awal sekarang.


***


Evelin menurunkan tangga dengan santai, suara siulan terdengar dari bibir merah mudanya.


"Kamu mau ke mana?" Selia yang mendengar suara siulan melihat ke arah di mana Evelin berada.


Dia saat inis dengan duduk di sofa, membaca majalah.


"Mau Jalan-jalan keluar Mom, Cari udara segar. Bosan di rumah terus." Dia sedikit mempercepat langkahnya untuk turun.


"Mama panggilin sopir ya!?" Selia hendak memanggil sopir sebelum di tahan oleh Evelin.


"Nggak usah Ma.. Evelin bisa sendiri kok."


"Tapi, tangan kamu itu lagi luka. Gimana kamu mau bawa mobil? Mending suruh sopir aja ya?" Selia melihat ke arah tangan kanan Evelin yang masih di perban.


"Nggak papa kok.. nanti Evelin suruh teman Evelin buat nyetir." Dia membuat alasan agar Selia tidak khawatir apalagi sampai menyuruh sopir.


Dia tidak ingin siapa pun tahu tempat yang akan dia tuju.


"Kamu keluar sama teman kamu?" Dia bertanya karena Evelin tidak mengatakannya sebelumnya.


"Iya.. jadi nggak usah khawatir ya!" Evelin menggenggam tangan Selia dengan tangan kirinya.


"Kalau gitu, Evelin berangkat dulu ya." Dia mencium pipi Selia sebelum pergi dengan cepat.


"Hati-hati.." Selia berteriak sebelum Evelin menghilang dari pandangannya.


Tangannya tanpa sadar menyentuh pipi yang tadi di cium Evelin. Dia senang anak perempuannya sudah menerimanya sebagai ibunya.


Dia pikir, Evelin tidak akan pernah mau mengakuinya. Namun, Sekarang hubungan mereka semakin membaik dan terasa seperti ibu dan anak.


"Semoga semuanya terus seperti ini."


***


Evelin berjalan menyusuri garasi, ada banyak mobil dengan berbagai merek dan warna yang berbeda.


Sekarang dia tahu, betapa kaya keluarga Nelson. Di dunianya dulu, semuanya di persiapkan oleh organisasi.


Dari rumah, kendaraan, makanan, senjata, pakaian, dan hal lain yang dia butuh kan. Selama dia melakukan pekerjaan dengan baik, Organisasi juga akan memperlakukannya dengan baik.


Jika, kau sudah tidak berguna bagi organisasi atau 'mengancam' bagi organisasi, kau akan di hilangkan dari peredaran.


Kening Evelin berkerut, bibirnya sedikit cemberut. Mengingat hal itu, membuat suasana hatinya memburuk.


Dia memasuki salah satu mobil yang terlihat tidak terlalu mencolok dan melajukannya keluar dari garasi.


Tangannya tidak parah sampai dia tidak bisa menyetir mobil. kakinya menginjak pedal gas, mobil melaju semakin cepat seiring waktu.


Sekitar satu jam Evelin menyetir mobil, sebuah bangunan yang menjadi tujuannya, terlihat dalam pandangannya.


Dia memarkirkan mobil dan mematikan mesin mobilnya. Membuka pintu, dan keluar dari mobil.


Dia melihat Bangunan di depannya yang merupakan sebuah Cafe.


Berjalan dengan santai menuju Cafe, tangannya mendorong pintu Cafe yang di ikuti suara bel.


Melihat sekeliling, hanya ada beberapa pelanggan di sana. Beberapa karyawan yang melayani pelanggan dan melakukan pekerjaan mereka.


Benar-benar terlihat seperti Cafe 'normal'.


Evelin berjalan dengan santai memasuki Cafe. Duduk di salah satu meja di sana.


Seorang pelayan mendekatinya.


"Ada yang bisa saya bantu mbak." Nadanya sopan dan dia tersenyum ramah.