The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Menjenguk



“Jatuh cinta tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi. Bahagia adalah bonus.” – Fiersa Besari


Ding dong


Bunyi bel menggema di dalam rumah. Elliot yang masih tenggelam dalam pikirannya tersadar. Dia berniat ingin membuka pintu namun gerakan di sampingnya menghentikan gerakannya.


"Nghh.."


Evelin perlahan membuka matanya saat suara bel memasuki telinganya, sepertinya dia tidak sengaja tertidur.


Dia mengangkat tangannya dan meregangkan badannya, lalu mengucek matanya yang masih lelah. Matanya melihat ke arah tempat tidur, di mana Elliot sedang duduk sambil menatapnya.


Dia berusaha mengumpulkan kepingan kesadarannya yang belum menyatu, sebelum berkata dengan suara sedikit serak, "Kakak udah bangun?! Berapa lama Evelin tidur?"


Elliot yang melihat gadis di depannya segera tersenyum lembut dan mengelus kepala gadis imut itu. Perasaan tidak enak yang dia rasakan tadi hilang seketika seperti tidak pernah ada sebelumnya.


"Nggak lama kok, kamu cuma tidur beberapa menit."


Evelin melihat ke atas nakas, dia mengerutkan bibirnya, wajahnya tampak murung, dia berkata dengan nada menyesal, "Maaf ya kak, padahal Evelin udah buatin bubur untuk kakak. Tapi, karena Evelin ketiduran buburnya jadi dingin deh."


Elliot menggelengkan kepalanya, dia tersenyum, senyum yang akan membuat gadis yang melihatnya berteriak dengan histeris, "Itu bukan salah kamu kok, itu salah kakak karena ketiduran waktu nunggu kamu."


"Nggak, itu bukan salah kakak. Itu salah Evelin yang buat buburnya lama."


Elliot yang melihat ke keraspalaan Evelin tertawa rendah, "Nggak usah pikirin itu lagi. Nggak papa buburnya dingin, tetap kakak makan kok."


"Tapi.."


Ding dong


Suara bel kembali terdengar di telinga mereka. Sepertinya mereka melupakan bel yang berbunyi dari tadi.


Melihat gerakan Elliot, Evelin segera berkata dengan cepat, "Biar aku aja yang bukain. Kak Elliot tetap di sini."


Dia segera keluar kamar dan pergi ke arah pintu, jika di lihat dari waktunya itu pasti kakaknya dan yang lainnya.


Bel berbunyi sekali lagi sebelum Evelin membuka pintu.


"Oh? hai.. Evelin."


Tasya yang melihat Orang yang membukakan pintu segera berseru dengan senang, dia melambaikan tangannya dengan senyum cerah.


"Hai.. Sya. Kamu juga dateng?"


Tasya mengangguk, "Iya."


Sebelumnya di sekolah, saat Tasya bertanya kepada Daffa tentang keberadaan Evelin. Daffa memberitahunya mungkin Evelin pergi untuk menjenguk Elliot.


Dia tidak berniat menjenguk Elliot, karena dia tidak terlalu dekat dengan Elliot apalagi mereka bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain. Tapi, karena Evelin di sini dia memutuskan untuk datang.


"Kita nggak di suruh masuk gitu?"


Evelin segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Daffa yang terlihat kesal karena di abaikan.


Evelin berbicara di selingi dengan tawa jahilnya, "Sejak kapan Lo jadi sopan gini? bukannya biasanya Lo langsung nyelonong masuk gitu aja?!"


Daffa yang mendengar ejekan Evelin menjadi semakin kesal.


"Pft.."


Rian yang melihatnya hanya tertawa di belakangnya.


"Diam Lo!"


"Udah, mending masuk dulu."


Reyhan menarik bahu Daffa yang sudah menyingsingkan lengan bajunya, siap untuk memukul Rian yang tertawa masuk ke dalam apartemen.


Dia tidak tahu kenapa mereka sangat senang mengejek Daffa.


Mereka berjalan ke kamar Elliot bersama-sama dengan Evelin sebagai pemandu.


"Boss Lo nggak papa?"


Daffa melangkah cepat ke arah kasur dengan wajah sedih, tangannya di rentangkan berusaha memeluk Elliot.


Elliot yang melihatnya segera bergeser ke samping dengan cepat hingga Daffa jatuh telungkup ke kasur.


