The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Evelin Keyrie Nelson



“Kebahagiaan dirasakan oleh orang-orang yang bisa merasa puas pada dirinya.” - Aristoteles


"Apa..?"


Tempat ini sebenarnya adalah salah satu cabang dari organisasi yang terkenal, mereka menerima permintaan apa pun dari klien. Pembunuhan, pencurian, informasi, pengawalan, dan hal lainnya baik itu legal maupun ilegal.


Deon menurunkan tangannya hingga pistol tidak lagi mengarah ke Evelin.


"Anda tahu, saya bisa berbagai hal. Membunuh, mencuri, menjadi mata-mata, menjadi pengawal." Dia menghitung jarinya saat dia mengatakan itu.


"Saya juga mahir dalam menggunakan berbagai senjata. Saya juga tahu cara membuat dan merakit senjata." Evelin sedikit mengangkat dagunya dengan bangga.


"Apa lagi ya?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.


Jarinya mengetuk-ngetuk meja di depannya sambil berpikir dengan serius.


"Ah..!" Teringat sesuatu matanya kembali cerah.


"Saya juga pandai menyamar, bisa berbagai bahasa, terus.." Dia masih berusaha untuk memikirkan hal lain yang dia bisa.


Di saat Evelin berusaha berpikir keras, Deon melihatnya dengan tercengang. Dia tidak pernah melihat orang yang begitu percaya diri seperti Evelin dan juga bagaimana cara dia melamar pekerjaan sungguh 'unik' baginya.


Dia pikir Evelin adalah salah satu orang bodoh yang tidak tahu tempatnya dan ingin memerasnya karena mengetahui rahasia mereka.


Atau dia mungkin seorang mata-mata dari organisasi lain.


Karena, tidak bisa di pungkiri sudah ada beberapa orang yang melakukan hal itu.


Organisasi mereka berjalan dengan sangat rahasia, tidak ada yang bisa mengetahui keberadaan mereka dengan mudah.


Organisasi mereka termasuk dalam organisasi yang cukup besar. Karena, seluruh anggota mereka tersebar di berbagai negara.


Karena itu informasi tentang mereka di hargai sangat mahal.


"Saya juga pandai menggunakan racun dan penawarnya, tentu saja."


Hidungnya terangkat semakin tinggi, sepertinya dia sangat bangga dengan dirinya sendiri.


"Apa kau tahu semua jenis racun dan cara menyembuhkannya?"


Evelin cukup terkejut dengan pertanyaan yang tidak dia duga, dia memang berpikir kalau Deon akan bertanya namun dia tidak menyangka pertanyaan seperti itu yang akan keluar.


Namun, kurang dari satu detik dia kembali normal dan tersenyum cerah saat menjawab.


"Ya. Aku bisa mengetahui semua jenis racun, aku juga bisa membuat penawarnya." Jawabnya dengan mata cerah dan senyum percaya diri.


"Baiklah, kau akanku terima bekerja tapi ini masih masa percobaan. Jika aku menemukan sesuatu yang mencurigakan atau jika kau tidak bekerja dengan baik..." Deon berbicara dengan tenang dan melihat ke arah Evelin.


"Kau akan tahu akibatnya!" Suaranya tajam dan mengancam, orang yang mendengarnya pasti akan gemetar ketakutan jika di tanah dengan ekspresinya yang menyeramkan.


Namun, Evelin mengangguk dengan antusias tanpa sedikit pun ketakutan di wajahnya.


"Ya.. Pasti."


"Ngomong-ngomong siapa namamu?"


Deon mengangkat pandangannya saat dia mengingat sesuatu. Jika di pikir lagi dia belum mengetahui nama gadis di depannya.


"Evelin.. Evelin Keyrie Nelson. Kau bisa mencari tahu tentang diriku dengan mudah." Evelin berbicara dan bangkit.


Saat hendak melangkah dia berhenti dan menatap Deon.


"Jika ada pekerjaan kau bisa langsung menghubungiku. Karena, aku selalu siap."


Setelah mengatakan hal itu, dia melangkah pergi dengan senang.


Deon hanya memandang kepergian Evelin, hingga punggungnya menghilang dari pandangannya.


Dia bangkit, berjalan ke arah meja, mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menghubungi seseorang.


