
"Orang menangis bukan karena mereka lemah. Tapi, mereka menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama." - Johnny Depp.
Evelin merawat Elliot dengan teliti, dia tidak tahu apa penyakit Elliot. Tapi, dari apa yang di katakan Elliot.
Itu adalah penyakit yang datang secara berkala, dia sudah memeriksa ke dokter. Tapi, dokter bahkan tidak tahu apa penyakitnya
Sejauh ini, itu bukan penyakit yang membuat nyawanya terancam. Jadi, Elliot tidak terlalu memikirkannya.
"Ngomong-ngomong.. kakak kenapa di apartemen? bukannya di rumah kakak? apalagi di sini kan nggak ada orang yang jagain kakak."
Elliot yang mendengarnya terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan pelan, "Nggak papa, kakak cuma mau di sini aja."
Evelin memperhatikan Elliot, dari ekspresi Elliot Evelin tahu kalau dia tidak ingin membicarakannya, jadi dia tidak bertanya lagi.
Evelin tersenyum, "Kakak udah makan?"
Elliot menggeleng, "Belum, aku lupa."
Evelin mengerutkan bibirnya, dia berkata dengan nada khawatir, "Makan itu juga penting buat kesembuhan, kalo kakak tidur dengan perut kosong nanti malah tambah sakit loh. Biar stamina kakak bisa stabil, kakak harus makan."
Evelin berdiri, "Kalo gitu biar Evelin masakin buat kakak. Hmm.. karena kakak masih sakit, aku buatin bubur ya?'
Elliot hanya mengangguk, dia menyingkirkan selimut yang segera di hentikan oleh Evelin.
"Kakak di sini aja istirahat!"
Dia menekan bahu Elliot agar dia berbaring dan menarik selimut hingga lehernya.
"Aku buatin bubur dulu, pokoknya kakak nggak boleh turun dari tempat tidur!"
Elliot mengangguk dan Evelin segera pergi, dia berjalan menuju dapur. Setibanya di dapur, dia dengan cepat mengambil bahan dan alat yang di butuhkan dan mulai memasak bubur dengan teliti.
Setelah dua puluh menit kemudian, bubur yang di masak Evelin sudah siap. Dia mengambil mangkok, lalu memasukkan bubur ke dalamnya.
Dia menaruh mangkok di atas nampan beserta air putih. Setelahnya, dia berjalan dengan nampan di tangannya menuju kamar Elliot.
Dia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, "Kak! buburnya udah siap."
Dia melangkah semakin dekat ke arah Elliot, melihat tidak ada gerakan, dia melihat ke arah kasur dan mendapati Elliot yang sudah tertidur dan meletakkan nampan di atas nakas.
Dia kembali melihat ke arah Elliot, ragu-ragu ingin membangunkannya atau tidak.
Evelin duduk di tepi kasur, memperhatikan wajah Elliot yang terlihat tenang. Dia membungkuk dan mendekatkan telinganya ke arah dada Elliot.
Mendengar suara detak jantung yang perlahan dan stabil, dia menghela nafas lega dan menegakkan tubuhnya sehingga dia kembali duduk.
Evelin kembali memperhatikan wajah tidur Elliot, dia menatapnya dengan tatapan yang rumit, berbagai emosi bergejolak di dalam dirinya.
'Apa ini kamu El?'
Dia mengangkat tangannya, dengan perlahan dan hati-hati menjulurkan tangannya ke arah Elliot. Dia ragu-ragu sebelum dengan perlahan menyentuh pipi Elliot.
'Aku berharap ini kamu, tapi sisi lain diriku juga menolak gagasan itu.'
Tangannya bergerak ke atas, dengan perlahan menyentuh rambut Elliot yang ada di dahinya, dia menyingkirkan helaian rambut yang menutupinya.
'Jika itu benar kamu, kenapa kamu tidak mengingatku?'
Perlahan sebuah genangan air mata terbentuk di matanya, dia mengingat bibirnya dengan kuat.
