
"Hatimu bebas, milikilah keberanian untuk mengikutinya." - Braveheart
Tidak mempedulikan tatapan penasaran dari seluruh kantin, Evelin terus berjalan dengan riang ke tempat Reyhan berada.
Evelin melepas genggaman tangan Elliot, mendekati Reyhan dan hendak mencium Reyhan seperti biasa.
Namun, sebelum bibir indahnya bisa mendekati pipi Reyhan. Badannya di tarik mundur oleh tangan di perutnya. Walau tidak di tarik dengan kuat, itu masih membuatnya mundur.
Evelin mengangkat alis heran sebelum berkata dengan bingung, "Ada apa kak?"
Elliot menjawab dengan suara rendah dan dalam, bibirnya sedikit mengerut, "Nggak papa, kamu mau duduk di sini?"
Tunjuk nya pada kursi dia sebelah Reyhan. Tidak mendapati keanehan, Evelin mengangguk dan duduk di sebelah Reyhan dengan patuh.
Walau Evelin tidak menyadari, namun seluruh mata masih fokus kepada mereka dari tadi dan tindakan kecil yang di lakukan oleh Elliot menarik perhatian seluruh kantin.
Para murid hanya menyadari kalau Elliot memperlakukan Evelin dengan berbeda dan hati-hati. Sedangkan, ketiga pria yang duduk di meja itu sangat menyadari perilaku Elliot tadi.
Jelas, dia mencegah Evelin mencium pipi Reyhan. Mereka hanya menatapnya dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.
Elliot mengabaikan mata yang menatap ke arahnya dan duduk di sebelah Evelin.
Evelin mengambil makanan di depannya dan memakannya, Reyhan sudah tahu kalau Evelin akan ke sini. Karena itu, dia telah memesan makanan untuknya tadi.
Pulih dari keterkejutannya, Daffa berbicara kepada Elliot senang wajah sedih, "Boss, tumben Lo ke kantin? Biasanya kalo gue ajak ke kantin, Boss selalu nolak."
Elliot hanya mengabaikannya seperti angin lewat, Daffa yang tidak mendapat reaksi hanya diam saja karena itu sudah biasa.
Namun, dia masih pura-pura memasang ekspresi sedih dan berkata, "Boss tega banget sih kacangin Daffa yang tampan ini."
Lagi-lagi Elliot hanya mengacuhkan dan tidak menanggapinya.
Evelin berbicara dengan penasaran, "Boss? apa maksudnya Boss? kalian saling kenal?"
"Elliot itu temen kakak, kamu nggak tahu?"
Evelin menggeleng sebagai tanggapan, Elliot memang mengatakan kalau dia mengenal kakaknya tapi dia tidak menyangka kalau mereka juga berteman.
Tapi, mungkin akan lebih aneh jika mereka tidak berteman. Apalagi, mereka dari kalangan yang sama. Setidaknya jika bukan pertemanan murni, mereka pasti berteman untuk koneksi keluarga.
Namun, jika di lihat dari sikap Kakaknya dan Daffa, mereka pasti berteman karena keinginan mereka sendiri.
"Oh, terus kenapa manggil Boss?"
Tak tahu harus menjawab apa, Daffa berbicara secara asal dan gugup, "Ya karena dia pemimpin kelompok kami."
"Pemimpin kelompok?"
"Yah pokoknya begitulah.."
Melihat Daffa tidak ingin membicarakannya lagi, Evelin tidak bertanya lagi dan kembali fokus pada makan di depannya.
Elliot melihat sudut mulut Evelin terdapat sedikit cream. Secara refleks, ingin mengambil tisu dan membersihkannya.
Namun, dia menghentikan tangannya untuk mengambil tisu dan langsung membersihkannya dengan jarinya sendiri.
"Pelan-pelan makannya."
"Ah? hahaha.. makasih kak." Evelin cengengesan, mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. Takut jika masih ada makanan tersisa.
Tanpa di sadari oleh Evelin bahkan semua orang, Elliot menjilat tangannya yang tadi membersihkan mulut Evelin dan bergumam pelan, " Manis dan lembut."
"Apa kak?" Evelin yang tidak mendengar dengan jelas bertanya pelan.
Elliot menjawab dengan suara magnetiknya, "bukan apa-apa."
