The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Fiola



"Setiap detik adalah nilai yang tak terhingga." - Johann Volfgang von Goethe


Evelin sedikit berlari ke arah Elliot, "Selamat pagi kak Elliot!"


Elliot berbelok, melihat Evelin yang berlari ke arahnya, menjawab dengan lembut saat Evelin berada di depannya, "Pagi!"


Reyhan berjalan dengan santai di belakangnya, "Pagi semuanya!"


"Daffa mana? belum dateng?"


Rian menggeleng kecil, berkata dengan acuh, "Belum, lagian dia juga sering dateng telat kan!"


Reyhan mengangguk setuju, "Benar juga sih."


Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna merah berhenti, Daffa keluar dari dalam mobil.


"Itu Daffa."


Daffa yang melihat tatapan yang tertuju ke arahnya mengangkat kepalanya dan berkata dengan kesal, "Apa liat-liat!"


Rian berbicara di iringi tawa keras, "Mata Lo kenapa? mirip banget sama mata panda. Jangan-jangan karena Lo pengen banget jadi panda, terus Lo begadang semalaman?"


Daffa melotot kesal ke arah Rian, "Nggak usah ngaco deh Lo. Siapa juga yang mau jadi panda? dasar nggak jelas."


Reyhan terdiam beberapa detik sebelum bertanya kepada kepada Daffa dengan tidak percaya, "Jangan bilang lo nggak tidur gara-gara kejadian kemarin?"


Daffa tidak membantah ataupun setuju, dia hanya berjalan pergi, berkata dengan lesu, "Terserah kalian deh. Pokoknya gue mau ke UKS, mau tidur. Kalo guru nanya, bilang aja kalo gue sakit. bye.."


Melihat Daffa pergi, Rian sedikit meninggikan suaranya, "Woii, ke sekolah buat belajar bukannya malah tidur. Gue aduin Lo ke pak Sam."


Dafa hanya melambaikan tangannya, tidak berhenti atau menoleh, di pikirannya sekarang hanyalah untuk pergi tidur sesegera mungkin.


"Biasanya tu anak langsung takut kalo gue nyebut pak Sam."


Pak Sam adalah guru matematika yang mengajar di kelas mereka, sebagai guru yang telah lama mengajar dengan banyak pengalaman. Dia terkenal sebagai guru yang tegas dan disiplin.


Daffa yang merupakan seorang pemalas, sering membuat pak Sam darah tinggi karena kelakuannya. Pak Sam tidak menyukai murid yang pemalas dan nakal seperti Daffa, sedangkan Daffa tidak menyukai guru yang 'terlalu peduli dengan siswa'.


Jadi, setiap mereka berdua bertemu, akan selalu ada omelan yang terdengar dan setelahnya Daffa akan mendapat hukuman.


Karena itu, Daffa akan lebih dahulu menghindari dan bersembunyi dari pak Sam jika dia tidak sengaja melihatnya dari jauh.


Reyhan menepuk bahu Rian, "Ya udah, yuk masuk!"


***


"Daffa masih tidur?" Tanya Evelin saat duduk di sebelah Elliot.


Rian memakan makanannya, meminum air di depannya dan menjawab dengan acuh, "Nggak tau juga gue, daritadi pagi dia udah nggak masuk kelas."


Evelin mengambil roti di depannya dan menggigitnya, "Kayaknya Daffa tidur nyenyak banget."


Rian mengangguk sebagai tanggapan.


Reyhan melirik adiknya, bertanya dengan lembut, "Kamu tadi ada masuk kelas?"


Evelin mengangguk, "Kalo nggak percaya tanya aja sama Tasya."


Dia menunjuk ke arah Tasya yang duduk di sebelah Rian, memakan makanannya dalam diam.


Mendengar namanya di sebutkan dia mendongak, dia segera mengangguk mengiyakan perkataan Evelin.


"Kalian belajar apa?"


Evelin terdiam sejenak sebelum berkata dengan tidak yakin, "Belajar tentang planet?"


Evelin menjawab dengan cemas dan terburu-buru, "Belajar.. Belajar cara tanaman tumbuh.. ya itu."


Melihat tingkah Evelin, Reyhan segera menghela nafas, "Kamu cuma masuk kelas aja dan nggak memerhatikan, kan?"


