The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Teman Sekaligus Musuh



"Persahabatan adalah hal tersulit di dunia untuk dijelaskan. Itu bukan sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tetapi jika kamu belum belajar arti persahabatan, kamu benar-benar tidak mempelajari apa pun." - Muhammad Ali


Evelin dan Tasya berada di dapur membuat minuman, Daffa dan Rian sibuk bermain game, sedangkan Reyhan dan Elliot duduk dengan tenang di sofa.


Tak lama setelah itu, Evelin dan Tasya keluar membawa minuman dan cemilan.


Evelin melihat sekeliling dan segera bertanya, "Alex belum dateng ya?"


Daffa berbicara dengan acuh, matanya masih fokus pada game di depannya, "Nggak tahu, Lagian gue juga bukan temennya."


Reyhan mengerutkan kening, "Kamu undang Reyhan juga?"


Evelin duduk di sofa, tepat sebelah Elliot. Dia mengangguk saat kakaknya bertanya, berkata dengan senyum antusias, "Ya! makin banyak orang kan makin seru."


"Tapi, dia bilang mungkin nggak bisa dateng sih."


Reyhan hanya mengangguk sebagai tanggapan, mengulurkan tangan untuk mengambil teh di atas meja.


"Aarrghh.." Daffa mengerang kesal, mengacak rambutnya dengan frustasi dan melempar ponselnya.


"Udahlah, nyesel gue main sama Lo, kalah terus. Lo pasti curang kan, makanya Lo Menang terus." Tidak menerima kekalahan, Daffa menunjuk dan menuduh Rian.


Rian yang melihat Daffa kesal segera tertawa mengejek, "Lo aja yang nggak bisa main, nggak usah nuduh orang deh. Kalo nggak mau kalah, mending main sama anak kecil aja sana."


Rian menutup mulutnya dengan telapak tangannya, kembali menertawakan Daffa, "Ups.. mungkin anak kecil aja masih menang lawan Lo. Hahaha.."


Daffa mengepalkan tangannya dengan erat, kerutan di dahinya semakin dalam, dia menatap tajam ke arah Rian, "Apa Lo bilang?"


Dia segera berteriak marah dan mengejar Rian yang sudah berlari menjauh darinya, "Ke sini nggak Lo! Biar gue jahit tu mulut setan."


Rian masih tertawa saat berlari menjauh dari Daffa, "Kalo mau jahit mulut setan, ke kuburan sana! Di sini nggak ada setan, yang ada cuma bayi besar yang marah karena nggak bisa menang."


Daffa menambah kecepatan larinya saya mendengar ejekan Rian, suaranya terdengar semakin marah, "Awas aja kalo ketangkep Lo! nggak bakal gue maafin Lo, Rian!"


"Siapa juga yang mau minta maaf sama Lo."


Evelin dan yang lainnya yang melihat itu, hanya memperhatikan mereka sesekali. Karena pemandangan tersebut sudah menjadi hal yang biasa.


Rian yang suka mengejek Daffa dan Daffa yang mudah marah saat di ejek oleh Rian. Sungguh dua orang yang 'sangat cocok'.


Ada kalanya Daffa tidak terlalu mempedulikan ejekan Rian. Namun, itu hanya pada saat dia sedang dalam suasana hati yang bagus atau pada saat dia sedang sangat, sangat, sangat malas menghadapi Rian.


Tapi, itu adalah hal yang sangat langka. Jadi, sangat jarang untuk melihat mereka tidak bertengkar.


Daffa yang berhasil mengejar Rian, segera meraih bajunya dan menariknya ke belakang. Rian yang di tarik secara tiba-tiba, tidak bisa menjaga keseimbangan dan jatuh terbaring ke lantai.


Daffa juga ikut jatuh di atas Rian karena tidak bisa menghentikan kakinya.


Alhasil, pemandangan ini terjadi. Rian terbaring di lantai dengan tidak berdaya, Daffa jatuh telungkup di atas Rian.


Jika itu adalah sepasang kekasih, seperti seorang laki-laki dan perempuan. Itu akan menjadi pemandangan yang romantis.