"Hmm.."
Elliot menurunkan alisnya melihat ke jari yang tadi dia jilat, dia tidak menyangka bibir perempuan akan selembut itu atau mungkin memang bibir Evelin yang sangat lembut.
Dia tanpa sadar melihat ke arah bibir Evelin yang bergerak-gerak saat berbicara dan menelan ludahnya.
'Aku ingin memakannya.'
***
"Kamu beneran nggak mau pulang sama kakak?"
"Kak Rey, ini udah yang kelima kalinya Lo kakak tanya." Evelin merenggut kesal melihat Reyhan.
Sekarang sudah waktunya pulang sekolah, dan Evelin ingin pulang sendiri. Namun, Reyhan bersikeras ingin pulang bersamanya.
Elliot menggenggam tangan Evelin, "Kamu pulang sama aku."
"Kalian ini kenapa sih? Aku pengen pulang sendiri hari ini."
Reyhan memasang wajah murung dengan suara yang di buat sesedih mungkin, "Tapi, beberapa hari ini kamu jarang pulang sama kakak dan pulang sendiri terus."
Evelin menghela nafas, "Aku akan pulang sama kakak besok, tapi nggak hari ini yah! aku ada urusan hari ini."
"Kak Elliot juga." Evelin melihat ke arah Elliot yang menggenggam tangannya.
Elliot melepaskan tangan Evelin dengan pasrah. Jika dia punya ekor dan telinga, pasti sekarang dia akan terlihat seperti anjing yang di tinggalkan tuannya.
Entah kenapa Evelin merasa sedikit bersalah melihatnya, jadi dia mengalihkan pandangan dan berjalan pergi, "Kalau begitu Evelin pergi dulu. bye!"
Evelin berjalan ke luar gerbang sekolah, dia melihat mobil berwarna biru yang terparkir di sana. Evelin masuk dan segera memberitahu sopir alamat yang di tuju.
Dia sudah memesan taxi tadi sebelum pulang, dia bisa saja pulang bersama kakak nya atau pun Elliot. Tapi, dia harus mengurusi masalah pribadi karena itu dia ingin pulang sendiri.
Evelin tiba di tempat tujuan, membayar ongkos dan turun dari taxi. Die melihat ke depan yang terdapat sebuah Cafe yang telah dia kunjungi sebelumnya.
Ya, tempat dia melamar pekerjaan sebelumnya, Cafe Smiling adalah nama Cafe tersebut.
Evelin berjalan masuk, melihat sekeliling, setelah menemukan orang yang dia cari. Dia segera melangkah menuju tempat tersebut.
"Ah, selamat datang Boss." Alex berdiri saat melihat Evelin.
Tadi Evelin mengirim pesan kepadanya untuk datang ke alamat ini. Dia tahu apa yang ingin Evelin bicarakan dengannya.
Jadi, dia segera datang ke sini setelah menerima pesan tersebut.
"Chika mana?" Tanya Evelin setelah duduk di kursi yang berseberangan dengan Alex.
"Dia ada di rumah. Orang tua kami benar-benar sangat berterima kasih karena telah menemukan Chika." Alex mengucapkan terima kasih sekali lagi dengan wajah bahagia.
Evelin melambaikan tangannya dan tersenyum, "Bukan apa-apa kok, kau sudah banyak berterima kasih kepadaku hari ini."
"Hahaha.. Kau terlalu rendah hati Boss."
Evelin menatap matanya dan dia tahu kalau itu adalah perkataan yang tulus. Hatinya semakin merasa tidak nyaman, jadi dia mengalihkan topik
"Kau pasti ingin tahu apa yang terjadi dengan adikmu dan bagaimana aku menemukannya kan?"
Alex segera mengangguk, dia memang senang karena adiknya telah di temukan. Namun, dia juga ingin tahu tentang apa yang sudah di alami adiknya selama sebulan ini.
Dia melihat tubuh adiknya yang memiliki bekas luka dan memar, dia ingin bertanya tentang apa yang terjadi. Tapi, dia takut itu akan mengingatkan adiknya kepada hari buruk yang telah dia alami.
Apalagi, adiknya masih sangat kecil. Jadi, dia menahan rasa penasarannya dan tidak menanyakan apa pun kepada adiknya.
"Aku akan menceritakan semuanya."