Sebuah tetesan air mata lolos dari matanya, turun ke bawah dengan cepat dan jatuh ke pipi Elliot.
'Aku tidak bisa memaafkan mu.'
'Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.'
Dia dengan perlahan menjauhkan tangannya dari Elliot.
Dengan susah payah dia mengeluarkan suaranya, suara yang terdengar serak dan menyakitkan, dia berusaha dengan keras untuk mengucapkan kata yang selalu di pendam nya, "Aku merindukan mu."
Dia mendudukkan dirinya di lantai, tangannya menggenggam tangan tangan Elliot yang terletak di atas selimut.
Air matanya perlahan namun pasti dengan cepat keluar dengan cepat. Dia tidak bisa aja matanya namun dia dengan keras kepala menahan suara isak tangisnya dengan mengingat bibirnya.
'Walau ini bukan dirimu, aku akan tetap melindungi mu dan menjagamu.'
'Tiga bulan.'
Evelin mempererat genggaman ya di tangan Elliot, lalu mengangkat dan menempelkan dahinya di tangannya.
'Aku akan berada di sisimu selama tiga bulan.'
Evelin mengangkat kepalanya, melihat ke arah Elliot, walau air matanya masih menetes. Bibirnya perlahan menarik segaris senyum indah, dia berkata dengan perlahan namun penuh dengan tekad, "Kali ini, aku yang akan melindungi mu!"
Tak apa meski dia salah orang, tak apa meski orang di depannya bukanlah orang yang sama lagi. Tak apa meski dia tidak mengingatnya.
Hanya saja kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya terluka lagi, meski harus mempertaruhkan nyawanya sekali pun.
Dengan pemikiran seperti itu, dia terus menggenggam tangan Elliot dan melihatnya untuk waktu yang lama, sebelum dengan perlahan menutup matanya dan masuk ke dalam dunia mimpi.
Semuanya sangat sunyi di kamar yang luas itu, gorden beterbangan karena di tiup angin, suara nafas yang stabil dan pelan, jarum jam yang berdetak saat bergerak, sungguh suasana yang damai.
Di atas kasur, sepasang mata yang indah perlahan terbuka, dia melirik ke tepi kasur tempat di mana gadis cantik itu berada, memastikan pihak lain tertidur dengan nyenyak.
Dia dengan perlahan bangkit dari tidurnya agar tidak membangunkan gadis di depannya.
Elliot melihat ke arah tangannya yang di genggam. Lalu melihat ke arah gadis yang tertidur nyenyak.
Dia berbicara dengan sangat pelan namun jelas agar tidak membangunkan gadis di depannya, "Apa maksudmu?"
Dia adalah orang yang sensitif, jadi jika ada orang yang mendekat padanya bahkan saat dia tertidur, dia akan segera menyadarinya.
Karena itu, dia sudah sadar saat Evelin mendekat padanya dan duduk di atas kasur. Namun, dia tidak membuka matanya, karena dia ingin tahu, apa yang akan di lakukan gadis itu.
Tapi, semua itu di luar dugaannya. Air mata menetes darinya, ucapan yang tidak dia mengerti dan tindakan gadis di depannya.
Dia bingung, kenapa gadis itu menangis dan mengatakan hak-hal aneh tersebut?
Dia memang mulai tertarik pada gadis itu, tapi mereka baru mulai berbicara sekarang dan bahkan saat mereka bertemu bisa di hitung dengan jari.
Tapi, gadis itu yang mengatakan kalau dia merindukannya terdengar sangat nyata. Dia bisa merasakan kerinduan yang besar dari perkataannya.
Pertanyaannya adalah kenapa gadis yang bahkan tidak pernah berhubungan dengannya sebelumnya mengatakan hal itu kepadanya?
Dia tiba-tiba teringat dengan ucapan Evelin pada malam itu yang mengatakan, 'Lagipula kau bukan dia.'
Sebuah pemikiran yang sangat tidak dia sukai melintas di kepalanya, dia mengerutkan bibirnya dan menatap gadis di depannya, 'Apa kau menganggap ku sebagai orang lain?'