
"Jika kehidupan dapat diprediksi, ia akan berhenti menjadi kehidupan, dan tanpa rasa." - Eleanor Roosevelt
Evelin menunduk lesu, bukannya apa-apa. Tapi, tidak ada penjual es krim di sana selain penjual yang tadi. Mau ke toko es krim juga jauh dari sini.
Dia berdiri tegak, matanya cerah seperti mendapat sebuah ide. Melihat sekeliling dia menemukan apa yang dia cari dan melangkah kakinya ke sana.
Dia melihat pria tinggi yang tadi, kini sedang bersama seorang anak kecil.
"Om..!" Serunya bersemangat sambil sedikit berlari.
Karena dia tinggi dan Evelin juga tidak melihat wajahnya, di tambah dia bersama seorang anak. Jadi, menurut kesimpulan Evelin dia pasti sudah agak tua.
Dia hanya mengenakan kaos oblong dengan celana pendek jika di lihat dari belakang.
Pria tinggi yang merasa di panggil, membalikkan badannya, tepat ketika Evelin sampai di tempat mereka.
"Wow.."
Mulutnya ternganga dengan wajah tercengang, Siapa yang menyangka pria tinggi yang dia panggil om adalah seorang pria muda tampan.
Dia memiliki garis wajah tegas, bibir agak tipis, matanya berwarna biru, dan rambut pirang yang tidak di atur dengan rapi.
Jika di lihat dengan teliti sepertinya rambutnya di cat, bukan rambut pirang asli. Karena bibir indahnya membentuk garis lurus, dia memberikan aura dingin.
Bahkan, sekarang dia memberikan aura menakutkan dengan matanya yang tajam. Sepertinya dia marah karena Evelin memanggilnya om.
Walau dia tidak menampakkan nya karena ekspresinya tetap datar. Namun, bagi Evelin yang peka dia bisa tahu dengan mudah kalau pria tinggi itu sedang marah.
Kenapa Evelin menyebutnya sebagai pria tinggi? karena Evelin hanya setinggi bahunya jika mereka berdiri bersama.
Namun, ada sesuatu yang lain. Pria ini terlihat sangat familiar baginya.
"Kenapa?"
Karena Evelin tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa. Jadi, pria tinggi itu berbicara lebih dulu.
"Ja-Jadi gini, om.." Evelin yang tersadar kembali berbicara dengan sedikit gagap.
"Jangan panggil saya om!" Tegasnya saat mendengar gadis di depannya masih memanggilnya om.
"Ah.. okay."
Mendengar suara tegas, Evelin berpikir sebentar tentang panggilan yang bagus.
"Jadi gini kak.. boleh Evelin minta itu." Dia menunjuk es krim di tangan pria tinggi itu, matanya berbinar dengan menggemaskan.
Pria tinggi itu melihat ke arah es krim di tangannya yang belum dia sentuh.
"Bukan minta kok, Evelin akan bayar." Menyadari dia salah bicara, dia kembali berucap.
"Kasih aja, kakak kan tadi bilang nggak suka makanan manis."
Gadis kecil yang sedari tadi diam, memandang pria tinggi di depannya. Tangan mungilnya menarik kaos pria itu, sedangkan tangan yang lain masih memegang es krim.
Jika di lihat lagi, dia sepertinya berumur 9 atau 10 tahun. Mata bulatnya menatap pria tinggi itu dengan lucu.
"Saya belum memakannya. Tapi tetap saja, apa kamu tidak masalah?"
Pria tinggi itu menyerahkan es krim di tangannya ke hadapan Evelin.
"Nggak papa kok." Evelin menerima es krim dengan senang, matanya berbinar dengan senyum cerah.
Jika dia memiliki ekor, pasti sekarang sedang dia sudah mengibaskan ekornya dengan senang.
Memikirkan hal itu, segaris senyum tipis muncul di bibir pria tinggi itu. Karena Evelin terlalu fokus dengan es krimnya, dia tidak memperhatikan perubahan kecil itu.
"Tidak usah."
Pria tinggi itu melihat Evelin akan memberikan uang, jadi dia menolak dengan cepat. Melihat penolakan pria itu Evelin kembali menarik tangannya.
"Ayo kita pergi." Dia meraih tangan mungil gadis kecil yang memegang kaosnya.
