
"Terkadang orang menggunakan pikiran untuk tidak berpartisipasi dalam kehidupan." - Stephen Chbosk
"Hei.."
Evelin tersenyum cerah, tak ada ekspresi ketakutan atau kecemasan di wajah cantiknya.
"Kwahaha.. Kau memang menarik seperti yang di katakan bos." pria besar dengan wajah garang itu tertawa terbahak-bahak.
"Apa kalian yang akan mengawasi ku?"
Itu lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Karena walau tidak dia tanya, Evelin sudah tahu.
“Ya betul sekali. Kau pasti telah mendapat detail informasi tentang pekerjaan yang akan kau lakukan malam ini kan!?” Gadis berambut pirang tersebut tertawa rendah sebelum berbicara.
Evelin mengangguk dan gadis itu kembali berbicara, “Perkenalkan aku Jesica dan pria besar dengan wajah menakutkan itu adalah Jeremy.” Jesica memperkenalkan dirinya dan menunjuk Jeremy yang berdiri di sebelahnya.”
“Apa maksudmu mengatakan wajahku menakutkan? Ini adalah tanda yang membuktikan kekuatanku” Jeremy berbicara dengan bangga.
Jeremy memiliki wajah yang garang dengan tubuh besar di tambah bekas luka di yang melintang di alis kirinya, sekilas saja orang akan ketakutan jika melihat dirinya.
Jesica mengabaikan Jeremy dan kembali berbicara kepada Evelin, “Untuk jaga-jaga, aku akan menjelaskan sedikit.”
“Kau bisa menggunakan senjata atau cara apa pun untuk melakukan pekerjaanmu. Kau juga bisa melakukan apa pun kepada mereka.” Dia berhenti sejenak untuk melihat ekspresi Evelin namun hanya ada tatapan acuh.
Evelin melirik ke arah ponsel yang di letakkan di atas meja dengan tatapan curiga namun setelah dua detik dia kembali melihat Jesica yang sedang menjelaskan.
Dia kembali melanjutkan dengan suara yang terdengar menakutkan seperti bercerita tentang film horor, “Kau bisa mematahkan tulang mereka, menghancurkan kepala mereka, memotong anggota badan mereka dan hal lainnya. Seperti yang kukatakan tadi kau bebas melakukan apa pun selama pekerjaanmu selesai.”
Merasa tidak ada reaksi dia berdeham sekali sebelum kembali melanjutkan, “Namun, ingat jangan melukai orang yang bukan target dan karena misimu ada dua. Kau di izinkan menghabisi mereka semua dan jika ada variabel tak terduga kau juga bisa menyingkirkan mereka...”
“... Dan tugas kami di sini hanya akan mengawasimu. Kami tidak akan membantu atau ikut campur dalam misimu kecuali kau berada dalam bahaya atau situasi tak terduga terjadi dan setelah semuanya selesai kami yang akan mengurus sisanya.”
Evelin yang dari tadi mendengarkan dalam diam segera mengangguk.
Jeremy yang juga diam dari tadi tertawa keras sebelum berbicara dengan percaya diri, “Kau tahu, jika kau bisa menunjukkan keahlian dan kekuatanmu, aku akan mengakuimu dan mengangkatmu menjadi muridku.”
Evelin terdiam sejenak sebelum berbicara dengan tawa rendah, “Terima kasih tapi tidak perlu.”
“Jangan mengatakan hal bodoh, Jeremy.”
“Adalah sebuah kehormatan untuk menjadi muridku, Kau lihat kan bagaimana muridku menjadi kuat sepetiku.”
Jesica mengangkat sudut mulutnya dengan mata mengejek, “Karena itulah mereka semua menjadi bodoh sepertimu.”
Tidak mau mengalah Jeremy kembali berbicara, “Setidaknya mereka lebih kuat dan tidak mudah di kalahkan daripada seseorang yang hanya mengandalkan wajah dan lemah.”
Jesica mengerutkan kening dengan kesal dan berbicara dengan marah, “Penampilan adalah yang terpenting, apa gunanya jika punya kekuatan jika penampilanmu buruk.”
Mereka saling melirik dengan tajam hingga sepeti ada aliran listrik dari tatapan mereka dan mereka kembali beradu argumen.
Evelin hanya melihat pertengkaran kekanak-kanakan mereka tanpa ada niat untuk ikut campur. Dia melihat jam tangannya dan melihat jarum jam sudah menunjukkan jam 21.40.
