
"Jika kita semua melakukan hal-hal yang mampu kita lakukan, kita akan benar-benar mengejutkan diri kita sendiri.” - Thomas Edison
Mereka berbicara sebentar dan kedua pria itu segera pergi. Evelin berdiri dan berjalan menuju kantor Deon berada.
Pelayan yang di sana juga tidak menghentikannya karena mereka sudah menerima pemberitahuan sebelumnya tentang kedatangan Evelin.
Evelin mengetuk pintu dan setelah terdengar suara dari dalam, dia segera membuka pintu dan memasuki ruangan.
Evelin melambai dengan senyum cerah di bibirnya, "Hai, Pak Boss! lama nggak ketemu.. Ah... Zombie...!"
Setelah melihat Deon dia segera berteriak kaget.
"Ah? ya. lama nggak ketemu."
Berbeda dengan Evelin yang ceria dan energik, Deon terlihat sangat lesu dan lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, wajah dan bibirnya terlihat pucat.
Evelin duduk di sofa dan kembali melirik Deon, "Ngagetin aja pak Boss, emang hari ini lagi Halloween apa? pake dandan kayak zombie segala."
Deon menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Dia tidak tahu bagaimana orang yang lembur bisa di sebut sebagai zombie.
Deon melotot yang membuat dia tambah menyeramkan, "Siapa yang kamu bilang zombie? apa kamu pikir saya punya waktu untuk hal bodoh seperti itu?"
Evelin mengangkat bahu, "Mungkin."
Melihat tatapan kesal Deon, dia segera berkata,
"Bercanda kok, cuma bercanda. Nggak usah serius gitu pak Boss. Liat tuh wajah pak Boss tambah nyeremin." Ucapnya cekikikan.
Dia meletakkan dokumen di tangannya dan menyesap kopi di cangkir. Lalu, berjalan ke sofa dan duduk berseberangan dengan Evelin.
"Pak Boss baik-baik aja?"
"Siapa yang kamu panggil pak Boss? Kamu belum di terima secara resmi di sini."
"Iya.. iya.. kau tidak perlu terlalu kaku seperti itu. Apa kau pernah dengar kalau orang yang suka marah akan cepat tua? Lihatlah kerutan di kening mu."
Evelin menunjuk kening Deon yang mengerut.
Deon berbicara dengan kesal, "Aku tidak pernah mendengarnya. Katakan kenapa kau datang ke sini? tidak mungkin hanya untuk mengejekku kan!?"
Evelin tertawa rendah, "Evelin ke sini mau ngomongin soal pekerjaan itu. Pertama-tama, Evelin udah di terima apa belum bekerja di sini?"
Deon melihat ke arah Evelin dengan tatapan serius, "Ya. Kamu sudah di terima."
"Ah baiklah. Jadi, aku punya satu syarat untuk pekerjaan ini."
"Syarat?"
Evelin mengangguk dan mengacungkan tiga jarinya, "Ya. Aku hanya akan bekerja selama tiga bulan. Tidak lebih dan tidak kurang."
Deon berseru kaget, sedikit meninggikan nada suaranya, "Apa? apa kau pikir ini pekerjaan paruh waktu? apa kau serius berkerja hanya tiga bulan?"
Evelin menghela nafas melihat reaksi yang sudah di duganya, "Aku tahu kau akan bereaksi seperti itu."
"Karena itu, aku sudah mempersiapkan ini untukmu."
Dia membuka tas dan mengambil laptop dari tas. Jarinya mengetik di keyboard hingga meniggalkan bayangan.
Deon hanya diam saja melihat Evelin. Ini pertama kalinya dia melihat orang yang mengetik di keyboard dengan begitu cepat dan lincah.
Dia sudah melihat rekaman bagaimana Evelin menyelesaikan misinya dan bagaimana dia berhasil meretas kamera keamanan sebelum melakukan aksinya.
"Lihatlah." Ucapnya menyerahkan laptop kepada Deon.
Itu semua adalah informasi tentang organisasi mereka. Anggota mereka, pekerjaan yang mereka lakukan, letak markas mereka, dan hal lainnya di perlihatkan secara terperinci di dalam laptop tersebut.
Evelin tersenyum, "Kau tahu, aku pandai menggunakan komputer."
