
"Kamu jatuh cinta dengan badai. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa kamu akan selamat tanpa cedera?" -Nikita Gill
Evelin membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar. Punggungnya perlahan menyusut sambil bersandar di pintu.
Dia menekuk kakinya dan memeluk lututnya. Tangannya meraih kalung perak halus di lehernya, liontin itu berdesain sederhana, hanya benda ini yang ikut dengannya ke dunia baru ini.
Bagaimana liontin itu bisa mengikutinya? Evelin juga tidak tahu.
Dia membuka buah kalung yang berbetuk love, segera sebuah foto terlihat. Ada seorang laki-laki dan gadis di dalam foto tersebut, terlihat saling tersenyum.
Gadis yang tersenyum dengan senang adalah dirinya, dan di sebelahnya adalah seorang pria tampan berambut hitam dengan mata biru.
Laki-laki di foto tersebut sangat mirip dengan laki-laki yang tadi dia temui. Perbedaanya hanya pada warna rambutnya saja, selain itu semuanya terlihat persis sama.
Evelin melihat foto tersebut dengan tatapan rumit. Sedih, gelisah, gembira, semua perasaanya sekarang terasa campur aduk.
Setelah cukup lama memandang foto tersebut, Evelin membuka mulutnya dengan suara pelan.
"Kau tahu.. Tadi aku bertemu seseorang yang sangat mirip denganmu."
Pandangannya perlahan menjadi kabur karena genangan air di matanya, dia tidak bisa melihat foto tersebut dengan jelas lagi.
Hidungnya perlahan memerah, dia menggigit bibirnya untuk menahan suaranya.
"Hiks.."
Perlahan sebuah suara isak tangis keluar dari bibir yang kini berdarah karena di gigit terlalu keras.
Air matanya mengalir tanpa henti, dia berkata dengan suara serak,
"Kenapa kalian sangat mirip?"
Dia menundukkan kepalanya dan suara tangisnya semakin jelas seiring waktu.
"A-Apa dia adalah kamu? hiks.. kalau kau adalah dia, kenapa.. kenapa kau tak mengenaliku? hiks.."
Walau dia berpindah tubuh tapi penampilannya masih sama, jadi dia tidak bisa tidak bertanya tanya.
"Kau sudah meninggalkan ku.. mengingkari janjimu... hiks... se-sekarang aku melihat orang yang sangat mirip denganmu.." Suaranya semakin parau saat dia berbicara.
"A-Apa yang harus.. hiks.. kulakukan sekarang? katakan padaku.. hiks.. kumohon.." Evelin melihat pria yang ada di foto tersebut saat suaranya semakin parau." Suaranya semakin parau dan mengandung keputusasaan.
Selama beberapa menit dia menangis, perlahan suara isak tangis semakin hilang di udara.
Dia berdiri dengan linglung, berusaha dengan susah payah menyeret kakinya ke arah nakas di sebelah tempat tidur.
Tangannya meraih pisau di atas nakas, lalu menggenggam pisau hingga tangan yang sudah di perban kini perlahan mengeluarkan darah.
Perlahan dia merosot jatuh, duduk bersandar di tepi kasur. Dia tidak menghiraukan tangannya yang kini masih mengeluarkan darah.
"Dia mirip denganmu tapi dia bukan kamu."
Air matanya masih mengalir tapi tak ada suara isak tangis lagi. Dia memandang kosong ke arah tangannya yang berdarah.
Tak ada binar di mata hitamnya, sinar di matanya hilang meninggalkan kekosongan sepeti jurang kegelapan yang dalam.
'Dia bukan kamu.. Kamu sudah pergi.."
Sepeti kaset rusak dia terus mengulang kalimat tersebut di kepalanya.
Penampilannya sekarang tampak sangat menyedihkan.
Tangannya tergelatak di lantai, tetap teguh menggenggam pisau dengan erat hingga darah tak berhenti menetes.
Wajahnya kacau meniggalkan bekas air mata yang kini sudah kering, rambut indahnya kusut.
Keluarganya khawatir tapi mereka tidak ingin menganggu Evelin, mungkin saja Evelin sudah tidur. Dengan pemikiran sepeti itu tak ada yang mengganggu Evelin lagi.