“Sudah waktunya, aku akan pergi sekarang.” Dia berbicara dengan suara rendah namun jelas.
Evelin berjalan keluar dari ruangan, mendorong pintu dan kembali melangkahkan kaki dengan tenang.
Setelah memastikan Evelin telah pergi, Jesica menunjuk Jeremy dengan marah.
“Gara-gara kau, kita pasti memiliki kesan yang buruk.”
“Kenapa itu jadi salahku, bukankah yang mulai duluan. Ini semua salahmu.”
Mereka kembali bertengkar dan beradu argumen yang saling menyalahkan yang lain dan di tengah adu argumen tersebut sebuah suara dingin terdengar, yang langsung membuat mereka berdua menegang.
Mereka lupa jika panggilan masih terhubung. Mereka tidak tahu kenapa, tapi bos mereka ingin mendengar pembicaraan mereka.
“Kembali fokus pada misi kalian dan perhatikan dia dengan baik. Jika sesuatu terjadi, kalian yang akan bertanggung jawab.” Suara yang dingin dan tegas terdengar.
Walau tidak berhadapan secara langsung, namun mendengar suaranya saja sudah membuat mereka merinding.
Mereka menjawab secara bersamaan, “Baik bos.”
Telepon di tutup dan ruangan kembali sunyi seperti kuburan. Mereka menghela nafas lega dan segera fokus melihat Evelin dari layar yang terhubung dengan drone yang mengikuti Evelin.
Jika mereka tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepada dunia, mereka harus bekerja dengan baik.
Di sebuah ruangan yang sunyi, seorang pria mematikan telepon dan bersandar ke belakang.
Dia tidak tahu kenapa tapi adik dari sahabatnya telah bekerja untuknya. Dia tidak tahu bagaimana Evelin mengetahui tentang organisasi mereka. Bahkan, sahabatnya di sekolah tidak tahu.
Dia tidak pernah bicara dengan Evelin sebelumnya dan hanya seperti orang asing yang saling melewati jika bertemu. Dia hanya mengenal Evelin karena dia adalah adik dari sahabatnya.
Yang dia tahu hubungan mereka sangat buruk, namun belakangan ini hubungan mereka semakin membaik dan dari yang dia tahu Reyhan sangat menyayangi Evelin walau hubungan mereka buruk sebelumnya, apalagi sekarang saat hubungan mereka semakin akrab jika sesuatu terjadi pada adiknya situasinya pasti akan kacau.
Karena itu dia harus menjaga Evelin dan memastikan dia tidak terluka. Namun, sepertinya bukan hanya karena itu.
Entah kenapa dia merasa jika dia harus melindunginya dan menjaganya dengan baik. Sepeti sebuah insting yang tidak bisa dia tolak.
Apalagi, setelah mendengar suaranya tadi. Itu hanya ucapan yang singkat namun detak jantungnya tiba-tiba meningkat. Dia juga bertemu dengan Evelin di taman dan entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang.
Dia merasa suara tersebut tumpang tindih dengan suara seseorang yang selalu ada dalam mimpinya.
Padahal sebelumnya dia sudah pernah mendengar suara Evelin dan tidak merasakan apa-apa. Namun, entah kenapa sekarang terasa berbeda.
Dia menurunkan matanya, ada kekosongan di dalam mata tersebut. Dia mengingat mimpi yang selalu menghantuinya.
Mimpi itu selalu berubah, namun dia selalu memimpikan orang yang sama. Gadis yang memiliki rambut hitam panjang dengan suara yang lembut. Hanya itu yang dia tahu karena wajahnya selalu buram.
Apa pun mimpinya gadis itu akan selalu ada dalam mimpinya. Dia merasa seperti melihat sebuah kenangan yang telah dia lupakan.
Kadang dia memimpikan di mana dia pergi ke pantai bersama gadis itu, dan hari berikutnya dia bermimpi pergi ke restoran dan berkencan dan hari lainnya dia akan memimpikan hal lain.
Dan entah sejak kapan dia mulai menantikan mimpi tersebut. Namun, Beberapa tahun belakangan ini dia selalu bermimpi hal yang sama dan itu adalah mimpi buruk yang sangat tidak menyenangkan.
Setelah mengalami mimpi buruk itu, dia akan selalu bangun dengan perasaan tidak menyenangkan.