
"Aku masih mencintainya, dan ini adalah hal terburuk. Aku menginginkannya kembali." - Susane Colasanti.
"Dek, kamu itu boleh bercanda tapi jangan berlebihan. Untung Daffa nggak papa, kalo dia sampe luka parah gimana?"
Evelin menundukkan kepalanya, jari-jarinya saling bertautan, di sudut matanya sudah terbentuk genangan air.
"Kamu nggak boleh jahilin orang terus, ada orang yang nggak suka bercanda dan mudah marah, kamu harus lebih memperhatikan orang lain."
Elliot yang melihat genangan air di mata Evelin merasa sesak di hatinya, dia tidak tahu kenapa tapi dia tidak ingin melihat gadis itu menangis.
Elliot berjalan, menepuk bahu Reyhan. Reyhan segera menoleh dan melihat tatapan Elliot yang menyuruhnya berhenti marah.
Reyhan menghela nafas, berbicara dengan lembut, "Maafin kakak udah marahin kamu ya! sekarang jangan nangis."
Dia memeluk Evelin dan menghapus air mata yang hampir menetes, "Kakak cuma khawatir sama kamu."
Evelin yang berada di pelukan Daffa mengangguk, tidak ada yang bisa melihat ekspresi Evelin sekarang. Tidak ada yang tahu kalau dia sedang tersenyum.
'Yes. Air mata buaya, sukses!'
Bagi Evelin yang sudah menyamar menjadi berbagai orang, kemampuan aktingnya bisa di bilang setingkat aktris profesional. Hal kecil seperti ini sangat mudah baginya.
Reyhan melepaskan pelukannya, menepuk kepala Evelin, "Sekarang minta maaf sama Daffa!"
Evelin mengangguk, memasang wajah sedih dan berbicara dengan menyesal, "Maaf Evelin ya Daffa, Evelin udah keterlaluan bercandanya sampe bikin Daffa lari karena liat mbak Kunti. Lain kali Evelin janji, nggak bakal bercandain Daffa pake mbak Kunti lagi."
Daffa membatin, 'Berarti lain kali, bakal beda lagi hantunya gitu?'
Entah kenapa, dia merasa Evelin tidak benar-benar minta maaf. Namun, karena dia sudah melihat Evelin menangis tadi. Dia tidak tega untuk memarahinya lagi.
Apalagi tatapan menusuk dari boss nya yang seperti akan menembus tubuhnya.
Jadi, dia mengangguk, memaksakan senyum dan berkata dengan sedikit enggan, "Iya. nggak papa, gue maafin kok."
Evelin tersenyum senang, memeluk Daffa secara refleks, "Makasih Daffa."
Daffa yang merasakan kekuatan di lehernya, menepuk sofa dengan tangannya, berkata dengan susah payah, "Gue nyerah! lepasin! please!
Sebelum Evelin sempat melepaskan pelukannya, dia sudah di tarik mundur oleh tangan yang besar dan tangan besar itu memeluknya dari belakang.
Evelin mendongak melihat ke atas, "Ada apa kak?"
Elliot meletakkan dagunya di atas kepala Evelin, berkata dengan suar serak, "Nggak papa."
Daffa yang melihat kedua orang yang bermesraan di depannya mengutuk kesal dalam hati, menggerutu dengan tidak puas.
Rian yang sedari tadi diam, angkat bicara, "Kalau gitu, gue pulang duluan yah! biar gue yang anter Tasya."
Reyhan yang mendengar hal itu, melirik ke arah jam yang menunjukkan 19.24.
Melihat semua orang dan berkata, "Kalo gitu, lebih baik kita semua pulang. Ini juga udah malam."
Sepertinya mereka terlalu hanyut dalam film, hingga tidak memperhatikan kalau siang telah berganti malam.
"Rian! gue pulang sama Lo ya?"
Rian melirik ke arah Daffa yang memberinya tatapan memohon, "Lo kan bawa mobil sendiri, lagian gue juga harus nganter Tasya. Jadi, lo pulang sendiri aja."
Dia berhenti, berbisik di telinga Daffa yang membuat Daffa merinding seketika, "Hati-hati di jalan ya! Jangan sampe ketemu mbak Kunti."
