
"Pada awalnya, cinta itu bisa melihat. Tapi, menjadi buta karena masuk ke dalam hati yang paling dalam." - Pidi Baiq
Sebelum Reyhan menjawab, reaksi Elliot berikutnya telah menjawab pertanyaan Evelin.
Elliot berkata dengan dingin dan tajam, "Itu bukan urusan kamu."
Tidak menyerah, Fiola berbicara dengan nada sedih, mencoba memegang tangan Elliot, "Tapi, aku kan suka sama kakak. kakak kok tega sih sama aku."
Namun, sebelum tangan Fiola bisa menyentuh tangan Elliot, Elliot sudah menepis tangan Fiola dengan keras.
Matanya menyipit, suaranya rendah namun tajam yang memberikan rasa intimidasi yang kuat, "Itu bukan urusan saya, dan jangan pernah mencoba menyentuh saya lagi jika kamu tidak ingin terluka!"
Evelin menutup mulutnya, pasti gadis itu sangat malu sekarang. Evelin bisa melihat tangan gadis itu yang mengepal dan sudut bibirnya yang mengerut.
Tapi, gadis itu masih tersenyum, "Kakak kok gitu sih, Om Rendi aja udah setuju kalo kita pacaran."
Elliot melirik gadis di depannya dengan dingin, gadis di depannya ini sungguh sangat menyebalkan. Dia sudah mengejar-ngejar Elliot sejak dia masuk ke SMA ini.
"Jangan sebut-sebut ayah saya!"
Evelin melihat interaksi kedua orang di depannya, sekali lihat saja siapa pun akan tahu, kalau itu adalah cinta sepihak.
Ah, bahkan itu tidak bisa di sebut cinta. Dia tidak tahu dengan orang lain, tapi dia bisa melihat kalau gadis bernama Fiola ini, sama sekali tidak mencintai Elliot.
Jika di tanya alasan dia mengejar Elliot, itu mungkin karena hartanya.
omong-omong setelah di lihat lagi, Sepertinya gadis di depannya adalah salah seorang yang termasuk dalam peran pendukung dalam novel.
Fiola Amaira, gadis yang sombong dan egois, dia menjadi batu loncatan bagi pemeran utama wanita untuk memperkuat hubungannya dengan pemeran utama pria.
Jika Evelin bisa di bilang antagonis besar dalam novel, maka gadis ini adalah antagonis kecil di dalam novel.
Di dalam novel, di ceritakan kalau Fiola sudah mengejar pemeran utama pria sejak dia melihatnya saat masuk SMA dan saat pemeran utama pria menunjukkan ketertarikannya kepada pemeran utama wanita, dia mulai menggangu pemeran utama wanita dengan berbagai cara.
Yah, seperti gadis egois lainnya. Namun, sekarang gadis itu bukannya mengejar pemeran utama pria, dia malah mengejar Elliot.
Evelin sudah memastikan keberadaan pemeran utama pria di sekolah ini, dia menjadi ketua OSIS dan seangkatan dengannya.
Dan Evelin juga sudah memastikan keberadaan pemeran utama wanita yang kini masih di sekolah lain.
Dan Elliot bukanlah tokoh dalam novel, yang berarti dia adalah variabel yang tidak terduga atau itu karena efek kupu-kupu dari perubahan sikap Evelin.
Apa pun itu, yang pasti adalah alur novelnya sudah kacau bahkan sebelum di mulai.
"Kak Elliot!"
"Pergi! nggak usah ganggu gue!"
Evelin sedikit tersentak saat mendengar teriakan di sebelahnya, sepertinya dia tenggelam dalam pikirannya.
Evelin bangkit, memegang tangan Fiola yang berusaha menyentuh Elliot.
Dai tersenyum namun matanya mengandung ancaman dan intimidasi yang kuat. Entah kenapa, dia meras sedikit terganggu dan kesal dengan gadis di depannya.
"Tolong pergi sekarang juga! apakah kamu tidak mendengar yang di katakan kak Elliot. Dia tidak ingin di ganggu, dan jangan mencoba menyentuhnya lagi."
Evelin melepaskan tangan Fiola. Tempat yang di genggam Evelin, memerah hingga cetakan tangan terbentuk di sana.
Evelin memperhatikannya, keningnya mengerut, 'Ah, Kayaknya gue tanpa sadar mencengkram terlalu kuat. Entah cuma perasaan gue atau nggak, kayaknya pengendalian diri gue makin buruk dari sebelumnya. Gue harus lebih hati-hati lain kali.'
