
"Aku diciptakan untuk mencarimu, dan menunggumu, dan menjadi milikmu selamanya." – Robert Browning
Selesai makan bersama anak Invisible, Evelin segera pergi ke sekolah. Tentu saja, dia masuk melalui melalui pintu belakang karena gerbang sudah di tutup.
Evelin tidak pergi ke kelas, melainkan pergi ke taman belakang tempat dia biasa sendiri. Dia berjalan dengan santai menuju kursi yang biasa dia duduki.
Beberapa langkah dari kursi, dia bisa melihat ada seorang siswa yang duduk di sana. Kembali berjalan dan seketika tubuhnya membeku.
Pikirannya rumit dan perasaanya terasa campur aduk dan tidak nyaman. Tak sampai lima detik, ekspresinya kembali pulih dan dia tersenyum cerah walau di dalam masih tidak tenang.
"Hai.. Kak tampan."
Dia duduk di sebelah siswa tersebut tanpa ragu dan kembali berkata dengan ceria, "Kakak yang waktu itu di taman kan!? Masih ingat sama aku?"
Siswa itu menoleh dan melihat ke arahnya, walau ekspresinya kaku namun tanpa sadar matanya melembut, lalu berkata dengan suara rendah dan dalam.
"Ingat."
Evelin tertawa rendah dengan mata melengkung, "Kukira kakak udah lupa. Ngomong-ngomong kakak sekolah di sini juga? kok aku nggak pernah liat kakak?"
"Iya, Karena aku ngambil cuti." dia tidak tahu kenapa tapi, dia tanpa sadar menjawab semua pertanyaan yang di ajukan gadis di depannya tanpa ragu.
Padahal dia selalu waspada terhadap orang baru, dan tidak akan mengacuhkan jika ada gadis yang berbicara dengannya.
Seperti mengingat sesuatu, Evelin mengulurkan tangannya kepada siswa di depannya.
"Oh iya, Nama aku Evelin, kalo boleh tahu nama kakak siapa ya?"
Siswa itu ragu selam dua detik sebelum menjawab dengan suara rendah, "Elliot."
Ekspresi Evelin segera membeku, dia terdiam setelah mendengar ucapan Elliot.
'Bahkan namanya juga sama.'
Menyadari tangannya masih di genggam, dia segera menarik tangannya sepeti tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Elliot menatap tangannya yang kosong, sepeti telah kehilangan sesuatu.
"Kak Elliot kelas berapa? Kalo Evelin kelas 11."
Elliot melihat gadis di depannya, bibirnya melengkung membentuk segaris senyum indah, matanya cerah, dan pipinya sedikit kemerahan.
Entah kenapa, perasaan kosong yang tadi dia rasakan hilang seketika. Dia merasakan rasa nyaman yang langka, di saat yang sama perasaan ingin memiliki dan memonopoli gadis di depannya.
"Aku Kelas 12." Jawabnya sedikit linglung.
"Oh, jadi kak Elliot kakak kelas aku. Kak Rey juga kelas 12, kakak kenal sama kak Rey?"
Elliot mengangguk dengan ekspresi kaku tanpa senyuman yang menjadi ciri khasnya.
Setelah itu, Evelin terus berbicara dengan riang dan ceria. Dia bercerita tentang banyak hal, dan Elliot akan bereaksi dengan mengangguk sesekali tau berkata seperti 'ya' 'hm' atau 'emm'.
Begitulah mereka berbicara dengan senang, walau hanya Evelin yang berbicara dan Elliot yang sesekali menanggapi.
Namun, Evelin tidak mempermasalahkannya dan terus berbicara dengan riang tanpa tahu apa yang sedang di pikirkan Elliot.
'Aku ingin memilikinya! Aku merasa sepeti dia ada hubungannya dengan mimpi yang aku alami. Bahkan, jika dia tidak berhubungan sama sekali. Aku tetap ingin dia berada di sisiku.'
Dia tidak tahu, tapi sepertinya sebuah obsesi yang kuat telah muncul ke dalam dirinya. Dia tidak pernah merasakan perasaan ingin memiliki seseorang sekuat ini sebelumnya.
