
“Anda tidak akan pernah belajar sabar dan berani jika di dunia ini hanya ada kebahagiaan.” - Helen Keller
Pria tersebut berbalik melihat ke arah gadis yang berdiri di belakangnya, dia tidak menyadari jika gadis tersebut sudah membunuh semua pengawal dan pria paruh baya lainnya.
Dia membuang pistol di tangannya dan mengangkat kedua tangannya dengan pasrah.
“Kau bisa membunuhku sekarang, aku tidak akan melawan. Tapi, aku akan mengatakan satu hal. Tolong selamatkan adikku.”
Evelin tertawa rendah sebelum sebelum berbicara, “Aku butuh satu orang untuk mengantarku ke tempat di mana anak-anak di kurung. Jadi, aku tidak akan membunuhmu sekarang.”
Pria itu tertegun, tapi masih menghela nafas dengan lega. Setidaknya walau hanya sebentar, dia masih bisa melihat adiknya.
“Kalau begitu aku akan menunjukkan jalannya.”
Mereka keluar dari pintu, berjalan menuruni tangga, memasuki sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah perpustakaan dan pria itu menekan salah satu buku dan segera rak buku itu bergeser memperlihatkan tangga yang menuju ke bawah.
Mereka kembali berjalan menuruni tangga, tak lama setelahnya suara tangisan anak kecil terdengar.
Pengawal yang melihat kedatangan mereka segera bertanya, “Apa yang kau lakukan di si..”
Sebelum kalimat selesai di ucapkan, pengawal tersebut sudah jatuh ke lantai. Evelin segera maju dan membunuh dua pengawal yang tersisa.
Dia mendorong pintu dan sebuah pemandangan tidak mengenakkan terlihat. Ada tiga kandang di dalam ruangan tersebut yang masing-masing berisi sepuluh hingga 15 orang anak.
Tubuh mereka kurus, baju mereka lusuh, dan beberapa bahkan memiliki luka di tubuh mereka dan di tengah ruangan ada tubuh seorang gadis yang bersimbah darah.
Matanya terbuka, dada hingga perutnya di belah secara vertikal hingga menunjukkan isi di dalamnya. Tangan dan kakinya di belenggu ke kasur.
Evelin melihat ke Anak-anak yang ada di kurungan, kondisi mereka sangat buruk. Ada yang menangis, ada yang gemetar ketakutan, dan ada yang diam dengan wajah kosong.
Di mana pun dan kapan pun itu, manusia adalah makhluk yang paling kejam dan keji. Mereka bahkan tidak peduli dengan sesama mereka dan tega melakukan hal yang kejam demi memenuhi hasrat mereka sendiri.
Ekspresi Evelin tenang karena dia sudah pernah melihat hal yang lebih buruk dari itu. Namun, pria yang mengikuti Evelin hanya diam membatu melihat pemandangan di depannya. Dia sudah menyamar selama beberapa hari ke dalam organisasi ini untuk menemukan adiknya dan dia sudah banyak mengumpulkan informasi.
Organisasi ini adalah organisasi yang memperjual-belikan anak kecil dan organ tubuh secara ilegal. Dia sudah tahu tentang hal tersebut namun melihatnya secara langsung sungguh sangat menakutkan.
Dia segera membuka pintu kandang dan mencari adiknya sedangkan Evelin segera menghubungi Jesica yang di berikan oleh Raka.
Evelin segera memberitahu mereka detail tentang semuanya dan mereka akan segera datang dengan yang lainnya untuk mengurus sisanya.
Evelin melihat ke Anak-anak yang sudah keluar dari kandang. Dia segera melihat ke dalam kandang di mana ada seorang anak perempuan masih gemetar ketakutan.
Dia berjalan ke arah kandang tempat anak itu berada, lalu berbicara dengan lembut.
“Keluarlah, sekarang sudah tidak apa-apa.”
Namun, anak itu hanya menggeleng dengan kuat. Dia menundukkan kepalnya lebih dalam ke kakinya yang di tekuk.