Evelin hanya menggelengkan kepalanya melihat ke arah Daffa, dia berjalan mengambil tasnya yang di letakkan di atas meja.


Dia menyandang tasnya di bahunya, "Kalau gitu, aku pulang duluan ya!"


Reyhan yang mendengarnya segera menoleh, "Kamu mau pulang sekarang? nggak nanti aja bareng sama kakak? kamu kan nggak bawa mobil."


"Nggak papa, aku bisa panggil taxi."


Tasya berbicara dengan ragu-ragu dan gelisah, "Tapi, Kita kan baru sampe. Kamu udah mau pergi sekarang."


Evelin tertawa rendah, "Maaf ya, soalnya aku ada janji sama temen habis ini. Aku mau tinggal sih, tapi aku juga nggak bisa batalin janji aku."


Evelin melihat ke arah para cowok yang ada di sana, "Kalo kamu nggak nyaman sama mereka, apa kamu mau pulang sama aku?"


Tasya yang melihat tatapan Evelin, segera mengerti maksudnya. Sebenarnya bukan itu masalahnya, dia hanya ingin bersama dengan Evelin lebih lama lagi, karena itu dia datang ke sini.


Dia dengan cepat melambaikan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya, "Bu..bukan karena itu kok."


Dia tanpa sandar memegang kepalanya, tertawa canggung, "Aku bakal tinggal di sini, lagian aku juga baru datang masa udah pulang aja."


Evelin tersenyum, "Baguslah kalo gitu."


Dia mendekati Elliot, membungkus kedua pipi Elliot dengan tangannya, dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke dahi Elliot dan menciumnya.


Suaranya penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, dia tersenyum tulus, "Semoga kakak cepat sembuh."


Dia menjauhkan dirinya, berjalan keluar sambil melambaikan tangannya dengan suara ceria, "Kalo gitu aku pergi dulu. Tasya! kalo mereka nyakitin atau apa-apain kamu, kamu langsung hubungin aku aja ya! bye!"


Semua orang di dalam ruangan masih terdiam, mereka melihat ke arah pintu tempat Evelin menghilang dengan wajah kosong.


Elliot tanpa sadar memegang tempat di mana Evelin menciumnya, entah hanya perasaanya saja. Tapi, dia masih merasakan kehangatan yang tertinggal di sana.


Daffa yang pertama bereaksi, "Apa ini? apa kalian udah pacaran tanpa sepengetahuan kita?"


Dia melihat ke arah Elliot dan tersenyum jahil, "Woah Boss, gue nggak nyangka kalo Lo bisa pacaran. Gue kira Lo udah belok. Lagian selama ini, kalo ada cewek yang deketin, Lo langsung marah-marah terus ngehindar."


Elliot menendang perut Elliot hingga dia jatuh ke lantai, dia menatapnya dengan tajam, "Apa maksud Lo? coba bilang lagi!"


Daffa memegang perutnya, dia menggeleng kuat sambil berbicara dengan takut, "Nggak..! nggak..! maaf Boss. Gue cuma bercanda kok. hehe.."


Elliot tak menanggapinya lagi, dia mengambil bubur yang sudah dingin di atas nakas dan memakannya.


Walau bubur itu sudah dingin, Entah kenapa dia merasakan kehangatan yang sangat langka, perasaan yang membuatnya nyaman.


Reyhan melihat Elliot, memperhatikannya dalam diam. Jika di lihat dari reaksi Elliot, dia tahu kalau mereka tidak sedang menjalin hubungan.


Jika begitu, apa hanya adiknya yang menyukai Elliot? apa dia bertepuk sebelah tangan? Tapi, Elliot tidak pernah tertarik menjalani hubungan seperti itu.


Selama dia bersama Elliot, dia telah melihat banyak gadis yang mengejarnya. Namun, Elliot bersikap acuh tak acuh dan tak pernah menanggapi mereka.


Karena dia tidak suka terlibat dengan orang lain, dia akan menolak dengan tegas jika ada perempuan yang mengejarnya.


Jadi, jika di lihat dari sikap Elliot terhadap adiknya belakangan ini, apa Elliot juga menyukai adiknya?


Reyhan memegang kepalanya, lebih baik dia menanyakannya kepada adiknya nanti daripada mengambil kesimpulan sendiri.