
"Mulailah dari mana kau berada. Gunakan apa yang kau punya. Lakukan apa yang kau bisa." - Arthur Ashe
Rangga terlihat sangat bahagia, dia bahkan bersenandung seiring dengan suara musik.
"Rangga kelihatan senang banget. Ada apa?"
Masih dengan sedikit bersenandung dia menjawab dengan wajah penuh semangat, "Soalnya kakak hebat banget main basketnya."
"Hanya karena itu?"
"Iya! Aku senang kalau ketemu pemain yang hebat. Karena, kalau pemainnya hebat maka pertandingan akan lebih seru."
"Kamu sangat suka dengan basket?"
"Ya! Kakak tahu. Waktu aku kecil aku pernah nonton pertandingan basket di tv. Aku suka banget pas liat, waktu bola masuk ke keranjang, dan gimana kerennya pemain itu masukin bolanya. Waktu itu aku langsung mutusin kalau aku mau jadi atlet basket."
Evelin tersenyum saat pemuda di sebelahnya berbicara dengan penuh semangat.
"Oh.. apa kamu pernah ikut lomba?"
Rangga mengangguk, nada suaranya terdengar percaya diri saat dia membanggakan dirinya sendiri, "Pernah, lomba antar sekolah. Aku menang terus Lo."
"Oh.. selamat!"
Evelin memberi selamat dengan wajah di buat kagum. Namun, reaksi pemuda di depannya malah terlihat suram.
"Tapi, sekarang basket mulai jadi membosankan dan nggak menyenangkan."
"Kenapa?"
"Aku nggak tahu kenapa tapi, sejak masuk SMA, Basket udah jadi nggak seru lagi."
"Apa karena terlalu mudah menang? Atau nggak ada pemain yang bisa nandingin kamu?"
Rangga yang mendengar tebakan Evelin yang tepat, bertanya dengan penasaran, "Kok kakak bisa tau? kakak peramal ya?"
"Bukanlah. Hanya saja, Evelin pernah ketemu sama orang yang suka olahraga kaya Rangga. Dalam hal olahraga dia sangat pandai, hingga banyak orang mengagumi dan memujinya."
Evelin terdiam sejenak, sebelum dia bergumam dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar, "Termasuk aku."
"Benarkah? siapa dia? Di mana dia sekarang? Apa dia bermain basket juga? Bisakah aku bertemu dengannya?"
Evelin terkekeh mendengar pertanyaan beruntun yang di ajukan pemuda di sampingnya, "Apa kamu sangat penasaran?"
Rangga mengangguk dengan penuh semangat, "Ya!"
"Kenapa?"
"Kalau kakak yang hebat olahraga aja muji dia, pasti dia sangat hebat."
Evelin tertawa rendah, "Ya! Dia sangat hebat!"
"Jadi, apa dia juga main basket?"
"Dia memang bermain basket tapi dia lebih suka bermain sepak bola dari pada basket."
Rangga terlihat sedikit kecewa saat dia mendengar hal itu
"Begitu ya!"
"Walaupun dia lebih suka bermain sepak bola. Tapi, dia lebih jago main basket dari pada kakak."
"Sungguh? Apa aku bisa ketemu sama dia?"
Di hadapkan dengan keinginan Rangga yang penuh harap, Evelin hanya bisa menjawab dengan samar, "Entahlah, mungkin tidak?"
"Kenapa?"
Evelin menghindari tatapan Rangga dan melihat ke keluar jendela, "Yah, ada beberapa alasan."
"Kalo gitu, kasih tahu aku namanya saja."
Evelin terdiam sejenak, ragu-ragu untuk mengeluarkan suara dari bibirnya.
Dia berkata dengan lirih, "Johnathan Kendrick."
***
Seorang pria dengan pakaian kasual, berjalan di lorong yang terlihat sepi dan sunyi.
Tak ada suara apa pun yang bisa terdengar, bahkan suara hewan atau manusia.
Dia berjalan dengan santai dan tenang, dia berbelok ke kanan dan dari jauh terlihat sebuah pintu besar yang di jaga oleh kedua pria yang terlihat sepeti bodyguard di kedua sisinya.
Dia terus melangkah menuju ke pintu tersebut. Sesampainya di depan pintu, kedua bodyguard bergeser untuk membuka jalan agar pria tersebut bisa masuk dan membuka pintu.
Pria itu masuk dengan tenang, dan pintu itu pun di tutup. Setelah pintu di tutup, kedua penjaga itu saling berpandangan dan menghela nafas lega.
"Walau masih muda, tapi auranya masih menakutkan sepeti biasa."
