The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Lalat Kotor



"Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu." - Benjamin Franklin


Evelin duduk di bangku sambil bersenandung riang, tangannya masih dengan setia memeluk boneka dalam dekapannya.


Dia melihat ke sekeliling pasar malam, ada banyak orang yang berlalu lalang dengan teman, pacar atau keluarga mereka.


Dia senang karena mengikuti Elliot tadi, sekarang pikirannya sudah kembali jernih dan tidak lagi kacau seperti sebelumnya.


“Hei! Lihat di sana!”


Seorang pria dengan dengan wajah rata-rata menyenggol pria di sebelahnya. Pria yang di senggol menggerutu kesal sebelum melihat ke arah yang di tunjuk.


“Wih.. cantik juga tu, lo mau ke sana?”


“Iya. Lo mau taruhan?”


“Pft.. oke. Kalo Lo berhasil minta nomornya. Gue kasih lo lima ratus ribu.”


“Beneran nih? “


“Iya kalo Lo berhasil.”


“Liat aja.”


Pria itu berjalan dengan percaya diri, tidak luput dengan senyum yang terukir di wajahnya.


“Hai cantik! Kamu lagi ngapain?”


Dia melihat wajah dari gadis di depannya yang memeluk sebuah boneka. Di lihat lagi dari dekat, dia bisa melihat betapa cantiknya gadis itu.


Evelin tersenyum alami, tidak terdapat jejak apa pun dalam ekspresinya, “Om siapa?”


“Pft..”


Pria itu bisa mendengar temannya yang tertawa, walau jaraknya tidak dekat. Tapi, dia masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Nama kakak Rendi.”


Seolah membantah perkataan Evelin sebelumnya, dia menyebut kakak dengan sedikit penekanan.


“Oh..” dia berseru dengan kosong, tampak tidak tertarik dengan pria di depannya.


Mendengar nada bosan dari gadis di depannya, dia sedikit menggertakkan giginya. Namun, dia masih berusaha mempertahankan senyumnya.


“Kamu sendirian, ya? Mau kakak temenin?”


Evelin menggeleng dengan cepat, masih dengan senyum alaminya, “Nggak usah, aku ke sini sama kakak kok.”


Kerutan mulai muncul di dahi pria itu, Suaranya semakin tidak normal, “Oh.. apa boleh kakak minta nomornya?”


Melihat senyum manis Evelin, dia berpikir bahwa gadis cantik itu akan memberikannya. Namun, perkataan Evelin selanjutnya segera menghapus senyum di wajahnya.


“Nggak! Soalnya aku nggak kebal sama om. Lagian buat apa om minta nomor aku?” Nada suaranya berikutnya perlahan menjadi dingin, “Dasar om cabul.”


Dia menunjuk Evelin, berkata dengan marah. Bahkan, wajahnya sudah memerah seperti terbakar api.


“Dasar ******, udah di baikin malah sok jual mahal. Apa Lo pikir gue mau sama gadis ****** kayak Lo ? Kalo bukan karena wajah Lo, ogah gue sama lo. Cuma minta nomor aja, nggak di kasih.”


Senyum dingin terukir di bibirnya, matanya tampak kosong saat dia berbicara dengan datar, “Jadi, apa om punya masalah sama aku? Kalo cuma mau bicara omong kosong, mending om pergi deh!”


“Dasar gadis kurang ajar.”


Dia mengangkat tangannya, mengayunkannya ke arah Evelin dengan emosi. Namun, sebelum tangannya mengenai targetnya.


Sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga dia jatuh ke belakang.


“Siapa yang berani-beraninya pukul gue? Ha! Apa Lo nggak tahu siapa gue?”


Saat dia berteriak dengan marah, dia melihat ke atas di mana pelaku yang membuat dia terjatuh berdiri di depannya.


“Emangnya kau siapa?”


Dia menendang perut pria itu hingga berguling ke belakang.


Dia di paksa mendongak saat sebuah tangan menarik rambutnya dengan kuat.


“Katakan kau siapa!”


Pukulan lain mendarat di wajahnya.


Dia merendahkan suaranya hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya, “Kenapa kau diam? Bukannya tadi kau sangat bersemangat saat memaki pacarku?”


Pria itu tidak bisa melawan, meskipun dia bodoh. Dia tahu kalau dia tidak bisa mengalahkan orang di depannya.


