
"Kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani." - Socrates
"Kakak..!" Evelin berlari dan memeluk kakaknya yang berdiri di pintu.
Semua orang yang tadi sibuk sendiri mengalihkan pandangan ke arah Evelin berlari.
"Kakak ngapain ke sini?" Evelin mengangkat pandangannya untuk melihat Reyhan yang lebih tinggi darinya.
"Justru kakak yang nanya, kamu ngapain ke sini?" Reyhan mengusap kepala Evelin dengan lembut.
Evelin berkedip beberapa kali sebelum menjawab.
"Ah.. Evelin bosan di sekolah, jadi Evelin pergi main." Nadanya cerah saat dia mengatakan itu.
"Kenapa mainnya ke sini?"
"Yah.. karena semua teman Evelin ada di sini."
Reyhan mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang di sebut 'teman' oleh Evelin. Hanya ada laki-laki, tak ada satu pun perempuan di sini.
"Ya udah.. sekarang kamu pulang ya?" Reyhan tak mau memikirkannya lagi.
Di sekolah tadi dia mendengar rumor kalau Evelin mengusir teman perempuan yang biasa menemaninya. Jadi, mungkin karena itu dia datang kesini.
"Okay.. Evelin ambil tas dulu ya!" Evelin sedikit berlari saat ke sofa tempat dia duduk tadi.
Setelah mengambil tasnya, Evelin berjalan ke arah Alex dan mencium pipi Alex.
"Makasih udah turutin permintaan Evelin. Nanti Evelin kasih hadiah." Dia berbicara dengan senang lalu berjalan ke arah Reyhan.
Alex diam tak bergerak di tempatnya, rona merah menyebar di wajah hingga lehernya.
"Bye.. semuanya. kalian juga bakal Evelin kasih hadiah nanti." Evelin menarik tangan Reyhan setelah melambaikan tangannya.
Daffa dan Rian mengikuti di belakang dengan tenang.
Mereka yang berada di dalam ruangan masih diam setelah melihat pemandangan barusan.
Sebuah suara seperti 'ckrek' memecahkan keheningan.
"Siapa yang ngambil gambar? hapus gak Lo! atau gue bikin babak belur terus gue lempar ke kandang buaya Lo." Alex yang sadar kalau dia masih mengenakan dress berteriak dengan marah.
Dia berjalan ke arah remaja yang tadi memotretnya dan merebut ponselnya.
Dia melihat gambar yang di ambil dan langsung menghancurkan ponsel tersebut.
Ah.. ini sangat memalukan.'
Remaja yang merupakan pemilik ponsel tersebut hanya bisa bersedih dalam hati melihat ponselnya yang telah hancur.
"Dengar kalian semua, kalau ada yang berani nyebar atau ceritain ke luar.. Habis Lo sama gue."
Alex menunjuk mereka semua dan berteriak dengan keras dengan wajah menakutkan.
Semua yang di sana mengangguk dengan serempak. Mereka harus menyimpan kenangan 'indah' ini untuk diri mereka sendiri.
Jika mereka tak ingin nyawa mereka melayang, mereka harus menutup mulut mereka apa pun yang terjadi.
***
"Kamu kenapa cium pipi Alex tadi?" Reyhan bertanya tanpa melihat Evelin.
Mereka saat ini dalam perjalanan pulang. Daffa dan Rian juga sudah pergi dengan motor mereka sendiri.
"Yah.. karena dia udah penuhin permintaan Evelin." Evelin juga tidak melihat Reyhan, dia sibuk memperhatikan keluar jendela mobil.
Sebenarnya dunia sekarang tidak berbeda jauh dengan dunianya dulu. Hanya ada satu perbedaan, jika memang harus di katakan.
Di dunianya dulu, ada orang yang mempunyai kemampuan istimewa termasuk Evelin. Seperti teleportasi, mengendalikan gravitasi, cloning, telepati, dan lain sebagainya.
Namun, hanya ada sedikit orang yang memiliki kemampuan tersebut. Karena itu, mereka di kumpulkan oleh organisasi dan pemerintah secara rahasia.
Bahkan menurut Evelin masyarakat biasa mungkin tidak tahu kalau mereka ada.
Karena kemampuan ini juga dia di ambil oleh organisasi.
"Lin.. Evelin!"
