
“Teruslah tersenyum, karena hidup adalah hal yang indah dan ada banyak hal untuk disyukuri.” — Marilyn Monroe
Kelembutan seketika menguasai mata Elliot saat melihat gadis di depannya. Dia datang ke sini hari ini hanya untuk memeriksa apartemennya.
Karena dia tidak menggunakannya lagi, dia berniat memberikan kepada temannya yang sedang mencari apartemen.
Tapi, dia tidak menyangka akan bertemu Evelin di sini hari ini. Dia menerima laporan kalau Evelin sedang bertemu dengan Deon hari ini.
Evelin mengerjap sebentar, ekspresinya segera pulih dan dia tersenyum, "Ah? Kak Elliot! kebetulan banget! kakak lagi ngapain di sini?
Elliot tanpa sadar mengelus kepala Evelin, matanya penuh dengan kelembutan, bahkan suaranya juga tanpa sadar melembut, "Lagi ada urusan, kamu kenapa ke sini?"
"Evelin mau ke apartemen, itu apartemen Evelin." Ucapnya menunjuk ke arah sebuah pintu.
Elliot melihat ke arah yang di tunjuk Evelin.
"Apa kakak mau ketemu sama temen kakak di sini?"
Elliot terdiam sejenak, pandangannya turun, ada sedikit kebahagiaan dalam matanya, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kakak juga dari apartemen, di sana apartemen kakak."
Elliot menunjuk ke salah satu pintu, Evelin segera melihat ke arah yang di tunjuk, dan berkata dengan ceria, "Woah, sungguh? apartemen kakak di sebelah apartemen Evelin?"
Elliot mengangguk, Evelin tersenyum senang dan menarik tangan Elliot.
"Kakak mau lihat apartemen Evelin?"
Walau dia bertanya, tapi dia sudah menarik Elliot ke apartemennya tanpa menunggu jawaban pihak lain.
Elliot memerhatikan Evelin yang sedang memasukkan kode pintu, dia senang dengan kebetulan yang tak terduga ini.
Sepertinya dia harus mengecewakan temannya, tapi siapa yang peduli? dia bisa memberikan apartemen yang lain kepada temannya. Karena dia punya banyak apartemen.
"Masuk kak."
"Kak Elliot bisa duduk di mana aja. Oh iya, kakak mau Evelin bawakan apa? Kopi, teh atau.."
Elliot duduk di sofa, segera memotong ucapan Evelin, "Apa aja."
Evelin mengangguk dan segera berjalan pergi ke dapur, "Okay. Kakak tunggu di sini dulu! Evelin ambilin bentar."
Elliot melihat sekeliling ruangan, tidak ada banyak perabotan dan barang.
'Sepertinya dia baru saja pindah.'
Dia senang karena Evelin mengajaknya masuk, tapi ada sedikit rasa kesal dan marah di hatinya.
"Nih kak! Evelin bawain kopi, ada cemilan juga."
Evelin meletakkan kopi di atas meja, dia tidak tahu apa yang di sukai Elliot jadi dia membawakan kopi yang sama seperti yang dia buat untuk 'dia'.
Elliot tidak segera mengambil kopi yang di bawa Evelin, namun berbicara dengan suara dingin, ada rasa kesal dan marah di dalamnya, dia memperingatkan, "Jangan sembarangan membawa laki-laki masuk ke apartemen kamu, kau tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan. Bagaimana jika mereka memiliki niat jahat padamu? kamu harus lebih hati-hati lain kali!Apalagi kamu tinggal di sini sendirian."
Evelin segera tertawa rendah, dia tidak pernah melihat Elliot berbicara panjang lebar seperti sekarang ini. Dia sudah terbiasa dengan Elliot yang berbicara singkat jadi, sekarang itu terdengar sedikit lucu baginya.
Dia berbicara dengan senyum indah di bibirnya, suaranya terdengar lembut, "Iya kak Elliot, Evelin bakal hati-hati. Tapi, Evelin nggak pernah bawa laki-laki ke apartemen sejak Evelin pindah ke sini."
Dia melanjutkan dengan mata jahil dan nada bercanda, "Evelin bawa kak Elliot karena Evelin percaya sama kak Elliot. Emang kak Elliot punya niat jahat sama Evelin?"