Dia menjadi mudah bosan pada segala hal dan menjadi tidak tertarik.
Hal yang bisa membuat dia tertarik dan terhibur adalah mimpi yang selalu dia mimpikan dan saat di mana seseorang berusaha membunuhnya.
Karena dia satu-satunya pewaris dari keluarga, banyak orang yang mencoba membunuhnya atau memanfaatkannya.
Dan Elliot senang saat melihat orang-orang bodoh itu bersaing demi kekayaan, mencoba menjilatnya di permukaan lalu berusaha membunuhnya di belakang.
Dia terhibur saat mereka mengira sudah mendapat apa yang mereka inginkan, lalu di jatuhkan dan di hancurkan dengan memalukan.
Dia bisa saja menghabisi mereka dengan mudah, namun itu akan menjadi sangat membosankan. Karena itu, dia suka bermain dengan mereka sebelum menghabisi mereka saat dia sudah bosan.
Begitulah, kegiatan harian yang selalu dia lakukan setiap hari, dan sekarang seorang gadis yang mampu membuat hatinya berdebar muncul di depannya dan obsesi ingin memiliki muncul di hatinya.
Dia tidak akan melepasnya begitu saja.
Dengan itu, mereka pun semakin dekat dari hari ke hari. Evelin selalu pergi ke taman belakang dan Elliot akan selalu ada di sana. Jadi, secara alami mereka menjadi semakin dekat.
"Kak Elliot ke kantin yuk!?"
Evelin menggenggam tangan Elliot dan menariknya ke kantin tanpa mendengar jawaban Elliot.
Di perjalanan ke kantin, banyak mata yang memandang mereka dengan penasaran di ikuti gosip dari mulut ke mulut.
Namun, Evelin tidak memperhatikannya lebih tepatnya tidak mempedulikan mereka. Dia sudah terbiasa berada di bawah banyak mata, begitu juga dengan Elliot yang hanya fokus terhadap Evelin yang berbicara dan benar-benar mengabaikan sekitarnya.
Di ikuti banyak tatapan penasaran dari para murid, merekapun sampai di kantin.
Evelin memperhatikan sekeliling dan melihat kakak dan teman-temannya di tempat biasa mereka duduk.
Evelin berjalan ke arah mereka, tangan kirinya masih menggenggam tangan Elliot dan tangan kanannya di angkat, melambai ke arah kakaknya.
"Kak Rey..!"
Reyhan dan teman-temannya melihat ke arah sumber suara, namun bukan hanya mereka saja. Seluruh penghuni kantin juga melihat ke arah mereka.
Mereka terdiam melihat kedua orang yang saling bergandengan tangan, dan yang paling membuat mereka terkejut adalah orang yang di gandeng Evelin. Bahkan, Reyhan dan teman-temannya juga terkejut.
Elliot Louis Alexander, pewaris tunggal dari keluarga Alexander yang termasuk jajaran konglomerat terkaya di dunia.
Perusahaan mereka sudah menyebar ke berbagai negara dalam berbagai bidang bisnis yang semuanya berkembang dengan pesat dan maju.
Dia seorang pria terhormat dari keluarga konglomerat, dia memiliki wajah tampan, dia juga dianugerahi otak yang genius.
Tentu saja, siapapun ingin mendekatinya dan menjadi pacar atau bahkan istrinya. Namun, sayangnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
Walau dia menjadi kandidat pria yang paling di idamkan seorang gadis, mereka harus berpikir dua kali untuk mendekatinya karena dia memiliki tempramen yang buruk.
Bahkan sampai sekarang mereka masih ingat bagaimana nasib gadis yang mencoba merayunya secara terang-terangan.
Mereka tidak pernah bernasib baik setelah berurusan dengan Elliot, apalagi jika dia yang menyentuhnya.
Elliot tidak suka kontak fisik dan dengan temperamennya, semua orang yang secara sengaja maupun tidak sengaja yang menyentuhnya, akan berakhir dengan akhir yang buruk.
Dan sekarang mereka melihat seorang gadis yang menggenggam tangan Elliot secara terang-terangan.