Tapi, sayangnya itu adalah dua laki-laki yang sangat tidak cocok satu sama lain dan lebih bisa di bilang musuh daripada teman.


Daffa segera bangkit, menarik kerah Rian dengan tangan kirinya dan meninju wajah Rian dengan tangan yang lain. Tak tinggal diam, Rian juga mengepalkan tinjunya, membalas pukulan Daffa dengan meninju sisi wajah Daffa.


Dan perkelahian pun terjadi, mereka saling menarik kerah dan memukul pihak lain, berguling-guling di lantai dengan suara ejekan.


"Mampus Lo! Gue bikin masuk rumah sakit sekalian."


"Diam Lo jomblo!"


Dan begitulah perkelahian yang di iringi ejekan pun terjadi.


Tasya menarik baju Evelin, berkata dengan cemas, "Apa nggak kita hentiin aja? kayaknya udah parah."


Evelin berbicara dengan santai, "Nggak usah, nanti kalo udah lelah mereka akan berhenti sendiri. Lagian mereka emang selalu kaya gitu. Jadi, nggak usah peduliin."


Evelin mengambil Kue di meja dan memakannya, "Mending kamu makan ini aja daripada liat mereka."


Tasya dengan patuh mengambil makanan dan memakannya, namun matanya sesekali melirik ke arah perkelahian dengan cemas.


Evelin yang melihatnya hanya tertawa rendah. Gadis di depannya sungguh gadis yang baik, tidak sepertinya.


Beberapa menit kemudian, kedua laki-laki yang tadi berkelahi kini sudah terbaring di lantai.


Mereka terengah-engah, wajah mereka penuh dengan memar dan sedikit darah. Meski begitu mereka masih punya kekuatan untuk mengejek pihak lain.


Daffa melihat ke atas, dia hanya bis melihat loteng dan lampu, dia berbicara setelah nafasnya perlahan stabil, "Siap-siap aja lo, abis gue bangun bakal gue bikin Lo nyesel udah ngejek gue."


Rian yang mendengar ucapan Daffa, tertawa dengan mengejek walau sudut bibirnya sedikit sakit karena kena pukul, "Haha.. coba aja kalo bisa, bangun aja Lo nggak bisa."


"Lo juga nggak bisa bangun."


Mereka kembali beradu argumen. Evelin yang melihat hal itu segera berdiri dan berjalan ke arah mereka. Dia berhenti dan menunduk hingga wajahnya terlihat jelas di depan mereka berdua yang terbaring.


Dia tersenyum, suaranya lembut namun terdengar mematikan, "Udah selesai?"


Merek berdua segera berhenti berbicara ketika mendengar suara tersebut, mereka melihat ke arah tatapan dingin Evelin. Meski dia tersenyum namun entah kenapa dia terlihat menakutkan.


"Kalo udah selesai, cepat bangun terus pergi ke sofa."


Setelah mendapat anggukan dari dua laki-laki tersebut, Evelin segera meluruskan punggungnya dan kembali ke tempat duduknya.


Mereka berdua berusaha untuk duduk dengan susah payah setelah kepergian Evelin.


Daffa mendengar ke arah Rian, berbisik dengan pelan agar tidak terdengar oleh orang lain, "Bu Boss lebih serem dari pada Boss ya!?"


Rian juga mendekat dan berbisik, "Bener banget, lain kali jangan sampai buat Bu Boss marah!"


Merek berdua diam-diam setuju dengan hal tersebut, sepertinya mereka akan menemui hal yang lebih mengerikan daripada ajal mereka jika sampai membuat Evelin marah.


Mereka berusaha berdiri dengan susah payah, berjalan tertatih-tatih ke sofa.


Mereka segera bersandar ke kaki sofa saat sampai di sana.


"Nih, Tasya obatin kak Rian." Ucapnya menyerahkan kotak obat ke Tasya.


"Biar Evelin yang obatin kak Daffa."


Tasya segera berdiri, mengambil kotak obat, mendekati Rian dan mengobati memar di wajahnya.


Evelin juga akan pergi ke arah Daffa yang bersandar di kaki sofa. Namun, sebuah tangan besar membungkus tangannya, menghentikan gerakannya.


Suara yang dalam terdengar, "Biar aku aja."