
“Hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu, menjadi bahagia, apa pun yang terjadi.” - Audrey Hepburn.
Mereka bertiga terdiam selama beberapa detik, ada keheningan aneh di udara.
"Tapi.. Rey, adik Lo kan udah sering pergi ke sana. Terus kenapa Lo sekarang jadi panik gitu?" Rian mengerutkan kening heran melihat reaksi aneh sahabatnya.
Reyhan tahu kalau Evelin sering pergi ke sana kapan pun dia mau. Tapi, sekarang setelah dia melihat perubahan Evelin, dia pikir Evelin tidak akan berbuat hal nakal lagi.
Namun, sekarang dia mendapat pesan kalau Evelin berada di tempat cowok berandal.
Apa yang akan dia lakukan jika terjadi apa-apa pada Evelin?
Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu pada Evelin?
Tidak tahu kenapa tapi dia sekarang sangat gelisah dan khawatir tentang kondisi Evelin.
"Yah.. pokoknya sekarang kita harus ke sana!" Reyhan masih tegas dengan keputusannya.
"Ah.. ini anak kenapa sih? Aneh banget hari ini." Daffa menggelengkan kepala heran mendengar ucapan Reyhan.
Jika, karena perubahan kecil dari Evelin tingkah Reyhan sudah sepeti ini, entah apa yang akan terjadi ke depannya.
"Ya udah.. Kita ikut aja!" Rian menepuk bahu Daffa sebelum naik ke motornya.
"Huft.. Okay Fine." Daffa juga menaiki motornya, mengenakan helm, dan menyalakan mesin motor.
Karena dia berangkat dengan Evelin tadi pagi, jadi Reyhan tidak menggunakan motor sepeti biasanya.
Dia membuka pintu mobil, masuk ke dalam mobil, menutupnya kembali dan menyalak mesin mobil.
Dengan itu, Reyhan meninggalkan lingkungan sekolah menggunakan mobil, di ikuti oleh Daffa dan Rian dengan motor mereka masing-masing.
Sebenarnya markas Invisible tidak terlalu jauh dari sekolah, jika menggunakan mobil dalam kecepatan normal kau akan sampai dalam beberapa menit.
Namun Reyhan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan sekitar, yang membuat beberapa pengendara lain berteriak dengan kesal.
Kedua orang yang mengikutinya hanya bisa tercengang melihat mobil Reyhan yang semakin cepat. Jika sepeti ini mereka akan tiba kurang dari 5 menit.
Reyhan menginjak rem dan mobil berhenti di depan gedung tiga lantai tersebut. Dia turun dari mobil dengan buru-buru.
Melihat gedung di depannya berbagai pemikiran buruk mulai menghampiri kepalanya. Dia pergi ke gedung dengan langkah cepat.
Sesampainya di depan pintu, dia mendorong pintu dengan tergesa-gesa.
Namun, saat dia melihat pemandangan di dalam ruangan dia terdiam membeku di tempatnya.
Daffa dan Rian yang baru tiba, segera mematikan mesin motor mereka dan berjalan ke arah gedung, langkah mereka cepat seolah takut terlambat.
Mereka takut jika terjadi pertarungan di dalam dan Reyhan tidak bisa melawan mereka sendiri.
Memikirkan hal tersebut langkah kaki mereka semakin cepat.
Tapi, beberapa langkah lagi mereka menuju gedung mereka melihat Reyhan yang berdiam diri seolah tubuhnya menjadi batu.
Langkah mereka perlahan melambat ketika mereka semakin mendekat.
"Lo kenapa? kok diam aja." Rian menepuk bahu sahabatnya, nadanya melambat di akhir saat dia melihat pemandangan di depannya.
Daffa juga hanya diam, tak tahu harus berkata apa.
Jika di deskripsikan, pemandangan yang mereka lihat adlah seperti ini.
Evelin sedang duduk di sofa sendirian, ada beberapa remaja di sekelilingnya. Mereka pasti memegang sesuatu di tangan mereka.
