
"Kita tidak tertawa karena kita bahagia. Kita bahagia karena kita tertawa." - William James.
Sore hari adalah waktu yang sibuk, Evelin berjalan sambil terkadang menendang kerikil di jalan. Dia berhenti sejenak dan melihat pemandangan di depannya di mana banyak orang berlalu lalang.
Terkadang ada sekumpulan anak sekolah yang berjalan dengan temannya sambil tertawa riang. Di sisi lain, ada pekerja kantoran yang berjalan dengan letih dan mengeluh tentang pekerjaan.
Lalu, ada sepasang kekasih yang menunjukkan interaksi yang mesra. Di belakangnya, ada sebuah keluarga harmonis yang di iringi tawa anak kecil.
Cerita Valentine adalah sebuah tragedi
Dia tahu itu, dia sangat mengetahui tentang hal itu. Tapi, tidak bisakah dia berharap sedikit? Karena rasanya dia akan hancur jika dia tidak melakukan itu.
Dia mengangkat pandangannya, sebuah jalan yang ramai kembali terlihat.
'Apa yang kau pikirkan? bukankah kau sudah berjanji akan melindunginya dan pergi?'
Dia tertawa rendah dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya, "Sepertinya karena terbiasa dengan kehidupan damai ini, aku menjadi lebih bodoh dari biasanya."
Tidak ada yang namanya harapan, dia pernah memiliki yang namanya harapan dan akhirnya itu hancur menjadi serpihan kaca. Jangan menaruh harapanmu kepada siapa pun atau apa pun karena jika harapanmu tidak terpenuhi, hanya kaulah yang akan hancur di akhir.
Saat tubuhnya di rasa sedikit berguncang, dia mendengar seruan dari depannya.
"Hei! Evelin!! Apa kamu baik-baik aja?"
Dia mendongak untuk melihat orang didepannya yang lebih tinggi darinya, dia tersenyum sesaat setelah melihat siapa orang di depannya.
Orang yang menjadi penyebab kacaunya pikirannya, orang yang menjadi penyebab tumbuhnya harapan dalam dirinya, kini ada di depannya.
"Ya. Evelin baik-baik aja kok. Kak Elliot kenapa ada di sini?"
Elliot melihat gadis manis di depannya yang tersenyum seperti biasanya, dia sebenarnya akan pergi menemui Deon. Namun, dalam perjalanan dia ke sana tanpa sengaja dia melihat gadis ini yang terdiam di jalan seperti membeku.
Takut gadis ini kenapa-kenapa dia langsung bergegas ke sini dan mendapati kalau gadis itu sedang melamun.
"Kakak ada urusan di sekitar sini."
"Benarkah? Evelin nggak papa kok, jadi Kak Elliot nggak usah khawatir. Ini juga mau pulang."
Tidak mendapat reaksi dari pria di depannya, dia kembali berbicara, "Kalau gitu Evelin pergi dulu, ya!"
Dia melepaskan tangan Elliot yang mengenakan tangannya dan melangkah pergi menjauh.
Setelah tiga langkah dia berjalan, tangannya di genggam kembali dari belakang hingga menghentikan pergerakannya.
"Ada apa kak?"
Elliot juga tidak tahu kenapa dia mengehentikan Evelin, dia hanya merasa kalau dia harus melakukan itu. Jadi, dia berbicara dengan agak ragu.
"Kamu mau ikut kakak?"
"Apa?!"
Dia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, "Kemana?"
"Kamu liat aja nanti."
Dia hanya diam saat Elliot membawanya ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Evelin sebenarnya tidak berniat langsung kembali ke rumah, dia berniat untuk berjalan-jalan di jalan sebentar untuk menjernihkan pikirannya. Karena itu, saat Elliot mengajaknya dia hanya setuju saja.
Sebab, dia juga tidak tahu harus kemana sekarang dalam kondisi seperti ini.
Evelin melihat pemandangan di luar jendela, di mana hari menjadi semakin gelap. Lampu-lampu di pinggir jalan di hidupkan satu per satu, beberapa pedagang mulai bersiap untuk menyimpan dagangannya, sedangkan yang lain bersiap untuk membuka tokonya.
