
“Jika kamu dapat melakukan yang terbaik dan bahagia, kamu lebih maju dalam hidup daripada kebanyakan orang.” - Leonardo DiCaprio
"Jadi, apa Boss udah nemuin penawarnya?"
Suara berat seorang pria terdengar di ruangan yang sunyi tersebut. Dia meraih buah apel di atas meja dan memakannya.
Pria yang di tanya, hanya memasang ekspresi acuh tak acuh di wajahnya. Dia terdiam beberapa saat seperti memikirkan sesuatu, lalu membuka mulutnya hingga suara magnetis terdengar di ruangan yang sunyi tersebut.
"Belum."
Matanya sedikit membulat saat dia mendengar perkataan orang yang duduk di kasur, namun segera ekspresinya kembali normal. Alisnya terangkat dengan penasaran, dia kembali bertanya kepada pria di tempat tidur.
"Lalu bagaimana boss bisa sembuh dalam waktu sehari, padahal biasanya membutuhkan waktu lebih dari seminggu?"
Dia diam sebentar, kemudian berbicara dengan tenang.
"Aku tidak tahu apa itu bisa di sebut sebagai penawar, tapi aku yakin akan satu hal." Dia memegang dadanya, "Jika aku menyentuhnya, rasa sakitnya akan menghilang."
Pria itu menautkan alisnya, menatap boss nya dengan bingung, tidak mengerti dengan apa yang di katakan Boss nya.
Dia hanya bisa berpikir kalau 'sesuatu' yang di sebut Boss nya adalah sebuah benda. Jadi, jika Boss nya menyentuh benda tersebut, rasa sakitnya akan segera menghilang.
Dia langsung menyingkirkan kemungkinan jika 'sesuatu' yang di sebut Boss nya adalah manusia. Karena dia tahu betapa Boss nya benci dengan yang namanya kontak fisik.
"Jadi, bukankah itu juga bisa di sebut sebagai penawar?"
Pria di atas kasur menggeleng kecil, "Aku masih belum tahu apa itu benar karena hal tersebut.
Jadi.. Aku akan memeriksanya sekali lagi untuk memastikan apa itu benar atau hanya halusinasi ku saja."
"Bagaimana boss akan memeriksanya? Bukankah hanya bisa memeriksanya saat penyakitnya kambuh? Dan itu akan terjadi satu bulan lagi jika di hitung dari hari ini."
Saat dia selesai berbicara, pandangannya tanpa sengaja melihat ke arah Boss nya dan segara merinding. Dia sudah melihat Boss nya tersenyum beberapa kali, dan segera setelahnya hal yang menakutkan pasti akan terjadi.
'Apa lagi yang di pikirkan Boss? Dari dalam hatiku yang paling dalam, aku berharap semoga siapa pun korbannya kali ini akan baik-baik saja.'
Pria yang tidak tahu apa yang di pikirkan bawahannya tentangnya hanya kembali meluruskan bibirnya hingga tidak menunjukkan senyum apa pun.
Dia melihat bawahannya yang menutup matanya dan bergumam sesuatu yang tidak jelas, menatap dengan tatapan kasihan berfikir kalau bawahannya sudah gila karena terlalu banyak bekerja.
Melihat tatapan Boss nya ke arahnya, dia segera berkata dengan kesal, "Apa! Ada apa?!! jangan melihat ku seperti melihat orang yang tidak waras!!"
Mengacuhkan teriakan kesal orang di sebelahnya, dia mengambil gelas yang berisi air putih di atas nakas dan meminumnya dengan tenang.
Dia sedikit memutar gelas yang masih berisi air hingga menciptakan riak di permukaan. Seperti hal nya air tersebut, walau ekspresinya terlihat tenang, namun tidak ada yang tahu apa yang sedang di pikirkan nya sekarang.
***
Hari-hari berlanjut dengan normal tanpa ada gangguan yang berarti. Di saingan hari, Evelin pergi ke sekolah seperti biasa, sesekali masuk kelas, terkadang bolos kelas dan pergi ke markas invisible atau bermain-main.
Di malam hari, dia akan menyelesaikan pekerjaan yang di berikan Deon kepadanya. Waktu berlanjut dengan rutinitas yang terus berulang.
Tanpa di sadari, sebulan telah berlalu sejak Evelin datang ke dunia ini.
