The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Film Hantu



"Jalani hidup sepenuhnya, dan fokuslah pada hal yang positif." - Matt Cameron


Daffa yang mendengar hal itu, segera menggelengkan kepala dengan kuat, berbicara dengan gelisah dan cemas, "Nggak usah, Boss nggak usah repot-repot. Gue bisa obatin sendiri."


Tidak mendengarkan Penolakan Daffa, Elliot mengambil obat dan mendekati Daffa, meletakkan kapas di atas luka Daffa sambil berkata dengan tajam, "Diam!"


Daffa segera menutup mulutnya, Membatin dengan sedih, 'Salah apa gue sampe harus di siksa kayak gini!'


Rian yang melihatnya hanya diam-diam tertawa.


Reyhan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Seperti teringat sesuatu, dia menoleh ke arah Evelin, "Oh iya, bukannya kamu bilang kamu punya sesuatu? makanya nyuruh kakak ke sini."


Evelin yang juga ingat, segera mengangguk, pergi ke arah meja dan kembali dengan sesuatu di tangannya.


Dia berkata dengan antusias, matanya berbinar, "Lihat..!"


Reyhan mengambil benda di tangan Evelin, dahinya mengerut dengan heran, dia berkata dengan bingung, "Film hantu?"


Reyhan melihat Benda di tangannya yang merupakan DVD film.


Daffa yang mendengar hal tersebut membeku, mengulangi perkataan Reyhan, "Film hantu?"


Segera dia berteriak, "Aw.. Aw.. Aw..sakit Boss. pelan-pelan Boss."


Elliot mengabaikan Daffa yang berteriak kesakitan dan kembali mengobati luka Daffa.


"Yang ikhlas ngobatinnya bisa kan Boss?"


Tidak menjawab, Elliot hanya menekan kapas dengan lebih kuat. Daffa segera menutup mulutnya.


Evelin mengangguk dengan antusias, "Ya. Evelin nggak sengaja lihat iklannya di internet. Kata orang-orang sih filmnya serem banget. Pas Evelin lihat, Ratingnya juga tinggi. Karena penasaran Evelin beli deh."


Dia duduk di samping Reyhan, kembali melanjutkan, "Kalo Evelin nonton sendirian pasti ngebosenin. Tapi, kalo rame-rame pasti seru kan!? makanya Evelin nyuruh kakak ke sini sama yang lain."


Dia melihat ke arah kakaknya, "Kakak juga suka film beginian kan?"


Reyhan mengangguk, dia memang suka menonton film horor, misteri, thriller, dan yang lainnya yang mirip.


"Ya udah kalo gitu, ayo langsung nonton."


Reyhan mengangguk, berjalan ke arah Televisi dan menyalakannya.


Evelin pergi untuk menutup tirai dan mematikan lampu, hingga ruangan menjadi redup.


Evelin duduk di samping Reyhan, Rian dan Daffa juga duduk di sofa selesai di obati.


Jadi, posisi duduk mereka seperti ini. Daffa paling ujung, lalu di sebelahnya Rian, Tasya, Reyhan, Evelin, dan di ujung lain adlah Elliot.


Film pun di mulai dalam suasana hening, semua orang fokus melihat ke televisi di depan mereka.


Evelin menaikkan volume dari 20 menjadi 40 hingga suara film terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi itu.


Dua menit memasuki film suara gigi bergemeletuk terdengar, Rian yang mendengar paling jelas segera menoleh ke samping, menyipitkan matanya dan berkata mengejek, "Apa Lo takut?"


Daffa berusaha berbicara setenang mungkin, "Omong kosong."


Rian tidak berbicara lagi, menoleh ke depan untuk kembali menikmati film.


Tasya yang juga ketakutan bersembunyi di balik punggung Rian.


Dalam setengah jam berikutnya, Daffa sudah di penuhi keringat dingin, kedua tangannya memegang bantal untuk menutupi matanya.


Dia akan mengintip dari bantal sesekali, lalu kembali menutupi matanya dengan bantal saat hantu keluar.


"Hihi..." Evelin cekikikan melihat Daffa.


Elliot yang mendengar suara, menoleh dan bertanya, "Kenapa ketawa?"


Biasanya orang akan berteriak atau keterkaitan melihat film hantu tapi Evelin malah tertawa.


