
“Pilihan kitalah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, jauh melebihi kemampuan kita.” — JK Rowling
Evelin berjalan-jalan dengan santai, namun perhatiannya sepenuhnya teralihkan oleh telfonnya.
Dia memainkan telfonnya dan terkadang berteriak seperti, "ayo", "lompat", "bunuh" dan "awas".
Siapapun bisa melihatnya kalau dia sedang bermain game.
Saat terkadang ada batu atau benda-benda lain di jalan depan Evelin, mereka berpikir dia akan tersandung dan jatuh.
Namun, walau perhatiannya terfokus pada telfonnya. Dia menghindari semua benda itu dengan alami sepeti sudah melihatnya. Orang-orang yang tadinya berniat untuk mengingatkannya segera menyimpan niat mereka.
Dia terus berjalan hingga tiba di dekat lapangan basket di mana banyak anak laki-laki sedang bermain basket.
Evelin sebenarnya sangat bosan, karena itu dia mencoba game online yang pernah di mainkan Daffa. Dia tidak terlalu tertarik pada awalnya, tapi setelah dia mencoba sekali. Dia mulai berpikir kalau itu menyenangkan dan terus memainkannya.
Sebuah teriakan keras terdengar di telinganya, "Awas!"
Evelin menoleh ke arah sumber suara, dia bisa melihat sebuah bola yang melaju dengan cepat ke arahnya. Dalam sepersekian detik, dia mengangkat tangannya dan menangkap bola tersebut.
Kejadian itu terjadi sangat cepat, jika orang biasa yang menghadapinya, mungkin sudah terkena lemparan bola itu.
Sekelompok anak laki-laki berlari ke arahnya dengan wajah cemas dan panik.
"Kamu nggak papa?"
"Apa ada yang terluka?"
Evelin mematikan ponselnya lalu menyimpannya, dia tersenyum cantik, "Nggak papa kok!
Seorang anak laki-laki yang sepertinya melempar bola, menyatukan kedua tangannya dan berkata dengan menyesal, "Maaf, yah! gue nggak sengaja."
Anak laki-laki di sebelahnya memukul kepala laki-laki yang meminta maaf, "Lo sih, nggak hati-hati. Gimana bisa coba, bukannya masuk keranjang malah keluar lapangan."
Evelin yang melihatnya hanya tersenyum, "Boleh Evelin ikut main?"
Anak laki-laki yang tadi meminta maaf segera menjawab dengan penuh semangat, "Boleh banget, kita lagi kekurangan orang. Soalnya tadi ada yang kakinya luka."
Laki-laki yang tadi memukul kepalanya, kembali memukulnya lagi, "Diem Lo!"
"Jadi, apa Evelin boleh ikut?"
Laki-laki itu mengangguk, dan mereka kembali bermain basket. Mereka awalnya berpikir kalau Evelin hanyalah anak manja yang hanya ingin main-main saja.
Namun, setelah pertandingan di mulai, pikiran mereka segera di hancurkan. Evelin bermain dengan sangat baik, seperti seorang yang telah lama bermain bola basket.
Evelin bermain beberapa pertandingan dan segera berhenti, bukan karena dia lelah. Tapi, sebuah pesan terdengar dari telfonnya.
Dia memeriksa dan melihat orang yang mengirimkan pesan, itu adalah kakaknya. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan jam 17.42 PM.
Sepertinya dia terlalu asik bermain sampai lupa waktu.
"Kalo gitu Evelin pulang duluan ya."
Evelin melambai ke arah anak-anak yang masih bermain basket. Seorang anak laki-laki segera berjalan ke arahnya dengan cepat setelah mendengar ucapan Evelin.
"Kakak udah mau pulang?"
Evelin mengangguk, "Hm.. kakak Evelin ngirim pesan tadi yang nyuruh Evelin pulang."
Evelin melihat ke arah anak laki-laki yang merupakan orang yang tidak sengaja memukul bola ke arahnya tadi.
"Nanti aja ya? main sebentar aja. 15 menit, nggak.. 10 menit aja ya.. ya.. Please!"
Evelin yang merasa gemas tanpa sadar menepuk kepala anak laki-laki di depannya. Ah, sepertinya sekarang dia ingin memiliki hewan peliharaan, pasti akan sangat lucu.
Laki-laki dengan tubuh lebih tinggi dari anak laki-laki itu menarik kerah belakang baju Rangga.
