The Assassin'S Transmigration

The Assassin'S Transmigration
Misi Pertama



"Percayalah bahwa hidup itu layak dijalani dan keyakinanmu akan membantu menciptakan fakta." - William James


Dia pernah berharap bahwa mimpi itu akan menghilang dan tidak mengganggunya lagi dan suatu hari dia pernah tidak mengalami mimpi tersebut namun entah kenapa saat bangun keesokan paginya dia merasa hampa dan seperti kehilangan sesuatu.


Dia menertawakan dirinya, dia sendiri yang ingin menghilangkan mimpi buruk dan saat itu hilang dia juga yang menginginkannya kembali.


Karena itu, walau dia menderita dia tidak ingin mimpi itu menghilang. Dia ingin terus melihat gadis di dalam mimpinya walau itu mimpi buruk sekalipun.


Lambat laun dia menjadi semakin terobsesi dengan mimpi tersebut dan mulai mencari seseorang yang mirip dengan gadis di mimpinya namun dia tidak pernah bisa menemukannya, apalagi dia tidak tahu bagaimana wajahnya.


Setelah waktu yang lama, dia seperti memiliki dua ingatan dalam dirinya dan sebuah teori yang tidak masuk akal melintas di pikirannya.


Bagaimana jika itu adalah ingatan dari kehidupan sebelumnya?


Walau itu sangat di luar logika dan tidak masuk akal. Namun, hanya itu satu-satunya kemungkinan yang bisa dia pikirkan


Dia berpikir dengan kesimpulan itu dan terus mencari gadis itu tanpa hasil yang memuaskan namun dia tidak pernah menyerah.


“Sepetinya aku sudah gila.” Dia tertawa mencela diri sendiri dan menutup matanya.


Evelin menyelinap dan menusuk pisau tepat ke jantung seorang penjaga dan mematahkan leher penjaga yang lain sebelum penjaga tersebut dapat bereaksi.


Dia memindahkan penjaga tersebut ke tempat yang tidak terlihat dan terus masuk ke dalam bangunan tersebut.


Bangunan tersebut adalah bangunan dengan dua lantai yang di jaga oleh sekitar 15 hingga 20 orang di setiap lantai. Bangunan terletak di pinggir kota dan dekat hutan dan tersembunyi oleh rimbunnya pohon. Jadi, tidak akan mudah di temukan.


Bangunan itu juga memiliki CCTV dan dia sudah meretas CCTV hingga CCTV hanya akan melihat keadaan yang sama. Jika mereka tidak terlalu memperhatikan, mereka akan butuh waktu lama untuk mengetahuinya.


Jadi, Evelin menghitung waktunya dan dia harus menyelesaikan ini dengan cepat.


Dia berjalan di lorong dalam diam, saat akan berbelok dia melihat seorang penjaga yang berjalan ke arahnya, dalam sekejap dia kembali mundur dan bersembunyi di balik dinding.


Saat penjaga itu lewat dan melihatnya, Evelin sudah membungkam mulutnya sebelum dia berteriak dan melawan.


Dia terus berjalan dalam diam dalam bangunan tersebut, setelah beberapa menit dia mendengar keributan.


'Sepertinya mereka sudah menyadarinya.’


Dengan itu, dia mempercepat langkahnya dan saat akan menaiki tangga sebuah teriakan terdengar. Dia melihat sekelompok orang yang memegang pistol yang menghadap ke arahnya.


“Berhenti! Lepaskan topengmu dan buang senjatamu.”


Evelin mengenakkan topeng tadi sebelum dia masuk untuk menutupi wajahnya, hanya untuk jaga-jaga jika identitasnya bocor.


Dia melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia sudah di kepung. Evelin mengangkat tangannya berbicara dengan nada sepeti ketakutan.


“Aku menyerah! Tolong jangan bunuh aku.”


“Buang senjatamu dan berlutut sebelum aku menembakmu.” Pria yang tadi berbicara kembali berteriak dengan keras.


“Oke.. oke.. harap tenang.” Evelin melempar pisau di tangannya dan memasukkan tangan ke dalam jaket di sakunya.