Dia menunjuk ke arah Daffa, Elliot mengikuti arah yang di tunjuk Evelin dan melihat Daffa yang sedang ketakutan.


Elliot menggelengkan kepalanya, menepuk kepala Evelin. Entah kenapa sepertinya gadis di sebelahnya sangat suka menjahili Daffa.


Segera matanya berbinar, dia tersenyum jahil, "Tunggu bentar!" Bisik nya di telinga Elliot.


"Daffa!" Bisikan rendah terdengar di sebelah telinganya yang membuat buku kuduknya berdiri.


Daffa segera menoleh namun tidak mendapati siapapun di sana. Genggamannya di bantal semakin erat, keringat dingin membasahi punggungnya.


"Daffa!" Lagi, bisikan rendah terdengar di telinga yang lain.


Daffa menoleh dengan cepat. Seperti tadi, tak ada siapapun di belakangnya.


Dia berbicara kepada Rian dengan suara takut, "Rian Lo denger nggak? kek ada suara yang manggil gue gitu."


Rian menoleh dengan acuh, dia berbicara dengan kesal kepada Daffa yang menggangunya sedang menonton film. Sepertinya dia sangat menikmati filmnya.


"Nggak denger, cuma imajinasi Lo aja kali. udah nggak usah ganggu gue!"


Daffa diam, tidak lagi menggangu Rian. Mungkin seperti yang di katakan Rian, itu hanya imajinasinya saja.


Semenit kemudian, Daffa menegang. Sebuah tangan dingin memegang kakinya.


Dia menoleh ke arah Rian, berbicara dengan takut, "Rian! Rian! Rian!"


Rian yang di ganggu berbicara dengan kesal, "Apa sih?"


Jarinya menunjuk ke bawah, "Ka-Kaki gue Yan."


"Kaki Lo kenapa?"


"Ada yang megang kaki gue Yan."


Karena Lampu yang di matikan dan tirai yang di tutup, ruangan menjadi gelap dan sulit untuk melihat apapun.


Rian menunduk untuk melihat ke bawah, namun dia tidak bisa melihat terlalu jelas karena ruangan yang gelap.


Dia mengerutkan kening, "Nggak ada apa-apa kok. Nggak usah ngaco deh Lo. Kalo nggak mau nonton, setidaknya jangan ganggu gue."


Daffa diam membeku, dia memiliki firasat jika dia menggangu Rian lagi, adegan perkelahian tadi akan terulang kembali.


Namun, dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut sekarang. Dia harus memikirkan dirinya sendiri yang kini masih ketakutan.


Dia mengumpulkan seluruh keberaniannya, dengan takut melihat ke arah kakinya.


Dia membeku, sebuah wajah yang hanya terlihat setengah karena di tutupi rambut hitam panjangnya.


"Daffa!"


"Aarrgghh.."


Dia berteriak histeris, berlari dengan panik menjauhi tempat duduknya.


"Kunti..! Mommy..! Daddy..! ada Kunti..! aahhh..."


Semua yang sedang fokus menonton film, tersentak kaget mendengar teriakan Daffa.


Evelin yang rambutnya masih berantakan, berdiri dan tertawa yerbahak-bahak melihat Daffa yang lari terbirit-birit.


Daffa yang masih panik, berlari mengelilingi ruangan itu. Karena tidak fokus dan ruangan yang gelap, dia tersandung kakinya sendiri dan jatuh telungkup ke lantai.


Reyhan segera bergegas menyalakan lampu dan berjalan ke arah Daffa dengan cemas, "Daffa! Lo nggak papa kan?"


Dia mendudukkan Daffa, memperhatikan lukanya dan melihat dahinya yang merah karena jatuh.


"Rian kesini cepat! bantuin Daffa."


Rian yang tertawa diam-diam, segera berhenti dan pergi ke arah Reyhan. Meletakkan tangan Daffa di bahunya dan memapahnya ke sofa.


Reyhan berdiri, mengalihkan pandangan ke arah Evelin dan berbicara dengan tegas, "Evelin kesini!"


Evelin meliabta ke arah kakaknya, dari sekali lihat dia juga sudah tahu kalau kalanya snendga marah padanya sekarang.


Jadi, dia menunduk dan berjalan perlahan ke arah Reyhan, bibirnya mengerut, dengan wajah murung.


Suaranya rendah, "Iya kak!"