The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Hadiah



“Respons paling sehat untuk hidup adalah sukacita.” — Deepak Chopra


Evelin bangun sekitar jam setengah enam pagi, lalu segera bersiap dan mengenakan pakaian sekolah. Dia pergi ke dapur dan memasak sarapan.


Selesai memasak, dia kembali naik ke atas untuk membangunkan Chika.


“Chika.. bangun!”


Gadis itu segera bangun dengan linglung.


Dia mengelus kepala Chika dan berbicara dengan lembut, “Mandi dulu ya! Habis itu sarapan.”


“Iya.”


Chika mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Evelin menyiapkan pakaian untuk Chika di tempat tidur. Tadi pagi, dia sudah memesan pakaian untuk Chika secara online.


Evelin kembali turun ke bawah untuk meletakkan sarapan di atas meja. Tak lama, Chika turun dengan pakaian yang di siapkan Evelin.


Evelin tidak terlalu memperhatikannya tapi dia terlihat cantik dan imut, bibir dan matanya terlihat seperti Raka.


“Duduk sini! Kakak udah nyiapin sarapan.”


Chika berjalan ke kursi dan duduk di atasnya, dia terlihat ragu-ragu pada awalnya namun segera matanya berbinar melihat makanan di depannya.


“Chika boleh makan ini?” Dia menunjuk ke makanan di depannya dengan mata berbinar.


“Ya. Kamu bisa makan apa yang kamu mau.”


Mendengar hal tersebut, dia segera mengambil makanan dan makan dengan gembira. Evelin yang melihatnya merasa gemas, dia makan dengan cepat seperti takut makanannya di curi.


‘Apa mereka memberinya makan dengan layak?’


Memikirkan bagaimana mereka di perlakukan oleh orang-orang itu, membuat suasana hatinya memburuk. Dia segera menyingkirkan pikiran tentang mereka dan melihat gadis kecil di depannya.


“Makannya pelan-pelan, nggak akan ada yang ngambil makanan kamu kok.”


“Iya kak.”


Evelin juga mengambil makanan di depannya dan ikut makan. Setelah selesai makan, Evelin membersihkan meja dan membawa piring ke wastafel.


“Kak! Kapan kita ketemu kak Alex?” Chika menarik baju sekolah Evelin.


“Sekarang kita akan ketemu kak Alex.” Dia berbalik, membersihkan tangannya dan melihat gadis mungil di belakangnya.


“Benarkah?” Dia bertanya dengan riang.


“Iya. Kamu tunggu di sini! Kakak ambil tas sama kunci mobil dulu.” Evelin mengelus kepala Chika dengan gemas, bibirnya menarik segaris senyum tipis, matanya melembut tanpa sadar.


Chika mengangguk dan Evelin segera naik ke lantai atas untuk mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu mereka segera berangkat dengan menggunakan mobil yang dia suruh sopir mengantarnya tadi pagi.


Alex dan anak Invisible yang lain kini sedang berada di markas dan bermain seperti biasa.


Seorang pria yang memiliki tindik di telinga dan alisnya, mengenakan seragam sekolah, dan rambut yang di cat merah menepuk bahu Alex.


“Boss kok jarang kesini lagi ya?”


Alex menyingkirkan tangan pria tersebut yang di letakkan di bahunya dan menjawab dengan acuh, “Nggak tahu, jangan tanya sama gue.”


Pria itu mengangkat alis dan tersenyum, “Apa Lo masih marah karena kejadian itu.”


Alex menajamkan matanya dan berbicara dengan marah, “Bisa diem nggak Lo atau Lo mau gue bikin masuk rumah sakit? Biar bisa tidur sebulan Lo di rumah sakit. Ha!”


“Tapi, boss bilang kan mau kasih hadiah. Kok sampe sekarang nggak di kasih juga sih?”


“Apa jangan-jangan Boss bohongin kita lagi! Padahal gue udah berharap banget pas dia ngomong mau kasih hadiah.”