"Bye.. kakak cantik."
Gadis kecil itu melambaikan tangan mungilnya setelah melepas genggaman pria itu, lalu menggenggamnya lagi setelah melambai pada Evelin.
Evelin juga melambaikan tangannya sebelum berbalik dengan es krim di tangannya.
'Sangat mirip.'
Ngomong-ngomong pria itu sepertinya hanya satu atau dua tahun lebih tua darinya.
***
Pria tinggi itu berjalan menuju tempat dia memarkirkan mobil. Dia membuka pintu mobil dan mengangkat gadis kecil yang sibuk dengan es krimnya ke kursi.
Setelah dia memasangkan sabuk pengaman, ponsel di saku celananya bergetar.
Pria itu menepuk kepala gadis kecil itu yang mengangguk.
"Ya."
Suaranya terdengar dalam dan serak saat dia menjawab telefon.
-- Elliot, apa kabar?
Suara pria muda terdengar dari telefon.
"Baik. Ada apa?" Elliot menjawab dengan singkat.
-- Sepeti biasa, Lo masih dingin aja ya!
Pria itu terkekeh mendengar reaksi dingin temannya.
"Jadi, ada apa Deon?" Dia kembali mengulang pertanyaan tanpa memedulikan ejekan Deon.
-- Tadi, ada yang datang ke gue dan bilang mau kerja sama kita.
"Lo urus aja." Elliot berbicara dengan acuh.
-- Dia itu perempuan, terus bisa di bilang agak unik gitu.
"Maksud Lo?"
-- Yah, pokoknya susah jelasinnya. Gue akan kirim datanya ke Lo nanti.
"Hm.."
Padahal biasanya Deon akan mengurusnya sendiri, jika dia sampai memberitahunya pasti orang itu istimewa.
-- Dia ahli dalam racun dan dia juga tahu penawarnya."
"Apa Lo udah tes?"
-- Belum sih. Hehehe..
Elliot menghela nafas, bagaimana bisa kau percaya jika tidak ada bukti.
"Siapa namanya?"
-- Evelin Keyrie Nelson. Lo tahu, dia anak dari keluarga Nelson.
Evelin berpikir sebentar, bukannya gadis tadi yang berbicara dengannya bernama Evelin?
"Gue akan mengurusnya."
Mereka berbicara di telefon selam beberapa menit sebelum dia menutup telefon.
Jika, gadis yang tadi dan gadis yang di sebut Deon adalah orang yang sama. Maka..
"Sepertinya akan menyenangkan."
"Kak.. Udah selesai telefonnya?." Gadis kecil itu berteriak saat tangan mungilnya meraih sisi mobil.
Es krimnya sudah habis dan dia juga bosan menunggu. Karena tidak tahan lagi jadi dia mengambil Elliot.
Elliot berbalik dan masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kita pulang!"
Mobil melaju pergi menjauh dari taman, hingga hilang ke kerumunan mobil di jalan raya.
***
Evelin memarkirkan mobil dan memasuki rumah, sepanjang perjalanan dia melihat beberapa pelayan yang melakukan pekerjaan mereka.
Dia tidak tahu ada berapa, tapi sepertinya pelayan di rumah ini lebih dari lima puluh orang.
"Sayang.. kamu ke mana aja? kenapa lama banget pulangnya?" Selia menghampiri anaknya yang baru memasuki rumah.
"Mommy telefon kok nggak di angkat?" Selia berbicara dengan khawatir.
Pasalnya dia sudah menghubungi anaknya berkali-kali tapi tak satu pun di angkat. Apalagi sekarang sudah hampir sore tapi Evelin belum kembali.
"Evelin nggak bawa ponsel, Kayaknya ponsel Evelin ketinggalan di kamar." Dia merogoh sakunya dan tidak menemukan ponselnya.
Sepertinya dia lupa mengambil ponselnya.
"Evelin tadi jalan-jalan di taman jadi lupa waktu." Dia memberikan tawa riang saat berbicara.
"Evelin ke kamar dulu ya. Evelin lelah habis jalan-jalan." Dia pergi setelah mendengar jawaban Selia.
Selia melihat Anaknya yang berjalan ke tangga. Entah kenapa dia terlihat tidak bersemangat.