Mereka melihat Evelin dengan curiga dan kembali memperingatkan, “Apa yang kau lakukan? Jika kau macam-macam kamj akan langsung menembakmu.”


Setelahnya, suara tembakan dan teriakan terdengar di mana-mana. Dalam asap tebal, genangan darah mengalir di lantai dan saat asap hilang, penampakan berdarah terlihat.


Banyak tubuh yang tergeletak di lantai dan di penuhi darah merah, ada yang lehernya patah, ada yang kepalanya berlubang, ada yang dadanya berlubang dan yang pasti mereka semua sudah mati.


Di dalam ruangan yang di dominasi dengan bau alkohol dan tawa. Ada empat orang yang duduk di sofa yang membentuk huruf n dan pengawal di belakang mereka yang berjumlah 6 orang.


“Cepat ambilkan aku wine lagi! Di mana mereka? Kenapa sangat lama?” seorang pria paruh baya dengan Perut buncit dan kepala botak berteriak dengan marah.


“Mereka masih mengurus penyusup tuan.” Pengawal di belakangnya memberitahunya dengan tenang namun pria botak itu kembali berteriak dengan marah.


“Kenapa hanya mengurus seorang penyusup saja lama sekali? Itu sebabnya mereka menjadi tidak berguna.”


“Jangan marah kepada pengawalmu, lebih baik kau minum alkohol ini.” Pria paruh baya lain yang wajahnya sudah merah karena alkohol memberikan minuman kepada pria botak di sebelahnya.


Pengawal di belakang pria botak itu hanya mengepalkan tangannya dengan erat. Dia merasa jijik melihat mereka namun ekspresinya tetap tenang.


Dan orang lain yang duduk di ruangan hanya tertawa melihat pria botak itu.


Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu, dan pria botak itu kembali memberi perintah.


“Itu pasti mereka, cepat buka pintunya.” Mengira itu adalah pelayan yang membawa minumannya dia dengan cepat menyuruh pengawal di pintu.


Penjaga di pintu membuka pintu dan segera setelahnya dia jatuh ke tanah diiringi suara tembakan dan sebuah suara ceria terdengar.


“Hai.. apa kabar semuanya?”


Pria botak itu berteriak dengan marah, “Siapa kamu? Di mana anak buahku? Apa yang terjadi dengan mereka? Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?”


“Kau sungguh cerewet ya. Bukankah kau seorang penjahat? Kenapa sekarang seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi?”


“Apa yang kalian lakukan? Bunuh dia!.” Pria botak itu kembali berteriak dengan keras.


Para pengawal segera mengangkat pistol untuk menembak Evelin. Namun, Evelin sudah berlari lebih dulu, mendekati salah satu pengawal, mengambil pistolnya dan menembak pengawal tersebut.


Dia menghindari peluru dari pengawal lain dan kembali menembak ke arah mereka. Aksi saling tembak menembak pun terjadi di dalam ruangan itu.


Sedangkan ke empat pria paruh baya di dalam ruangan tersebut hanya berjongkok dan bersembunyi dengan ketakutan.


Pengawal yang tadi melihat pria itu dengan jijik sekarang menodongkan pistol ke kepala pria botak itu di tengah kekacauan yang terjadi.


“Apa yang kau lakukan? Kau berani mengkhianatiku! Dasar tidak berguna, inilah sebabnya orang rendahan seperti kalian sangat tidak berguna.”


“Sepetinya kau masih belum menyadari situasimu. Bahkan jika aku mati hari ini aku akan membunuh kamu. Pria yang tidak menghargai hidup orang lain dan hanya memanfaatkan mereka tidak pantas hidup di dunia ini.”


“Tidak, tunggu dulu. Aku akan memberimu uang berapun yang kau inginkan.” Pria botak itu berbicara dengan panik.


“Tidak perlu.”


Segera pelatuk di tarik dan sebuah peluru melewati kepala pria botak itu, darah mengalir keluar dari kepalanya dan dia langsung jatuh ke tanah.


“Wow.. aku tidak menyangka kau akan melakukan itu. Sungguh keren kau terlihat hebat.” Evelin bertepuk tangan dengan kagum.