"Lo nggak liat ini udah jam berapa? Ini itu udah sore, keluarganya pasti khawatir kalau dia pulang telat. Apalagi dia itu cewek, pulang sendirian lagi. Lo kan masih bisa ajak Evelin main kapan-kapan."
Ah, sepertinya Evelin bisa melihat telinga dan ekornya yang menekuk dengan sedih.
"Daripada Lo murung gitu, mending Lo antar aja Evelin pulang. Hm.. gimana?"
Evelin sekali lagi merasa gemas dengan perubahan suasana hati Rangga yang berubah dengan cepat.
Evelin tersenyum melihatnya, anak laki-laki yang energik dan polos sepertinya sangat jarang Evelin temui.
"Kalo gitu, biar aku aja yang nganter kak Evelin pulang, ya?"
Evelin mengangguk, tidak ingin menolak niat baik pemuda di depannya.
Melihat tidak ada penolakan, Rangga berseru dengan senang. Sebelum pergi, dia me no oleh ke belakang di mana Erik berada, "Kak Erik! pinjam kunci mobilnya."
Erik mengerutkan kening dengan heran, "Bukannya Lo bawa motor?"
"Iya, tapi seperti yang di bilang sama kak Erik, ini tuh udah sore. Kalo naik motor, Kak Evelin pasti kedinginan." Dia menunjuk ke arah Evelin, "Liat aja tuh baju kak Evelin, gimana kalo nanti dia sakit karena masuk angin? Huh? kak Erik mau tanggung jawab?"
Erik melihat ke arah Evelin yang kini masih mengenakan seragam sekolah, dia tidak masalah untuk meminjamkan mobilnya. Hanya saja, dia bermasalah dengan orang yang meminjamnya.
Dengan sedikit terpaksa dia menyerahkan kunci mobilnya yang segera di ambil oleh Rangga.
Sebelum Rangga bisa merasa senang karena bisa mengendarai mobil Erik yang tidak pernah di izinkan nya. Dia merasakan sebuah tepukan di bahunya.
Dia melirik ke samping, di mana Erik menatapnya dengan horor yang membuat dia merinding seketika.
Erik berbicara tepat di telinga Rangga dengan suara mengancam, "Ingat! jangan bawa mobil gue ugal-ugalan. Pokoknya, pas balik nanti, keadaan mobil gue masih sama sebelum pergi. Kalo, ada lecet sedikitpun... Awas Lo!"
Rangga meneguk ludahnya dan mengangguk dengan kaku.
Erik melepaskan cengkeramannya dari bahu Rangga, masih berbicara dengan nada mengancam, "Dan jangan keluyuran abis nganter Evelin, langsung balik ke sini."
Dia mengangguk sekali lagi, segera menyusul Evelin yang telah berjalan jauh. Dia tidak ingin mendengar Omelan Erik lagi.
Erik menghela nafas lelah, dia tahu kalau Rangga tidak akan mengindahkan perkataannya. Rangga sangat suka membawa mobil seperti orang sedang balap, tidak memperhatikan sekelilingnya, yang ada di pikirannya hanya satu, yaitu 'semakin cepat akan semakin seru dan keren'.
Erik tidak tahu darimana Rangga mendapat pikiran sepeti itu. Hanya saja, dia sudah pernah menjadi korban karena tidak terlalu mempedulikannya.
Yah, mobil kesayangannya di bawa Rangga menabrak tiang lampu jalan. Sebenarnya, jika hanya sekali dia tidak masalah. Namun, yang kedua kali dia bawa menabrak pagar rumah orang lain, yang ketiga kali dia bawa masuk parit, dan begitu seterusnya.
Bukan hanya mobilnya yang rusak, dia juga harus membayar kompensasi untuk semua hal yang di rusak Rangga.
Karena itu, Erik tidak pernah meminjamkan mobilnya kepada Rangga lagi. Bahkan jika dia menangis dan memohon kepadanya.
Dia ingat bagaimana reaksi Reo, yang merupakan kakak Rangga sekaligus sahabatnya.
"Kan udah gue peringatin, jangan pernah pinjemin Rangga mobil Lo. Dia itu lagi di hukum sama Ayah, makanya semua mobilnya disita."
Dia masih ingat dengan jelas tawa Reo yang mengejeknya. Memang, setelah orang tua Rangga mengetahuinya, mereka membayar semua kerusakan mobil yang dia sebabkan oleh Rangga.
Tapi, masalahnya adalah dia tidak bisa melupakan bagaimana senangnya wajah Reo saat mengejeknya.