Reyhan melihat ke arah Tasya, "Apa yang di lakukan Evelin di kelas tadi?"


Tasya bermain dengan jarinya, tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak, melihat tatapan Reyhan, dia segera menjawab dengan gugup, "Evelin.. Evelin ta-tadi.. em.. itu.. dia tidur di kelas."


Reyhan menghela nafas, "Kakak tahu kamu pintar, tapi kamu tetap harus memperhatikan di kelas. Apalagi kamu udah lama nggak belajar."


Reyhan melihat ke arah adiknya, dari perkataan ayahnya, Evelin dulu waktu SMP adalah seorang anak yang pintar. Dia selalu mendapat juara kelas hingga para guru memujinya.


Namun, setelah kematian ibunya, Evelin tidak lagi mau belajar. Ayahnya mengira jika Evelin hanya merasa sangat sedih karena kehilangan ibunya. Jadi, dia tidak menegur Evelin untuk itu.


Dan seperti yang di duga ayahnya, Evelin perlahan-lahan kembali normal walau terkadang masih murung.


Tapi, di hari dia membawa Selia untuk di perkenalkan kepada Evelin sebagai ibu tirinya. Evelin menolak dengan mentah-mentah dan tak setuju.


James berfikir kalau Evelin hanya perlu waktu untuk menerima situasi. Namun, dalam beberapa Minggu kemudian, Evelin berubah dari gadis yang ceria dan penurut menjadi gadis yang sombong dan nakal.


Setelahnya, Evelin benar-benar mengabaikan sekolah dan ayahnya, hingga di SMA nilainya menjadi sangat buruk.


Evelin mengangguk, berkata dengan ceria, "Iya. lain kali, Evelin bakal belajar yang serius."


Reyhan mengangguk, kembali makan dan mengobrol dengan yang lain.


Suasana kantin ramai dan ribut, ada murid yang mengobrol dengan temannya, ada yang makan dengan kekasihnya, ada sekelompok anak laki-laki yang berkumpul dan tertawa.


Sungguh pemandangan yang hangat dan damai. Namun, segera kedamaian itu hilang dengan sebuah teriakan marah.


"Lo kalo jalan bisa liat nggak sih! Untung aja gue nggak kena. Kalo baju gue kotor, Lo mau ganti rugi?"


Gadis itu menunduk, dia masih berusaha membersihkan air yang telah tumpah di lantai.


Dia berkata dengan gugup dan takut, "Maaf kak. Aku nggak sengaja."


"Karena hari ini gue lagi dalam suasana hati yang baik, gue akan lepasin Lo. Tapi ingat, kalo lain kali sampai terjadi lagi, awas Lo!"


"Iya kak."


Gadis itu segera pergi agar tidak mendapat Maslah lagi.


Seorang gadis dari belakang segera bertanya dengan cemas, "Fiola! Lo nggak papa kan?"


Fiola dengan sombong berkata, "Nggak papa kok."


Evelin yang melihat hal itu, bertanya dengan heran, "Dia siapa?"


Rian tertawa, "Gue jadi kasian sama Fiola. Padahal dia nganggep Lo saingan dia, tapi Lo bahkan nggak tahu namanya."


"Fiola? kok gue nggak pernah liat dia?"


Reyhan menjelaskan, "Mungkin karena kamu dulu jarang ada di sekolah karena kamu sering bolos. Kalo kamu nggak liat dia akhir-akhir ini, itu karena dia lagi skors selama satu bulan. Mungkin masa skors nya berakhir kemarin, karena itu dia masuk lagi."


Evelin sedikit membuatkan matanya karena terkejut, "Skors satu bulan? emang dia lakuin apa sampe di skors satu bulan?"


Reyhan hendak menjawab, namun suara seseorang terdengar lebih dulu.


"Hai kak Elliot, apa kabar? kakak udah balik ke sekolah lagi? kok nggak ngabarin Fiola sih. Fiola kan kangen sama kak Elliot."


Mendengar nada centil dan menggoda dari gadis tersebut, Evelin agak merinding.


Dia berbisik ke telinga Reyhan dengan sangat pelan agar tidak ada yang mendengarnya, "Kak Rey, apa dia pacarnya kak Elliot?"