The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Malapetaka



"Bagaimanapun - hidup adalah mati.' - Priyanshu Singh


“Wah.. pemandangannya indah banget!”


Di bawah cahaya rembulan, sebuah kota dengan gedung-gedung tinggi terlihat. Cahaya dari gedung yang terlihat kecil tersebut seperti melihat ribuan kunang-kunang di langit malam.


Dia bersyukur memutuskan untuk naik bianglala sebelum mereka pergi.


“Lihat kak! Cantik banget, kan?! Evelin seneng bisa liat ini.”


“Ya.”


Elliot tersenyum saat melihat betapa senangnya Evelin hanya dengan hal seperti ini. Sebenarnya, dia berniat untuk pulang karena kejadian tadi. Tapi, Evelin mengatakan kalau dia baik-baik aja dan ingin menaiki bianglala sebelum pulang.


“Kak!”


Elliot menjawab dengan lembut saat Evelin memanggilnya.


“Hemm.. kenapa?”


Evelin tersenyum tulus, “Makasih udah nyelamatin Evelin tadi, dan maaf.. karena kakak harus berantem gara-gara Evelin.”


“Itu bukan masalah besar, jika kau kenapa-kenapa maka aku akan di marahi Reyhan nanti. Lagi pula akulah yang mengajakmu ke sini, jadi aku harus bertanggung jawab untuk melindungi mu.


“Makasih udah ngajak Evelin ke sini.”


Elliot mengusap kepala Evelin dan tertawa rendah, “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”


“Tidak ada.”


Evelin hanya diam saat Elliot mengacak dengan gemas. Dia sungguh sangat berterima kasih kepada Elliot. Jika, Elliot tidak datang tadi entah apa yang akan dia lakukan.


Dalam waktu singkat tadi, pikirannya menjadi kosong dan jika Elliot tidak datang, maka pria tadi mungkin sudah kehilangan nyawanya.


Dalam hatinya dia bisa menebak apa yang terjadi, tapi dia masih tidak bisa mengakuinya. Dia harus memeriksanya nanti saat mereka pulang.


***


Evelin memasuki rumah sambil melihat sekeliling, sepertinya para penghuni rumah sudah jatuh ke dalam mimpi.


Dia berjalan dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya, sesampainya di kamar dia segera menutup pintu dengan perlahan namun cepat.


Dia menyeret kakinya dengan susah payah, tiba-tiba dia merasa setiap langkah yang dia ambil terasa sangat berat dan menyakitkan. Seolah-olah pergelangan kakinya di rantai dan dipaksa untuk menginjak ribuan paku yang tajam.


'Ini pasti hanya khayalanku saja. Benar! aku pasti hanya salah mengira.'


Perlahan namun pasti dia sampai di depan cermin besar yang memperlihatkan siluet dirinya.


Dia meletakkan telapak tangannya di depan cermin, perlahan mendekat hingga dia bisa melihat gambaran wajahnya dengan jelas.


'Tidak apa-apa! itu pasti tidak ada.'


Dia membalikkan tubuhnya hingga membelakangi cermin, lalu dengan perlahan membuka bajunya.


Dia menarik nafas, lalu menghembuskan nafas, hal itu dia lakukan beberapa kali. Matanya terkulai dengan murung.


Perasaanya sangat rumit saat ini, dia hanya perlu memastikan satu hal. Namun, satu hal tersebut mungkin akan merubah seluruh hidupnya.


Matanya dengan perlahan melirik ke arah cermin dengan penuh antisipasi. Segera setelahnya matanya membulat, pupil matanya bergetar, kakinya tiba-tiba menjadi lemas seperti sebuah jelly. Tidak bisa menahan beratnya lagi, dia jatuh terduduk di lantai.


"Ugh..! bagaimana ini?"


"Bagaimana mungkin.. bisa seperti ini..?"


Mereka terlihat seperti kelopak bunga, bentuknya kecil seperti persegi panjang, yang didominasi dengan warnah merah pekat seperti darah.


Beberapa orang mungkin mengira kalau itu sebuah tato, dan yang lain mungkin mengira kalau itu hanyalah beberapa bekas luka biasa. Namun, bagi Evelin itu bukanlah hal yang biasa melainkan sebuah 'malapetaka'. Itu adalah bunga Red Spider Lily yang melambangkan kematian.