“Apa yang kau katakan tadi, coba ulangi lagi!”


“Maaf.. aku tidak tahu kalau dia punya pacar.” Ucapnya dengan suara gemetar.


Elliot mengencangkan cengkeraman di rambut pria di depannya hingga pria itu berteriak kesakitan.


“Bukan itu yang harusnya kau katakan, kan? Apa kau tidak mendengar perkataanku dengan jelas? Atau haruskah aku ulangi lagi? Hemm..?”


Pria itu hanya berteriak kesakitan, jika dia tahu semuanya akan menjadi seperti ini. Dia tidak akan pernah mengganggu gadis itu.


Padahal dia hanya meninggalkan Evelin sebentar. Tapi, saat dia kembali, lalat-lalat kotor ini telah berada di sekitarnya. Sebisa mungkin dia tidak ingin membuat masalah karena sedang bersama Evelin.


“Hei! Katakan!! apa kau berusaha memukulnya dengan tangan busukmu ini tadi?”


Dia mengangkat tangan yang di gunakan pria itu untuk memukul Evelin.


“Tidak.. aku tidak memukulnya!”


Dia mengeratkan pegangan di lengan pria itu, matanya dengan dingin menatap pria di depannya, seperti sedang melihat serangga kotor.


“Kau memang tidak memukulnya karena aku menghentikannya, tapi kau berusaha memukulnya, kan?”


Dia menggeleng dengan kuat, berusaha membantah perkataan Elliot. Sedangkan tangannya berusaha melepaskan tangan lain yang terasa akan patah kapan saja.


“Hei! Tidak bisakah mulut busukmu itu berbicara dengan jujur? Ah, ini sungguh menjengkelkan!”


Bisikan tajam yang tepat di telinganya membuat pria itu merinding seketika, “Bagaimana jika aku mematahkan tangan yang berusaha untuk memukul pacarku untuk meredakan amarahku. Hemm..?”


“Dasar Bajingan! Lepaskan temanku!!” Sebuah teriakan terdengar dari belakangnya.


Elliot berdiri, menahan pukulannya dengan satu tangan. Lalu melemparkan orang yang masih berada di cengkeramannya ke pria itu hingga mereka berdua jatuh.


“Jika ingin menyerang dari belakang, seharusnya kau tidak berteriak. Dasar bodoh!!”


Elliot melihat mereka berdua, orang yang di lemparnya tadi kini diam tak bergerak. Entah dia memang pingsan atau pura-pura pingsan, Elliot juga tidak tahu.


“Dasar brengsek! Apa yang kau lakukan pada temanku sampai dia pingsan bergini? Awas saja kau!!”


Elliot mengepalkan tinjunya ingin memukul pria itu. Namun, sebuah pelukan hangat dari belakangnya menghentikan dirinya.


“Udah kak! Evelin nggak papa kok. Jadi, jangan berantem lagi, ya?”


Dia menggenggam tangan yang mengelilingi dirinya lalu berbalik dan menarik gadis cantik itu ke dalam dekapannya.


“Iya. Kakak minta maaf karena udah nunjukin hal kayak gini sama kamu.”


Karena termakan api amarah, dia sampai lupa kalau Evelin masih di sini dari tadi. Sepertinya dia harus mengurus hal ini di lain waktu.


Elliot mengusap kepala Evelin sebelum menggandeng tangannya dan menariknya pergi. Tidak lupa, dia membawa boneka dan barang lainnya yang berada di bangku.


“Hei! Mau ke mana Lo dasar pengecut!! Sini lawan gue kalo Lo berani!!!”


Pria itu masih berteriak dengan keras kepada Elliot yang semakin menjauh. Bagaimana tidak, mereka kini menjadi tontonan orang banyak. Bukannya menolong, mereka malah mengeluarkan telefon mereka dan merekam mereka.


Pria itu berdiri, berniat ingin mengejar orang yang memukulnya. Namun, dia langsung di tahan oleh dua orang berbaju hitam seperti pengawal.


“Maaf tolong ikut dengan kami sebentar!”


“Apa..?! Siapa kalian? Lepaskan..!”


Salah satu pengawal memukul tengkuk pria itu hingga dia pingsan. Lalu, mereka membawa kedua pria tersebut pergi dari sana meninggalkan kerumunan orang banyak.