Elliot terdiam sejenak, itu berarti dia adalah laki-laki pertama yang di bawa Evelin ke apartemennya, dan tadi Evelin bilang dia percaya pada Elliot?
Rona merah menyebar ke wajah hingga telinga Elliot, namun itu terlihat samar di wajah datarnya. Hanya telinganya yang tampak sedikit memerah jika kau memperhatikannya dengan teliti.
Evelin tidak menyadari perubahan kecil itu, dia tidak memperhatikan ada yang aneh jadi dia hanya mengambil cemilan yang tadi dia bawa dan memakannya.
"Benarkan? jadi tidak masalah kalau Evelin bawa kak Elliot ke sini."
Dia teringat sesuatu dan berbicara lagi, "Kak Rey katanya juga mau ke sini."
Elliot mengerutkan kening, "Reyhan?"
Evelin mengangguk dengan antusias, berbicara dengan penuh semangat, "Ya. bukan kak Rey aja. Alex, kak Rian, Tasya, sama yang lain juga." Jarinya yang di kepal terbuka satu per satu.
Pandangan Elliot menggelap sejenak namun itu segera hilang hingga Evelin tidak menyadarinya. Dia pikir, dia bisa berduaan dengan Evelin, namun sepertinya dia harus menelan kekecewaan.
Dia melihat ke kopi yang di bawa Evelin, mengangkat cangkir dan segera meminumnya. Tangannya berhenti di udara, dia segera membeku.
Entah kenapa, rasa kopi itu terasa sangat familiar. Ada rasa rindu yang tidak bisa di jelaskan saat dia meminum kopi itu.
Tak lama, suara bel pintu terdengar. Evelin segera bangun dan berjalan ke pintu.
"Itu pasti kakak."
Dan benar saja, saat dia membuka pintu. Reyhan dan yang lain berdiri di sana.
"Hai!" Dafa menyapa dengan senyum namun, senyum itu segera hilang ketika dia mendengar Evelin berbicara.
Melihat Daffa, mata Evelin berkilat jahil, "Daffa juga dateng?"
Mereka yang di sana hanya tertawa dalam diam melihat Daffa.
Kerutan kesal segera terbentuk di dahinya, "Jadi, Lo nggak suka kalau gue dateng?"
Evelin tertawa ceria, "Bercanda kok, Silahkan masuk."
Daffa berjalan cepat karena kesal, di ikuti yang lainnya.
Evelin melihat ke arah tangan Elliot yang memegang bungkus plastik dan segera bertanya dengan penasaran, "Kakak bawa apa?"
Reyhan mengangkat bungkus plastik dan berkata dengan senyum, "kakak bawa cemilan, tadi kakak mampir di supermarket sebelum ke sini."
Matanya segera menjadi cerah, dia berseru dengan gembira, "Woah.. makasih kak."
Reyhan tersenyum dan mengangguk, menyerahkan bungkus plastik ke Evelin.
Mereka berjalan masuk, mendengar Daffa yang berbicara dengan penasaran.
"Kok boss bisa ada di sini? bukannya Boss bilang ada urusan ya? apa jangan-jangan Boss bohong buat Dateng ke sini?"
Elliot hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, mengabaikan Daffa sepenuhnya.
"Lagi-lagi gue di cuekin."
Daffa yang tidak mendapat reaksi, hanya menunduk dengan lesu dan duduk di sofa.
Reyhan melihat ke arah adiknya dengan tatapan yang meminta penjelasan, Evelin yang melihat tatapan kakaknya segera menjelaskan dengan santai.
"Tadi Evelin ketemu sama kak Elliot di lorong, makanya Evelin bawa masuk. Oh iya, ternyata di sebelah apartemen Evelin itu, apartemennya kak Elliot."
Mereka segera berseru kaget, Reyhan melihat ke arah Elliot yang sibuk dengan kopinya. Sepertinya itu memang kebetulan.
Evelin menarik tangan Tasya yang hanya diam dari tadi, "Bantuin Evelin yuk."
Tasya mengangguk, dia sekarang memiliki kesan yang baik untuk Evelin. Selama beberapa hari ini, Evelin selalu berbicara dengannya dan terkadang mengajaknya ke suatu tempat.
Dia tidak pernah memiliki teman sebelumnya, jadi Evelin yang mau berbicara dan berteman dengannya sudah membuat dia sangat senang.