"Siapa Lo ngelarang-larang gue. Gue itu suka sama kak Elliot, dan ayah kak Elliot juga setuju kalo gue pacaran sama kak Elliot. Jadi, lo nggak berhak ngomong kayak gitu."
Inilah kenapa dia tidak suka terlibat dengan remaja labil, mereka tidak bisa di ajak bicara baik-baik dan suka melawan lebih keras.
Evelin mendekat, berbicara tepat di telinga Fiola, suaranya dingin, "Lo tau, gue nggak suka kekerasan, tapi kalau emang harus, gue bakal pakai kekerasan. Tapi sebelum itu, gue akan ingatkan lo untuk berpikir lagi sebelum bertindak."
Dia meletakkan tangannya di bahu Fiona, memasukkan sedikit kekuatan di dalamnya hingga Fiona sedikit meringis, "Gue bisa kirim Video pembullyan dan kekerasan yang Lo lakuin ke sekolah, biar Lo di keluarin dari sekolah. Bahkan ayah Lo nggak bakal bisa nutupin semua perbuatan Lo."
Dia menjauh, melepaskan tangannya dan tersenyum cerah, "Jadi, lebih baik Fiola pikirin dulu ya!"
Fiola mengepalkan tangannya dengan kuat, berbicara dengan marah, "Awas aja Lo ya! gue nggak bakal tinggal diem. Awas Lo!"
Evelin melambai ke arah Fiola yang pergi dengan marah, senyum cerah di wajahnya tidak pernah hilang sedetik pun.
Dia melihat sekeliling, orang-orang yang memperhatikan mereka segera mengalihkan pandangan mereka saat bertemu mata Evelin.
Sepertinya secara tidak sengaja Evelin telah membuat bahan gosip baru untuk mereka.
Rian tertawa dan bertepuk tangan,"Hebat banget Lo bisa ngusir tu lalat, emang Lo bilang apa ke dia?"
Evelin tersenyum, memberi isyarat agar Rian mendekat, dia berbicara di telinga Rian dengan pelan, "Rahasia."
Evelin menjauh dan tertawa keras, sedangkan Rian menjauh dengan wajah masam.
Elliot mengelus kepala Evelin, berbicara dengan lembut, "Makasih."
Evelin tersenyum ceria, matanya melengkung, "Buat apa? Evelin cuman nggak suka lihat dia, makanya Evelin usir."
Evelin tidak berbohong, dia memang tidak menyukai gadis itu, yang dengan sengaja menggoda dan merayu Elliot. Dia tahu kalau dia bukan siapa-siapa Elliot, namun jauh di lubuk hatinya, perasaan yang telah lama di pendam perlahan mulai keluar.
Elliot hanya mengangguk, tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekarang dia semakin menginginkan gadis dia sebelahnya.
Dia sangat senang karena perlakuan gadis itu, dia merasa gadis itu cemburu saat gadis lain mendekatinya. Bahkan jika itu hanya khayalannya saja, dia tidak peduli.
Yang terpenting adalah bahwa dia ingin memilikinya. Untuk sekarang, dia akan mendekati gadis itu perlahan-lahan agar dia tidak kabur dan lari darinya.
Namun, jika cara itu tidak bisa dan gadis itu masih lari darinya. Maka, dia akan menangkapnya dan mengikatnya di sisinya agar gadis itu tidak bisa lari darinya.
Dia akan membuat gadis itu mencintainya, jika tidak bisa menggunakan cara yang lembut maka dia akan menggunakan cara yang paksa.
Dia tidak akan membiarkan orang lain merebut gadis itu darinya. Jika ada yang menggangu atau menghalangi jalannya, dia akan menghilangkan orang tersebut dari dunia ini.
Tidak ada yang bisa merebut atau menyentuh miliknya darinya.
Evelin menepuk bahu Elliot dan sedikit meninggikan suaranya, "Kak Elliot!"
Elliot menoleh, berbicara dengan suara lembut dan dalam, "Ada apa?"
Evelin hanya menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa, cuma tadi Evelin manggil kak Elliot nggak jawab."
Dia melanjutkan, "Kakak kenapa ngelamun?"
Elliot hanya menggeleng, "Nggak papa."
Evelin tidak berbicara lagi dan fokus pada makanan di depannya.
Elliot melihat gadis di depannya, matanya menggelap
Apa pun yang terjadi, gadis ini harus menjadi miliknya!