
“ Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh," - Perahu Kertas, Dee Lestari.
"Daffa stop!"
Daffa yang mendengar namanya di panggil segera berhenti, membalikkan badannya untuk melihat gadis yang berlari menghampirinya.
Alisnya terangkat sebelah, dia berkata dengan heran, "Ada apa? sampe lari-lari gitu."
"Kak Elliot nggak sekolah ya hari ini?"
"Iya. Gue denger dari Rian, katanya Boss lagi sakit. Makanya, nanti pulang sekolah kita mau jengukin."
Dia berbicara dengan nada terkejut, "Sakit?"
Daffa mengangguk, "Iya, Boss lagi sakit. Nggak percaya kan Lo? gue juga nggak percaya, gimana coba orang kayak Boss bisa sakit. Yang ada, Boss yang bikin orang sakit."
Evelin mengabaikan ocehan Daffa dan bertanya dengan cemas, "Apa sakitnya parah?"
Daffa yang melihat kecemasan dak kekhawatiran di mata Evelin terdiam sejenak, "Nggak parah kok, cuma demam biasa. Boss itu bukan orang yang lemah. Jadi, lo nggak perlu khawatir."
Evelin hanya mengangguk kecil, "Kalo gitu, Lo tolong bilangin sama kak rey kalo gue pulang duluan. Jadi, nggak usah nunggu gue."
Evelin segera melangkah pergi, namun Daffa segera menghentikannya, "Lo mau jenguk Boss?"
Dia mengangguk dan segera melangkah pergi, perlahan menjauh dan meniggalkan Daffa.
Daffa termenung sejenak, menatap ke arah Evelin pergi, dia bergumam dengan bingung, "Apa mereka pacaran?"
Dalam setengah menit berikutnya, dia segera menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau deh. Mending gue cepet ke kantin. Kalo kelamaan, nanti Dira marah."
Dia melangkahkan kakinya dengan santai di lorong yang sepi, tidak ada siapa pun di lorong karena ini masih jam belajar.
***
Evelin menghentikan taxi yang lewat, karena dia berencana akan pulang dengan Reyhan. Jadi, dia tidak membawa kendaraan.
Taxi segera berjalan, meniggalkan gedung sekolah. Evelin melihat keluar jendela, melihat pemandangan dari dalam mobil.
Di perjalanan, Sebuah toko menarik perhatian Evelin, dia segera membuka mulut, "Berhenti di toko depan sana bentar pak!"
Mobil perlahan melambat dan berhenti di depan toko.
"Tunggu bentar ya pak!"
Evelin segera memasuki toko tersebut, segera bau harum bunga memasuki hidungnya, dia bisa melihat berbagai jenis bunga di dalam toko tersebut.
"Selamat datang!"
Evelin melihat sekeliling, dia bisa melihat bunga yang berbeda-beda di dalam toko tersebut. Matanya tertarik pada salah satu bunga, kakinya tanpa sadar melangkah ke sana.
Pegawai toko yang melihatnya segera menghampirinya, "Apa anda suka bunga ini? saya juga menyukai bunga ini."
Evelin mengangguk, matanya terus menatap ke arah bunga di depannya.
Pegawai toko menjelaskan, "Bukankah mereka sangat indah, namanya adalah baby breath, bunga ini memiliki makna lembaran baru, harapan baru serta cinta kasih. Makanya, dalam sebuah pernikahan bunga ini sangat pas di jadikan buket bunga."
Ya, Evelin sangat mengetahui hal itu. Seseorang yang sangat berharga baginya pernah memberinya bunga itu dan bahkan menjelaskan maknanya kepadanya.
Evelin melihat bunga tersebut dengan tatapan rumit, dalam setengah menit, ekspresinya kembali normal. Dia menunjuk ke salah satu bunga di toko tersebut.
"Tolong bungkus bunga itu!"
Pegawai toko terdiam sejenak, dia pikir gadis di depannya akan mengambil bunga yang baru saja dia lihat. Namun, gadis itu membeli bunga yang lain.
Sekitar lima detik terdiam, pegawai toko segera tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Tolong tunggu sebentar!"
Evelin mengangguk, memilih untuk melihat bunga lain sambil menunggu.