Begitulah malam terlewati dengan tenang, Sebelum tengah malam Evelin menutup matanya namun tangannya tetap setia menggenggam pisau.
Hingga sekitar jam lima pagi, Evelin bangun dalam keadaan linglung. Dia melepaskan pisau dan bangun untuk membersihkan dirinya, lalu mengobati lukanya sendiri dan berangkat ke sekolah sekitar jam setengah tujuh.
***
"Panggil Evelin turun." Selia menyuruh pelayan di dekatnya.
Sarapan sudah siap dan semua orang sudah ada di meja makan selain Evelin. Tak ada yang makan karena menuggu Evelin.
Tak lama setelahnya, pelayan turun memberitahu kalau Evelin tidak ada di dalam kamar. Pelayan tak berani masuk ke dalam kamar Evelin namun karena Evelin tak kunjung menjawab dia membuka pintu Evelin dan tak mendapati seorang pun di dalam.
"Mungkin dia sudah berangkat." James berbicara setelah pelayan mengatakan itu.
Ada beberapa yang heran karena Evelin berangkat sangat pagi, namun tak ada yang mengatakannya.
Mereka mulai makan dalam diam tanpa berbicara sedikitpun. Suasananya hening namun terasa damai.
***
Evelin kini duduk di bangku di taman belakang sekolah, karena masih pagi tak banyak murid di sekolah hingga terasa damai
Evelin berangkat pagi karena tak ingin bertemu dengan keluarganya. Suasana hatinya sekarang sedang kacau, dan mereka mungkin akan tahu kalau Evelin menangis dan melukai dirinya.
Jadi, untuk menghindari masalah dia tidak ingin bertemu mereka. Dia tidak ingin melihat mereka khawatir padanya lagi.
Baginya kekhawatiran mereka menjadi beban yang tak bisa dia tanggung. Dia bukan Evelin yang asli, dan dia tidak terbiasa dengan seseorang yang mengkhawatirkan dirinya.
Padahal dia baru masuk ke tubuh ini selama 3 hari namun sesudah banyak hal yang terjadi.
Mengingat hal yang dia lupakan kemarin, Evelin membuka ponsel dan mengetik di keyboard sebelum mengirim pesan tersebut.
'Ini pasti tidak akan lama.'
Dia mematikan ponsel dan melakukannya di sakunya.
Dia melihat bunga di depannya, terasa sangat damai.
Sebagai seorang Assassin, dia di latih agar tidak terpengaruh oleh perasaan dan berpikir berdasarkan logika.
Jika, dia bekerja dengan perasaan. Itu hanya akan menghancurkan dirinya sendiri. Sebagai seorang yang merenggut banyak nyawa, perasaan adalah hal yang tidak di perlukan.
Selama ini dia telah berhasil menyembunyikan emosinya dengan sangat baik. Namun, itu menjadi pengecualian bagi satu orang. Ada satu orang yang berhasil mengeluarkan perasaannya yang telah lama dia kubur.
Seperti air yang bocor dari wadahnya, perasaan yang telah lama di tahan mengalir keluar dengan cepat.
Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanya saat bersama 'orang itu'. Dia membuka hatinya untuk seseorang untuk pertama kalinya.
Namun, takdir selalu kejam. Di saat dia sedang bahagia, takdir membawa orang itu pergi meninggalkan dirinya sendiri.
Dia berusaha dengan susah payah untuk mengendalikan perasaanya namun air yang tumpah tidak bisa di kembalikan lagi.
Rasa sakit karena di tinggalkan membekas di hatinya. Saat dia bisa merasakan kebahagiaan, kesedihan dan keputusasaan juga mengikuti bersamanya.
Orang yang memberi tahunya rasa bahagia juga menjadi orang yang memberinya rasa sedih dan putus asa.
Rasanya seperti setelah di angkat tinggi-tinggi lalu di jatuhkan dengan tidak berperasaan.
Dia di jatuhkan dalam jurang kegelapan dan keputusasaan yang sangat dalam, hingga dia tak bisa melihat cahaya lagi.