
"Ketakutan tidak ada di mana pun kecuali dalam pikiran." - Dale Carnegie
"Hai.. Kalian udah datang! maaf yah, Evelin lama."
Evelin berjalan menghampiri sebuah meja, dimana dua lelaki sedang duduk.
Alex berbicara dengan senyum hormat, "Nggak papa kok Boss. Kita juga baru dateng."
Adelio menyahut, "Iya Boss."
Evelin duduk di sebelah Alex, sedangkan Adelio di sisi lain.
"Boss suka yang manis kan?"
Evelin mengangguk menanggapi pertanyaan Alex yang tidak dia duga.
"Iya, kenapa?"
"Ini tadi udah aku pesan buat Boss."
Evelin melihat beberapa kue dan minuman di atas meja, segera mengembangkan senyum senang.
Matanya berkilau, suaranya terdengar seperti anak kecil yang di beri hadiah, "Woah, sungguh? makasih Alex!"
Dia memakan kue di atas meja dengan senyum sumringah. Sebenarnya Evelin bukanlah tipe orang yang suka pilih-pilih makanan.
Tapi, karena Alex sudah memesannya, maka dia tidak akan menolak.
"Boss! apa cafe ini punya temen Boss?"
Evelin menggigit sepotong kue, lalu melihat ke arah Adelio, dia menelan kue dan menjawab, "Yah, kau bisa menganggapnya seperti itu."
"Hah?" Ekspresi Adelio berubah menjadi bingung.
Evelin menggigit sepotong kue lagi. Dia juga tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, Dia tidak menganggap Deon sebagai teman. Karena, Deon lebih seperti orang yang mempekerjakannya daripada seorang teman.
Jadi, dia menjawab secara alami, "Hanya seorang kenalan. Tapi, dia adalah seseorang yang bisa di percaya jadi kau tidak perlu khawatir."
Adelio mengangguk, dia sebenarnya tidak masalah dengan tempat atau orang yang di pilih
Evelin. Karena dia percaya pada penilaian Evelin.
Hanya saja, dia penasaran kenapa Evelin memilih tempat seperti Cafe untuk membicarakan hal yang penting.
Evelin meneguk minuman di depannya, lalu meletakkan cangkir kembali di atas meja.
Dia mengambil tasnya, membuka resleting tas dan mengeluarkan kertas dari dalamnya.
Dia meletakkan kertas itu di atas meja, berbicara dengan nada serius, "Langsung ke topik utama. Jadi, aku punya perkejaan buat kalian."
Kedua lelaki tampan itu melihat ke arah kertas yang di letakkan Evelin di atas meja dengan penasaran, mereka berbicara secara bersamaan, "Pekerjaan?"
"Ya! ini waktunya kalian bekerja. Lagian kalian pasti bosan kan karena nggak ada kerjaan."
Alex menggaruk kepalanya, "Nggak terlalu bosan sih, Boss!"
Evelin tertawa rendah, "Jadi, pekerjaan kalian ada dua. Aku ingin kalian menyelidikinya dengan teliti, karena tidak ada batas waktunya. Tapi, sebisa mungkin kalian harus menyelesaikannya dengan cepat."
Mereka berdua mengangguk secara bersamaan.
Evelin mendorong kertas ke arah mereka berdua, mereka segera mengambil kertas dan membacanya.
Evelin menggoyangkan cangkir, melihat mereka dengan tatapan tenang, "Yang pertama, aku ingin kalian menyelidiki tentang apa yang terjadi kepada ibuku tiga tahun lalu."
Mereka berdua terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Alex berbicara dengan ragu-ragu, "Tapi, Boss! aku dengar kalau ibu Boss meninggal karena kecelakaan."
"Ya, itu benar! tapi, itu adalah apa yang di simpulkan oleh polisi. Tapi, menurut penyelidikan ku itu bukanlah hanya karena kecelakaan murni. "
"Untuk itulah aku memberikan kalian pekerjaan ini. Polisi mungkin benar, namun aku menemukan sesuatu yang janggal saat aku menyelidikinya sendiri sekali lagi."
"Untuk lebih jelasnya kalian bisa melihatnya di sana." Dia menunjuk ke arah kertas yang mereka pegang.
"Jadi, untuk yang kedua Boss ingin kami menyelidiki kakek tua ini?"
Evelin tertawa, "Mungkin hanya kau yang berani memanggilnya kakek tua secara terang-terangan begitu."
Daffa mengangkat alisnya, tidak mengerti apa yang di tertawakan Evelin.
Evelin menjelaskan, "Aston Henderson, pemimpin organisasi Heller, yang memiliki panggilan penguasa dunia bawah. Di rumorkan sebagai orang yang kejam dan licik, dia memiliki pengaruh besar di dunia bawah hingga banyak organisasi kecil yang takut dengannya."