Alex mengerut kan kening dengan kesal dan memukul kepala bagian belakang pria tersebut dengan sedikit kekuatan, “Lo kok cerewet banget sih hari ini? Bukannya gue udah nyuruh Lo diem ya dari tadi? Atau Lo emang mau gue bikin masuk rumah sakit ya!?”


Alex menarik kerah pria tersebut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya sudah mengepal, bersiap untuk memukul pria di depannya.


“Kak Alex!”


Alex membeku, tangan yang tadi bersiap memukul berhenti di udara. Dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut datang.


Segera dia melepas kerah pria tadi dan berlari menuju gadis kecil di pintu dan langsung memeluknya dengan erat.


“Chika! Ini beneran kamu?” Dia bertanya dengan tidak percaya.


Alex mengangkat gadis mungil di pelukannya dan menggendongnya, tetap memeluknya dengan erat.


“Chika kangen sama kak Alex.” Gadis mungil di pelukan Alex melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling leher Alex.


Semua yang ada di sana hanya diam, tidak ingin mengganggu momen bahagia kedua orang di depan mereka. Mereka semua tahu kalau satu bulan yang lalu, adik Alex menghilang dan tidak bisa di temukan.


Mereka sudah melapor ke polisi dan mencoba mencarinya juga. Namun, mereka tak dapat menemukannya di mana pun. Alex juga meminta bantuan Evelin dan gadis itu bilang akan membantunya namun tidak ada kabar apa pun darinya setelah itu.


“Surprise..! Apa Alex suka hadiah dari Evelin?”


Sama seperti biasanya, Evelin berbicara dengan ceria dan wajah cerah yang membuatnya terlihat seperti gadis periang.


“Apa Boss yang udah nemuin Chika?”


Mata Alex merah terlihat Sepri ingin menangis namun di tahan, dia berbicara dengan suara terharu. Evelin mengangguk dengan ceria.


Dalam novel aslinya, adik Alex meninggal dan tidak dapat di selamatkan. Setelah itu, dia meninggalkan pemilik aslinya dan bergabung dengan pemeran utama pria untuk balas dendam kepada organisasi yang telah menculik adiknya yaitu organisasi yang Evelin hancurkan semalam.


Sekarang, memang organisasi itu masih kecil namun di masa depan organisasi itu menjadi semakin besar dan menjadi penghalang bagi pemeran utama pria dan wanita.


Yah, bisa di bilang kalau organisasi itu termasuk karakter penjahat di novel. Karena itu, Evelin memutuskan untuk menghancurkan dan menghilangkan organisasi itu agar tidak menjadi Maslah di masa depan.


Dengan itu, dia bisa menyelamatkan adik Alex sekaligus menghancurkan pengganggu. Seperti kata pepatah, membunuh dua burung dengan satu batu.


“Makasih banget, gue nggak tahu gimana harus berterima kasih sama Lo. Gue bener-bener terima kasih karena Lo udah nemuin adek gue. Gue pasti bakal balas kebaikan Lo.”


Evelin tertawa canggung, mendengar kata ‘kebaikan’ membuat perasannya menjadi tidak nyaman. Dalam satu malam, dia telah merenggut puluhan nyawa. Apakah dia pantas menerima rasa terima kasih?


Tak ingin memikirkannya lagi, dia segera berkata dengan antusias, “Ayo kita rayain atas ketemunya Chika, hari ini gue yang traktir sebagai hadiah yang gue bilang kemaren.”


Anak-anak Invisibe segera berteriak senang dan berkata dengan gembira.


“Boss emang the best deh. Baik banget hari ini.”


“Woah... makasih banyak boss. Boss tambah cantik aja deh hari ini.”


“Yeaay.. makan gratis. Jarang banget gue bisa makan gratis.”


Berbagai seruan bahagia terdengar dari segala tempat. Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka.


“Yuk, gue udah reservasi restoran buat kalian.”


Mereka kembali berseru dengan lebih antusias mendengar ucapan Evelin.