"Awalnya ku pikir dia hanya orang bodoh yang mencoba bernegosiasi dengan ketua. Tapi, tidak di sangka ketua malah menerimanya dengan mudah."
Mereka berdua mengingat bagaimana menakutkannya pria itu saat pertama kali datang ke sini.
"Ya. Dia bahkan terlihat dalam suasana hati yang baik belakangan ini karena pria itu."
"Ngomong-ngomong kenapa pria itu datang ke sini hari ini?"
"Ah, apa kau tidak mendengar tentang rumor yang terkenal baru-baru ini?"
Pihak lain menggeleng karena dia memang tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi belakangan ini.
"Kau tahu. Sekitar satu bulan yang lalu salah satu organisasi kecil, aku tidak tahu apa namanya, tapi menurut rumor organisasi itu di hancurkan dalam semalam."
Lelaki yang mendengarkannya hanya memangsa wajah terkejut, dia bertanya dengan penasaran.
"Di hancurkan dalam semalam?"
"Ya. Saat orang yang di suruh ketua memeriksa organisasi tersebut karena tidak melapor selama tenggat waktunya. Dia menemukan mayat yang bertumpuk di ruang bawah tanah."
"Benarkah? bagaimana itu bisa terjadi?"
"Itu yang sekarang sedang di selidiki oleh ketua."
"Kenapa ketua sepertinya sangat tertarik dengan hancurnya organisasi ini. Bukannya itu hanya organisasi kecil?"
"Aku juga awalnya penasaran, karena itu aku bertanya kepada beberapa orang yang mungkin mengetahuinya, dan kau tahu apa kata mereka?"
Pria itu menggantung perkataanya yang membuat pihak lain semakin penasaran.
"Apa?" Pihak lain bertanya dengan penasaran karena pria itu tidak segera melanjutkan.
"Kau mau tahu?"
"Iya. Makanya Aku nanya."
"Bayar dulu. Kau tahu kan tidak ada yang gratis di dunia ini."
Dengan kesal, pria itu memukul kepala pihak lain.
"Mau lagi, ha!"
"Ah! Sakit! Aku cuma bercanda, tidak perlu memukul ku juga."
"Sekarang, lanjutkan!"
Dengan sedikit keluhan, pria itu melanjutkan.
"Ah, Iya.. Iya.. katanya organisasi itu di habisi dalam satu malam oleh satu orang."
"Satu orang?"
"Ya. Kau tahu kan, bahkan bawahan terbaik.. tidak.. di seluruh negeri tidak orang yang bisa melakukan itu. Jika, rumor itu benar, pasti 'orang itu' memiliki keahlian yang luar biasa.." Dia berhenti sejenak seolah berfikir, "..Dengan mempertimbangkan semua itu, ketua pasti menginginkan 'orang itu' sebagai bawahannya."
Mengganggap penjelasan rekannya telah selesai, dia mengangguk mengerti. Namun, rekannya Kembali membuka suara lagi.
"Dan juga, katanya pembantaian organisasi itu ada hubungannya dengan Winter."
"Winter yang itu?"
"Iya. Organisasi yang menjadi musuh ketua."
"Sepertinya masalah ini menjadi semakin rumit."
"Dengan otak otot mu itu, kau pasti tidak akan pernah mengerti."
Kembali di buat kesal oleh rekannya, dia selain lagi memukul kepala rekannya dengan marah.
Di dalam ruangan, terdapat dua orang yang saling berhadapan. Mereka saling menatap pihak lain dengan tenang namun mengandung rasa waspada dan intimidasi yang kuat.
Seorang pria paruh baya dengan kerutan yang terlihat jelas di wajahnya berbicara dengan suara serak seperti tenggorokannya telah di lukai pisau, "Jadi, bagaimana? Apa kau telah menemukannya?"
Pria muda yang berhadapan dengannya hanya tersenyum dengan alami, berkata dengan santai, "Tentu saja! anda tidak perlu khawatir tentang hal itu, biar saya yang mengurusnya."
Tidak ada ejekan dalam nada suaranya namun tidak ada juga rasa hormat yang terdengar.
Pria paruh baya itu hanya diam mendengar perkataan pria muda di depannya.
Dia berdiri dengan tongkat di tangan kanannya, berjalan dengan perlahan ke arah kaca.
Nadanya suaranya dingin dan tenang, tidak ada ekspresi di wajah keriputnya yang terlihat tua, meski begitu dia terlihat bermartabat dan terhormat, "Kalau begitu, akan ku serahkan masalah ini padamu. Semoga kau bisa memenuhi harapan pria tua ini, Johnathan!"
Mendengar penekanan saat dia menyebutkan namanya, pria yang di panggil Johnathan hanya tersenyum.
"Tentu saja tuan Henderson!"