Daffa berteriak dengan kesal, mendorong Rian ke arah pintu, "Udah pulang Lo pulang aja."
Setelah Tasya berpamitan pada yang lainnya, dia segera menyusul Rian yang sudah keluar.
"Gue pulang sama Lo ya Rey?"
Namun, yang bisa dia ajak hanya dua orang, yaitu Reyhan dan yang lainnya adlah Boss nya. Tentu saja, pilihan pertama lebih baik di banding yang terakhir.
"Biar gue yang ngantar Evelin."
Mendengar suara Elliot, Reyhan menoleh melihat ke arah Evelin, mengelus kepalnya dan berkata dengan lembut, "Kamu pulang sama Elliot ya?"
Melihat Evelin mengangguk, Reyhan merasa sedikit sedih. Padahal dia ingin bersama adiknya lebih lama lagi. Tapi, Daffa yang terluka juga menjadi tanggung jawabnya, mau tak mau dia harus mengantar Daffa yang penakut pulang.
Setelah itu, mereka pergi dari apartemen dan pulang dengan mobil maing-masing.
***
Elliot memarkirkan mobil di depan gerbang, saat dia hendak menyuruh penjaga gerbang membuka pintu, Evelin berbicara lebih dulu.
"Nggak papa, sampai sini aja kak."
"Tapi.."
"Nggak papa!"
Elliot mengangguk, keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Evelin.
"Kalau gitu, selamat malam!" Ucapnya sambil mencium kening Evelin.
Evelin tertegun, tubuhnya membeku sejenak, dia mendongak menatap wajah Elliot dan bertanya secara refleks, "Apa kakak suka bunga baby breath?"
Elliot yang mendapat pertanyaan secara tiba-tiba, terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa.
Dia melihat ke arah mata Evelin, dia merasa itu adalah pertanyaan yang sangat penting bagi Evelin, jika dia menjawab secara asal-asalan atau acak. Sepertinya gadis di depannya akan kecewa.
Jadi, dia berkata dengan hati-hati agar tidak mengecewakan Evelin, "Aku belum pernah melihat bunga itu sebelumnya, jadi aku tidak tahu apa aku suka atau tidak. Tapi, mungkin aku akan menyukainya!"
Entah dia yang hanya salah lihat atau itu sungguhan, sekilas seperti ada kekecewaan dan perasaan sedih yang melintas di mata Evelin.
Namun, gadis itu sudah tersenyum, matanya melengkung, dia tertawa rendah yang terdengar di paksakan di telinga Elliot, "Kakak nggak perlu terlalu serius, itu cuma pertanyaan biasa. Nggak penting kok!"
Evelin bergumam pelan, sangat pelan hingga hampir tidak terdengar dan di telan suasana malam, "Lagipula kamu bukan 'dia'."
Namun, Elliot masih bisa mendengarnya walau Evelin bergumam dengan sangat pelan.
"Kalo gitu, Evelin masuk dulu ya. Hati-hati bawa mobilnya kak Elliot! selamat malam!"
Elliot merasakan perasaanya menjadi campur aduk, ucapan Evelin terus terngiang di telinganya.
Hati dan pikirannya terus bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Evelin tadi.
Dia melihat punggung Evelin yang semakin hilang di telan kegelapan malam, tidak bergerak selama setengah menit.
Hingga penjaga melihatnya dengan heran. Lalu, dia masuk ke dalam mobil dan pergi.
Jarak mansion dari gerbang tidak jauh namun juga tidak dekat. Jika berjalan kaki, butuh waktu sekitar empat sampai enam menit.
Evelin menatap kosong ke depan, dia berjalan perlahan, langkah demi langkah, dari jalan lambat menjadi jalan cepat, dari jalan cepat menjadi berlari.
Langkahnya semakin cepat dan cepat, dia berlari dengan sekuat tenaga ke arah mansion, namun bukannya memasuki mansion, dia berbelok menuju ke arah taman.
Dia duduk di kursi di taman, bersandar dan menutup kedua matanya dengan lengannya.
Setelah beberapa menit, dia mengangkat tangannya, membuka matanya hingga mata hitam itu bisa melihat dengan jelas ke langit malam.
Dia berkata dengan perlahan, "Bisakah aku melihatnya lagi?."