"Ughhh.."


Tanpa persetujuannya, genangan air mata mulai terbentuk di pupil nya. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dengan cara mendongak.


Namun, usahanya gagal hanya dengan satu kedipan mata. Air matanya meluncur melewati pipinya yang mulus, jatuh mengenai pakaiannya hingga membentuk jejak. Dari satu tetesan menjadi dua tetesan, dari dua tetesan menjadi beberapa tetesan, hingga menjadi sebuah derai air mata.


'Kenapa..?'


Dia memang berfikir kalau dia tidak akan bisa tinggal lama di dunia ini, dan dia sudah berusaha menerima hal tersebut. Dia bahkan harus bertemu dengan orang yang membuat hatinya sakit.


Namun, seolah belum cukup dengan semua hal tersebut. Takdir memberinya 'malapetaka' yang dia pikir sudah hilang. Tidak..! Mungkin harus di katakan kalau takdir hanya mengembalikan 'malapetaka' kepadanya..?


Dia sekarang menempati tubuh orang lain, dia sudah berfikir untuk menjaga tubuh ini. Karena dia telah melukai tubuh ini beberapa kali.


Dia tidak ingin melukai tubuh yang di pinjamkan padanya lagi. Apalagi, tubuh ini memiliki sebuah keluarga, dia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga tubuh ini sampai saat dia 'menghilang'.


Tapi, jangankan menjaganya dia malah membawa 'malapetaka' ke tubuh ini.


"..ugh..”


Evelin berkata kepada dirinya sendiri, kamu tidak bisa menangis, kamu tidak bisa lemah, jangan pernah mengulangi tragedi di kehidupan sebelumnya. Tidak peduli apa yang terjadi, dia tetap orang yang berharga baginya, bahkan jika dia tidak akan pernah mengingatnya lagi.


Bagaimanapun, dia harus menjaga kekasihnya.


Jadi, bagaimana bisa hal seperti ini membuatnya lemah?


Tepat saat dia berusaha menguatkan hati dan pikirannya, rasa sakit yang mengerikan menghantam kepalanya. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kepalanya lalu berusaha untuk memasuki bagian dalam dari kepalanya.


Dia mengerang kesakitan, dia sudah seringkali menerima luka yang lebih parah dari ini. Bahkan dia sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia hampir bertemu malaikat maut.


Namun, meski dia sudah terbiasa menerima luka tersebut. Bukan berarti dia tidak merasakan sakit sama sekali.


Kepalanya rasanya ingin pecah, rasanya sangat sakit. Dia lebih baik menusuk jantungnya dan mati daripada harus merasakan sakit.


Kedua tangannya meremas rambutnya hingga beberapa helai rambutnya rontok tanpa dia sadari.


Sebagai seorang pembunuh, rasa sakit sudah menjadi santapannya setiap hari. Bahkan, bekas luka sudah hampir memenuhi tubuhnya.


Dia terbiasa dengan konsep menghilangkan racun dengan racun. Jadi, jika dia terkadang menerima rasa sakit yang tidak bisa dia tahan. Dia akan melukai dirinya sendiri untuk mengalihkan rasa sakitnya.


Seperti yang selalu dia lakukan dulu. Tapi, sekarang dia tidak bisa melakukan hal itu lagi.


Dia tidak bisa dan tidak ingin melukai tubuh ini. Itu tidak akan menjadi masalah jika itu adalah tubuhnya, bahkan jika itu penuh dengan bekas luka atau hancur, dia tidak akan terlalu memedulikannya.


Namun, beda lagi ceritanya jika itu tubuh orang lain. Itu bukanlah miliknya dan dia tidak bisa dengan sesuka hati memperlakukannya.


Dalam upaya menahan rasa sakit di kepalanya, dia kehilangan kesadaran dalam prosesnya dan jatuh terbaring di lantai yang dingin.


kehidupan yang tenang dan damai mungkin sudah menjadi keseharian bagi sebagian orang dan bagi yang lain mungkin itu adalah hal yang hanya bisa mereka impikan.


Dan Evelin termasuk ke dalam kelompok terakhir, kehidupan yang tenang dan damai adalah hal berharga yang sangat ingin dia dapatkan.


Namun, bagi dirinya yang selalu dekat dengan kematian. Sebuah kehidupan yang damai dan tenang akan selalu menjadi impian semata.