
"Tinggalkan rasa sakit itu, dan biarkan dirimu hidup kembali. Pilihannya sederhana, dan selalu ada di tanganmu." - Robin Hobb
Evelin tetap di taman, tak bergerak sedikitpun dan melewatkan jam pelajaran hingga istirahat.
Reyhan berjalan sendirian dengan santai ke kantin. Dia tadi pergi ke kelas Evelin dulu, karena itu kedua temannya sudah pergi ke kantin duluan.
Dia pergi ke kelas Evelin namun adiknya tidak ada di sana, saat dia bertanya kepada gadis yang bersama adiknya kemarin yaitu Tasya, kemana adiknya pergi.
Dia menjawab kalau Evelin tidak masuk kelas dari pagi hingga sekarang, mendengar hal tersebut perasaan gelisah dan khawatir muncul di hati Reyhan.
Kemana Evelin pergi? bukankah dia berangkat duluan ke sekolah? apakah dia baik-baik saja? apa sesuatu terjadi?
Berbagai pertanyaan melayang di kepalanya dengan cepat. Saat pertanyaan demi pertanyaan datang, dia menjadi semakin khawatir dan gelisah.
Namun, Sebelum rasa khawatirnya menjadi lebih besar. Evelin mengiriminya pesan yang mengatakan dia akan pergi ke kantin untuk menemuinya.
Jadi, Reyhan langsung pergi ke kantin setelah menerima pesan dari Evelin. Dia sempat khawatir kalau terjadi sesuatu kepada Evelin namun sepertinya dia hanya khawatir secara berlebihan.
Sebelumnya Evelin juga sering bolos dan tidak masuk kelas jadi tidak mungkin dia bisa tiba-tiba dengan rajin mengikuti kelas.
Reyhan segera tiba di kantin, suara-suara hiruk pikuk segera terdengar. Tak pernah ada waktu di mana kantin sepi saat jam istirahat.
Reyhan melihat sekeliling untuk mencari di mana kedua sahabatnya berada, segera dia menemukan mereka. Karena mereka terlihat mencolok bahkan di kerumunan orang jadi dia dapat dengan mudah menemukannya.
Dia berjalan ke arah mereka dan melihat mereka berbicara dengan senang. Melihat hanya mereka berdua saja, sepertinya Evelin belum datang.
"Lagi ngomongin apa?"
Reyhan duduk dan menepuk bahu Rian saat dia berbicara.
"Eh.. udah sampai Lo."
Rian melirik Reyhan sebentar lalu meminum minumannya sebelum menjawab dengan tenang, "Ini lagi ngomongin si boss."
"Elliot udah balik?"
"Iya. udah lama, tapi baru sekolah hari ini."
"Terus sekarang dia mana?" Reyhan kembali bertanya saat tidak melihat orang dia cari.
"Nggak tau. katanya ada urusan." Daffa mengangkat bahu Acuh menanggapi pertanyaan Reyhan.
Elliot mengambil cuti sekitar sebulan yang lalu jadi baru sekarang dia balik ke sekolah.
Reyhan memesan makanan lalu tak lama makanan yang dia pesan datang dan segera Evelin datang beberapa menit kemudian.
"Pagi kak..!" Suaranya terdengar riang sama seperti biasanya dan raut wajahnya juga cerah.
Dia duduk di sebelah Reyhan dan mencium pipi. Reyhan sebelum memakan makanan yang sudah Reyhan pesan untuknya.
"Ini udah siang, pagi udah lewat tadi." Daffa berbicara dengan santai.
Niatnya ingin berbasa-basi saja namun dia tak menyangka kalau Evelin menanggapi dengan serius.
"Ini masih pagi, kalau siang itu udah lewat jam 12.00." Dia berbicara dengan wajah serius namun malah terlihat lucu.
Jam istirahat sekitar jam 10.00, jadi menurut Evelin ini masih pagi. Logikanya juga tidak salah, jadi dia berbicara dengan percaya diri.
"Ya udah deh.. terserah Lo lah." Daffa berbicara dengan pasrah lalu fokus ke makanan di hadapannya.
"Darimana aja? kok nggak masuk kelas tadi?"
Evelin berbicara dengan acuh dan malas, "Tadi aku dari taman, mau masuk kelas tapi malas."
Reyhan melirik Evelin yang terlihat malas dan tidak bersemangat. Sepertinya sesuatu terjadi namun Reyhan tidak tahu apa itu.