Tidak jauh dari tempat Evelin berada, ada Alex mengenakan dress ball gown berwarna biru yang berdiri diam dengan anggun sepeti seorang putri, dia bahkan menggunakan wig berwarna pirang.
Di tangannya terdapat kipas tangan berwarna biru dengan motif bunga. Kipas itu di letakkan di depan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang mungkin memerah.
Di depan Alex ada tiga remaja yang berlutut seperti seorang pangeran walau mereka mengenakan pakaian sekolah dan yang lain mengenakan kaos oblong.
Salah satu lutut mereka di tekuk, satu tangan di dada dan tangan yang lain di angkat memperlihatkan telapak tangan mereka menghadap 'sang putri'.
Wajah mereka serius, dan mereka mengucapkan kalimat seperti.
Cowok 1: "Oh.. my lady! Kecantikanmu telah meluluhkan hatiku ini. Aku tidak bisa melupakan senyum indah mu, tolong terimalah lamaranku. "
Cowok 2: "Saat pertama kali aku melihatmu engkau bagai dewi yang datang dari langit. My lady tolong terima aku sebagai pasanganmu."
Cowok 3: "My lady.. engkau datang ke hadapanku di bawah langit malam yang di terangi cahaya bulan. Ini pasti takdir, tolong menikahlah denganku!"
Semua yang ada di ruangan itu gemetar tak terkendali. Ada yang menutup mulut mereka, ada yang memegang perut dan ada yang memukul lantai.
Ada yang tertawa diam-diam dan ada yang tertawa keras secara terang-terangan.
Reyhan, Rian dan Daffa pun tidak jauh berbeda dengan mereka.
Sedangkan Evelin bertepuk tangan dengan senyum ceria, wajahnya cerah tampak sangat senang.
Alex dan orang yang terlibat tidak tahu harus tertawa atau menangis. sepertinya mereka telah menambah aib mereka untuk masa depan.
Jika bisa, dia ingin kembali ke beberapa menit yang lalu saat dia menerima tantangan Evelin.
Awalnya dia berniat mengalah dengan Evelin namun jangankan mengalah, berusaha untuk menang saja susah.
Dia tidak tau dari mana kekuatan Evelin berasal hingga dia bisa sekuat itu. Setelah dia kalah, Evelin menantang yang lain dengan kalimat yang sama yang dia ucapkan kepada Alex.
"Siapa pun yang bisa menang lawan Evelin, akan Evelin kabulin satu permintaannya."
Dengan itu, banyak yang mengajukan diri dengan gembira. Mereka hanya berpikir kalau Alex sengaja mengalah.
Namun, setelah 1 pertandingan, 2 pertandingan dan seterusnya tak ada yang bisa mengalahkan Evelin.
Setelah pertandingan yang panjang, Evelin memenangkan semua pertandingan dan mengatakan keinginannya.
Dia meminta yang lain untuk melayaninya lalu menyisakan empat orang termasuk Alex dengan permintaan yang lain.
"Evelin ingin melihat pertunjukan Princess and prince. Alex jadi princess nya!"
Setelah itu, anak yang lain pergi mencari gaun dengan tergesa-gesa. Alex dan keempat cowok lainnya hanya menunduk pasrah, melawan juga tidak mungkin.
Tadi, ada salah satu remaja yang kalah dari Evelin dan menolak mengikuti perintahnya dan akhirnya dia di buat babak belur oleh Evelin.
Anak-anak lain telah membawanya ke rumah sakit. Karena kejadian itu, mereka yang punya niat menolak langsung menghilangkan pikiran itu dari kepala mereka.
"Pft.. Hahaha.. perut gue.. Haha.. liat tuh si Alex.. Haha.." Daffa menepuk bahu Reyhan berkali-kali.
Niat awal mereka datang hanya karena mengikuti Reyhan, dia tidak menyangka akan melihat pertunjukan menarik seperti ini.
"Nggak sia-sia kita datang ke sini." Rian tertawa kecil sambil membenarkan kacamatanya.
Semua orang masih sibuk dengan pertunjukan jadi tidak ada yang memperhatikan kedatangan mereka.
"Kakak.."