Adelio membulatkan matanya, dia tanpa sadar meninggikan suaranya karena terkejut, "Pemimpin Heller? apa ini adalah orang yang sama yang aku tahu?"
Karena Adelio dulu pernah berkerja dengan organisasi semacam itu, dia sedikit tahu tentang Aston. Dia pernah mendengar orang-orang membicarakannya, dia bisa melihat ketakutan mereka saat mereka membicarakannya.
Evelin mengangguk, "Iya!"
Alex bertanya dengan bingung, "Apa dia seluarbiasa itu?"
"Yah, karena Alex tidak pernah berhubungan dengan dunia bawah jadi dia mungkin tidak tahu. Adelio berikan berkas itu kepada Alex!"
Adelio mengangguk dan memberikan berkas itu kepada Alex yang segera di baca oleh Alex.
Setelah beberapa saat, dia berkata dengan sedikit takut, "Bukankah orang ini berbahaya?"
Evelin mengangguk di iringi tawa rendah, "Ya! dia memang orang yang berbahaya dan tidak boleh kau singgung secara sembarangan. Tapi, sekarang ada orang yang setara atau bisa di bilang lebih berbahaya dari dia."
"Siapa?"
Adelio memasang ekspresi serius, berbicara dengan nada tajam, "Devil, pemimpin organisasi Winter."
Alex megerutkan kening bingung, "Devil?"
Dia menjelaskan, "Karena tidak ada orang yang tahu siapa nama dan bagaimana wajahnya. Jadi, mereka mulai memangilnya devil karena sifat kejamnya."
Alex kembali mengerutkan kening dengan bingung, dia merasa kalau pembicaraan sangat sulit dia mengerti, "Kenapa mereka tidak tahu namanya? dan kenapa panggilannya devil?"
Adelio menghela nafas, sepertinya Alex sedikit lambat dalam berpikir. Jadi, dia dengan sabar menjelaskan, "Organisasi Winter adalah organisasi yang sangat tertutup, selain orang terdekatnya, tidak ada orang yang tahu bagaimana penampilannya. Bahkan, para bawahannya saja tidak tahu bagaimana penampilannya dan umurnya. Mereka hanya tahu, kalau pemimpin organisasi itu adalah seorang pria muda."
Dia melirik Evelin yang sibuk dengan makanannya, menghela nafas dan kembali menjelaskan, "Dan alasan kenapa dia di panggil devil, itu karena rumor yang mengatakan kalau dia sangat kejam. Ada yang mengatakan bahwa setiap pengkhianat yang di temukan oleh mereka akan berakhir dengan tragis. Ada juga yang mengatakan kalau pemimpin organisasi itu suka dengan darah, dan berbagai rumor buruk lainnya."
Adelio menyesap minuman di depannya, mengangkat bahunya dengan acuh, "Namun, apakah itu benar atau tidak masih tidak ada yang tahu."
Alex seperti sudah mengerti, dia kembali bertanya, "Jadi, apa hubungannya dia dengan tugas kita?"
Evelin menjawab dengan alami, dia masih sibuk dengan makanannya, "Tidak ada."
"Hah? lalu untuk apa menjelaskan tentang dia?"
Adelio menepuk dahinya, entah kenapa dia merasa sedikit kesal, "Bukankah kau yang tadi bertanya tentang dia?"
Alex mengangguk, "Ya! karena kalian menyebutnya, aku jadi penasaran, karena itu aku bertanya."
Evelin menumpuk tangannya, mengalihkan perhatian mereka berdua kepadanya, "Baiklah! Hanya itu yang ingin ku sampaikan kepada kalian. Itu adalah pekerjaan kalian berdua. Aku ingin kalian menyelidikinya secara hati-hati agar tidak di ketahui orang lain, apalagi dengan orang yang bersangkutan."
Dia memakan potongan kue terakhir, lalu kembali berbicara, "Kalian harus mengingat satu hal. Aku memang memberi kalian dua pekerjaan. Tapi, kalian harus memprioritaskan pekerjaan yang pertama."
"Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk menyelidiki Aston. Namun, aku ingin kalian sebisa mungkin menyelesaikan Pekerjaan pertama dengan cepat."
Mereka berdua mengangguk dengan serius.
Evelin berdiri, menyandang tasnya di bahunya, "Dan juga, hati-hati saat kalian menyelidiki tentang Aston, karena seperti yang kalian tahu. Dia adalah orang yang sangat berbahaya, walaupun sudah tua bangka."
NB: Winter adalah nama organisasi tempat Evelin berkerja.
~Happy new year 2023 everyone🎉🎉~