"Cari tahu tentang Evelin Keyrie Nelson."


Deon duduk kembali ke kursinya.


"Ya. Aku ingin kau mencari tahu semuanya dengan cepat."


"Siapa tahu hal-hal akan menjadi seperti ini." Suaranya terdengar frustasi dan lelah.


Dia membuka komputer dan mengetik dengan jari rampingnya ketika dia teringat sesuatu.


'Kau bisa mencari tahu tentang diriku dengan mudah.'


Itulah adalah apa yang dikatakan Evelin tadi. Sekarang dia berpikir, kenapa Evelin mengatakan hal seperti itu.


Jika di ingat lagi, sepertinya dia sedikit familiar dengan nama Nelson.


Deon mengetik sesuatu di kolom pencarian dan beberapa artikel muncul di depannya.


"Ah.. pantas saja aku pernah mendengarnya."


Keluarga Nelson, keluarga konglomerat yang berpengaruh di dunia, dengan kekuasaan dan pengaruh besar.


Ayah Evelin, James Nelson terkenal pandai dalam berbisnis. Dia membangun bisnisnya dari nol hingga bisa sebesar sekarang.


Sebagai seseorang yang memulai dari nol, yang telah mengalami berbagai halangan. James Nelson terkenal tegas dan disiplin.


Namun, ada rumor yang beredar kalau James Nelson sangat menyayangi keluarganya apalagi Anak perempuannya.


Entah karena dia satu-satunya anak kandungnya atau karena dia satu-satunya anak perempuannya. Yah, itu hal yang sama.


Yang penting adalah dia pernah mendengar desas-desus yang tidak enak tentang James Nelson.


Dalam rumor yang beredar di katakan kalau ada sekelompok penjahat yang menculik Evelin dan meminta uang tebusan dari keluarga Nelson.


James tidak masalah untuk memberikan uang, namun karena ada beberapa memar di tubuh Evelin. Dia menjadi marah dan membunuh para penjahat itu dengan kejam.


Rumornya cara dia mengeksekusi para penjahat itu sangat tidak manusiawi.


Tidak ada yang bisa menemukan tubuh para penjahat itu dan dia juga menghilangkan bukti dengan baik hingga para polisi pun tidak bisa menyelidikinya.


Setelah rumor itu beredar, tidak ada lagi yang berani menyentuh Evelin Keyrie Nelson.


Jika, rumor itu tidak di lebih-lebihkan dia bisa tahu bagaimana sayangnya ayah kepada anaknya itu.


Dan juga jangan lupakan kakeknya yang bahkan lebih kejam dari ayahnya. Karena kakeknya sangat menyayangi cucu perempuannya.


Karena itu, jika bisa, jangan terlibat apalagi menyinggung keluarga Nelson.


Dan baru saja anak kesayangannya datang menemuinya dan dia bahkan mengancam akan membunuhnya.


'Ah.. Habis sudah.'


"Kenapa orang seperti itu datang ke sini?" Gumamnya sambil meremas rambutnya.


Jika begini, bahkan organisasi tidak akan mau melindunginya.


'Ah.. gue bahkan belum punya pacar, menikah dan punya anak. Kenapa hidup gue tragis banget..'


Dia menangisi takdirnya yang kejam.


***


Sedangkan Evelin hanya berjalan dengan senang tanpa tahu ada seseorang yang sedang menangis karena dirinya.


Evelin sekarang berada di taman, dia ingin jalan-jalan dan menikmati udara segar. Jika, kembali ke rumah sekarang dia juga tidak punya sesuatu untuk di lakukan.


Evelin melihat sekeliling taman, ada banyak orang di taman hari ini meski bukan akhir pekan.


Dia terus berjalan sampai dia berhenti dan melihat ke arah tertentu. Di sana, ada pedagang es krim.


Kakinya melangkah ke arah penjual es krim. Ada seorang pria tinggi di sana, Evelin hanya bisa melihat punggungnya dari tempat dia berada.


Dia mendekat dan menunggu di belakang pria itu saat penjual es krim mengambil pesanan pria tinggi itu. Setelah pria itu pergi, Evelin maju dengan semangat.


"Es krim Vanilla satu mas."


"Maaf mbak.. Es krimnya udah habis, yang terakhir di bawa pria tadi."


"What..!?"