"Oh.. iya?" Evelin melihat ke arah kalanya dengan kaget.
"Kamu kenapa? kok ngelamun."
"kalo kecapekan kamu bisa tidur aja!" Evelin melirik adiknya dengan khawatir.
"Iya kak." Evelin hanya mengangguk dan kembali bersandar.
***
Angin dingin berembus membawa kesejukan malam. Bulan bersinar di temani ribuan bintang di langit malam yang menambah keindahannya.
Evelin duduk di balkon kamarnya dengan laptop di meja. di sebelah laptop ada teh hangat dan cemilan.
Matanya fokus saat tangannya terbang melintasi keyboard cukup cepat untuk meninggalkan bayangan.
"Nona..! waktunya makan malam." Suara ketukan pintu terdengar di ikuti suara seseorang.
Evelin mengangkat pandangannya saat mendengar suara, tangannya berhenti mengetik dan dia berdiri.
Dia melangkah dengan santai menuju pintu dan membukanya.
"Katakan pada daddy kalau aku tidak lapar, aku akan makan nanti!"
"Baik nona." Pelayan itu membungkuk dengan hormat.
Evelin menutup pintu dan kembali ke balkon. Pelayan tersebut turun dan memberitahu majikannya.
Evelin kembali menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Setelah sekitar satu jam, Evelin berhenti dan menguap. Dia menutup laptop dan menyesap teh yang tadinya hangat kini sudah dingin.
''Besok aku akan ke sana." Evelin bergumam lalu sedikit menggeliat dan berjalan ke kasur.
Dia sudah mendapatkan semua informasi yang dia butuh kan. Jadi, dia hanya tinggal pergi ke 'tempat itu' saja.
Evelin melirik jam yang sudah jam 08.17 malam.
Dia naik ke atas kasur, menarik selimut dan merebahkan diri dengan posisi nyaman.
***
Seorang gadis kecil duduk dengan tenang di ruangan yang di hiasi warna putih. Matanya kosong, bibirnya pucat, dia juga mengenakan gaun berwarna putih.
Rambut hitamnya tergerai dengan berantakan, lututnya di tekuk di depan dadanya, dan kedua tangan kecilnya memeluk lututnya dengan erat.
"No. 001 waktunya keluar." Suara dingin yang familiar terdengar dari speaker di sudut dinding.
Saat mendengar suara dingin tersebut, tubuhnya gemetar dan matanya bergerak dengan gelisah.
Namun, dia tetap berdiri dengan perlahan, menggerakkan kakinya yang tidak mengenakan alas apa pun.
Melangkah ke arah pintu, dia melihat pintu terbuka dan ada seorang pria dewasa yang mengenakan jas putih di luar.
"A-Apa hari ini ju-juga akan di pe-riksa?" Dia mengumpulkan keberanian dan bertanya dengan gugup dengan suara mungilnya.
"Iya.. Nggak papa kok. Nggak akan lama. Setelah selesai kamu bisa main dengan teman yang lain."
Pria yang memiliki wajah sekitar 30-an dan mengenakan kacamata, mengelus kepala gadis kecil itu dengan lembut.
Gadis kecil itu mengangguk kecil sebelum berjalan dengan diam di belakang pria itu.
Mereka berjalan di lorong yang panjang, lorong itu memiliki banyak pintu seperti milik gadis kecil itu dengan nomor yang terlampir di masing-masing pintu.
Mereka berjalan lurus lalu belok kanan, lurus dan belok kiri, dan terus seperti itu.
Mereka seperti melewati labirin yang panjang sebelum sampai di sebuah ruangan yang merupakan tujuan mereka.
Gadis kecil itu masuk dengan gemetar ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan ada beberapa orang yang mengenakan jas putih yang sama dengan pria tadi. Mereka menggunakan semua menggunakan masker dan sarung tangan lateks berwarna biru.
Ada beberapa peralatan di atas meja dan sebuah stretcher di ruangan tersebut.
Gadis kecil itu di baringkan, tangan dan kakinya di belenggu.
Segera suara teriakan kesakitan terdengar dari ruangan tersebut.
Gadis cantik itu bergerak dengan gelisah dalam tidurnya.
"Tidak.. jangan.. kumohon.." dia bergumam dengan gelisah.
"TIDAK" Suara teriakan memenuhi kamar tersebut.