Dia melihat tangan Evelin yang di perban, entah kenapa dia merasa kalau perban di tangan Evelin sedikit lebih tebal, atau mungkin itu hanya perasaanya saja?
Evelin tahu Reyhan memperhatikan tangannya yang terluka jadi dia menyembunyikan tangannya di bawah secara perlahan namun pasti hingga Reyhan tidak menyadarinya.
"Daffa, tadi ada cewek yang nyamperin gue." Evelin berbicara dengan santai sambil menyesap minuman di depannya.
"Terus..?" Daffa mengangkat alisnya heran, dia tidak tahu kenapa Evelin tiba-tiba membicarakan hal tersebut dan apa hubungannya dengan dia.
Kalau ada cewek yang nyamperin Evelin terus kenapa?
"Katanya dia mantan pacar Lo." Bibirnya perlahan membentuk sebuah senyum manis saat dia berbicara, matanya berkilat jahil namun Daffa tidak menyadarinya sama sekali.
"Oh.. terus kenapa?" Daffa semakin bingung, dia mengerti kalau cewek yang di bicarakan Evelin adalah pernah berhubungan dengannya, lalu kenapa Evelin mengatakannya kepadanya?
Daffa memang playboy namun dia tidak pernah berpacaran dengan dua atau lebih cewek sekaligus.
Dia selalu berpacaran dengan satu perempuan namun waktu pacarannya sangat singkat.
Tergantung dengan seberapa suka dia kepada cewek tersebut, semakin suka dia semakin lama mereka berpacaran namun itu tidak pernah lebih dari satu Minggu.
Bahkan jika dia sangat menyukai perempuan tersebut, dia akan putus setelah satu Minggu lalu mencari cewek lain.
Kenapa mereka mau berpacaran dengan dia padahal mereka tahu dia playboy? Yah jawabannya tentu saja karena dia tampan dan kaya.
Bahkan jika itu adalah waktu yang sangat singkat, mereka akan puas berpacaran dengan Daffa karena dia adalah orang yang loyal dengan pacarnya.
Daffa sering membelikan mereka barang mewah dan memenuhi semua keinginan mereka. Jadi, jika Daffa tiba-tiba memutuskan mereka, mereka tidak akan keberatan.
Daffa juga selalu membelikan hadiah sebelum putus dengan pacarnya. Karena itu sampai sekarang jarang ada masalah walaupun sikapnya seperti orang brengsek.
Yah, walaupun terkadang ada perempuan yang akan membuat masalah namun itu jarang terjadi. Semua cewek yang berpacaran dengan Daffa tahu bagaimana sifat dan kelakuannya.
"Dia nangis ke gue terus bilang kalo perutnya makin buncit." Evelin menghela nafas pelan saat dia mengatakan itu bahkan ekspresinya wajah tampak sedih.
"Uhuk.. uhuk.." Daffa tersedak makanannya saat dia mendengar hal tersebut, dia segera meraih gelas dan meminum air.
"Yang benar aja Lo.. Jangan ngaco deh." Dia sedikit meninggikan suaranya karena kaget dengan mata melotot.
Bagaimana tidak, walau dia sering gonta-ganti pasangan, dia tidak pernah menyentuh pacarnya sampai pada tahap seperti itu. Paling banyak dia hanya berciuman, berpegangan tangan atau berpelukan.
Dia juga tahu untuk tidak melewati batas, dia tidak ingin menyebabkan masalah untuk orang tuanya. Jadi, dia berpacaran hanya untuk bersenang-senang.
Jika, dia melakukan hal yang lebih dari itu mungkin ayahnya sudah mengusirnya dari rumah.
"Beneran, dia sampe nangis-nangis saat bilang ke Evelin. Terus dia bilang kalo itu semua gara-gara Daffa." Nadanya terdengar sangat serius hingga siapapun yang mendengarnya pasti akan mempercayainya.
Reyhan dan Rian juga memandang Daffa dengan tatapan tidak percaya.
Selama ini mereka emang tahu kalo Daffa suka Gonta-ganti cewek tapi mereka tidak menyangka kalo dia sampai melewati batas.
"Bukan gue yang lakuin, beneran deh. Kalian nggak percaya sama gue?"
Tak mau di salahkan dia berusaha meyakinkan teman-temannya. Namun, mereka hanya memandang Daffa dengan ekspresi kecewa.