Tenggelam dalam pikirannya, dia tidak menyadari saat mobil berhenti.
"Ayo turun!"
Elliot membuka pintu mobil untuk Evelin dan mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Evelin dengan wajah sedikit kaget.
Evelin menoleh melihat ke arah Elliot yang berdiri di sampingnya, tangan mereka berdua saling bertaut satu sama lain.
"Ya. Apa kau suka?"
Elliot tidak pernah berpacaran apalagi berjalan bersama dengan seorang perempuan. Jadi, dia tidak tahu tempat yang bagus untuk mengajak jalan Evelin.
Melihat nada antisipasi Elliot, Evelin sedikit tersenyum berpikir kalau pria canggung di depannya sangat lucu.
"Ya. Evelin suka banget."
Elliot segera bernafas lega setelah mendengar hal tersebut.
"Ayo cepat masuk kak!"
Elliot dengan patuh mengikuti di belakang Evelin saat dia menariknya menuju pasar malam.
Mereka membeli tiket dan segera masuk ke sana. Seperti anak kecil, Evelin menyeret Elliot ke seluruh tempat.
Mereka pergi ke salah satu stand, di mana Elliot Menang dengan mudah lalu mendapatkan boneka berukuran besar.
Di lain waktu, mereka pergi ke stand lain di mana Evelin memenangkan beberapa buah botol minuman.
Setelahnya, mereka pergi ke pedagang aksesoris di mana Evelin membeli bando dengan telinga kelinci untuknya dan bando macan tutul untuk Elliot.
Evelin sangat bersenang-senang, dia bahkan tidak lagi memikirkan hal yang membuat pikirannya kacau sebelumnya.
Elliot tidak masalah walaupun Evelin menyeretnya ke seluruh tempat, dia dengan patuh mengikuti dan bermain dengannya.
Tanpa sadar segaris senyum tipis terbentuk di wajah datarnya saat melihat Evelin yang tertawa dengan gembira.
Evelin duduk di bangku yang kosong dengan beberapa tumpukan barang di sisinya.
"Apa kamu ingin minum atau makan sesuatu?"
Elliot berlutut di depan Evelin, dia sedikit mengangkat pandangannya untuk melihat gadis di depannya yang sedang memeluk boneka dengan senyum sumringah.
"Ah.. Emm.. Ah itu.." dia menunjuk ke salah satu pedagang di mana ada beberapa anak kecil di sana, "..Gulali, beliin Evelin gulali."
Elliot melihat ke arah penjual yang di kelilingi oleh beberapa anak kecil, "Cuma itu? Apa kamu nggak lapar? kamu belum makan dari tadi sore kan?!"
Evelin mengangguk,"Ya. Evelin mau itu dulu, nanti aja makan malamnya, ya?"
Elliot mengangguk pasrah, bukannya dia tidak ingin membelikan gulali untuknya. Hanya saja, Evelin belum makan apa pun dari tadi karena terlalu asik bermain.
"Kakak beliin itu dulu, kamu tunggu di sini ya!"
Evelin mengangguk dengan senang.
Masih sedikit khawatir meniggalkan Evelin sendirian, dia kembali berbicara dengan nada peringatan, "Jangan kemana-mana! Kamu harus tunggu di sini sampai kakak kembali! Kalo ada apa-apa kamu cepat panggil kakak! Mengerti?!"
Evelin merasa kalau Elliot menganggapnya seperti anak kecil yang suka berkeliaran dan akan hilang jika di tinggal. Mendapati hal tersebut dia sedikit tertawa.
"Iya kak, jangan khawatir! Evelin nggak bakalan kemana-mana kok. Janji!"
Dia mengeluarkan jari kelingkingnya dan menyodorkannya di depan Elliot.
Elliot tanpa sadar tersenyum, menautkan jari kelingkingnya dengan jari Evelin dan menepuk kepala Evelin sebelum melangkah pergi dengan sedikit peringatan.
"Kalau gitu, Kakak pergi dulu. Tunggu kakak di sini dan jangan kemana-mana."
"Iya kak, sana cepat."
Evelin melambaikan tangannya, ke arah di mana Elliot pergi. Lalu, kembali memeluk boneka dalam dekapannya dengan erat.
'Sangat menyenangkan~.'