Deon menghembuskan nafas dengan frustasi, "Baiklah. Aku bisa saja menyetujuinya namun aku tetap harus berbicara dengan Boss dulu."
Evelin mengambil laptop, memasukkannya ke dalam tas, "Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi."
"Hanya itu?"
Dia melihat Deon dan tersenyum, "Ya. Aku tidak ingin menunda pekerjaanmu lagi."
Dia berbicara dengan bercanda, "Kau tahu, menunda pekerjaan itu tidak baik. Lebih baik kau menyelesaikannya secepat mungkin, lalu memeriksa wajahmu agar tidak ada yang lari setelah melihatmu."
Deon berbicara dengan kesal, melambaikan tangannya untuk mengusir Evelin, "Kau benar, karena itu lebih baik kau pergi sekarang juga sebelum aku memakan mu."
Evelin tertawa mendengar ucapan Deon dan segera meninggalkan ruangan itu.
Deon menghela nafas melihat kepergian Evelin, "Huft.. Kenapa anak jaman sekarang tidak ada yang beres. Bahkan dengan orang yang lebih tua tidak bersikap dengan hormat. Apa mereka tidak tahu mengejek orang yang lebih tua itu tidak sopan?"
Dia berjalan dan melihat ke tumpukan kertas di atas meja.
"Ini juga, kenapa Boss tega sekali memberi banyak pekerjaan untukku. Apa dia tidak punya hati nurani? Apa dia pikir aku ini robot yang bisa mengerjakan semua pekerjaan dengan mudah dan tanpa makan? Dasar iblis!!!" Teriaknya frustasi.
Evelin tertawa mendengar teriakan Deon, sepertinya Boss nya seorang tiran.
***
Evelin menekan tombol lift, pintu lift perlahan tertutup, dia melihat-lihat ponselnya. Saat ini tidak ada orang di alam lift dan Evelin hanya sendirian.
Dia sekarang akan pergi ke apartemennya, karena dia harus mengurus sesuatu. Jika, ditanya apa orang tuanya tidak khawatir karena dia jarang pulang. Maka jawabannya adalah tidak.
Orang tua dan kakak Evelin sudah tahu kalau dia membeli apartemen dan sering kembali ke sana.
Jadi, mereka tidak melarang Evelin jika ingin ke sana. Namun, mereka tidak menyetujui jika Evelin tinggal di sana. Jika hanya sesekali tak apa, tapi jika Evelin benar-benar ingin tinggal dan menetap di sana, mereka sangat tidak menyetujuinya.
Saat Evelin menanyakan alasannya, mereka dengan lihai menjawab.
James: "Keamanan di sana tidak bagus, bagaimana jika ada yang masuk ke apartemen kamu saat kamu tidak ada di sana? kamu tidak tahu bagaimana jahatnya orang-orang di luar sana itu."
Reyhan: "Ya. lebih baik kau tinggal di mansion yang di jaga dengan ketat, bahkan seekor nyamuk pun tidak akan bisa masuk tanpa izin."
Selia: "Kakak sama ayah kamu benar nak. Apalagi kamu ini perempuan, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu saat kami tidak bersamamu? ibu juga ingin menghabiskan waktu bersama dengan kamu, karena kita dulu tidak sering menghabiskan waktu bersama."
Evelin hanya diam saja, dia sebenarnya juga tidak benar-benar akan menetap di sana. Jadi, dia juga tidak masalah dengan itu.
Dan sepertinya jika dia bersikeras ingin tinggal di sana. Mereka akan menemukan berbagai alasan untuk melarangnya, walau dia bisa saja membujuk mereka, tapi dia malas beradu argumen untuk hal yang tidak penting.
Namun, entah kenapa dia selalu merasa jika keluarganya terlalu overprotektif terhadapnya atau hanya perasaannya saja?
Tenggelam dalam pikirannya, Evelin tidak terlalu memperhatikan sekitar. Dia keluar dari lift saat pintu lift terbuka, terus berjalan dengan tidak fokus.
Dengan suara 'bruk' Evelin sedikit terhuyung ke belakang. Sepertinya dia menabrak seseorang karena tidak fokus.
"Maaf.. aku tidak sengaja." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Bersamaan dengan permintaan maafnya, suara yang rendah dan dalam terdengar, yang membuat Evelin segera mendongak.
"Kamu baik-baik saja?"