Evelin berjalan dengan riang sepeti biasa, dia melihat sekitar, segera pergi ke arah meja di mana Reyhan dan teman-temannya biasanya duduk.
"Pagi kak! Pagi semuanya!"
Evelin duduk di sebelah Elliot sepeti biasa, melihat makanan di depannya matanya segera berbinar.
Evelin memasukkan makanan yang telah di pesan Elliot ke dalam mulutnya, dia dengan senang memakannya tanpa memedulikan yang lain.
Di tengah mengunyah makanan, seorang pria yang meletakkan kepalanya di meja memasuki pandangan Evelin.
"Hm.."
Mendapat tanggapan lemah dari Daffa, Evelin melihat ke arah Kakaknya.
"Daffa kenapa?"
Reyhan meminum air di gelas dan berharap dengan acuh, "Ah, dia lagi hibernasi."
"Hibernasi?"
Daffa yang tadi masih lesu dengan cepat mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan Reyhan. Dia berkata dengan kesal, bahkan kau bisa melihat kerutan yang dalam di keningnya.
"Apa yang Lo bilang ha! Siapa yang Lo bilang lagi hibernasi?!! Emangnya gue hamster apa pake hibernasi."
Setelah Daffa menyebutkannya, entah kenapa Evelin sekarang bisa melihat seekor hamster yang sedang mengamuk di depannya.
"Pft.."
Mendengar suara tawa, Daffa menoleh untuk melihat orangnya. Evelin segera mengembalikan ekspresinya Kemabli normal dan melanjutkan makan.
Masih penasaran, Evelin kembali bertanya, "Jadi, kenapa Daffa lesu kayak gitu? Terus kak Rian mana? Evelin belum liat dia belakangan ini."
Kali ini, Reyhan menjawab dengan serius pertanyaan adiknya, "Sebentar lagi kan ujian semester, karena itu Daffa kayak gini. Lalu, Rian juga lagi sibuk sama tugas OSIS belakangan ini karena ujian."
Evelin segera mengerti mengapa Daffa menjadi lesu sepeti ini. Seperti yang semua orang tahu, Daffa adlah seorang playboy dan tentu saja dia bukanlah tipe siswa rajin yang suka belajar.
Daripada menjawab lima soal, dia lebih memilih lari sepuluh kali memutari lapangan. Karena itu, setiap periode ujian, Daffa akan terlihat seperti orang yang tidak di beri makan sebulan.
"Sayang!"
Seruan seorang wanita terdengar dan segera mereka melihat Daffa di peluk oleh seorang cewek.
Evelin mengaanggap kalau itu adalah salah satu pacar Daffa, jadi dia tidak mengacuhkan mereka dan kembali fokus pada makanan di depannya.
"Sayang! Kamu kok nggak nunggu aku sih, kan kamu sendiri yang janji mau makan siang bareng."
Mendengar suara cewek yang merajuk di sebelahnya, Daffa segera memegang tangan cewek itu dan meminta maaf dengan menyesal.
"Maaf ya, Honey! Tadi, aku ada urusan. Terus lupa buat bilang sama kamu."
Gadis itu mengerutkan bibirnya, berbicara dengan nada manja, "Kok kamu gitu sih. Padahal aku udah nugguin kamu di kelas."
Daffa menarik gadis itu ke pangkuannya, dan berbicara sepeti membujuk anak kecil, "Ya. Aku minta maaf! Nanti pulang sekolah kita mampir ke mall yah!"
Matanya segera berbinar dengan senang, "Sungguh?" Daffa mengangguk. Dia mencium pipi Daffa, "Ah, makasih sayang."
Mereka yang ada di meja itu hanya diam saja, tidak mempedulikan pasangan yang bermesraan di dekat mereka.
Evelin selesai makan, meminum air di gelas dan membersihkan mulutnya. Dia mengangkat pandangannya untuk melihat pacar baru Daffa.
"Oh iya, kenalin. Ini temen-temen aku."
Daffa sebenarnya jarang memperkenalkan pacarnya kepada teman-temannya begitu sebaliknya. Tapi, karena sudah begini, dia tidak bisa hanya diam saja.
"Hai semuanya! Kenalin aku.."
Evelin melihat gadis di depannya, dia berkedip beberapa kali dan langsung yakin denagn apa yang di lihatnya.
'Angel!'
"..Angel."