Gadis itu segera mendongak dan melihat wajah Evelin yang lembut. Dia perlahan berdiri dan segera berlari ke arah Evelin.
“Huaa... Chika takut.. Chika mau ketemu sama kak Alex.. Huaa..”
Dia menangis dengan keras, Evelin segera memeluk dan mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya.
“Iya. Gapapa, nanti kita ketemu sama kak Alex yah.” Evelin mengelus punggung gadis berusia 10 tahun tersebut untuk menenangkannya.
Jesica dan Jeremy segera tiba dengan beberapa anggota lainnya.
“Aku akan membawa anak ini bersamaku dan pria di sana akanku urus sendiri nanti. Kalian bisa menginterogasinya tapi jangan bunuh dia.”
Setelah mengatakan itu, Evelin segera pergi dengan gadis di gendongannya. Mereka tidak bertanya atau menghentikannya karena Deon sudah memberitahu mereka sebelumnya.
Bahwa misi ini di minta oleh Evelin, dia juga yang mengajukan diri untuk menyelesaikan misinya. Dia yang membuat permohonan tapi dia juga yang menyelesaikan permohonan tersebut.
Jadi, dia hanya butuh nama organisasi. Karena, jika dia melakukannya sendiri. Dia akan mungkin akan menjadi musuh beberapa organisasi lainnya yang berhubungan dengan organisasi yang dia hancurkan.
Namun, jika dia melakukannya sebagai anggota organisasi sekarang. Dia akan mendapat perlindungan di bawah nama organisasi. Itulah kesimpulan mereka tentang alasan Evelin ingin bergabung dengan organisasi.
Evelin berhenti di depan gedung tinggi yang terlihat mewah. Dia masuk ke dalam gedung dengan Gadis kecil di gendongannya.
Dia sudah menyewa apartemen di sini beberapa hari yang lalu. Karena dia juga perlu ruang pribadi dan Jika dia tidak bisa kembali ke mansion seperti sekarang.
Karena sudah malam, dia tidak bertemu dengan orang lain. Jika tidak, dia mungkin harus menerima tatapan ketakutan karena darah di bajunya. Dia berjalan keluar dari lift, berhenti depan pintu, menekan kata sandi dan masuk ke dalam apartemen.
Dia menaiki tangga menuju lantai dua, memasuki kamar dan meletakkan gadis itu ke tempat tidur. Sepertinya gadis itu tertidur dalam perjalanan karena lelah.
Dia ingin mengganti dan membersihkan tubuh gadis itu. Tapi, sepetinya tidak bisa karena gadis itu tidur sangat nyenyak apalagi dia juga tidak mempunyai pakaian anak kecil di apartemennya.
Jadi, dia hanya menyelimuti gadis itu dan berjalan ke kamar mandi. Dia melepas pakaiannya dan menyalakannya shower. Bau darah itu tidak terlalu menyengat namun Evelin yang menciumnya masih merasa tidak nyaman.
‘Ah, berapa banyak?’
Evelin mengerutkan bibir, hanya suara air shower yang bisa dia dengar. Dia melihat tangannya yang sekarang putih bersih dan mulus namun di matanya tangannya penuh dengan darah.
Dia sudah membunuh banyak orang malam ini. Itu adalah keinginannya untuk kembali ke jalan berdarah yang pernah dia lalui tapi masih ada sisi lain darinya yang menolak hal itu dan ingin hidup dengan damai.
Evelin berdiri lama di bawah guyuran shower, setelah sekitar 30 menit. Dia keluar dan mengenakan pakaiannya. Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan jam 02.34 pagi.
Sebelum tidur, Evelin mengobati luka di tubuh Chika dengan hati-hati agar dia tidak bangun. Walau lukanya tidak serius namun itu masih menyakitkan bagi anak kecil.
Selesai mengobati luka Chika dia segera mengobati lukanya, dia sepertinya tertembak di tangan kanannya saat berkelahi di dalam asap. Setelah itu, Evelin menaruh kotak obat dan naik ke kasur untuk tidur.