Tak lama kemudian, pegawai toko membawa bunga di tangannya. Evelin mengambil bunga dan membayarnya.
Dia keluar dari toko bunga, melihat ke arah bunga sejenak. Merasa harus membawa yang lain. Dia pergi ke toko buah yang tidak jauh dari sana dan membeli buah.
Setelah 20 menit di perjalanan, taxi berhenti di depan sebuah gedung tinggi.
Evelin membayar taxi dan keluar dari taxi. Dia melihat gedung di depannya yang merupakan tempat dia menyewa apartemen.
Dia memang ingin menjenguk Elliot, tapi dia tidak tahu di mana rumah Elliot. Jadi, dia datang ke tempat ini, karena hanya tempat ini yang dia tahu.
Jika dipikirkan lagi, Evelin tidak tahu apa-apa tentang Elliot, sampai sekarang mereka selalu bersama. Tapi, dia tidak pernah benar-benar ingin tahu atau bahkan bertanya tentang Elliot.
Dia hanya berharap semoga Elliot berada di apartemennya.
Evelin masuk, menaiki lift, lift bergerak dan Evelin segera keluar saat lift berhenti. Dia berjalan menuju salah satu pintu yang pernah di tunjuk Elliot sebagai apartemennya.
Evelin menekan bell dan segera bunyi bell terdengar di dalam ruangan.
Tidak mendapat jawaban, dia menekan bell sekali lagi. Masih tidak medapat jawaban, dia menekan bell untuk ketiga kalinya.
'Mungkin dia ada di rumahnya.'
Evelin berbalik, ingin pergi, namun suara pintu terbuka menghentikannya.
"Evelin pikir kakak nggak di sini."
Dia segera melihat Elliot yang membuka pintu, wajahnya pucat, pipinya tampak sedikit memerah, bibirnya tampak kering dan kehilangan warnanya yang biasanya merah dan tampak cerah.
"Kakak nggak papa?"
Dia segera menahan tubuh Elliot yang terlihat akan jatuh.
Evelin membantu Elliot pergi ke kamar, Elliot duduk di kasur, Evelin meletakkan bantal di belakang pungung Elliot untuk membantunya bersandar.
Elliot melihat Evelin, berbicara dengan suara serak, "Kamu ke sini."
"Iya. Aku dengar dari Daffa kalo kakak lagi sakit. Aku nggak tahu di mana rumah kakak jadi aku datang aja kesini. Mungkin aja kakak di sini."
Dia meletakkan bunga dan buah yang di bawanya di atas meja.
"Aku juga bawa bunga sama buah buat kakak. Kakak mau? biar Evelin kupasin."
Elliot mengangguk, "Ya!"
Evelin mengambil buah apel dan pisau, mulai mengupasnya dengan teliti, "Kakak sakit apa? parah kah?"
Elliot yang fokus melihat Evelin yang mengupas buah, terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan suara serak, dia tersenyum tipis, "Nggak, ini cuma sakit biasa. Setelah istirahat, pasti bakal sembuh."
Evelin memotong apel, meletakkannya di atas piring, "Benarkah?"
"Iya."
Evelin mengangkat alis tidak percaya, dia hanya berpikir mungkin saja Elliot tidak mengatakan yang sebenarnya karena takut dia khawatir, "Kakak nggak bohong kan?"
"Nggak! Kamu nggak percaya sama kakak?"
Evelin menggeleng kecil, "Aku percaya sama kakak."
Dia meletakan pisau setelah selesai mengupas apel, mengambil salah satu apel dan menyodorkannya ke mulut Elliot.
"Aa.."
Segaris senyum tipis terbentuk di bibir Elliot, "Kau tahu, ini tidak separah itu sampai aku tidak bisa makan sendiri."
Evelin tersenyum cerah, "Iya, Evelin tahu! Evelin cuma mau nyuapin kakak aja."
"Kakak nggak mau?"
Elliot tidak menjawab, dia segera memakan potongan buah yang di berikan Evelin.
Elliot mengunyah buah, menelan dan berkata dengan pelan, "Manis!"
"Apa semanis itu?"
Evelin yang penasaran, mengambil salah satu potongan apel dan memakannya."Emm.. iya, manis."